CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
29


__ADS_3

Jingga menangis histeris, saat dia dipaksa masuk ke dalam kamar hotel. Dia terus berjalan mundur, saat orang yang menculiknya terus berjalan kearahnya dengan tatapan penuh nafsu.


"Jangan mendekat!" teriak Jingga ketakutan.


"Kau tak boleh berteriak nona, karena malam ini, kita akan bersenang-senang," ucap lelaki yang bernama Jojo itu. Bahkan dia terus menatap Jingga penuh nafsu, dari ujung kepala sampai ujung kakinya.


"Saya mohon jangan lakukan ini, atau saya akan berteriak!" ucap Jingga dengan suara meninggi, namun matanya terus menelisik isi kamar hotel itu, berharap ada barang yang bisa dia gunakan, untuk menghajar lelaki didepannya itu.


"Silahkan kalo bisa, karena kamar ini kedap suara. Bahkan jika kau berteriak sampai suaramu hilang, tak akan ada orang yang mendengarmu," ucap Jojo dengan senyuman iblisnya.


Langkah kaki Jingga terhenti, kala punggung dia menabrak dinding kamar itu. Jingga terus berontak, saat Jojo berhasil mencekal tangannya, dan berusaha merobek pakaian Jingga.


Srettt!


Jojo berhasil merobek lengan baju Jingga, sampai menampakkan bahu dan lengan putih Jingga.


"Wah, ternyata kau benar-benar cantik nona," ucap Jojo yang terus menahan tubuh Jingga agar tak berontak.


"Lepaskan!" teriak Jingga frustrasi. Dia benar-benar panik saat setengah bajunya sudah terbuka, dan sedikit menampakan bra yang dia pakai.


"Diam! Jika kau tidak mau diam, aku akan melakukannya dengan kasar," ancam Jojo dengan suara besarnya.


Dia langsung mendekatkan wajahnya, berusaha untuk mencium Jingga. Namun belum sempat dia melakukannya, tiba-tiba pintu kamar didobrak dari luar, dan membuat dia segera melihat kearah pintu.


...*****...


Dafa yang sudah berada di hotel, langsung saja mencari kamar yang disewa oleh penculik itu, untunglah pihak hotel mau bekerja sama dengannya, dan langsung memberitahukan letak kamar itu.


Setelah Dafa berada tepat didepan kamar itu, tanpa pikir panjang, Dafa langsung mendobrak pintunya, dan segera masuk kedalam. Sontak saja matanya membesar, saat dia melihat lelaki itu berusaha mencium paksa Jingga, bahkan dia sudah merobek sebagian baju yang dipakai Jingga, dan itu membuat sebagian tubuh Jingga terlihat.


"Brengsek!" teriak Dafa marah, dan langsung memberi pukulan pada wajah Jojo, yang saat itu masih kaget.


Untunglah Jojo belum sempat menghindar, sehingga pukulan Dafa mengenai wajahnya. Dafa terus menghajar Jojo tanpa ampun.

__ADS_1


Mungkin karena Dafa dikuasai amarah, jadi dia memukul Jojo seperti orang kesetanan, dan membuat Jojo langsung babak belur.


Jingga terus menangis histeris, dia benar-benar ketakutan dengan keadaan ini, apalagi dia hampir diperkosa. Dafa segera berjalan kearah Jingga, dan dia langsung menutup tubuh Jingga dengan sweaternya.


"Ssttt, tenanglah! Sudah tak apa-apa," ucap Dafa mencoba menenangkan Jingga. Namun Jingga tetap menangis, mungkin karena kejadian ini membuatnya sangat syok, jadi dia seolah tak mendengar semua ucapan Dafa.


"Ayo pulang!" ucap Dafa lembut. Perlahan dia membantu Jingga berdiri, agar keluar dari kamar hotel itu.


Sementara itu, orang-orang kepercayaan Ray juga datang bersamaan dengan Dafa, dan sekarang, mereka membereskan sisanya, termasuk mengurus para penculik Jingga.


...----------------...


"Sial!" teriak Resti marah.


Baru saja dia mendapat kabar dari orang suruhannya yang berhasil kabur, bahwa mereka gagal, karena ada orang yang berhasil membantu Jingga.


Resti tak habis pikir, bagaimana mungkin rencananya bisa gagal, padahal orang suruhannya itu tak pernah gagal sebelumnya. Untunglah mereka dibayar mahal, jadi mereka tak berani memberitahukan siapa yang menyuruh mereka. Kalau pun mereka membocorkan semuanya, Resti bisa menggunakan keluarga mereka untuk dijadikan ancaman.


Baiklah, kali ini kamu beruntung Jingga. Tapi lain kali, ku pastikan kau akan hancur, ucap Resti dalam hati.


Ponsel Resti berdering, sebelum mengangkat panggilan itu, dia tersenyum saat tahu siapa yang meneleponnya.


"Hallo Kak," ucap Resti senang.


"Hallo. Bagaimana keadaanmu? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya seorang wanita diseberang sana.


"Aku baik Kak. Tapi sekarang aku kesal, karena rencana aku gagal," adu Resti.


"Kenapa bisa begitu?" tanya wanita diseberang, dengan nada yang begitu penasaran.


"Baru saja mereka memberi kabar, bahwa mereka gagal, karena ada orang yang berhasil menolongnya," jawab Resti setengah kesal.


"Tenanglah adikku sayang, nanti kita buat rencana lain," ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah Kak," balas Resti seadanya.


"Sekarang Kakak tutup teleponnya dulu, untuk rencana selanjutnya, nanti Kakak hubungin kamu lagi, oke!" ucap wanita itu lagi.


"Oke, makasih Kak," ucap Resti sebelum sambungan teelponnya terputus.


Untung saja dia mempunyai kakak sepupu yang sejalan dengan pikirannya, jadi dia bisa membantu segala rencana liciknya untuk menyingkirkan Jingga, pikir Resti senang.


...----------------...


Dafa tak berani bicara apapun pada Jingga, yang saat ini hanya diam menatap lurus ke depan. Dafa paham, mungkin Jingga masih syok dengan apa yang baru saja menimpanya.


Namun disisi lain, Dafa juga mencemaskan Jingga, takut dia mengalami trauma yang bisa memengaruhi keadaan psikisnya.


Saat ini mereka tengah berada didalam mobil Dafa, yang dibawa oleh orang-orang kepercayaan kakaknya. Dafa belum berani mengajak Jingga pulang, sebelum dia benar-benar tenang, karena jika Jingga masih dalam keadaan seperti itu, Dafa takut membuat ayah Jingga khawatir.


"Kenapa kita gak pulang?" tanya Jingga yang masih menatap lurus ke depan.


"Eh? Aku... Aku nunggu kamu siap buat pulang. Kita akan pulang setelah kamu tenang, aku takut membuat ayahmu khawatir, jika kamu pulang dengan keadaan seperti ini," jawab Dafa sambil melihat ke arah Jingga.


"Aku udah gak papa kok. Sekarang kita pulang aja, tapi... baju aku?" tanya Jingga sedikit bingung.


"Sebelum kita pulang, kita beli baju dulu buat kamu. Tapi bener kamu udah gak papa?" tanya Dafa yang masih ragu, karena dia lihat, wajah Jingga masih terlihat syok.


"Iya Daf. Ayo pulang sekarang, karena aku gak mau membuat ayah khawatir. Tadi aku pamit cuma sebentar untuk ziarah aja," ucap Jingga dan Dafa langsung mengangguk.


Dafa langsung melajukan mobilnya, memecah keramaian kota Malang. Tapi sebelum pulang, Dafa berhenti di sebuah toko pakaian untuk mengganti pakaian Jingga yang sudah tersobek itu.


"Hmm, Daf, makasih ya udah nolongin aku. Kalau saja tadi kamu gak dateng, entah apa yang akan terjadi padaku," ucap Jingga sambil membayangkan kemungkinan terburuknya.


"Sama-sama. Udah kamu gak usah mikirin soal kejadian tadi lagi. Takutnya nanti malah membuat kamu semakin tak tenang. Sudah ya, jangan dipikirkan lagi! Semuanya sudah berlalu, semuanya sudah aman. Orang yang menculik kamu sudah dibawa ke pihak berwajib, jadi kita tunggu saja hasilnya. Kita akan segera tahu motif mereka menculikmu, dan siapa yang menyuruh mereka. Karena aku tahu, mereka adalah orang suruhan yang sengaja dibayar untuk melakukan kejahatan," ucap Dafa sambil sesekali melirik ke arah Jingga, karena saat ini dia sedang fokus menyetir.


Jingga hanya mendengarkan, sambil sesekali mencerna ucapan Dafa. Benarkah ada orang yang sengaja berniat jahat padanya? Pikir Jingga dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2