
Jingga masih dengan keadaan syoknya setelah dia hampir tertabrak mobil. Dalam hati dia mengucapkan beribu syukur karena dia masih selamat. Namun dia sedikit kaget kala ada orang yang memanggil namanya.
Perlahan Jingga menoleh ke arah sumber suara, agar dia bisa melihat orang yang memanggilnya. Dia sedikit kaget karena orang itu adalah Ray. Dengan kerutan di keningnya, Jingga sedikit berpikir, kenapa tiba-tiba ada Ray. Bukankah dia hampir tertabrak, atau jangan-jangan mobil itu adalah mobilnya Ray.
"Ray, kenapa kamu ada disini?" tanya Jingga.
"Harusnya aku yang nanya sama kamu. Kenapa kamu tiba-tiba menyebrangi jalan, disaat banyak kendaraan lewat?" tanya Ray yang sedikit khawatir dengan raut wajah Jingga.
"Oh maafkan aku Ray, maaf membuatmu hampir celaka. Aku, a---ku mungkin aku hanya sedang khawatir aja, jadi gak fokus saat nyebrang jalan tadi," jawab Jingga sedikit bingung.
"Tidak, kamu tidak salah. Hanya saja aku sedikit khawatir, karena kamu nyebrang tanpa melihat kiri dan kanan dulu. Memangnya apa yang membuat kamu sampai tidak fokus begini?" tanya Ray penasaran.
"Hmm, aku tidak apa-apa Ray," jawab Jingga.
"Kamu serius? Tapi sepertinya kamu memang sedang tidak baik-baik aja. Aku tanya sekali lagi, apa ada masalah dengan kamu? Kamu bisa cerita sama aku, siapa tahu aku bisa bantu," ucap Ray lagi.
"Aku, sebenarnya sekarang mau pergi ke Malang, karena baru saja aku mendapat kabar kalo ayah aku mengalami kecelakaan," jawab Jingga yang tak bisa menutupi wajah sedihnya. Ray dengan jelas bisa melihat kesedihan dimata Jingga, bahkan saat ini air mata Jingga sudah berkumpul dipelupuk matanya.
"Terus sekarang suami kamu mana? Kamu udah kasih tahu dia kan?" tanya Ray lagi.
"Mas Ken udah tahu. Tapi dia gak bisa nemenin aku pergi ke Malang. Tapi aku udah pesan taksi online, jadi aku bisa pergi sendiri," jawab Jingga sambil mengusap air matanya.
"Kenapa suami kamu tega membiarkan kamu pergi sendiri, disaat keadaan kamu seperti ini?" tanya Ray tak habis pikir.
"Mas Ken gak bisa pergi karena... Ehm, karena Resti mengalami pendarahan jadi dia segera membawa Resti ke rumah sakit," jawab Jingga yang akhirnya menceritakan kejadian sebenarnya.
"Ha? Benarkah?" tanya Ray dengan wajah kagetnya.
"Iya. Ya udah ya, sebentar lagi taksi aku datang, dan sekali lagi maaf ya Ray atas kejadian tadi," ucap Jingga yang merasa bersalah. Beruntung yang membawa mobil itu Ray, kalau saja orang lain, sudah pasti orang itu akan memarahi dia habis-habisan karena kecerobohannya.
"Hmm, bagaimana kalo aku aja yang nganter kamu. Aku khawatir kalo kamu harus pergi ke Malang sendiri, apalagi dengan keadaan kamu seperti ini," ucap Ray menawarkan.
"Gak papa Ray, aku gak mau ngerepotin kamu. Aku bisa pergi sendiri," tolak Jingga sedikit sungkan.
__ADS_1
"Ga, kamu itu gak bisa pergi sendiri disaat pikiran kamu sedang kalut seperti ini. Kamu bisa percaya kan sama aku?" tanya Ray memastikan.
"Tapi Ray... " ucap Jingga sedikit bingung. Sebenarnya dia juga ingin ada yang menemaninya pergi, tapi dia tak mungkin membiarkan Ray mengantarnya, karena bagaimanapun Ray bukanlah mahromnya dan dia takut itu akan menjadi fitnah.
"Udah gak usah tapi-tapian, aku yang akan minta izin sama suami kamu. Sekarang cepat masuk ke mobil, kita langsung ke Malang," balas Ray sambil membukakan pintu mobilnya.
Sebenarnya Jingga bingung sekaligus merasa tak nyaman jika harus pergi berdua dengan Ray, namun Ray tetap membujuknya. Akhirnya Jingga setuju Ray mengantarkannya setelah dia meminta izin pada suaminya.
Suasana didalam mobil hening, Jingga maupun Ray tak ada yang memulai pembicaraan. Ray sendiri memberikan Jingga waktu untuk menenangkan pikirannya, sambil sesekali melirik ke arah Jingga yang hanya menatap lurus ke depan seolah memikirkan sesuatu.
Pikiran yang sedang kacau memang membuat orang menjadi ceroboh dalam melakukan hal. Seperti kejadian tadi yang hampir membuat Jingga celaka. Di pikirannya sendiri, Jingga benar-benar cemas memikirkan keadaan ayahnya yang mengalami kecelakaan.
Pikiran-pikiran buruk kadang datang apalagi disaat Jingga merasa cemas. Takut terjadi sesuatu pada ayahnya, takut akan kehilangan lagi orang tersayangnya, namun disaat dia memikirkan itu, Jingga cepat-cepat menepis prasangka buruknya itu, dan dia ganti dengan lantunan doa-doa untuk keselamatan ayahnya.
"Ray, nanti kita langsung ke rumah sakit ya," ucap Jingga memecah keheningan.
"Iya. Bagaimana, apa sekarang kamu sudah mendapat kabar mengenai perkembangan ayah kamu?" tanya Ray sambil terus fokus menyetir.
"Yang sabar ya, kamu harus tetap tenang dan doain ayah kamu supaya dia baik-baik aja," ucap Ray menenangkan Jingga.
"Iya Ray. Tapi makasih ya kamu mau repot-repot buat anterin aku ke Malang," ucap Jingga sambil melirik ke arah Ray yang sedang fokus menyetir.
"Gak usah bilang gitu Ga. Aku seneng bisa nganterin kamu," balas Ray dengan tak sadar apa yang baru saja diucapkannya.
"Ha? Maksud kamu?" tanya Jingga penasaran. Kenapa tiba-tiba Ray bilang senang nganterin dia jauh-jauh ke Malang.
"Eh? Enggak, maksud aku, ya aku seneng aku bisa bantu kamu. Kamu kan sahabatnya Citra dan aku udah anggap Citra sebagai adik aku sendiri," jawab Ray memberi alasan. Kenapa dia bisa keceplosan?
"Oh, iya Ray. Sekali lagi makasih," balas Jingga sedikit menyunggingkan senyumannya.
Ray yang mendengar itu hanya mengangguk sebagai jawabannya. Kemudian dia kembali fokus menyetir sambil sesekali menambah laju kecepatan mobilnya, agar segera sampai di kota Malang.
...----------------...
__ADS_1
Saat ini Ken sedang menunggu didepan ruang operasi dengan wajah cemasnya. Setelah dia sampai di rumah sakit, Resti segera dibawa ke UGD, namun karena pendarahan yang cukup banyak, juga air ketubannya yang sudah pecah, jadi Resti harus segera dioperasi.
Tak bisa memungkiri, walaupun Ken masih membenci Resti, jauh dalam lubuk hatinya, Ken mencemaskan keadaan keduanya, baik Resti maupun anaknya. Kini yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu dan berdoa untuk keselamatan ibu dan juga bayinya.
Suara langkah kaki terdengar, memecahkan lamunan Ken. Perlahan dia mengalihkan pandangannya pada dua orang yang tergesa-gesa berjalan kearahnya. Dan senyuman Ken terbit setelah melihat kedatangan orang tuanya. Setidaknya dengan kehadiran orang tuanya, membuat Ken sedikit lebih tenang.
"Sayang, bagaimana keadaannya?" tanya Bella setelah dia sampai didepan anaknya itu.
"Aku juga belum tahu Ma, tapi saat ini Resti sedang menjalani operasi karena dia mengalami pendarahan dan air ketubannya sudah pecah Ma," jawab Ken dengan wajah lesunya.
"Semoga keadaan keduanya baik-baik aja ya sayang. Terus sekarang Jingga ada dimana? Kok Mama belum melihatnya?" tanya Bella sambil melihat sekelilingnya.
"Astagfirullah Ma," ucap Ken kaget yang juga mengagetkan mamanya.
"Ada apa Ken?" tanya Roy penasaran dengan wajah kaget anaknya.
"Karena keadaan ini, aku jadi lupa sama Jingga. Bahkan aku belum tahu sekarang Jingga masih dirumah atau udah berangkat ke Malang," jawab Ken sambil mengusap wajahnya frustrasi. Dia benar-benar melupakan keadaan Jingga, bahkan setelah dia membawa Resti ke rumah sakit, dia lupa menanyakan keadaan Jingga.
Ken langsung merogoh ponselnya dan langsung membukanya. Ternyata banyak sekali panggilan telepon dari istrinya, dan beberapa pesan. Ken langsung membuka pesan dari istrinya 30 menit yang lalu.
Mata Ken membesar saat membaca pesan singkat dari istrinya itu.
Mas, aku minta izin sama kamu. Aku berangkat ke Malang diantar sama Ray, karena kebetulan kami bertemu dijalan saat taksi online yang sudah aku pesan membatalkannya.
"Kamu kenapa Ken?" tanya Bella setelah melihat wajah Ken yang tampak menahan amarah.
"Ma, aku harus susul Jingga ke Malang. Karena ayahnya Jingga mengalami kecelakaan," jawab Ken langsung.
Bella dan Roy langsung berwajah tak percaya. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi diwaktu bersamaan dengan Resti yang melahirkan. Ken bergegas untuk menyusul Jingga ke malang, namun panggilan dari dokter langsung menghentikan langkahnya.
"Permisi, bisa bicara dengan suami pasien?" tanya sang dokter sambil menatap Bella, Roy, dan Ken bergantian.
"Bisa dok. Saya suaminya," ucap Ken langsung, akhirnya dia mengalah dan menunda niatnya untuk segera menyusul Jingga.
__ADS_1