CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
60


__ADS_3

Ken membeku, semua memang kesalahannya. Dia juga selalu menyalahkan dirinya sendiri. Melihat Jingga begitu terluka, membuat dia semakin membenci dirinya sendiri.


"Mas apa kesalahan aku, sampai kamu begitu ingin menceraikan aku?" tanya Jingga sambil memegang kedua lengan suaminya, namun Ken tetap bergeming ditempatnya.


Karena Ken tak kunjung memberinya jawaban, Jingga langsung memukul-mukul dada suaminya, namun sama sekali tak berpengaruh bagi Ken, karena Jingga sudah terlalu lemas. Jingga yang tak tahan suaminya diam saja, perlahan dia memundurkan tubuhnya.


"Baiklah, aku rasa laki-laki yang dulu begitu mencintaiku, begitu menyayangiku, bahkan akan menjaga dan selalu berada disamping aku dengan janji-janjinya dulu, sekarang sudah mati. Tak ada sosok penyayang itu lagi. Jadi mulai detik ini, aku akan melupakannya, akan menghapus semua kenangan tentangnya, dan aku akan memulai hidup baru seperti keinginannya untuk pergi dari hidupnya!" tegas Jingga menatap tajam suaminya, lalu setelah itu dia melangkah pergi kekamarnya.


Baiklah, sesuai keinginannya, aku akan pergi dari hidupnya dan tak akan pernah mengganggu hidupnya lagi, dan mulai besok aku akan pergi dari rumah ini, ucap Jingga dalam hati, penuh dengan luka.


Ken yang melihat Jingga pergi dengan penuh luka, langsung tak bisa menahan air mata yang sedari tadi dia tahan. Ya! Lebih baik dia membencinya, pikir Ken sambil mengusap air mata disudut matanya.


*****


Setelah Jingga berada dikamarnya, dia langsung berjalan ke arah lemari pakaiannya. Jika tadi sebelum Jingga bertemu dengan suaminya, dia hanya akan membereskan barang-barang milik Keyla yang berencana akan menginap dirumah Citra beberapa hari ke depan, tetapi sekarang Jingga juga membereskan semua barang-barangnya. Dia mengambil semua pakaian yang ada dilemari, dan segera memasukannya ke dalam koper bersama dengan pakaian milik adiknya.


Setelah Jingga rasa semua barang miliknya dan juga milik Keyla sudah dimasukan ke dalam dua koper berukuran besar, dia langsung merebahkan dirinya ke atas kasur, bersama dengan adiknya yang masih terlelap tidur.


"Sayang, maafkan Kakak jika kedepannya kamu akan dalam kesulitan," lirih Jingga sedih sambil mencium kening Keyla, yang sama sekali tak terganggu dalam tidurnya. Kemudian dia memeluk adiknya dan tak lama dia juga masuk ke alam mimpi.


Namun baru beberapa menit saja Jingga berada dialam mimpi, dia sudah dibangunkan oleh suara berisik dari luar kamarnya. Samar-samar Jingga mendengar orang yang sedang berbicara.


Karena penasaran, akhirnya Jingga bangun, dan segera turun dari ranjangnya. Semakin dia mendekat ke arah pintu, Jingga semakin jelas mendengar orang itu yang tak lain adalah Resti. Entah apa yang dilakukan tengah malam seperti ini, pikirnya.


Pintu dibuka sedikit, hanya untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Terlihat Resti sedang berbicara dengan seseorang diponselnya. Namun yang membuat Jingga sedikit terkejut adalah dia mendengar Resti menyebut-nyebut namanya.

__ADS_1


"Iya Kak, aku bahagia akhirnya Ken bisa menceraikan Jingga juga. Dan aku yang akan menjadi istri satu-satunya. Tapi terima kasih loh Kak, semua info yang Kakak berikan tentang Jingga sangat berguna buat aku," ucap Resti dengan senyuman penuh kemenangannya.


Jingga dibuat tak percaya oleh ucapan Resti, bagaimana mungkin dia begitu bahagia dengan perceraiannya? Terus siapa yang dia bilang kakak, yang mengetahui semua tentang Jingga? pikirnya bingung.


Pintu segera ditutup kembali, karena takut Resti menyadari Jingga yang sedang mengintipnya. Ah! Sekarang pikiran Jingga benar-benar frustrasi memikirkan semuanya.


Jam sudah menunjukan pukul 3 pagi, tapi Jingga tidak bisa memejamkan matanya lagi. Akhirnya dia keluar dari kamarnya, melangkahkan kakinya ke dapur, untuk mengerjakan tugas rutinnya setiap pagi, mengepel, mencuci pakaian, mencuci piring, sampai membuat sarapan.


Dan pagi ini, dia kerjakan pagi-pagi sekali agar cepat selesai, dan saat fajar sudah muncul nanti, dia akan langsung pergi dari rumah Ken. Untuk apa berlama-lama sampai perceraiannya selesai, jika suaminya sendiri sudah tidak menginginkan dia lagi, pikir Jingga.


Kebetulan saat adzan Subuh dikumandangkan, Jingga sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Jingga langsung bergegas untuk melaksanakan kewajibannya, dan setelah itu dia akan membangunkan adiknya agar bisa secepatnya pergi.


"Sayang," ucap Jingga sambil mengelus pipi Keyla, yang masih terlelap dalam tidurnya.


Setelah beberapa kali Jingga mengelus pipi Keyla, akhirnya Keyla membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk pada matanya, dan mengumpulkan separuh nyawa yang masih belum terkumpul.


Namun Keyla terus menguap walaupun dia sudah terduduk, membuat Jingga tersenyum.


"Ayo mandi, kak Citra udah nungguin," ucap Jingga lagi.


"Tapi Key masih ngantuk Kak," rengek Keyla begitu manja.


"Hm, nanti kalo udah sampai di rumah kak Citra, kamu boleh bobo lagi sayang," bujuk Jingga lagi. Dia ingin segera membawa Keyla pergi dari rumah ini.


"Iya Kak. Tapi aku gak mau mandi, dingin!" ucap Keyla masih dengan mata kantuknya.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang Key cuci muka dulu," ucap Jingga segera menggendong Keyla yang hanya mengangguk pasrah.


*****


Ken yang baru bangun segera melangkahkan kakinya menuju dapur, untuk mengambil air minum karena tenggorokannya terasa kering. Namun dia sedikit terkejut melihat rumahnya yang sudah rapi dan bersih, tak seperti semalam saat dia masih terjaga.


Lagi-lagi Ken mengerutkan dahinya, saat melihat sarapan yang sudah tertata rapi diatas meja makan. Biasanya pekerjaan ini selalu dilakukan oleh Jingga, tapi benarkah sepagi ini dia yang sudah menyelesaikannya? Pikirnya. Kalau Resti, itu tidak mungkin, karena Resti tak pernah sekalipun berkutat di dapur, apalagi setelah melahirkan, membuat dia punya alasan untuk tidak melakukan apapun.


Suara langkah kaki terdengar, membawa pandangan Ken jatuh pada dua orang yang melangkah cepat menuju pintu keluar.


Uhukk!


Ken tersedak saat minum air, dia kaget melihat Jingga dan Keyla sudah rapi bahkan membawa dua koper besar, yang Ken langsung tahu isinya apa.


"Kalian mau pergi kemana sepagi ini?" tanya Ken langsung menghampiri Jingga dan adiknya. Dia sedikit bingung, apalagi jam masih menunjukan pukul 5 pagi.


Jingga menghentikan langkahnya, dan sekejap menoleh ke arah suaminya. Sebenarnya Jingga tak punya minat untuk membalas ucapan suaminya, tapi dia tak mau membuat Keyla merasa bingung dengan keadaan itu.


"Mau pergi ke rumah Citra. Keyla mau menginap disana," ucap Jingga langsung berjalan lagi, dan segera membuka pintu rumah.


"Tapi kenapa bawa koper banyak?" tanya Ken lagi sambil menyusul Jingga yang sudah berjalan cepat.


"Sayang, kamu naik dulu ya, Kakak mau bicara sebentar," ucap Jingga pada Keyla, setelah dia memasukan kopernya ke dalam taksi yang sudah menunggu di depan rumahnya.


"Baik Kak," jawab Keyla patuh, yang langsung masuk ke dalam taksi yang dipesan kakaknya.

__ADS_1


"Bukankah ini yang kamu mau. Aku akan pergi dari kehidupan kamu Mas, dan untuk surat cerai, kamu bisa kirim saja ke rumah Citra," ucap Jingga menatap tajam suaminya. Setelah mengatakan itu, dan tanpa mendengar balasan dari suaminya, Jingga langsung masuk ke dalam taksinya.


Ken berusaha menahan Jingga tapi cukup terlambat. Dia sedikit tak percaya Jingga bisa melakukan hal seperti tadi. Akhirnya dia hanya bisa melihat kepergian Jingga, walaupun hati belum sepenuhnya rela.


__ADS_2