
Ken pulang kerumahnya dengan perasaan hancur. Pernikahan yang dia jaga selama 3 bulan ini, dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada rumah tangganya itu.
"Sayang! Buka pintunya dulu! Mas mau jelasin semuanya, Mas mohon sayang," ucap Ken sambil mengetuk-ngetuk pintu kamaranya. Pasalnya setelah Jingga pulang, dia hanya mengurung dikamar dan enggan berbicara dengan Ken.
CEKLEK!
Pintu kamarnya terbuka dan Jingga keluar dengan mata sembabnya. Sungguh pemandangan yang membuat hati Ken merasa teriris. Dulu saat pernikahannya, Ken berjanji akan menjaga dan selalu membahagiakan Jingga. Namun apa yang telah diperbuat Ken sekarang? Sekarang dia telah menghancurkan hati Jingga pikir Ken sedih.
"Sayang... Aku tidak bohong, saat aku menolong Resti yang mobilnya mogok, tiba-tiba dia memberikan aku minuman yang ternyata sudah dicampur obat perangsang. Semua yang terjadi itu karena efek obat itu dan diluar batas kesadaran Mas," ucap Ken meraih tangan Jingga.
"Aku tidak tahu Mas kedepannya pernikahan kita akan seperti apa," ucap Jingga dengan berurai air mata.
"Kamu jangan ngomong begitu sayang! Tentu pernikahan kita akan baik-baik saja. Kamu tahu, hanya kamu yang Mas cinta. Jadi Mas mohon jangan tinggalin Mas," ucap Ken yang tak berhenti menatap sedih wajah istrinya.
"Mas tahu saat aku nerima kamu sebagai suami aku? Saat itu semua tentang kamu dijadikan satu dalam hatiku. Aku ingin menjadi istri yang sholehah dan mendapat ridha darimu Mas. Aku ingin menua bersama kamu," ucap Jingga.
"Iya sayang Mas minta maaf atas kesalahan yang sudah Mas perbuat. Walaupun anak yang dikandung Resti adalah anaknya Mas, Mas tidak akan menikahinya, karena kamu satu-satunya istri Mas, sampai Mas mati," ucap Ken mantap. Bahkan saat mengatakan itu dia tidak berkedip sama sekali.
"Engga Mas, aku gak mau mempunyai sosok imam yang tidak bertanggung jawab. Aku mau kamu menikahinya, aku mau kamu bertanggung jawab atas kesalahan mu walaupun itu bukan keinginan mu," ucap Jingga.
"Tapi Mas gak mau kehilangan kamu sayang. Mas tak bisa hidup tanpa kamu disisi Mas," ucap Ken yang langsung menarik Jingga kedalam pelukannya.
"Aku akan terus mendampingi kamu Mas, asal kamu mau bertanggung jawab," ucap Jingga sambil menatap wajah Ken dengan penuh cinta.
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Ken penasaran.
"Aku mau kamu menikahi Resti, aku memberikan kamu izin untuk menikahinya," ucap Jingga dengan susah payah. Sungguh kini sesak dada Jingga saat mengatakannya.
Wanita mana yang sanggup berbagi suami dengan orang lain. Wanita mana yang rela berbagi kasih dengan orang lain. Tidak ada wanita yang rela melakukan semua itu. Jingga pun tak rela, namun dia tak mau egois, karena ada bayi yang dipertaruhkan disana.
"Kamu gak akan menceraikan aku kan sayang? Kamu gak akan ninggalin aku kan?" tanya Ken cemas.
"Iya Mas. Insyaallah aku ikhlas. Aku cuma gak mau, kamu menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab," ucap Jingga mencoba menguatkan hati.
Ken hanya menatap sendu istrinya itu. Ken yakin bahwa Jingga sedang berusaha menguatkan hatinya, karena dia tahu, tidak ada seorang wanita pun yang rela dimadu.
"Kamu yakin dengan ucapan kamu sayang?" tanya Ken lagi.
__ADS_1
"Aku yakin Mas. Semoga ini jalan yang terbaik untuk kita semua, karena kita tak akan pernah tahu takdir Allah kedepannya akan seperti apa," ucap Jingga yang langsung memeluk erat semuanya.
Ken tak bisa berkata apapun, dia hanya membalas pelukan istrinya. Ken pun berharap ini jalan yang terbaik walaupun ada hati yang dia patahkan.
...****************...
Di restoran tempat Jingga dulu bekerja, kini tengah duduk berhadapan antara 3 orang yang sama-sama merasa tegang. Jingga duduk bersebelahan dengan Ken, sedangkan didepan mereka ada Resti yang duduk dengan wajah pongahnya.
"Jadi apa yang mau kalian bicarakan?" tanya Resti sambil menatap Jingga dan Ken bergantian.
"Saya akan bertanggung jawab atas kehamilan kamu," jawab Ken dengan nada dingin.
"Lalu kamu siap untuk menceraikan Kak Jingga?" tanya Resti memastikan.
"Sampai kapan pun saya tidak akan pernah menceraikan istri saya. Karena yang saya cinta hanya dia. Saya akan menikahimu tidak lebih dari bentuk tanggung jawab saya. Walaupun saya dijebak, tapi istri saya memaksa saya untuk tetap menikahimu," jawab Ken sambil menatap tajam Resti.
"Lalu kamu akan menjadikan aku istri keduamu, begitu?" tanya Resti lagi. Kali ini ucapan Ken memancing sisi emosinya.
"Iya. Kalo kamu keberatan ya sudah," ucap Ken cepat.
Resti pun menimbang-nimbang tawaran dari Ken. Sepertinya dia harus menerima tawaran itu karena memang rencana awalnya agar menikah dengan Ken. Tak apa menjadi istri kedua, ikuti saja alurnya. Kedepannya dia akan mencari jalan agar bisa mendepak Jingga dari kehidupan Ken, pikir Resti sambil tersenyum licik.
"Minggu depan. Tapi saya mau menikah secara agama saja, dan kamu tidak boleh protes," jawab Ken cepat.
Resti hanya mendengus kesal mendengar penuturan dari Ken, rupanya dia hanya akan menjadi istri sirinya saja.
Sedangkan Jingga hanya diam menjadi pendengar saja. Dia terlalu enggan untuk berbicara pada orang yang sudah berusaha merusak rumah tangganya itu.
Diam-diam Citra menguping pembicaraan mereka. Karena dia begitu penasaran kenapa tiba-tiba Jingga dan suaminya itu menemui Resti bersama. Dan mata Citra membulat sempurna kala selesai mendengar pembicaraan mereka. Ternyata benar dugaan dia selama ini, bahwa Resti berusaha merusak rumah tangga Jingga. Benar-benar ulat bulu pikir Citra kesal.
"Cih! Ternyata benar, dia tidak lebih dari seonggok sampah," ucap Citra kesal yang terus mengucapkan sumpah serapah pada Resti.
......................
"Kak, aku jalan dulu ya," pamit Dafa.
"Kamu mau pergi kemana? Tumben rapi banget?" tanya Ray penasaran pada adiknya yang penampilannya itu seperti Idol Korea.
__ADS_1
"Hm, aku mau ke bioskop," jawab Dafa seadanya.
"Sama pacar?" tanya Ray.
"Iya Kak," jawab Dafa.
"Jangan larut-larut pulangnya! Apalagi bawa anak orang," pesan Ray.
"Oke bos," balas Dafa yang langsung bergegas pergi.
Setelah Dafa pergi, Ray juga bersiap-siap akan pergi. Dia akan pergi mencari udara segar. Seminggu full ini dia hanya menghabiskan waktunya dikantor.
Sampailah Ray disebuah taman yang ada dipinggir kota. Namun saat Ray sedang menikmati udara malam ditaman itu, dia melihat seseorang yang tengah duduk sendirian. Dilihat dari belakang sepertinya dia mengenal orang itu, pikir Ken dengan berkerut kening, kemudian dia menghampirinya.
"Tidak baik seorang wanita melamun sendirian ditengah malam," ucap Ray yang sontak membuat wanita itu melihat kearahnya.
"Ray!" ucapnya tak percaya.
"Hm, mana suami kamu? Bahaya loh duduk sendiri ditempat sepi. Lihatlah, sekarang taman sudah sepi!" ucap Ray pada wanita itu, yang ternyata adalah Jingga.
"Kamu sendiri ngapain ada disini?" tanya Jingga penasaran.
"Aku hanya mencari udara segar," jawab Ray tersenyum manis.
"Oh," balas Jingga seadanya karena memang suasana hatinya sedang kacau.
Seperkian menit mereka hanya diam, larut dalam pikirannya masing-masing. Namun tiba-tiba bunyi panggilan dari handphone Jingga membuyarkan lamunan keduanya.
"Ray maaf, sepertinya aku harus pulang," ucap Jingga seraya berdiri.
"Mau aku antar? Sekalian aku juga mau pulang," tawar Ray pada Jingga.
"Maaf Ray bukan maksud aku menolak tawaran dari kamu, tapi aku takut nanti suami aku salah paham jika aku diantar oleh seorang laki-laki yang bukan makhram aku," ucap Jingga.
"Oh iya gak papa, kamu hati-hati dijalannya ya!" balas Ray tersenyum.
"Iya, kamu juga hati-hati. Aku pergi dulu, assalamu'alaikum," ucap Jingga seraya pergi meninggalkan taman itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," balas Ray.
Ray hanya menatap sendu kepergian Jingga. Nyatanya dia belum bisa melupakan perasaannya pada Jingga. Semoga Jingga selalu bahagia walau bukan dia yang menjadi suaminya, pikir Ray.