
Pagi ini Jingga sangat rapi, dia sudah bersiap-siap akan pergi kerumah Citra, karena kemarin dia mendapat kabar bahwa sahabatnya itu sakit.
"Mas, aku pergi dulu ya," ucap Jingga sambil mencium tangan suaminya.
"Iya sayang. Tapi beneran gak mau aku antar?" tanya Ken memastikan karena dari kemarin istrinya itu sangat kekeh ingin pergi sendiri, dengan alasan Ken harus menjaga Resti, takut kejadian seperti kemarin terulang lagi.
"Iya Mas. Kamu jaga Resti, takut terjadi apa-apa sama kandungannya, lagian aku cuma sebentar kok perginya. Hanya ingin melihat keadaan Citra aja," balas Jingga meyakinkan suaminya.
"Baiklah. Kamu hati-hati dijalannya ya sayang," ucap Ken sambil mencium kening Jingga.
"Iya Mas, assalamu'alaikum," ucap Jingga langsung pergi.
"Wa'alaikumsalam," ucap Ken membalas salam dari Jingga.
Setelah kepergian Jingga, Ken merasa bingung harus apa. Apakah dia perlu melihat keadaan Resti yang dari kemarin dikamarnya terus. Tapi kan kata dokter keadaannya baik-baik saja. Ah! Ken merasa serba salah, tapi dia juga penasaran ingin melihat keadaannya, tepatnya bukan ingin melihat Resti, tapi ingin memastikan bahwa anak yang ada didalam kandungan Resti baik-baik saja.
Kenapa sekarang dia sangat khawatir? Apakah ini pertanda dia sudah menerimanya atau hanya sebatas ikatan batin antara anak dan ayah saja pikir Ken bingung. Namun akhirnya dia memutuskan untuk pergi kekamar Resti.
Tok tok tok!
"Masuk!" ucap Resti setengah berteriak.
Ceklek!
Pintu terbuka, dan membuat Resti sedikit kaget melihat siapa yang masuk kedalam kamarnya. Awalnya dia berpikir mungkin Jingga yang mengetuk pintu kamarnya, tapi ternyata Ken yang masuk kedalam kamarnya.
"Hmm, ada apa Mas?" tanya Resti sedikit penasaran karena suaminya itu tak pernah masuk kedalam kamarnya.
"Saya cuma mau lihat keadaan kamu aja. Saya tidak mau disalahkan bila terjadi sesuatu lagi pada kamu. Tapi sepertinya kamu baik-baik aja," ucap Ken yang melihat Resti sedang selonjoran diatas kasur sambil membaca majalah fashion.
Awalnya Resti sangat senang ketika Ken bilang ingin melihat keadaannya, namun kalimat yang diucapkan selanjutnya membuat senyumnya jadi patah. Ternyata benar, Ken sama sekali tidak peduli padanya, Ken cuma tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu pada Resti, dan itu membuat Resti semakin jengkel saja.
"Kalo kamu cuma mau bikin aku emosi, mending kamu gak usah kesini Mas. Aku gak mau stres lagi dan berdampak buruk bagi kandungan aku. Oh, atau kamu memang sengaja ya membuat aku terus kesal, agar kandungan aku kenapa-napa, terus kamu bisa menceraikan aku apabila aku sudah tidak mengandung anak kamu lagi. Iya kan Mas?" ucap Resti sambil menatap suaminya.
__ADS_1
"Kamu kalo bicara sama suami kamu itu jangan kurang ajar. Saya memang tidak menginginkan anak itu, tapi bukan berarti saya harus menghilangkan nyawa, hanya karena saya tidak suka pada ibunya. Kamu harusnya belajar dari Jingga, dia sudah menjadi istri yang baik, terus sekarang mau menerima kamu sebagai madunya. Harusnya kamu malu dengan sikapmu yang seperti ini terus," balas Ken tegas dan langsung meninggalkan Resti.
"Jingga lagi, Jingga lagi. Apa sih hebatnya dia," teriak Resti frustrasi.
Lihat saja nanti Ken, apakah setelah kehadiran anak ini, sikapmu akan terus seperti ini? Dan terus membela istrimu itu, yang bahkan sampai sekarang belum bisa mengandung anak kamu? Pikir Resti sinis.
...----------------...
"Assalamu'alaikum," ucap Jingga sambil mengetuk pintu rumahnya Citra.
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk!" ucap seorang laki-laki yang umurnya tidak beda jauh dengan Citra.
"Oh iya, terimakasih," balas Jingga yang sedikit penasaran dengan laki-laki yang baru saja membukakan pintu rumah Citra. Bukankah Citra tinggal sendiri? pikirnya.
Jingga hanya mengikuti laki-laki itu dari belakang. Dan akhirnya dia bisa melihat Citra yang terbaring lemas dikasurnya. Dia langsung berjalan kearah Citra.
"Keadaan kamu sekarang gimana Cit? Apakah masih sakit? Atau sekarang kita pergi kerumah sakit aja ya?" tanya Jingga khawatir, dia duduk disamping Citra yang tengah berbaring.
"Aku tanya kok kamu malah tertawa sih," ucap Jingga setengah kesal. Dia datang sangat khawatir tapi yang ditengoknya malah cengengesan seperti itu.
"Haha, wajah kamu lucu tahu, apalagi saat kamu panik, keliatan imut banget," ucap Citra yang berusaha bersandar dikepala ranjangnya.
"Apa sih, aku serius loh khawatir sama keadaan kamu," ucap Jingga lagi.
"Iya iya aku tahu Jingga sayang. Aku udah baikan kok. Kemarin cuma demam, tapi sekarang udah mendingan kok, tinggal lemesnya aja. Ngomong-ngomong kamu kesini sendiri? Gak diantar sama suami kamu?" tanya Citra.
"Iya aku naik taksi. Suami aku lagi sibuk," jawab Jingga seadanya sambil melirik kearah laki-laki yang belum Jingga kenal.
Citra mengerti arti lirikan sahabatnya itu. Berarti Jingga tak mau mengatakan yang sebenarnya karena diantara mereka ada orang lain.
"Oh iya, aku sampe lupa ngenalin kamu sama sahabat aku," ucap Citra sambil melirik kearah Dafa.
"Jingga kenalin, itu Dafa sahabat aku waktu SMA. Aku sengaja minta tolong sama dia buat beliin obat penurun demam," ucap Citra sambil menunjuk kearah Dafa yang hanya berdiri diujung ranjang.
__ADS_1
"Ah iya. Salam kenal Dafa, aku Jingga sahabat Citra," ucap Jingga sambil memperkenalkan dirinya.
"Aku Dafa Kak, salam kenal juga," balas Ken sambil memberikan senyuman manisnya. Sebenarnya dia sudah tahu tentang Jingga, namun disini dia berpura-pura tidak mengenalnya.
"Jangan panggil Kakak, karena sepertinya umur kita gak beda jauh. Jadi panggil Jingga aja," ucap Jingga tersenyum manis.
"Oh, bolehkah?" tanya Dafa ragu-ragu.
"Iya. Santai aja," jawab Jingga.
"Oh iya, kamu belum makan siang kan?" tanya Jingga pada Citra.
"Belum, baru makan bubur aja yang dibeli sama Dafa," jawab Citra.
"Ya udah, aku masak aja ya, sekalian buat makan siang kamu sama Dafa," ucap Jingga.
"Boleh. Makasih ya Jingga sayang, kamu cantik deh," ucap Citra sambil terkekeh.
"Ih! Rayuan kamu gak mempan, karena aku udah cantik dari dulu," canda Jingga dengan kekehan diakhir. Setelah mengatakan itu Jingga langsung pergi ke dapur.
"Daf, kenapa kamu liatin Jingga sampe segitunya?" tanya Citra penasaran karena Dafa terus menatap Jingga walau dia sudah tak terlihat lagi.
"Eh? Ah, enggak Cit. Gak papa," jawab Dafa gugup sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Bohong. Jangan-jangan kamu naksir ya sama jingga?" tanya Citra lagi sambil menunjuk-nunjuk kearah Dafa yang kini tengah duduk disofa.
"Ngawur aja kamu Cit. Ya enggak lah. Aku cuma lagi memastikan sesuatu aja, ternyata gak salah kalo kak Ray sampai jatuh cinta sama Jingga, dia benar-benar wanita yang baik, hebat lagi, membiarkan suaminya menikah dengan wanita lain," ucap Dafa yang tak sadar membuka rahasia Kakaknya dan sontak membuat Citra membelalakan matanya.
"Apa! Kak Ray suka sama Jingga!" ucap Citra yang sedikit berteriak.
"Sstt, jangan kenceng-kenceng ngomongnya! Nanti Jingga denger loh," ucap Dafa cepat sambil membekap mulut Citra dengan telapak tangannya.
Citra hanya mengangguk karena mulutnya masih dibekap Dafa. Sungguh ucapan Dafa membuatnya benar-benar kaget. Bagaimana mungkin kak Ray bisa jatuh cinta dengan wanita yang sudah bersuami? Pikir Citra tak habis pikir.
__ADS_1