
Dafa pulang dengan dengan wajah kusut, membuat Ray hanya menghembuskan nafas kasarnya. Ternyata mau sebanyak apapun wanita yang dikencani adiknya itu, tetap saja ada kata galau pikirnya.
"Hei! Kondisikan wajahmu itu, sungguh tak enak dilihat," ucap Ray kesal.
"Ah! Kakak kaya gak pernah galau aja," ejek Dafa sambil duduk disebelah Ray.
"Itu beda adikku sayang," ucap Ray yang greget pada adiknya itu. "Kali ini apalagi masalahnya?" tanya Ray penasaran.
"Kakak tahu---" jawab Dafa semangat untuk menjelaskan dan memang menurutnya kakaknya itu harus tahu, tapi belum sempat Dafa melanjutkan ucapannya, Ray sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Enggak tahu," ucap Ray cepat.
Dafa mendengus, suka sekali kakaknya itu membuatnya kesal.
"Aku belum selesai bicara loh, kebiasaan suka motong pembicaraan aku. Kalo gak mau tahu ya udah, mending aku tidur. Padahal ini soal kak Jingga loh," ucap Dafa yang sedikit memancing Ray.
"Eh? Jingga? Memangnya ada apa?" tanya Ray cepat.
"Tuh bener kan. Kalo ada sangkut pautnya sama kak Jingga aja, langsung cepet responnya," jawab Dafa sambil tersenyum mengejek.
"En---nggak, kata siapa? Kakak cuma penasaran, kenapa kamu tiba-tiba ngomongin dia," balas Ray yang terlihat salah tingkah.
"Hahaha, udahlah gak usah bohong aku tahu," ucap Dafa yang terus menggoda Ray.
"Jadi kamu itu mau lanjutin ngomong enggak?" tanya Ray yang mulai jengkel pada adiknya itu.
"Ok ok, santai dong. Jadi gini Kak, sebenarnya pas tadi aku jalan sama Citra, aku sempet nanyain soal yang kemarin waktu direstoran, saat Citra bilang bahwa suami kak Jingga itu punya dua istri," jawab Dafa sambil menghela nafasnya, sedangkan Ray hanya menatap adiknya serius.
"Terus kata Citra semuanya yang dikatakannya itu benar, tapi dia juga gak tau detail kejadiannya seperti apa. Yang pasti suami kak Jingga itu sudah menikahi wanita yang magang ditempat kerjanya. Dia juga gak cerita kenapa wanita itu bisa hamil, tapi yang pasti saat ini Citra sangat mengkhawatirkan keadaan kak Jingga," lanjut Dafa menjelaskan semuanya.
Apa? Wanita itu sudah hamil? Bagaimana mungkin suaminya itu tega menyakiti Jingga, sungguh Ray tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Jingga saat ini.
__ADS_1
"Tunggu! Bukankah waktu itu kamu pernah bilang, kalau kekasihmu itu sedang magang direstoran. Apa jangan-jangan wanita itu adalah kekasihmu?" tanya Ray menduga-duga.
"Yap! Berarti pemikiran Kakak sama denganku. Apalagi Citra sempet mengatakan bahwa wanita itu bernama Resti," jawab Dafa.
"Bukankah Resti adalah nama kekasihmu ya? Berarti kalau dia adalah orang yang sama berarti... " ucap Ray tak percaya bahkan dia tak bisa menyembunyikan wajah kagetnya.
"Berarti istri kedua suaminya kak Jingga adalah kekasih aku, itu kan maksud Kakak?" tanya Dafa memastikan.
Ray hanya mengangguk karena dia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ray merasa kasihan pada Dafa, pantas saja akhir-akhir ini wajahnya adiknya itu selalu kusut.
"Iya Kak, aku juga menduga seperti itu. Tapi aku belum bisa memastikan apakah Resti istri kedua suami kak Jingga itu adalah orang yang sama dengan kekasihku," ucap Dafa yang tatapannya mulai sendu.
Ray bisa menangkap tatapan sedih adiknya. Dia hanya bisa memberi semangat pada adiknya.
"Udah jangan sedih! Kalau menurut Kakak yah, Citra itu orangnya baik loh, dia juga cantik, apalagi dia seorang wanita yang mandiri," ucap Ray yang membuat Dafa mengerutkan keningnya.
"Jadi, maksud Kakak apa ngomong kaya gitu?" tanya Dafa yang sebenarnya tahu maksud Ray.
"Wah, ternyata putus cinta bisa membuat orang jadi bodoh ya," ledek Ken sambil terkekeh.
"Hei! Jangan pura-pura gak ngerti! Citra itu sangat cocok jadi kekasihmu, dan Kakak merestuinya!" ucap Ken setengah berteriak karena Dafa sudah meninggalkannya. Ray tak bisa menahan tawannya, ternyata enak juga meledek orang yang sedang galau, sama seperti Dafa yang suka menggoda dia saat perasaannya tengah kacau.
...----------------...
"Apa!" teriak Roy dengan wajah tak percayanya. Dia tak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh istrinya. Bagaimana mungkin anaknya menikah lagi tanpa sepengetahuan dia dan istrinya. Dasar anak nakal! Awas saja kalau bertemu nanti, bisa-bisanya Ken mempunyai dua istri, pikir Roy kesal.
"Sabar Pa. Papa harus tenang! Kalau enggak, penyakit Papa bisa kumat lagi," ucap Bella berusaha menenangkan suaminya.
"Gimana Papa bisa tenang Ma, anak itu sudah keterlaluan," balas Roy sambil mengusap wajahnya frustrasi.
"Iya Mama tahu, makannya Papa harus tenang, biar kita bisa membantu menyelesaikan masalah rumah tangga anak kita," ucap Bella.
__ADS_1
"Terus sekarang bagaimana keadaan Jingga, Ma?" tanya Roy penasaran. Dia khawatir dengan keadaan menantunya itu.
"Ya dia bilang, dia baik-baik saja. Justru Jingga yang menyuruh Ken agar menikahi Resti, karena Jingga tidak mau mempunyai suami yang bertanggung jawab. Apalagi ada bayi yang harus dipertaruhkan. Tapi sebagai seorang wanita, Mama sangat tahu perasaan Jingga sekarang Pa, dia pasti sangat hancur," jawab Bella yang merasa sedih dengan keadaan menantunya.
"Bayi? Maksud Mama wanita itu sudah hamil?" tanya Roy dengan wajah tak percayanya.
"Iya Pa. Dia sudah hamil 4 bulan, dan mungkin sekarang mau yang ke 5 bulan," jawab Bella yang sontak membuat Roy membesarkan matanya.
"Apa? 4 bulan, pernikahan dia dengan Jingga saja baru berjalan 3 bulan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi," ucap Roy yang tak habis pikir dengan kelakuan anak semata wayangnya itu.
"Mama juga gak tahu Pa. Tapi Ken bilang dia tidak melakukannya dengan sengaja. Dia bilang dia dijebak saat dia membantu Resti," ucap Bella berusaha menjelaskan apa yang terjadi.
Roy hanya bisa menghembuskan nafasnya, dia merasa sangat pening memikirkan itu semua. Ah! Apa yang harus dilakukannya? Pikir Roy frustrasi.
"Ma, nanti sore kita kerumah anak kita," ucap Roy setelah berhasil menenangkan pikirannya.
"Iya Pa. Tapi Mama minta, Papa jangan bersikap kasar sama Ken! Dia juga tak ingin mengalami kejadian seperti ini," ucap Bella yang hanya dibalas anggukan oleh Roy.
...----------------...
Ken hanya bisa menunduk. Pasalnya, sejak kedatangan orang tuanya, papanya itu tak berhenti menatap dia dengan tatapan tajamnya, seolah papanya itu bisa menelan dia hidup-hidup, dan itu membuat Ken merasa ngeri hanya dengan memikirkannya saja.
"Pa... " panggil Bella pelan dengan menggoyangkan lengan suaminya.
"Jelaskan semuanya Ken!" ucap Roy dengan nada dingin. Bahkan dia terus menatap tajam anaknya.
"Pa.... Bukannya Mama sudah menjelaskan semuanya," balas Ken takut-takut.
"Papa ingin mendengar langsung dari mulut kamu!" ucap Roy tegas tak terbantahkan.
"Baiklah, tapi Papa harus percaya dengan semua yang akan aku jelaskan, karena aku tidak pernah berbohong Pa," ucap Ken yang dibalas anggukan oleh Roy.
__ADS_1
"Jadi 1 bulan sebelum pernikahan aku dan Jingga, aku membantu Resti saat mobilnya mogok, karena dia adalah karyawan baru direstoran. Saat aku berniat mengantarkannya, entah apa yang terjadi saat itu, aku sudah dengan pengaruh obat perangsang yang sengaja Resti masukan dalam minuman aku. Hanya itu yang aku ingat, karena setelah itu aku sama sekali tak ingat apa yang aku lakukan Pa," jelas Ken dengan tegas sambil menatap lurus kearah Roy.
Roy berusaha mencerna semua yang dijelaskan oleh Ken. Kalau itu semua memang benar, berarti wanita yang kini menjadi istri keduanya Ken bukanlah orang baik, pikirnya.