CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
36


__ADS_3

Ken dan Jingga kini sudah berada didalam mobil. Ken langsung saja membawa istrinya pergi, sebelum Resti mengeluarkan umpatan-umpatan karena dia akan menceraikannya.


Dosa apa yang sudah dilakukannya, sehingga dia harus menikahi wanita seperti Resti, pikir Ken tak habis pikir. Padahal dulu saat dia sah menikahi Jingga, tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya, bahwa dia akan mempunyai dua orang istri.


"Mas, kita mau pergi kemana?" tanya Jingga setelah mereka didalam perjalanan.


"Kamu maunya kemana sayang?" tanya balik Ken.


"Kamu kan yang ajak aku pergi, ya terserah kamu aja Mas," balas Jingga malas. Entah kenapa dia tidak suka saat dia bertanya, namun orang itu malah balik tanya.


"Hm, kemana ya? Gimana kalo kita pergi nonton aja sayang, udah lama banget kita gak nonton," usul Ken semangat, bahkan dari tadi dia terus menampilkan senyuman sumringahnya.


"Boleh Mas," ucap Jingga seadanya.


Tanpa membalas ucapan istrinya, Ken langsung menambah kecepatan mobilnya.


Namun belum sempat mereka sampai, Jingga tiba-tiba berubah pikiran. Tiba-tiba saja dia ingin ke rumah Citra. Mungkin karena sudah lama tak bertemu sahabatnya, jadi Jingga merasa rindu pada sahabat satunya itu.


"Mas, mending kita gak usah nonton ya," ucap Jingga yang langsung membuat Ken berkerut kening.


"Loh memangnya kenapa sayang?" tanya Ken sedikit keheranan.


"Gak tau Mas, tiba-tiba pengen ketemu sama Citra. Udah lama aku gak ketemu sama dia," jawab Jingga semangat.


"Ya udah kalo kamu maunya ke rumah Citra," ucap Ken akhirnya menyetujui keinginan sang istri, apalagi melihat wajah istrinya yang semangat, jadi dia tidak tega jika harus menolaknya.


"Beneran Mas, kamu gak marah kita gak jadi nonton?" tanya Jingga sedikit sungkan.


"Iya sayang, aku tak masalah kemanapun kita pergi, asal selalu sama kamu,' ucap Ken sambil cengengesan.


"Mas, kenapa kamu jadi tukang gombal sih?" tanya Jingga sambil tersenyum geli melihat kelakuan suaminya.

__ADS_1


"Mas gombalnya cuma sama kamu aja sayang," jawab Ken tersenyum senang.


"Tuh kan gombal lagi," ucap Jingga pura-pura kesal dan langsung mencubit pinggang suaminya.


"Aw... Kamu kenapa sih sayang, suka banget nyubit pinggang Mas? Sakit tau, kamu gak kasian ya sama suamimu yang sangat tampan ini," ucap Ken sambil menaik-turunkan alisnya. Sontak saja pipi Jingga merasa panas saat mendengar kata yang terlontar dari mulut suaminya.


"Mas, kenapa kamu suka kepedean sih," ucap Jingga sambil mengalihkan pandangannya ke samping jalan, karena dia merasa malu dengan ucapan suaminya.


"Hahaha! Loh emang bener kan, kalo suami kamu ini sangatlah tampan seperti orang Korea," balas Ken sambil tertawa lepas.


"Ya, tapi beda jauhlah Mas," ucap Jingga lagi. Namun suaminya itu kembali tertawa. Dia sangat suka menggoda istrinya, karena dia suka melihat wajah cantik istrinya itu merona karena malu.


"Tuh kan, gara-gara kamu sih Mas," ucap Jingga kesal lantaran jalan menuju ke rumah Citra rupanya sudah terlewat jauh.


"Apa sayang?" tanya Ken gemas jika istrinya itu sedang kesal. Entahlah, Ken merasa wajah Jingga itu lucu saat dia sedang cemberut.


"Itu, jalan kerumahnya Citra udah kelewat jauh, kamu sih bercanda terus," ucap Jingga setengah kesal. Namun seberapa kesalnya Jingga, itu terlihat manja bagi Ken.


Akhirnya mereka sampai dirumah Citra, dan raut wajah Jingga kembali sumringah karena dia sudah tak sabar ingin bertemu sahabatnya yang cerewet itu. Walaupun dimata Jingga, Citra adalah orang yang begitu cerewet namun Jingga tak bisa memungkiri bahwa dia sangat menyayangi Citra.


Namun Jingga dan Ken berkerut kening kala melihat ada mobil yang juga terparkir dipekarangan rumah Citra.


"Sayang, kamu udah ngasih kabar enggak sama Citra, kalo kita mau kesini?" tanya Ken penasaran, karena dia takut kedatangan mereka mengganggunya. Apalagi saat melihat ada mobil disana, mungkin saja Citra sedang kedatangan tamu lain.


"Aku belum sempat ngasih tau dia Mas. Kenapa memangnya Mas?" tanya Jingga lagi.


"Ya takutnya dia lagi ada kepentingan. Kamu lihat sendiri kan ada mobil lain yang terparkir disini. Mas cuma takut ganggu waktunya dia," jawab Ken.


"Aku juga gak tau Mas, tapi mudah-mudahan aja kedatangan kita gak ganggu dia. Soalnya aku udah kangen banget sama Citra mas, masa kita balik lagi," ucap Jingga setengah manja.


"Ya udah," ucap Ken akhirnya. Kemudian Jingga berjalan dengan diikuti Ken dari belakang.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," ucap Jingga memberi salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab Citra yang langsung senang kala dia melihat kedatangan Jingga kerumahnya. Kemudian dia membuka lebar daun pintunya.


"Kamu apa kabar Cit?" tanya Jingga disela pelukan hangatnya pada Citra.


"Aku baik. Kamu sendiri gimana? Aku kangen tau sama kamu," ucap Citra dengan nada setengah kesal. Namun Jingga hanya terkekeh, karena dia tahu kalau Citra juga merindukannya.


"Iya aku juga kangen banget sama cerewetnya kamu," ucap Jingga lagi yang membuat mata Citra berotasi malas.


"Ya udah, ayo masuk! Kamu berdua aja sama suami kamu?" tanya Citra sambil mempersilahkan Jingga dan suaminya masuk.


"Iya Cit," jawab Jingga.


"Hm Cit, gak papa kan kalo aku ikut Jingga kesini?" tanya Ken pada citra.


"Ya gak papa, kan kamu suaminya Jingga. Lagian kamu gak ganggu kita, karena didalam juga ada Dafa dan Ray, jadi kamu juga bisa ngobrol sama mereka," jawab Citra yang sontak membuat Jingga dan Ken kaget.


"Ha? Mereka juga ada disini?" tanya Jingga penasaran. Dia melirik ke arah suaminya yang juga tengah menatapnya. Baik Jingga maupun Ken tidak tahu harus bagaimana untuk mengatasi kecanggungan mereka nanti.


"Iya, mereka juga baru aja nyampe," jawab Citra lagi.


Sampai akhirnya Jingga dan Ken melihat Ray dan Dafa sedang duduk disofa. Ken hanya menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Karena dia merasa sungkan jika harus bertemu dengan mereka.


"Dafa, Kak Ray, ini ada Jingga!" ucap Citra memberitahu, dan langsung membuat mereka menoleh kearahnya.


Ray langsung berwajah kaget, sedangkan Dafa hanya berwajah malas, bukan dia tidak suka dengan kedatangan Jingga, namun dia tidak suka dengan orang yang berada disamping Jingga.


Dafa mempunyai kesalahan tersendiri pada suaminya Jingga itu, terlepas dari masalah mereka itu. Tepatnya bukan masalah Dafa dan Ken, karena Dafa merasa tak pernah membuat masalah dengan suaminya Jingga.


Hanya saja Ken yang selalu membuat masalah dengan Dafa, yang membuat Dafa semakin tak suka saja dengan lelaki itu.

__ADS_1


Kemudian Ken dan Jingga duduk tepat didepan mereka, membuat Dafa mendengus kesal lantaran harus bertatap muka dengan Ken.


__ADS_2