CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
38


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tak terasa kini kandungan Resti memasuki usia ke sembilan bulan, dimana bulan ini sangat ditunggu-tunggu untuk kelahiran anaknya. Segala perlengkapan persalinan sudah Resti siapkan. Kini dia tinggal menunggu hari dimana anaknya itu siap dilahirkan.


Seperti biasa Ken selalu bersikap dingin pada Resti. Walaupun sebentar lagi Resti akan melahirkan, namun tak sedikitpun Ken bersikap lembut pada istri keduanya itu.


"Mas, nanti kamu akan menemani aku saat melahirkan kan?" tanya Resti ketika mereka bertiga duduk diruang keluarga.


"Lihat nanti aja, kalo saya gak sibuk," jawab Ken dengan nada datar.


"Mas, aku ini akan melahirkan anak kamu sendiri, bukan anak orang lain. Kenapa kamu tak sedikitpun peduli pada anakmu ini," ucap Resti sambil mengelus perutnya yang semakin besar itu.


"Sudahlah, jangan mulai lagi. Hari ini mood saya sedang baik, jadi kamu jangan menghancurkannya!" ucap Ken kesal. Selalu saja itu yang Resti bahas.


Resti hanya bisa mengepalkan tangannya. Hatinya begitu teriris mendengar ucapan suaminya. Jingga yang melihat Resti yang mulai berkaca-kaca sedikit merasa kasihan. Karena bagaimanapun Jingga tahu perasaan Resti sekarang.


"Res, kamu tenang ya! Mas Ken bakal temenin kamu saat melahirkan kok," ucap Jingga berusaha menenangkan hati Resti.


"Kamu ngomong apa sih sayang? Aku gak bilang kaya gitu loh," sangkal Ken dengan nada tak suka. Kenapa istrinya itu selalu memperlakukan Resti dengan baik? Apakah Jingga lupa dengan perbuatan Resti padanya?


"Mas, walaupun kamu membenci Resti, tapi kamu harus ingat, masih ada anak kamu yang sebentar lagi lahir ke dunia ini. Berilah Resti sedikit perhatian, agar dia tak tertekan, dan persalinannya berjalan dengan lancar," ucap Jingga lembut. Dia tak mau, anak yang ada didalam kandungan Resti menjadi korban kebencian ayahnya karena perbuatan ibunya sendiri.


"Kamu kenapa selalu berbuat baik sama dia sih sayang?" tanya Ken sedikit heran.


"Mas, kejadian yang lalu biarlah berlalu. Kamu jangan mengingatnya terus. Berilah Resti kesempatan untuk merubah dirinya menjadi lebih baik lagi," ucap Jingga berusaha memberi perhatian pada suaminya.


"Tapi sayang..." ucapan Ken terpotong oleh Resti.


"Sudahlah Kak, biarkan Mas Ken bersikap seperti itu. Dia mungkin gak akan pernah maafin aku, bahkan dia juga mungkin akan membenci anaknya sendiri," ucap Resti langsung.


"Ck! Kamu hanya bisa bersikap so baik saja didepan istri saya. Kamu sengaja kan menarik perhatian istri saya, supaya dia kasihan dan memaksa saya untuk bersikap baik pada kamu?" tanya Ken sinis.


"Terserah kamu mau bilang apa Mas. Kamu mau bersikap bagaimanapun aku udah gak peduli. Tapi ingat satu hal Mas, mau sebenci apapun kamu, anak ini adalah anak kamu, darah daging kamu sendiri," ucap Resti yang tak bisa menahan lagi rasa kesalnya.

__ADS_1


Ken hanya bisa menatap Resti dengan tatapan tajamnya. Dia semakin tak suka saja dengan sikap Resti yang selalu berani padanya.


Tiba-tiba bunyi panggilan dari ponsel Jingga mengagetkan semua orang yang tengah duduk itu. Ken mengalihkan pandangannya pada istrinya yang mengangkat panggilan itu.


"Hallo," ucap Jingga setelah menjawab panggilan itu.


"... " jawab orang diseberang.


"Apa!" ucap Jingga tak percaya. Bahkan ponsel yang dia pegang langsung terjatuh, setelah mendengar ucapan dari peneleponnya.


Seperti ada hantaman keras yang mengenai dirinya. Nafasnya serasa sesak setelah mendengar kabar itu. Air matanya langsung saja turun dengan deras membasahi pipinya. Bahkan tubuhnya langsung terasa lemas.


Ken langsung panik saat melihat istrinya langsung lemas dan berurai air mata. Ken langsung mendekap tubuh lemas Jingga, membawa ke dalam pelukannya.


"Sayang, hei sayang! Ada apa?" tanya Ken khawatir setelah melihat wajah pucat istrinya.


Namun bukan jawaban yang Ken dapatkan, hanya isak tangis istrinya saja yang semakin keras. Dia berusaha mengambil ponsel yang terjatuh, tapi rupanya panggilan telepon itu sudah terputus, jadi Ken tak bisa mengetahui penyebab istrinya seperti itu.


"Mas, hikshiks!" Jingga tidak bisa menjelaskan apapun, karena nafasnya sangat sesak, dia hanya bisa menangis.


"Iya sayang. Kenapa kamu menangis? Siapa yang menelepon itu, dan apa yang dikatakannya?" tanya Ken lembut sambil mengusap kepala Jingga, berusaha memberi ketenangan pada Jingga, agar istrinya itu bisa menjelaskan apa yang terjadi.


"Mas, aku gak tau siapa itu, tapi dia bilang bahwa ayah kecelakaan," jawab Jingga sebelum tangisnya pecah.


Ken yang mendengar itu langsung kaget, matanya membesar, dan dia langsung memeluk Jingga erat. Resti yang mendengar itu juga langsung berwajah kaget.


"Mas,,,, Aku gak mau kehilangan ayah," ucap Jingga disela tangisnya.


"Sstt sayang, kamu gak boleh ngomong kaya gitu. Ayah pasti baik-baik aja. Kita doakan aja ya, kamu sekarang tenang, dan kita siap-siap pergi ke Malang," ucap Ken lagi dan Jingga hanya mengangguk sebagian jawabannya.


Perlahan Ken membantu Jingga berdiri, untuk bersiap-siap pergi. Namun baru saja Ken dan Jingga melangkah beberapa langkah, mereka langsung dikejutkan lagi dengan teriakan Resti yang kesakitan.

__ADS_1


"Aww... Mas, tolong aku. Perut aku sangat sa---kit!" ucap Resti yang berteriak kesakitan.


"Mas," ucap Jingga pada Ken yang hanya diam.


"Sudahlah sayang, jangan hiraukan dia. Mungkin dia hanya sedang akting," ucap Ken cuek.


"Tapi Mas... " Jingga tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena dia langsung berwajah kaget setelah melihat darah diantara paha Resti.


"Mas, Resti pendarahan!" ucap Jingga setengah berteriak. Dia juga langsung melangkah cepat ke arah Resti yang langsung diikuti oleh Ken.


"Kak, perut aku sa---sakit," lirih Resti sambil mencengkram erat lengan baju yang dipakai Jingga.


"Kamu tenang ya, kita akan pergi ke rumah sakit," ucap Jingga yang juga panik, apalagi melihat darah yang semakin banyak dikaki Resti.


"Mas, cepat bawa Resti ke rumah sakit!" ucap Jingga langsung.


"Tapi sayang, bagaimana dengan kamu?" tanya Ken bingung dengan keadaan itu.


"Aku bisa pergi sendiri. Sekarang kamu cepat bawa Resti, aku takut terjadi sesuatu sama dia dan anak kamu," ucap Jingga lagi.


Ken merasa bingung, dia juga khawatir melihat keadaan Resti, tapi dia juga tak akan tega jika harus meninggalkan istrinya sendiri. Tapi dia langsung menuruti ucapan Jingga, karena dia juga panik saat darah yang mengalir diantara kedua kaki Resti bertambah banyak.


Ken langsung membawa Resti ke dalam mobilnya, dan setelah itu dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sebelumnya dia menyuruh Jingga untuk menghubungi orang tua Ken, agar menyusulnya ke rumah sakit.


Di sisi lain, Jingga juga merasa bingung dengan keadaan ini. Baru saja dia mendapat kabar tentang kecelakaan yang menimpa ayahnya. Sekarang dia bingung harus pergi dengan siapa ke Malang, karena dia tak mungkin mengajak Ken sementara keadaan Resti sangat mengkhawatirkan.


Akhirnya dia memutuskan untuk pergi sendiri, dengan memesan taksi online. Mungkin karena pikirannya sedang kacau, jadi Jingga tidak fokus saat dia akan menyebrangi jalan di depan rumahnya, dan membuatnya hampir tertabrak mobil yang melintasi jalan itu.


Jingga hampir berteriak karena hanya berjarak sedikit saja tubuhnya akan tertabrak mobil. Beruntungnya sang pengemudi langsung menginjak remnya, saat dia melihat seorang wanita yang tiba-tiba saja melintasi jalan itu.


Sang pengemudi keluar dengan wajah khawatirnya, dia segera melangkah mendekati wanita itu yang masih syok. Namun matanya membesar saat dia melihat wanita itu yang ternyata adalah Jingga.

__ADS_1


"Jingga!" ucapnya tak percaya.


__ADS_2