
Plakkk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ken, namun Ken pasrah menerima tamparan dari papanya sendiri. Ken tak menampik apa yang diucapkan papanya adalah kesalahannya.
"Dulu kamu meminta Papa dan Mama untuk merestui untuk menikahi Jingga. Tapi sekarang kamu dengan mudahnya menceraikan dia. Papa benar-benar kecewa sama kamu Ken!" ucap Roy marah. Dia tak habis pikir, begitu mudahnya Ken menceraikan Jingga, hanya karena masalah anak.
Ken hanya diam, tak bereaksi ataupun membalas ucapan papanya. Bella pun sama, dia hanya melihat suaminya mengeluarkan semua emosinya, karena dia juga merasa kecewa dengan anak semata wayangnya itu. Sedangkan Resti yang tengah menggendong Saga, hanya menatap kasihan pada suaminya. Apalagi melihat bibir suaminya yang berdarah akibat tamparan dari mertuanya, namun dia tak bisa melakukan apapun selain melihatnya.
"Kenapa kamu tak mendengarkan ucapan Mama, Ken? Harusnya kamu bisa melawan ego mu itu. Tak seharusnya kamu menyakiti Jingga hanya karena dia belum bisa memberi kamu keturunan. Mama dan Papa benar-benar kecewa sama kamu," ucap Bella juga meluapkan kekesalannya.
"Bahkan kamu tidak menahan dia untuk tidak pergi dari rumah ini. Dimana akal sehatmu Ken? Pokoknya Papa minta sekarang kamu cari Jingga dan adiknya. Kalau sampai terjadi apa-apa sama mereka, Papa tidak akan memaafkan kamu!" ucap Roy tegas. Kali ini dia tidak akan membuat Ken bertindak sesukanya. Roy begitu mengkhawatirkan Jingga dan Keyla, karena mereka tidak mempunyai tempat tinggal selain rumah ini, pikirnya.
"Mereka ada di rumah Citra Pa," ucap Ken pada akhirnya, membuat Roy semakin kesal saja.
"Lantas kamu tahu dia akan pergi ke rumah Citra tapi kamu membiarkannya saja? Dimana pikiran kamu Ken. Memang kamu mau semua orang jadi tahu permasalahan rumah tangga kamu," ucap Roy tak habis pikir.
"Untuk apa aku mengkhawatirkan masalah itu Pa, sedangkan aku dan Jingga sudah benar-benar berpisah. Kita hanya tinggal menunggu waktu sidangnya saja," ucap Ken langsung membuat Roy mengeraskan rahangnya.
"Jadi kamu tak akan mendengarkan ucapan Papa lagi, untuk kembali rujuk sama Jingga, membawanya kembali ke rumah ini?" tanya Roy namun Ken hanya diam saja. Dan diamnya Ken diartikan sebagai jawabannya.
__ADS_1
"Baiklah jika itu maumu, Papa tidak akan pernah ke rumah ini lagi untuk menemuimu, jika kamu belum kembali bersama dengan Jingga lagi!" tegas Roy sebelum akhirnya melangkah pergi dari rumah anaknya.
"Ken kali ini kamu harus mendengarkan papamu! Dan tentang ucapan papa tadi, kamu jangan memikirkannya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana saat papamu marah. Setelah ini Mama akan bicara dengan papamu, tapi Mama minta sekali lagi, kamu harus kembali membawa Jingga ke rumah ini," ucap Bella dan setelah mengatakan itu, Bella juga keluar menyusul suaminya yang lebih dulu keluar.
"Mas, kamu udah janji ya sama aku, kalo kamu akan menceraikan Jingga. Jadi kamu harus menepati janji kamu, dan jangan pernah rujuk dengannya," ucap Resti langsung mendatangi suaminya, setelah memastikan mertuanya sudah pulang.
Ken hanya mengusap kasar wajahnya. Terlalu pusing memikirkan semuanya, apalagi ocehan Resti membuatnya semakin muak. Kalau saja tidak ada Saga, sudah pasti Ken akan menceraikan wanita itu, pikirnya. Tanpa membalas ucapan Resti dan memang tak minat sama sekali berbicara dengan Resti, Ken segera meninggalkan Resti dengan langkah cepatnya.
"Mas, kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara!" ucap Resti setengah berteriak namun rupanya Ken sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.
Ih! Awas aja kamu mas, kalo sampai kembali lagi dengan Jingga, ucap Resti dalam hati.
"Uh sayang, jangan nangis dong! Kamu kan jagoan Mama," ucap Resti sambil mengusap pipi Saga.
Sejujurnya Resti sering mengeluh di belakang suaminya. Bagaimana mungkin tidak, seorang nona muda yang dulunya sangatlah manja, tak pernah melakukan pekerjaan apapun karena hidupnya sering dilayani oleh asisten rumah tangganya. Tapi kini dia harus mengurus anaknya sendirian, termasuk mengganti popok yang paling Resti tidak suka, bahkan dia sering muntah saat melakukannya.
Tidak heran bukan? Resti lahir dengan segala kemewahan yang ibunya berikan. Walaupun begitu, Resti tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya, layaknya anak-anak yang lain. Ibunya hanya memberi dia kemewahan, tanpa memberinya perhatian. Bagi Marta, ibunya Resti, kemewahan memberi kebahagiaan pada anaknya, jadi dia terus berusaha memberi Resti harta, berharap anaknya bahagia, sampai lupa tugasnya sebagai seorang ibu. Tak heran jika sekarang Resti menjadi seorang wanita yang manja, yang berbuat sesukanya, bahkan melakukan sesuatu tanpa memedulikan perasaan orang lain.
Yang membuat Resti semakin kesal adalah sampai saat ini, sampai anaknya berumur 1 tahun pun ibunya tak pernah datang sekalipun untuk melihat cucunya. Marta hanya sesekali menghubungi Resti untuk menanyakan kabarnya juga kabar cucunya. Sudah, tidak ada bahasa Marta ingin sekali bertemu dan menggendong cucunya. Ah! Resti semakin kesal saja pada ibunya itu.
__ADS_1
"Baiklah sayang, kita ke kamar ya, karena kamu harus bobo," ucap Resti lagi, yang akhirnya bisa membuat Saga berhenti menangis. Kemudian dia segera membawa Saga ke dalam kamarnya.
*****
Bau disinfektan menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Jingga. Sejak Jingga sadar, dia tidak suka berada di ruangan dengan dominasi warna putih itu. Selain tidak suka aroma khas rumah sakit, Jingga juga punya trauma sendiri berada di rumah sakit. Kedua orang tuanya meninggal di tempat ini, membuat Jingga tidak ingin melihat rumah sakit lagi.
Suara langkah kaki terdengar, membuat Jingga segera menoleh ke arah datangnya suara itu. Dapat Jingga lihat, Citra, Dafa dan juga Ray melangkah ke arahnya. Namun Jingga tak melihat keberadaan adiknya.
"Cit, dimana Keyla?" tanya Jingga setelah Citra sudah berada di pinggiran ranjang. Sedangkan Dafa dan Ray hanya berdiri di pinggir ranjang sebelahnya lagi.
"Keyla aku titipkan sama perawat disini, karena tak mungkin mengajaknya masuk ke sini. Bagaimana keadaanmu?" tanya Citra khawatir.
Sebenarnya dia kesal saat Ray menceritakan semuanya, saat Jingga hampir mengakhiri hidupnya, namun setelah melihat keadaan Jingga dan mendengar kabar bahwa Jingga tengah mengandung, Citra tak jadi mengomeli sahabatnya itu. Walaupun dia sangat marah karena hampir saja Citra kehilangan sahabatnya dengan tindakan ceroboh dari sahabatnya itu.
"Aku baik-baik aja. Cit aku mau pulang, aku gak suka bau rumah sakit," ucap Jingga.
"Tapi Ga, kamu masih harus dipantau oleh dokter," ucap Citra yang mengingat perkataan dokter saat dia berbicara berdua dengan dokternya, bahwa Jingga harus dirawat beberapa hari di rumah sakit, apalagi setelah hingga hampir bunuh diri, membuat dokter menyarankan agar Jingga terus dipantau khususnya kondisi psikisnya.
"Aku gak mau Cit, aku mau pulang," ucap Jingga masih dengan keinginannya.
__ADS_1
"Baiklah, biar aku meminta izin dulu pada dokternya," ucap Ray yang membuat Citra menatapnya dengan heran. Namun Ray segera memberi kode pada Citra, dia akan mengurus apa yang menjadi ke khawatiran Citra.