CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
59


__ADS_3

Dafa duduk dikursi pengemudi, dia melajukan mobilnya dengan santai, hanya ingin menikmati ramainya malam kota bandung. Disampingnya, Citra duduk dengan sedikit gelisah, kini banyak pertanyaan yang bersarang dikepalanya.


Sesekali Citra menoleh ke arah Dafa yang hanya fokus mengemudikan mobilnya. Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah? Mana Dafa yang ceplas-ceplos? Biasanya saat Dafa sudah berhadapan dengannya, pasti akan terjadi adu mulut diantara mereka. Tapi kenapa saat ini, sikapnya berubah jadi kalem dan sesekali tersenyum manis pada Citra, membuat Citra sedikit merinding melihat perubahan yang signifikan dari temannya itu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dafa tanpa menoleh ke arah Citra, membuat Citra kaget sekaligus gugup.


"Eh? Siapa juga yang ngeliatin kamu. Aku itu lagi lihat keluar, tuh kan rame banget di jalan!" ucap Citra sedikit gugup saat menjawabnya.


Tiba-tiba Dafa menyampingkan mobilnya, dan langsung menatap Citra dengan pandangan yang sulit diartikan. Sontak Citra salah tingkah saat ditatap seperti itu.


"Ke--kenapa berhenti? Kan kita belum sampai," ucap Citra salah tingkah, bahkan kini dia duduk dengan gelisah. Citra belum pernah melihat tatapan Dafa yang terus menatapnya serius, bola matanya bergerak-gerak mengamati wajah Citra.


"Hei! Bisakah kamu jangan melihatku terus. Mata aku jadi sakit ditatap seperti itu," ucap Citra setengah kesal, tapi tak menghilangkan rasa gugupnya. Bahkan kini wajahnya sudah memerah, karena Dafa semakin dengan dengannya.


"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Dafa sambil memundurkan sedikit tubuhnya, dan dapat dia lihat wajah Citra yang sangat merah, membuat Dafa tersenyum senang.


"Eh? Memangnya ada apa di wajahku?" tanya Citra segera mengambil kaca, takut ada sesuatu yang menempel pada wajahnya, sampai Dafa senyum-senyum sendiri.


"Wajahmu seperti kepiting yang baru direbus. Kenapa bisa seperti itu? Atau jangan-jangan kamu suka ya sama aku," tebak Dafa tepat sasaran, hanya saja Citra belum menyadari perasaan sebenarnya.


"Apa! Ih mana ada aku suka sama kamu. Sudah deh jangan bicara ngawur," bantah Citra yang belum menghilangkan kegugupannya.

__ADS_1


"Tuh kamu jawabnya gugup gitu. Kalo suka juga gak papa kali, lagian aku ini emang tampan, jadi semua wanita akan tergila-gila," ucap Dafa membanggakan diri, tak lupa wajah pongah dengan kekehan yang membuat Citra semakin kesal.


"Nontonnya jadi enggak? Kalo enggak ya aku pulang aja, dari pada dengerin kamu yang gak jelas," kesal Citra segera memegang knop pintu mobil, namun segera dicegah oleh Dafa.


"Maafkan aku, aku cuma bercanda. Aku tak bermaksud membuat kamu jadi kesal. Sekarang kita lanjutkan perjalannya ya," ucap Dafa lembut membuat Citra terpaku.


Seumur Citra mengenal Dafa, tak pernah sekalipun dia mendengar Dafa yang berkata lembut, bahkan tatapannya juga lembut, membuat Citra mengerutkan dahinya. Namun terselip rasa hangat yang menjalar pada hatinya, membuat Citra bingung dengan perasaannya yang tiba-tiba seperti itu.


"I--iya. Cepatlah bawa mobilnya, aku gak mau pulangnya larut malam," ucap Citra terbata. Apalagi melihat wajah tampan dafa walau dibawah cahaya remang, kenapa dia baru sadar bahwa Dafa begitu tampan dan menarik, pikirnya.


"Baiklah," ucap Dafa langsung melajukan mobilnya lagi, sambil tersenyum manis melihat rona merah dan wajah gugup Citra.


Dafa sangat suka melihat Citra yang seperti itu, membuatnya terlihat cantik. Apalagi saat melihat kegugupan Citra yang sangat jelas. Entahlah, tapi Dafa lebih menyukai itu.


Malam semakin larut, semua orang tengah mengistirahatkan otot-otot yang bekerja seharian. Tak terkecuali Keyla, gadis itu pun tengah tertidur nyenyak dengan belaian lembut tangan kakaknya. Saat ini Jingga belum bisa memejamkan matanya, bukan karena dia tak lelah, tapi terlalu banyak hal yang mengganggu pikirannya.


Jika memang benar besok Jingga harus menandatangani surat cerainya, itu berarti dia harus melepas hal yang selama ini dia jaga sekuat tenaga. Bahkan dia harus rela berbagi suami dengan wanita lain, hanya tak ingin rumah tangganya hancur, karena masalah yang menimpa suaminya.


Akhirnya Jingga memutuskan untuk mengambil air wudhu, melaksanakan sholat malam, bermunajat doa, untuk meminta yang paling baik untuk dirinya, karena sebaik-baik adalah petunjuk dari yang Maha Kuasa.


Lagi-lagi air matanya tumpah, Jingga hanya bisa membekap mulutnya, karena takut suara tangisnya terdengar dan membangunkan adiknya yang tengah tertidur. Setelah perasaannya cukup lega, Jingga segera menghapus air matanya, dan segera melangkah menuju dapur untuk mengambil air, karena tenggorokannya cukup kering.

__ADS_1


Setelah itu, dia memutuskan untuk duduk di kursi ruang tengah. Melihat sekeliling ruangan itu, yang penuh dengan kenangan manis bersama suaminya. Tak jarang pula disana Ken sering menggodanya, saat bersama dengan orang tua Ken.


Jingga hanya bisa tersenyum getir mengingat semuanya, dan besok dia harus melepaskan semuanya. Akankah dia bisa melanjutkan hidup tanpa sosok suami yang begitu dicintainya, pikirnya.


Suara langkah kaki membuyarkan lamunan Jingga, dia segera menoleh pada seseorang yang berjalan kearahnya. Matanya mulai dipenuhi kabut air mata, saat dia menangkap sosok yang sangat dia cinta, berjalan perlahan ke tempat dia berada.


"Mas," lirih Jingga yang langsung menyentuh hati terdalam suaminya. Namun Ken tetap berusaha memasang wajah dinginnya.


"Kenapa belum tidur?" Hanya pertanyaan itu yang terlontar dari mulut Ken.


"Bagaimana aku bisa tidur, sementara orang yang sangat aku cintai, memaksa aku untuk berpisah dengannya," ucap Jingga menatap Ken dengan pandangan terlukanya.


Ken bergeming, dia hanya menatap datar wajah istrinya yang sudah dibanjiri oleh air mata. Hatinya sakit saat melihat itu, namun dia tak bisa melakukan apapun, karena baginya, dia mengambil keputusan itu untuk kebaikannya.


"Mas, bolehkah aku memeluk kamu untuk terakhir kalinya? Agar aku selalu bisa mengingat hangatnya pelukanmu disaat aku kedinginan nanti, atau mungkin aku tidak bisa mengingatnya lagi, karena aku tak tahu kedepannya aku masih bisa melanjutkan hidup atau tidak," ucap Jingga dengan kekehan diakhir. Namun tawa yang dia keluarkan adalah tawa yang begitu banyak menyimpan luka.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Tentu kamu akan bisa melanjutkan hidup, " ucap Ken yang tak suka Jingga berbicara seperti itu.


"Kamu tahu Mas, apa yang membuat aku bertahan sejauh ini?" tanya Jingga yang langsung berjalan mendekati suaminya.


"Aku bisa bertahan sampai saat ini karena kamu Mas. Kalau bukan karena aku sangat mencintaimu, aku tak akan pernah bisa sampai sejauh ini. Kamu satu-satunya alasan aku hidup setelah aku kehilangan kedua orang tuaku. Aku bisa menjalani kehidupan ini dengan baik, hanya karena kamu selalu disamping aku Mas. Lalu untuk apa aku masih melanjutkan hidup, sementara orang yang menjadi alasan aku untuk tetap hidup, tidak lagi disamping aku, dan dia menginginkan aku pergi dari hidupnya!" ucap Jingga dengan suara sedikit meninggi.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, Ken mendengar Jingga berbicara dengan nada tinggi, dengan segala kemarahannya. Karena dari dulu, istrinya itu selalu berbicara lembut dan menenangkan Ken, saat dia tersulut emosi. Dan sekarang Jingga melakukannya.


Wajar jika Jingga marah pada suaminya, karena tak ada seorangpun di dunia ini, yang rela berpisah dengan orang yang sangat dicintainya.


__ADS_2