CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
50


__ADS_3

Sore menjelang malam, memunculkan cahaya yang begitu indah. Setelah melewati beberapa jam diperjalanan, akhirnya Ken dan juga istrinya sampai di rumah dengan keadaan selamat.


Senangnya lagi saat mereka sampai di depan rumahnya, langsung disambut oleh Bella yang sangat merindukan kedua anaknya, walaupun memang baru ditinggal satu hari, tapi Bella sangat rindu pada Ken dan juga Jingga.


"Sayang, maafin Mama ya, tidak bisa datang ke Malang," ucap Bella sedih setelah dia dan Jingga melepas pelukan mereka.


"Gak papa Ma, lagi pula Mama kan harus menjaga Resti," ucap Jingga yang membuat Bella tersenyum. Sifat itulah yang membuat Bella sangat menyayangi Jingga.


"Iya sayang, tapi bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Bella lagi.


"Sudah lebih baik Ma. Jingga udah mengikhlaskan semuanya," jawab Jingga tersenyum.


"Syukurlah. Hm, Mama kangen sama kalian," ucap Bella langsung setelah mereka berada didalam rumah.


"Benarkah? Padahal kami baru pergi satu hari, tapi Mama langsung bersikap seolah tidak bertemu satu tahun," ucap Ken heran.


"Memangnya kamu tidak kangen sama Mama," ucap Bella pura-pura kesal.


"Ya sedikit sih," balas Ken sambil terkekeh.


"Dasar,"


"Sudahlah Mas, kenapa kamu sangat suka menggoda Mama," ucap Jingga langsung.


"Haha, itu hobi Mas sayang," ucap Ken lagi.


"Hobi ko godain orang tua, ada-ada saja kamu. Oh iya, mana Papa?" tanya Bella yang baru teringat jika dia belum melihat suaminya, padahal Roy sudah memberi kabar bahwa dia akan pulang bersama Ken dan Jingga.


"Papa langsung ke rumah Ma, mungkin nanti ke sini lagi," jawab Ken yang memang diberitahukan oleh papanya.


"Begitu ternyata. Ya sudah, kalian istirahat dulu, kasian Keyla tidur dalam gendongan kakaknya. Nanti kalau kalian mau makan, Mama udah masakin makanan kesukaan kalian," ucap Bella lagi.


"Maaf ya Ma, jadi ngerepotin Mama," ucap jingga sungkan.


"Kamu jangan bilang begitu sayang, karena Mama sama sekali tak merasa repot, justru Mama senang," balas Bella tersenyum manis.


"Baiklah, kalo begitu kami ke kamar dulu Ma," ucap Ken sambil merangkul istrinya.

__ADS_1


"Iya. Hm, kalian gak melihat Resti dulu," ucap Bella yang membuat Ken dan Jingga menghentikan langkahnya.


"Nanti aja Ma, kami mau istrahat dulu," ucap Ken langsung, karena dia tahu, jika istrinya pasti merasa canggung dengan keadaan itu.


"Baiklah,"


Setelah melihat Ken dan Jingga masuk ke dalam kamar mereka, Bella pun melangkahkan kakinya ke dalam kamar Resti, untuk melihat cucunya.


*****


Setelah masuk ke dalam kamar, Jingga langsung meletakan tubuh adiknya ke atas kasur, dia dan Ken juga merebahkan tubuh mereka di atas kasur yang sama. Bukan untuk tidur, hanya mengistiratkan tubuh lelah mereka.


Jingga menatap langit-langit kamar itu, sedikit terbayang kejadian yang baru saja menimpanya. Kehilangan sosok yang berarti dalam hidup bukanlah hal yang mudah. Begitupun dengan Jingga, tapi dia mencoba tabah karena masih ada sosok yang harus dia jaga selalu, yaitu adiknya, Keyla.


Saat Jingga sedang merenung, tiba-tiba saja dia teringat dengan niat suaminya. Niat Ken yang akan menceraikan Resti saat Resti sudah melahirkan. Bukankah sekarang Resti sudah melahirkan? Lantas suaminya itu mengingat atau tidak tentang hal itu? Pikir Jingga.


"Mas..." panggil Jingga pelan, karena dia tak mau membuat Keyla terbangun dari tidurnya.


"Iya sayang," jawab Ken sambil memiringkan tubuhnya, agar bisa melihat wajah cantik istrinya yang tengah menatapnya lekat.


"Hm, itu soal Resti," ucap Jingga sedikit ragu. Apakah ini waktu yang tepat atau tidak untuk membicarakan hal ini? Pikirnya.


"Itu Mas, kamu kan waktu itu pernah ngomong, tentang niat kamu yang akan menceraikan Resti. Apa sebaiknya kamu gak melakukan itu, karena kan kasihan Resti Mas," ucap Jingga sedikit sungkan. Dia tak seharusnya bertanya soal itu, tapi dia juga penasaran.


"Mas juga belum tahu sayang. Saat ini Mas belum memutuskan, apa yang akan Mas lakukan selanjutnya. Tapi Mas minta, kamu jangan bicarakan masalah ini sama mama dan papa ya!" ucap Ken sekaligus meminta pengertian dari istrinya.


"Iya Mas, kamu gak usah khawatir. Aku gak akan memberitahu masalah ini sama mereka," balas Jingga tersenyum.


Jingga sedikit tenang dengan jawaban dari suaminya. Dia tak akan tega melihat anak Resti yang harus dipisahkan dari ayahnya sendiri. Tiba-tiba dia merasakan hangat telapak tangan besar suaminya, yang berada di atas puncak kepalanya. Jingga merasa nyaman dengan usapan lembut dari suaminya.


"Mas minta sama kamu sayang. Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Karena sejauh ini, kamu sudah banyak berkorban untuk rumah tangga kita. Maafkan Mas yang belum bisa menjadi suami yang baik, dan belum bisa membahagiakan kamu sayang," ucap Ken sambil mencium kening sang istri.


"Kamu jangan bicara seperti itu Mas. Kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan kirimkan untuk aku," ucap Jingga tersenyum yang segera ditularkan kepada suaminya.


"Terima kasih sayang," ucap Ken yang diangguki oleh istrinya.


Kemudian setelah beberapa menit mereka hanya diam saling menatap, tiba-tiba terdengar suara perut Ken yang membuat Ken dan Jingga tertawa saat mendengarnya.

__ADS_1


"Mas, kamu lapar ya," ledek Jingga sambil tertawa.


"Hehe, iya sayang, Mas sangat lapar. Ya udah ayo kita makan dulu!" ucap Ken tersenyum malu, dan langsung beranjak dari tempat tidurnya yang diikuti Jingga dari belakang.


"Baiklah Mas. Nanti kita langsung temuin Resti ya, aku juga mau melihat anak kamu," ucap Jingga disela langkahnya.


"Tentu sayang," ucap Ken sambil merangkul pinggang kecil sang istri. Dan keduanya sama-sama melangkah dengan perasaan yang begitu bahagia.


Setelah keduanya sampai di meja makan, mereka langsung saja makan makanan yang sudah dimasak oleh mamanya Ken.


Hanya denting sendok dan piring saja yang terdengar, karena Ken dan Jingga hanya fokus memakan makanan mereka.


"Mas, sekarang kita tengokin anak kamu ya," ucap Jingga setelah mereka menyelesaikan makan malamnya.


"Baiklah. Ayo sayang!" ucap Ken langsung merangkul Jingga masuk ke dalam kamar Resti.


Saat itu Resti tengah duduk diatas tempat tidurnya, sedangkan Bella sedang meletakan cucunya ke dalam box bayi, karena dia baru saja tertidur setelah menyusu pada ibunya. Mereka sedikit terkejut dengan kehadiran Ken dan Jingga yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Resti.


"Oh kalian kesini sayang," ucap Bella langsung setelah melihat Ken dan Jingga masuk.


"Iya Ma, Jingga ingin melihat Resti dan bayinya," jawab Ken langsung melangkah ke arah box bayi diikuti Jingga dibelakangnya.


"Baiklah. Kalau begitu Mama pamit ke kamar dulu ya sayang," ucap Bella lagi.


"Iya Ma. Mama harus beristirahat," ucap Jingga yang sedikit kasihan melihat wajah kelelahan mama mertuanya. Bella yang mendengar itu hanya mengangguk dan segera melangkah keluar.


"Mas, dia sangat tampan," ucap Jingga tersenyum saat melihat bayi mungil yang kulitnya masih berwarna kemerahan.


"Iya sayang. Kata mama dia begitu mirip dengan Mas," ucap Ken sambil terus menatap anaknya.


"Memang benar Mas. Kamu akan memberi nama siapa untuk anak kamu?" tanya Jingga penasaran, sedangkan Resti yang sedang duduk diatas kasur hanya menjadi pendengar saja.


"Saga Al-Gifary," jawab Ken yang sudah menyiapkan nama untuk anaknya.


"Namanya bagus Mas," ucap Jingga lagi.


"Iya sayang. Bagaimana menurut kamu Res?" tanya Ken menoleh ke arah Resti.

__ADS_1


"Aku suka nama itu Mas," jawab Resti senang. Dia akan terus berusaha menarik perhatian Ken hanya untuk anaknya, agar dia bisa melihat Jingga yang tersiksa dengan keadaan itu dan akhirnya ingin berpisah, pikir Resti licik.


__ADS_2