
Citra segera membawakan minuman yang baru saja dia buat untuk tamu-tamunya. Kebetulan saat Ray dan Dafa datang, dia belum sempat memberi mereka minuman, jadi sekarang Citra membawa lima gelas minuman sekaligus dan beberapa makanan ringan.
"Silahkan diminum!" ucap Citra setelah meletakan minuman itu ke atas meja.
"Tumben gak lupa buat minuman, biasanya suka lupa kalo ternyata ada tamu," ucap Dafa dengan sedikit sindiran, karena biasanya saat dia bertamu ke rumah Citra, dia jarang diberi minuman apalagi makanan.
"Ck! Ternyata kamu pendendam," balas Citra berdecak tak suka.
"Hei! Aku ini bicara apa adanya, giliran cuma aku aja yang berkunjung ke rumah ini, jangankan makanan, minuman pun tak pernah kamu berikan," ucap Dafa lagi yang membuat Citra hanya mendengus kesal.
Sedangkan Jingga yang mendengarkan pertengkaran mereka hanya bisa tersenyum lebar, yang membuatnya semakin cantik saat tersenyum.
Senyuman manis Jingga rupanya tak luput dari penglihatan Ray. Ray hanya menampilkan senyuman tipisnya, saat melihat itu.
Diam-diam Ken memperhatikan Ray, yang sorot matanya seolah menatap Jingga terus-menerus. Dia hanya bisa menekan giginya, untuk menahan emosi yang kini menyelimutinya.
"Namanya juga orang lupa, emangnya kamu gak pernah lupa seumur hidupmu, gitu?" tanya Citra dengan nada yang sangat kesal.
"No no no. Seorang Dafa akan selalu ingat, apalagi aku tahu kok menjadi tuan rumah yang baik itu harus bagaimana," ucap Dafa yang ternyata memancing sisi emosi Citra.
"Jadi maksud kamu, aku bukan tuan rumah yang baik, begitu?" tanya Citra lagi. Jika nanti jawaban Dafa akan membuatnya kesal, dia berjanji akan menggunting rambut temannya itu sampai botak, pikirnya kesal.
"Aku gak pernah bilang kaya gitu loh," jawab Dafa santai. Bahkan dia segera meminum minumannya, tanpa mempedulikan tatapan marah Citra, karena ditatap seperti itu oleh Citra, merupakan hal yang biasa bagi Dafa.
Baru saja Citra akan membalas Dafa, tiba-tiba saja ucapan Ray menghentikannya.
"Sudahlah jangan bertengkar seperti anak kecil terus, gak malu apa sama umur, atau kalian mau, Kakak nikahkan sekarang!" ucap Ray yang sontak membuat Dafa dan Citra membesarkan matanya.
"Enggak lah!" ucap Dafa dan Citra serentak, yang langsung membuat Jingga tertawa melihat itu.
"Tuh kan, ngomong aja bareng. Berarti kalian memang berjodoh," ucap Ray lagi.
"Iya, aku setuju. Kalian itu cocok tau, hanya saja kalian berdua itu gengsi, untuk mengatakan kalau kalian memang saling menyukai," ucap Jingga ikut menimpali. Sedang Ken hanya menjadi pendengar saja, sambil sesekali mengamati pandangan mata Ray.
__ADS_1
"Ck! Mana ada aku suka sama Citra, Bisa-bisa gendang telinga aku bisa pecah karena cerewetnya itu," bantah Dafa dengan nada yang begitu menjengkelkan.
"Siapa juga yang suka sama kamu, lagian wajah kamu itu terlalu imut untuk ukuran seorang lelaki. Tipe aku itu yang jantan seperti lelaki pada umumnya, bukan seperti dia," ucap Citra kesal.
"Jadi maksud kamu, aku bukan lelaki jantan gitu?" tanya Dafa dengan tatapan tajamnya.
"Aku gak pernah bilang kaya gitu loh," ucap Citra seperti yang diucapkan Dafa tadi, dia sengaja membalas Dafa dengan perkataan yang sama dengan yang diucapkan Dafa tadi.
"Bisakah kalian hentikan pertengkaran kalian itu. Gendang telinga kami jadi sakit, gara-gara mendengar pertengkaran kalian itu," ucap Ray pada akhirnya yang benar-benar merasa gendang telinganya ingin pecah.
"Dia Kak, yang bikin masalah dulu!" ucap Citra sambil menunjuk hidung batang Dafa.
"Stop! Jangan mulai lagi Daf!" ucap Jingga yang segera menahan Dafa yang baru saja akan membalas ucapan Citra.
"Iya," ucap Dafa pasrah. Padahal tadi dia belum puas ingin membalas Citra.
Jingga hanya tersenyum tipis melihat wajah Dafa yang cemberut itu. Kemudian Jingga mengambil satu gelas minuman dan memberikan pada suaminya.
"Mas, minum dulu!" ucap Jingga sambil menyodorkan minuman pada Ken.
Ray hanya bisa melihat kemesraan Jingga dan suaminya, dalam hati dia berharap bisa berada diposisi Ken sekarang, namun dia tahu itu hanyalah sebuah mimpi, jadi dia hanya bisa tersenyum kecut melihatnya.
Sambil meminum minumannya, diam-diam Dafa juga memperhatikan reaksi kakaknya yang benar membuatnya kasihan. Dafa melihat tatapan kakaknya yang langsung menyendu saat melihat kemesraan Jingga dan suaminya.
"Oh iya Ga, aku lupa nanya sesuatu sama kamu," ucap Dafa memulai pembicaraan.
"Iya Daf, kamu mau nanya apa?" tanya Jingga penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh Dafa.
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Dafa yang mendapat kerutan kening dari Jingga. Ray yang duduk disampingnya pun langsung melirik ke arah Dafa sambil menunjukan raut wajah herannya.
"Aku baik-baik aja Daf," jawab Jingga dengan wajah yang masih bingung. Kenapa Dafa tiba-tiba menanyakan keadaannya, pikirnya.
"Maksud aku itu, kamu baik-baik aja setelah apa yang suami kamu lakukan kemarin?" tanya Dafa sambil sesekali melirik sinis ke arah Ken.
__ADS_1
Jingga diam mendapat pertanyaan dari Dafa. Dia tak menyangka dafa akan bertanya soal itu, sementara suaminya ada disampingnya. Bukankah sama saja Dafa sengaja membuat Ken tersindir.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sih?" tanya Ray sedikit tak suka karena Dafa ikut campur masalah orang lain.
"Ya aku kan cuma pengen tau keadaan Jingga Kak," jawab Dafa santai.
"Ya tapi itu enggak sopan Daf. Kamu bertanya persoalan rumah tangga orang lain," ucap Ray lagi.
"Tidak masalah Ray, biarkan dia mengetahui apa yang ingin diketahuinya," ucap Ken akhirnya buka suara. Dia menatap tajam ke arah Dafa.
"Mas... " ucap Jingga sedikit khawatir karena Ken mulai memperlihatkan emosinya.
"Tenang sayang, Mas janji gak bakal buat keributan," ucap Ken menenangkan sang istri.
"Silahkan, apa yang ingin kau tanyakan lagi apa istri saya," ucap Ken mempersilahkan Dafa untuk bertanya sesuka hatinya.
"Gak ada, karena aku cuma ingin tau keadaan Jingga saja. Ya aku merasa khawatir setelah kejadian kemarin, bukankah kau tidak mempercayai istrimu sendiri," ucap Dafa langsung memancing emosi Ken, yang sejak tadi memang Ken berusaha menahannya.
"Bisakah kau lihat sendiri! Sekarang kami baik-baik saja, lagi pula masalah dalam rumah tangga itu hal yang biasa dialami. Bukankah kau juga mengetahui hal itu. Mana ada rumah tangga orang yang tak ditimpa sebuah masalah," balas Ken dengan sinis yang membuat Dafa bungkam.
Sebenarnya Dafa tak punya maksud untuk mencampuri urusan orang lain, apalagi untuk mengetahui keadaan rumah tangga Jingga dan suaminya. Namun entah kenapa saat dia melihat Ken ada didepan matanya, membuat dia ingin sekali mengatakan semua hal yang ada dipikirannya.
"Sudahlah, bukankah kalian ke sini ingin berkunjung. Kenapa sekarang malah membahas hal yang tidak penting," ucap Citra yang tak suka melihat teman dan suami Jingga itu bertengkar. Apalagi membahas masalah yang tak seharusnya mereka bahas.
"Iya Mas, udah ya!" ucap Jingga menenangkan suaminya.
"Baiklah sayang," balas Ken mengangguki patuh. Namun begitu, dia tetap menatap Dafa dengan tatapan tajamnya.
"Hm, gimana kalo kita semua makan siang sekalian aja disini, nanti kita pesan makanan lewat online aja gimana?" tanya Ray memberi usul. Dia berusaha mencairkan suasana yang sudah tegang itu.
"Iya, boleh tuh. Iya kita pesan aja makanannya, soalnya aku belum masak," balas Citra sambil terkekeh. Dia juga tidak suka melihat orang-orang yang saling melempar tatapan tajamnya.
"Padahal kalo kita masak juga bisa Cit," ucap Jingga pada Citra.
__ADS_1
"Aku juga maunya begitu Ga, tapi bahan-bahan makanannya kosong, jadi kita pesan aja ya, hehe," ucap Citra sambil tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi-giginya.
"Ya sudah. Aku pesan sekarang makanannya," ucap Ray sambil merogoh ponsel yang ada disaku celananya. Kemudian dia langsung memesan makanan dari restoran favoritnya.