
Pagi hari yang cerah, terdengar suara gaduh didalam rumah Ken, suara yang berasal dari tangis bayi kecil Ken dan Resti, siapa lagi kalau bukan Saga Algifary. Entah bagaimana jadinya, saat Saga besar nanti, masih kecil saja suara tangisnya membuat gaduh satu rumah, bahkan Keyla yang sedang tertidur pun bangun karenanya.
Jingga hanya melihat saja, tak berani untuk mencoba menenangkan anak dari suaminya, karena saat dulu Jingga pernah ingin menggendong Saga, yang dia dapat hanyalah tatapan tajam dari suaminya. Maka dari itu, dia tak berani selain hanya melihatnya dari kejauhan.
Di tengah suara bising dari tangis Saga, terdengar suara bel yang berbunyi. Jingga yang mendengar itu, langsung saja melangkah menuju pintu, dan segera membukakannya. Sontak saja Jingga senang dengan kehadiran kedua mertuanya.
"Assalamu'alaikum sayang," ucap Bella sambil memeluk menantunya.
"Waalaikumsalam Ma," jawab Jingga sambil membalas pelukan dari mama mertuanya. Sedangkan Roy hanya tersenyum pada menantu kesayangannya itu.
"Ayo masuk Ma, Pa!" ucap Jingga mempersilahkan Bella dan Roy masuk kedalam rumah.
Bella dan Roy langsung saja melangkah masuk kedalam rumah. Begitu mereka sampai didalam rumah, Bella langsung mendatangi cucunya yang sedang menangis didalam gendongannya ibunya.
"Kenapa cucu Nenek menangis? Sini sayang," ucap Bella setelah sampai didepan Resti dan segera mengambil Saga dari gendongan Resti.
"Gak tau Ma, dari tadi dia terus menangis. Aku udah bujuk dengan cara apapun, tapi tetap dia gak bisa berhenti menangis," ucap Resti.
"Benarkah? Kasian sekali, sampai matanya sembab," ucap Bella sambil mencium pipi Saga. Mungkin Saga memang ingin bertemu dengan neneknya, buktinya saat dia sudah berada digendongan neneknya, tangisnya terhenti.
"Mungkin dia kangen sama Mama, buktinya dia langsung diam saat Mama menggendongnya," ucap Resti lagi sedikit melirik Jingga yang sedang menatap mereka.
Mungkin saja Jingga iri, karena sampai saat ini dia belum juga punya anak. Harusnya dulu Ken tak menikahinya. Kasihan sekali dia, pikir Resti tersenyum mengejek.
"Iya, mungkin saja. Pa, kamu gak gendong cucu Papa," ucap Bella pada suaminya yang malah duduk di sofa dekat TV.
"Nanti aja Ma. Papa mau ngobrol sama Jingga," jawab Roy santai, bahkan tak sedikitpun dia melihat ke arah cucunya. Membuat Resti kesal, lantaran papa mertuanya malah memedulikan Jingga.
"Baiklah. Oh iya, dimana Ken?" tanya Bella yang belum melihat anaknya.
"Mas Ken, masih di kamar Ma. Mungkin dia baru selesai mandi," jawab Resti dan Bella hanya mengangguk mendengar itu.
__ADS_1
Sedangkan di ruang tengah, Jingga segera duduk setelah membuatkan minum untuk papa mertuanya. Dia juga sedikit penasaran dengan papa mertuanya, yang ingin berbicara dengannya.
"Jingga, Papa mau bertanya sama kamu," ucap Roy mengawali pembicaraan.
"Iya Pa. Papa mau tanya apa?" tanya Jingga.
"Bagaimana hubunganmu dengan Ken?" tanya Roy sedikit serius, membuat Jingga bingung harus menjawab apa.
"Maksud Papa?" tanya Jingga tak mengerti.
"Maksud Papa, apakah kamu dan Ken baik-baik saja? Sepertinya Papa tak pernah melihat kamu dan Ken seperti dulu lagi. Dulu, kamu dan Ken begitu romantis, bahkan didepan Papa dan Mama. Tapi sekarang, Papa tak pernah melihat itu lagi. Yang sering Papa lihat, kamu dan Ken seperti menjaga jarak. Apa terjadi sesuatu diantara kalian?" tanya Roy lagi.
Jingga diam, dia tak tahu harus menjawab seperti apa. Dia tak mau memberitahu semuanya. Lebih baik dia simpan saja permasalahan dengan suaminya, karena tak mau membuat mertuanya khawatir.
"Enggak Pa, Jingga dan mas Ken baik-baik aja. Mungkin yang Papa katakan tadi hanya perasaan Papa saja," elak Jingga sedikit gugup, membuat Roy memicingkan matanya.
"Benar semua yang tadi kamu ucapkan itu? Kamu tidak sedang membohongi Papa kan?" tanya Roy lagi penuh selidik. Roy tahu ada yang sedang Jingga sembunyikan darinya, karena Jingga begitu gugup saat menjawab pertanyaannya.
"Papa lagi ngomongin apa sama Jingga?" tanya Ken yang tiba-tiba saja datang, membuat Roy mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi pada menantu kesayangannya itu.
"Mas," ucap Jingga sedikit kaget dengan kedatangan Ken yang tiba-tiba.
Kemudian Ken duduk disebelah Jingga, dengan masih mempertahankan wajah bertanya pada papanya.
Roy yang melihat itu diam, dia sedikit berpikir. Kenapa Ken bersikap dingin seperti itu pada istrinya? Apakah benar hubungan mereka sedang baik-baik saja?
"Apakah terjadi sesuatu diantara kalian?" tanya Roy menatap Ken serius.
"Maksud Papa apa?" tanya Ken pura-pura tak mengerti, padahal dia sempat mendengar pembicaraan Jingga dan papanya.
"Kenapa kamu bersikap dingin sama istri kamu?" tanya Roy kesal.
__ADS_1
"Menurut aku, aku bersikap biasa aja ko Pa," jawab Ken santai membuat hati Jingga melenguh kecewa.
"Kamu jangan bohong sama Papa. Kenapa kamu jadi bersikap seperti ini sama istri kamu sendiri. Kenapa kamu bisa berubah?" tanya Roy dengan suara besarnya, membuat Jingga sedikit kaget.
"Siapa yang berubah Pa. Aku bersikap sewajarnya, dan memang seharusnya aku bersikap seperti ini," ucap Ken cepat membuat Jingga menoleh ke arahnya dengan wajah tak percaya.
Roy yang mendengar itu pun tak percaya. Kenapa Ken bisa mengatakan seperti itu. Bahkan bersikap biasa saja seolah sikapnya tadi tidak melukai perasaan Jingga, pikir Roy dalam hati.
"Maksud kamu apa berbicara seperti itu? Kenapa kamu mengatakan seolah semua ini biasa saja, padahal kamu sudah melukai hati Jingga, huh!" ucap Roy dengan suara meninggi, membuat Bella dan Resti keluar dari kamarnya, karena mendengar keributan.
"Memang aku harus bersikap seperti apa padanya? Pa, sekarang aku sudah punya anak yang sebentar lagi usianya akan menincak satu tahun. Sedangkan Jingga, sudah berapa lama kami menikah, apakah dia sudah menunjukan tanda-tanda kehamilannya?" tanya Ken dengan suara besarnya.
Seperti disambar petir disiang hari, ucapan Ken langsung menghancurkan hati Jingga dalam hitungan detik. Jingga tak percaya, suami yang dulu sangat mencintainya bisa mengatakan itu tanpa ragu. Tak terasa air mata Jingga lolos begitu saja melewati pipinya, membuat Roy yang melihat itu merasa miris.
Plakkk!
Satu tamparan keras mengenai pipinya Ken. Roy sudah kehilangan kesabarannya, apalagi melihat wajah terluka menantu kesayangannya, membuat dia langsung menampar anaknya sendiri.
Bukan hanya Jingga yang kaget melihat suaminya ditampar, Bella dam Resti pun sama kagetnya, apalagi karena tamparan itu, sudut bibir Ken sedikit sobek membuatnya mengeluarkan darah.
"Apakah Papa sudah puas? Apakah Papa puas, karena sudah membela dia dari pada anak Papa sendiri?" tanya Ken dengan mata memerah, menahan amarahnya.
"Papa tidak menyangka sama kamu Ken. Dengan mudahnya kamu berubah, hanya karena kamu memiliki seorang anak dari wanita yang sudah menjebak kamu sendiri. Padahal dulu kamu sangat membencinya, tapi sekarang... Entah apa yang sudah dilakukannya, sehingga kamu bisa berubah seperti ini!" teriak Roy marah.
Bella yang melihat itu segera menyerahkan Saga pada gendongan ibunya. Dia segera melangkah mendekati suami dan anaknya.
"Cukup Pa! Ken! Kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini?" tanya Bella heran, namun dia juga berusaha melerai keduanya.
"Sudah Pa, Jingga mohon Papa harus tenang. Jingga gak mau penyakit Papa kambuh lagi," ucap Jingga yang masih berurai air mata.
"Betul apa yang dikatakan Jingga Pa, Papa harus tenang. Sekarang Papa duduk ya!" bujuk Bella dan Roy segera menuruti ucapan istrinya. Begitupun dengan Ken, dia juga berusaha menenangkan emosinya yang sedari tadi dia tahan, karena dia tak mau meluapkan segala kemarahan pada papanya sendiri.
__ADS_1