
Resti masuk kedalam kamarnya dengan wajah yang sangat kesal. Bagaimana dia hanya bisa menjadi penonton pertemuan menantu dan mertuanya, yang terlihat menjengkelkan itu? Dia hanya menjadi pendengar saja, bahkan dari awal kedatangan orang tua Ken, mereka sama sekali tak menanyakan kabar atau paling tidak, sekedar menyapanya.
Cih! Awas saja, akan dia buat perhatian mertuanya hanya diberikan padanya, dari pada sama Jingga yang so baik itu, pikirnya licik.
Kemudian Resti merogoh handphone yang ada disaku celananya, dan langsung menelepon seseorang.
"Hallo!" ucap Resti kala teleponnya tersambung.
"... " ucap orang disebelah sana.
"Saya ada tugas buat kamu. Besok kamu pergi ke Malang, ikuti wanita yang bernama Jingga, bermain-main lah dengannya. Setelah itu jangan lupa kirim fotonya!" ucap Resti tersenyum licik.
"... " balasnya.
"Baiklah. Nanti foto wanita itu saya kirimkan. Dan untuk DPnya sekarang juga saya akan transfer. Ingat! Saya tidak menerima kata gagal," tegas Resti yang langsung mematikan teleponnya.
Jingga, tunggulah kehancuranmu. Memang dari awal, tak seharusnya kamu menikah dengan Ken, karena Ken hanya milik aku seorang, ucap Resti dalam hati.
Setelah itu Resti merebahkan tubuhnya diatas kasur, karena memang dia merasa tubuhnya pegal-pegal. Mungkin karena efek dari kehamilannya yang membuat dia mudah merasa capek walaupun tak melakukan apapun.
...----------------...
Di Kota Malang.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya Dafa sampai di kampung neneknya. Walau jauh dari keramaian kota, namun tak menghilangkan keindahannya, karena memang kampung neneknya masih terjaga keasriannya, sehingga siapapun akan betah jika tinggal disana. Begitupun dengan Dafa, dia pun sangat menyukai tempat neneknya.
"Assalamu'alaikum," ucap Dafa memberikan salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah neneknya Dafa.
Saat nenek Lastri membuka daun pintunya lebih lebar, dia langsung terkejut melihat siapa yang datang. Langsung saja dia berjalan kearah Dafa dan memeluknya erat.
"Apa kabar Nek?" tanya Dafa sambil membalas pelukan nenek yang sangat dia sayang itu. Dia juga merindukan sosok didepannya itu, karena memang sudah sangat lama dia tak mengunjungi neneknya.
"Alhamdulillah, Nenek sangat baik sayang. Kenapa kamu baru kesini? Nenek sangat merindukan cucu Nenek yang nakal ini," jawab Lastri dengan suara rentanya, sambil mencubit gemas pipi cucunya itu.
"Maaf Nek, baru mengunjungi Nenek lagi. Karena Dafa sibuk, jadi baru sekarang Dafa kesini lagi," ucap Dafa tersenyum manis.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita masuk kedalam," ucap Lastri lalu menggiring Dafa masuk.
Dafa segera mendudukan tubuhnya disofa, karena dia merasa tubuhnya pegal-pegal setelah perjalanan jauh.
Lastri segera membuatkan wedang untuk cucunya, karena dia tahu perjalanan Dafa cukup jauh, jadi bisa dipastikan cucunya itu kelelahan. Memang itu sudah menjadi kebiasaan Lastri kalau Ray dan Dafa datang kerumahnya,pasti dia akan membuatkan wedang untuk cucu-cucunya.
"Kamu minum dulu Wedangnya, mumpung masih hangat. Biar badan kamu segar kembali," ucap Lastri sambil menyodorkan segelas wedang pada Dafa.
"Makasih Nek," balas Dafa yang langsung menyeruput wedangnya sedikit demi sedikit.
Dia memang sangat menyukai wedang buatan neneknya, karena rasanya sangat enak. Bukan hanya Dafa, Ray pun sangat menyukai wedang buatan neneknya, karena rasanya sangat berbeda dengan wedang-wedang yang dijual dipasaran.
"Wedang buatan Nenek emang tidak ada duanya ya," ucap Dafa sambil melihat kearah neneknya.
"Ya, karena itu kamu dan Ray sangat menyukainya kan? Itu memang Wedang dengan resep dari leluhur kalian, jadi pasti rasanya berbeda dengan yang dijual dipasaran," ucap Lastri.
"Iya Nek," balas Dafa seadanya disela meminum wedangnya.
"Oh iya, setelah ini kamu mau istirahat dulu atau mau makan dulu?" tanya Lastri.
"Aku mau istirahat beberapa jam dulu Nek. Soalnya aku lelah," jawab Dafa lembut.
"Iya Nek. Aku permisi ke kamar dulu ya," ucap Dafa.
"Kamu gak lupa kan letak kamarnya," ucap Lastri dengan kekehan.
"Hahaha, ya enggak Nek. Memangnya aku berapa abad tidak kesini, sampai-sampai harus lupa," balas Dafa yang juga terkekeh.
Dia kadang merasa heran dengan jiwa humor sang nenek yang masih saja aktif, walaupun sudah berusia lanjut.
Siang harinya Dafa bangun karena mencium aroma masakan yang sangat menusuk indra penciumannya. Dia yakin itu adalah aroma masakan sang nenek.
Dia segera bangun dan sedikit merapikan rambutnya yang acak-acakan. Kemudian dia berjalan ke arah dapur, dimana neneknya sudah menyelesaikan masaknya.
"Wah! Aromanya harum sekali Nek. Pasti masakannya enak," ucap Dafa sambil menghirup dalam-dalam aroma yang menguar didapur itu.
"Oh, kamu sudah bangun," ucap Lastri yang sedikit kaget dengan kehadiran cucunya.
__ADS_1
"Iya Nek. Aku bangun karena aroma masakan Nenek," ucap Dafa sambil tersenyum lebar yang menampakan giginya yang putih.
"Ya udah. Kamu duduk dulu aja, sampai Nenek beres membawakan makanan ini ke atas meja," balas Lastri.
Dafa kemudian menunggu neneknya dia ruang makan. Tak lama neneknya datang membawakan beberapa makanan yang langsung membuat Dafa tak sabar ingin mencicipinya, karena memang perutnya sudah keroncongan minta diisi.
"Makanlah!" ucap Lastri setelah selesai membawa semua makanan yang dia masak.
Dafa langsung mengambil nasi dan lauk pauk ke atas piringnya. Baru saja dafa menelan satu sendok makanan yang dia masukan ke dalam mulutnya, dia langsung terbuai dengan rasa makanan yang dibuat neneknya. Sungguh, itu adalah makanan paling enak, bahkan makanan yang sering dia makan direstoranpun kalah dengan masakan neneknya itu.
"Enak sekali Nek," ucap Dafa dengan mulut yang penuh.
"Telan dulu baru ngomong. Jangan ngomong sambil makan! Nanti bisa tersedak," ucap Lastri sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan cucu kesayangannya. Namun dia sangat senang melihat betapa lahapnya Dafa memakan makanannya.
"Iya Nek. Soalnya masakan nenek sangat enak," ucap Dafa disela memakan makanannya.
Dafa terus melanjutkan makannya sambil diselingi obrolan ringan dengan neneknya, sampai dia tak sadar bahwa makanannya sudah habis tak bersisa.
"Gimana kabar kakak kamu Daf?" tanya Lastri setelah mereka menyelesaikan makan siangnya.
"Kak Ray sehat Nek. Hanya saja dia sedang galau, karena gadis yang dia sukai sudah menikah dengan orang lain," jawab Dafa.
"Ha! Benarkah? Padahal Nenek pengen cepet- cepet punya cicit. Nenek berharap Ray secepatnya menikah, karena Nenek pengen menyaksikan kalian menikah, sebelum Nenek pergi," ucap Lastri sedikit sedih.
"Nenek gak boleh bilang kaya gitu! Nenek akan terus sehat sampai nenek menyaksikan cucu-cucu Nenek ini punya anak," ucap Dafa sambil mengelus lembut tangan neneknya yang sudah mulai mengerut itu.
"Nenek ini sudah tua Daf. Nenek cuma mau lihat kalian menemukan kebahagiaan kalian, sebelum Nenek pergi," ucap Lastri lagi dengan wajah sendunya.
"Dafa percaya, kalo nenek akan panjang umur. Dafa pengen, Nenek menghabiskan waktu bersama Dafa dan kak Ray. Agar nanti Nenek bisa menyaksikan kami menikah. Maka dari itu, Dafa minta sama Nenek, supaya mau tinggal bersama kami di Bandung," ucap Dafa sambil mengelus lembut pipi neneknya.
"Nenek tidak mau meninggalkan rumah ini Daf. Rumah ini satu-satunya kenangan dengan kakekmu," balas Lastri menolak permintaan Dafa.
"Tapi ini permintaan kak Ray. Dia mau Nenek tinggal bersama kami, biar kami menjaga Nenek. Kami gak tega membiarkan Nenek tinggal disini sendiri," ucap Dafa lembut berusaha membujuk neneknya lagi.
"Nanti kamu mau keliling desa ini kan?" tanya Lastri yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Nek... " rengek Dafa setengah kesal.
__ADS_1
"Sudah, ayo! Biar Nenek nemenin kamu jalan-jalan di desa ini," ucap Lastri sambil menarik tangan Dafa keluar.
Sedangkan Dafa hanya menghembuskan nafasnya. Dia sudah menduga hal ini, pasti neneknya itu akan menolak permintaan kak Ray. Karena memang dari dulu, neneknya itu sangat susah untuk diajak ke Bandung, walau hanya sekedar untuk jalan-jalan.