
Jingga segera bergegas masuk ke dalam kamarnya setelah dia selesai membereskan piring-piring bekas makan bersama kedua anaknya. Saat melewati pigura foto dia dengan Keyla dan Nayla, tiba-tiba dia teringat dengan permintaan Nayla yang sangat ingin bertemu dengan ayahnya.
Untuk sementara waktu, Jingga hanya bisa membujuk anaknya dengan kata-kata yang bisa menenangkannya. Dia tak bisa membawa Nayla bertemu dengan ayahnya, sementara ayahnya tidak mau menemui anaknya sendiri. 3 tahun lalu, setelah Jingga melahirkan Nayla ke dunia, dia tidak bisa menyembunyikan rahasianya lagi karena kedua mantan mertuanya dengan cepat mengetahui kehamilannya. Berkali-kali Bella dan Roy datang ke Malang hanya untuk menemui cucunya. Namun berbanding terbalik dengan Ken, walau dia sudah tahu dia mempunyai anak dari Jingga, tapi sampai detik ini pun, laki-laki itu tak pernah walau hanya sekedar menunjukan wajahnya pada anak mereka.
Entahlah, Jingga tidak mengetahui alasan kenapa mantan suaminya itu tak pernah menemui anaknya. Yang pasti Bella dan Roy selalu memaksa Ken untuk segera menemui anaknya, tapi dengan dingin dia menolaknya. Mungkin karena Ken membenci Jingga atau karena dia akan mempunyai anak lagi dari Resti? Sungguh! Jingga tak mengetahui alasannya.
Biarkan waktu yang menjawab kenapa Ken tidak pernah menemui darah dagingnya sendiri. Jingga tak mau membuat itu menjadi pikirannya, jika memang Ken mengakui anaknya, suatu saat nanti dia juga akan menemui Nayla, pikirnya. Saat ini rasa rindu Nayla pada ayahnya sedikit terobati karena Dafa, Citra dan Ray selalu mengunjungi mereka setiap weekend.
Dafa dan Ray selalu memberi perhatian juga kehangatan pada kedua anaknya Jingga, membuat Keyla dan Nayla menyayangi mereka. Terutama Nayla, dia begitu dekat dengan Ray, membuat Citra sering kali menggoda sahabatnya untuk segera naik ke jenjang pernikahan lagi.
Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Begitu juga dengan Ray, kian lama usahanya berbuah hasil. Pendekatan dia pada Jingga dan juga anak-anaknya membawa dampak positif bagi hubungan keduanya. Ray yang memang dari dulu tidak pernah menyerah pada Jingga dan Jingga pun yang sekarang sudah membuka hatinya lagi, membuat hubungan mereka semakin dekat walau tanpa embel-embel status seperti hubungan para remaja.
Jingga berusaha membuka lembaran hidupnya yang baru. Bukan karena kebaikan Ray yang membuat dia menerima Ray, tapi karena ketulusan Ray dalam menjaga dan menyayangi anak-anaknya, membuat Jingga jatuh pada pesona CEO makanan ringan itu. Jingga juga mengetahui bahwa Ray adalah laki-laki yang baik, penuh tanggung jawab juga yang paling penting dia menyayangi keduanya anaknya dengan tulus. Ray tak pernah menjadikan Keyla dan Nayla sebagai alasan dia untuk mendekati Jingga. Tapi memang Ray tulus menyayangi mereka, apalagi saat Keyla masih kecil, dia sering menjaga dan membuat gadis kecil itu bahagia.
Bukan juga karena wajah Ray yang begitu tampan di usianya yang ke-28 itu, atau karena Ray pengusaha sukses di usianya yang masih muda. Tapi Jingga membuka hatinya untuk menerima Ray, karena dia tahu bahwa Ray mencintainya dengan tulus, bahkan saat sebelum Jingga menikah. Jingga tak menyangka ada orang yang mencintainya begitu lama bahkan sebelum Jingga menikah. Dan karena itu pula, Jingga merasa beruntung dicintai laki-laki seperti Ray, apalagi dia menerima Jingga yang statusnya sudah berubah, menjadi janda dengan dua orang anak. Ray tak pernah mempermasalahkannya karena dalam cinta tak ada namanya yang setengah-setengah, apalagi memandang status kegadisan seorang wanita.
"Bunda akan terus berusaha untuk membahagiakan kalian berdua sayang," monolog Jingga sambil mengusap foto kedua anaknya.
Namun Jingga sedikit tersentak kaget kala daun pintu kamarnya diketuk-ketuk dengan keras. Jingga tersenyum mendengarnya, karena dia sudah tahu siapa yang melakukannya. Sudah pasti anak bungsunya yang menggedor-gedor pintu kamarnya itu.
"Ada apa sayang?" tanya Jingga langsung setelah dia membuka pintunya.
"Itu Bun, ada tante Citra," jawabnya antusias. Nayla sangat suka pada tantenya itu, karena Citra selalu menuruti keinginannya.
__ADS_1
"Loh kenapa dia datang ya, padahal kan ini bukan hari libur," ucap Jingga pelan.
"Ayo Bunda... " ucap Nayla segera menarik tangan bundanya.
"Baiklah sayang, ayo!" balas Jingga langsung berjalan mengikuti langkah kaki anaknya.
Setelah sampai di ruang tamu, dapat Jingga lihat kedatangan Citra, Dafa dan juga Ray. Tidak kaget hanya saja Jingga sedikit heran, karena biasanya mereka datang saat weekend.
"Suprise! Bagaimana, apakah kamu kaget kami datang?" tanya Citra langsung. Dia senang melihat Jingga yang diam saja. Mungkin dia tidak menyangka mereka datang, pikirnya.
"Oh aku gak kaget ko, hanya saja sedikit heran, karena biasanya kalian datang di hari libur," ucap Jingga langsung mendekati sahabatnya. Jingga juga melirik ke arah Dafa dan Ray yang sejak datang, mereka sangat senang. Entah apa penyebabnya, Jingga pun tak tahu.
"Maaf kedatangan kami mengejutkanmu," ucap Ray sambil melihat wajah cantik Jingga.
"Ehm, ehm... Calon pengantinnya pada gugup," goda Dafa. Dia senang sekali menggoda kakaknya, karena dulu Ray sering menggoda dia dengan Citra. Dan kini giliran Dafa membalas kekesalannya dulu.
"Kamu ngomong apa sih Daf," ucap Ray sedikit malu. Bahkan wajahnya sudah memerah.
Sedangkan Dafa dan Citra hanya terkekeh melihat bagaimana wajah Ray yang memerah bak kepiting rebus. Sontak saja Jingga juga salah tingkah di goda seperti itu.
"Om Ray... " rengek Nayla segera beringsut duduk ke pangkuan Ray.
"Ada apa cantik?" tanya Ray sambil mengusap pipi Nayla.
__ADS_1
"Ayo main keluar! Aku bosan di rumah terus," ucap Nayla manja membuat Ray tersenyum.
"Baiklah, setelah ini Om akan bawa kamu jalan-jalan keluar, bagaimana?" tawar Ray pada Nayla, yang dibalas anggukan keras oleh Nayla.
"Kenapa kalian bawa koper banyak?" tanya Jingga yang baru sadar melihat ada banyak koper.
"Oh itu. Hm, sebenarnya kami berencana akan tinggal disini beberapa bulan ke depan," ucap Citra sontak membuat Jingga tersedak air liurnya sendiri.
"Aku gak salah dengar Cit?" tanya Jingga tak percaya. Bagaimana mungkin mereka akan tinggal di rumahnya yang kecil itu. Apalagi tak mungkin membiarkan Dafa dan Ray juga tinggal bersama.
"Iya, kalo kamu mengizinkan aku mau nginep disini selama beberapa bulan ke depan," jawab Citra.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Jingga lagi.
"Aku udah resign Ga. Setelah ini aku mau cari pekerjaan yang lain," jawab Citra.
"Baiklah, semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Kamu jangan khawatir, kamu boleh tinggal disini selama yang kamu mau, aku jadi senang, disini akan tambah rame. Tapi bagaimana dengan Ray dan Dafa? Aku tidak mau nantinya menjadi fitnah jika tinggal disini," ucap Jingga.
"Kamu gak usah khawatir Ga, karena aku sama Kak Ray mau tinggal di rumah nenek. Kan gak jauh dari rumah kamu," ucap Dafa yang membuat Jingga bernapas lega. Ternyata kekhawatirannya salah.
"Oh syukurlah kalau begitu. Sebentar, aku ambil minum buat kalian dulu," ucap Jingga dan setelah itu dia segera berjalan ke dapur. Sedangkan Ray tak berhenti menatap Jingga, membuat Dafa dan Citra jadi senyum-senyum.
Seberapa pun orang menyembunyikan perasaan, orang yang sedang jatuh cinta memang terlihat berbeda, pikir Citra dalam hati.
__ADS_1