
Perlahan Ray melangkah mendekati Keyla, namun Keyla langsung menjauh saat Ray sudah sangat dekat dengannya, bahkan tangisannya semakin keras saat Ray berusaha menggapai Keyla dengan tangannya.
"Sstt, sayang, Kakak bukan orang jahat, jadi kamu jangan takut ya," bujuk Ray lembut. Dia sangat mengerti kenapa Keyla begitu ketakutan, pasti semua anak kecil akan menangis dan ketakutan saat dia bersama dengan orang yang tidak dikenalnya.
"Huaaa... Key mau ayah. Bunda Key takut," Tangis keras Keyla kembali terdengar oleh Ray dan neneknya, membuat Ray sangat bingung harus berbuat apa.
"Sayang jangan nangis ya! Jangan takut sama Kakak, sekarang Kakak akan bawa kamu ketemu sama kakak kamu, kak Jingga," ucap Ray yang berhasil membuat tangis Keyla reda.
Ray tersenyum saat melihat raut wajah bingung Keyla. Kemudian Ray menarik tubuh Keyla ke atas pangkuannya, dan langsung memeluk tubuh mungil Keyla.
"Iya sayang, Kakak akan bawa kamu ketemu sama kak Jingga, kamu mau kan?" tanya Ray lembut sambil mengusap air mata yang membasahi pipi chuby Keyla.
"Kakak gak boong kan?" tanya Keyla dengan nada lucu, apalagi suaranya masih bercampur dengan isak tangisnya membuat Ray tersenyum gemas.
"Iya, Kakak gak bohong. Sekarang kamu jangan nangis lagi ya! Sekarang kita pergi ketemu sama kak Jingga," ucap Ray yang membuat Keyla langsung mengangguk.
"Ya sudah, kita siap-siap dulu ya sayang," ucap Ray lagi.
Ray membantu merapikan rambut dan baju Keyla yang sedikit berantakan. Setelah dia dia langsung menggendong Keyla.
"Kamu mau pergi sekarang Ray?" tanya Lastri yang baru membuka suaranya, karena sejak tadi dia hanya mengamati Ray yang sedang membujuk Keyla.
"Iya Nek. Hmm, gak apa-apa kan kalo Nenek ditinggal sendiri?" tanya Ray pada neneknya yang berjalan mengikutinya keluar dari kamar itu.
"Kenapa kamu tanya seperti itu? Bukankah memang biasanya Nenek juga tinggal sendiri. Kamu ini ada-ada saja Ray," jawab Lastri sedikit lucu mendengar pertanyaan dari cucunya.
"Ya, Ray cuma merasa khawatir aja Nek. Bagaimana kalau Nenek ikut Ray ke rumah sakit?" tanya Ray dengan idenya.
"Sebaiknya Nenek gak usah ikut ya Ray, Nenek gak mau ganggu kamu," ucap Lastri dengan senyuman jahilnya.
"Tuh kan, Nenek mulai lagi," ucap Ray sambil geleng-geleng kepala.
"Nenek cuma bercanda ko sayang. Ya sudah, kamu hati-hati ya! Sampaikan salam Nenek pada temanmu itu," ucap Lastri dengan terkekeh.
__ADS_1
"Baiklah. Kalo begitu Ray pamit dulu Nek, nanti kalau urusannya sudah selesai, Ray bakal ke sini lagi," ucap Ray lagi.
"Iya Ray,"
"Assalamu'alaikum," ucap Ray sambil mencium punggung tangan neneknya, yang langsung dibalas usapan lembut pada kepala Ray.
"Waalaikumsalam," jawab Lastri sambil menatap Ray yang mulai masuk ke dalam mobil, dan perlahan mobil Ray meninggalkan pekarangan rumah neneknya.
*****
Di dalam mobil, Keyla sesekali melihat ke arah Ray dengan pandangan bingungnya.
"Ada apa sayang?" tanya Ray yang tahu wajah bingung Keyla.
"Key mau dibawa kemana? Key takut," ucap Keyla dengan nada lucu namun tak menghilangkan ketakutannya.
"Kita mau ketemu kak Jingga sayang, kamu jangan takut, sebentar lagi kita akan sampai," ucap Ray lembut. Dia juga mengusap kepala Jingga pelan.
"Huaaa... Key takut. Key mau ayah," Tangis Keyla kembali keras, membuat Ray panik. Dia tidak tahu harus membujuk seperti apa lagi, agar adiknya Jingga tidak menangis. Sungguh, Ray pertama kalinya menghadapi anak kecil, jadi dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Huaaa... " Tangis Keyla membuat Ray benar-benar bingung.
Dia mencoba menghubungi Jingga, agar dia bisa menenangkan adiknya, namun panggilan teleponnya tak diangkat-angkat, membuat Ray benar-benar frustrasi.
"Sayang kamu jangan nangis lagi ya, nanti Kakak belikan kamu es krim," bujuk Ray lagi, tapi sepertinya Keyla bukanlah anak kecil yang mudah dibujuk, dia terus saja menangis dengan keras sampai membuat matanya bengkak.
Ray terpaksa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berharap agar cepat sampai dan Keyla bisa bertemu dengan kakaknya.
Beruntung saat itu keadaan jalan tidak macet membuat Ray cepat sampai di rumah sakit. Setelah mobil yang dikendarainya berhenti tepat di parkiran rumah sakit, dengan cepat Ray membawa Keyla ke dalam gendongannya dan bergegas masuk ke dalam dengan langkah tergesa-gesa.
Karena tangisan Keyla yang masih belum terhenti, membuat beberapa pasang mata menatap Ray dengan pandangan beragam saat dia melewati lorong-lorong rumah sakit itu.
Akhirnya Ray sampai di depan ruangan tempat ayahnya Jingga di rawat, dengan nafas yang masih tidak beraturan. Beruntung dia mempunyai tenaga yang cukup untuk berjalan dengan cepat sambil menggendong anak kecil.
__ADS_1
Jingga cukup terkejut dengan kedatangan Ray yang tiba-tiba dengan membawa Keyla di dalam gendongannya. Jingga senang akhirnya dia bisa bertemu dengan adiknya, namun dia juga sedikit kasihan melihat wajah Ray yang kemerahan. Mungkin karena berjalan setengah berlari sambil menggendong Keyla, membuat Ray kelelahan.
"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Jingga sambil mengambil Keyla dari gendongan Ray.
Mungkin karena saat menangis tadi Keyla tak membuka matanya, jadi saat sudah berada didalam gendongan Jingga pun dia masih menangis, karena mungkin Keyla menyangka dia masih bersama orang yang tidak dikenalnya.
Namun saat mendengar suara lembut kakaknya, dan juga elusan lembut di pipinya membuat Keyla menghentikan tangisannya.
"Sstt, sayang. Ini Kakak, kamu jangan nangis lagi ya!" ucap Jingga sambil mencium pipi gembul sang adik.
"Huhu Ka--kak," ucap Keyla dengan sesegukan.
"Iya sayang, ini Kakak. Sekarang Kakak sudah bersama kamu, jadi anak cantik ini gak boleh menangis lagi," ucap Jingga lagi, dan Keyla langsung mengangguk saat mendengar ucapan kakaknya itu.
Tangisan Keyla yang sudah berhenti membuat Ray bisa bernafas lega. Syukurlah tangisan Keyla sudah berhenti, pikir Ray dalam hati.
"Terima kasih Ray, karena kamu sudah menemukan Keyla," ucap Jingga sambil mengelus-elus punggung Keyla yang ada didalam gendongannya.
"Iya sama-sama. Ah, aku lega melihat dia sudah tenang," ucap Ray yang melihat Keyla sudah tenang. Bahkan dia mulai tertidur karena kecapean saat menangis tadi.
"Iya, sekarang dia sudah tertidur. Apakah dari tadi dia menangis terus?" tanya Jingga lagi.
"Sejak aku membawanya ke sini, dia terus menangis. Aku gak berpengalaman mengurus anak kecil, jadi saat dia menangis, aku tidak bisa membujuknya," ucap Ray sambil menatap wajah sembab Keyla yang sudah tertidur.
"Benarkah? Maaf ya Ray sudah membuat kamu repot," ucap Jingga sedikit sungkan. Dari awal Ray yang mengantarnya ke Malang sampai membantu dia mencari adiknya.
"Sama sekali tidak repot, kamu tenang saja. Oh iya, bagaimana perkembangan ayah kamu?" tanya Ray sedikit menoleh ke arah ayahnya Jingga yang masih terbaring lemah di ruang ICU.
"Masih belum ada perkembangan Ray," jawab Jingga yang langsung menyendu.
"Kamu harus sabar, aku yakin ayah kamu akan segera sadar," ucap Ray memberi semangat.
"Iya Ray, aku harap ayahku secepatnya sadar," balas Jingga.
__ADS_1
Saat ini mereka terus menunggu didepan ruangan tempat ayahnya masih terbaring lemah. Sesekali Jingga mengusap air matanya yang turun tanpa dia sadari. Ray juga terus memberi Jingga semangat, apalagi masih ada Keyla yang harus Jingga perhatikan.