CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
64


__ADS_3

Ken baru saja memasuki ruangannya, namun ketukan di daun pintu membuatnya melangkah lagi ke arah pintu. Siapa yang datang? Kalau karyawannya, tidak mungkin karena baru saja Ken memberi tahu mereka, jika dia tidak boleh diganggu sebab ada hal penting yang harus dia lakukan, pikirnya. Namun walaupun begitu Ken membukakan pintunya, dan bersiap-siap akan memarahi mereka yang mengganggunya.


Setelah pintu terbuka, Ken segera menutup rapat bibirnya saat dia hendak memarahi orang yang mengganggunya, karena ternyata dugaannya salah, yang mengetuk pintu bukanlah karyawannya, melainkan orang yang setiap detik selalu ada dipikirannya. Bahkan dia meminta pada karyawannya untuk tidak di ganggu sebab dia sedang memikirkan Jingga, tapi kini Jingga ada dihadapannya.


Dapat Ken lihat, tatapan sendu dari Jingga. Namun dia tidak bisa berbuat apapun selain memasang wajah datarnya, walaupun hati perih dengan kenyataan yang mengatakan bahwa mereka berpisah. Selama beberapa menit baik Ken maupun Jingga sama-sama saling menatap. Mungkin keduanya sedang berbagi kerinduan lewat tatapan mereka.


"Ada apa?" tanya Ken langsung.


"Mas, aku mau bicara sama kamu. Bisakah kita bicara di luar, hanya sebentar," ucap Jingga.


"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan! Saat ini saya sedang sibuk, tak mungkin meninggalkan pekerjaan saya begitu saja," ucap Ken datar.


"Mas, aku mohon sebentar saja!" bujuk Jingga lagi.


"Baiklah, tapi tidak lebih dari lima menit. Kita bicara di taman samping restoran ini," ucap Ken langsung melangkah keluar diikuti Jingga dari belakang.


Cuaca pagi itu sangatlah cerah, secerah harapan Jingga yang ingin kembali pada suaminya. Berharap bisa mengulang kembali kenangan indah bersama lelaki yang begitu dicintainya itu.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Ken setelah mereka sampai di taman.


"Mas, tadi aku ke rumah bawa barang aku yang ketinggalan. Ehm, terus surat cerai juga ada di kamar. Aku lihat kamu sudah menandatanginya. Mas, bisakah kamu membatalkannya, aku tidak mau berpisah sama kamu Mas, aku mohon!" ucap Jingga langsung memegang kedua lengan Ken, memohon dengan air mata yang tak dapat ditahannya lagi.


"Tidak bisa!" ucap Ken langsung, bahkan dia melepaskan tangan Jingga dari tangannya.


"Mas, aku mohon batalkan perceraian kita. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, maafkan aku yang belum bisa memberimu anak, tapi kedepannya aku akan berusaha lagi agar bisa hamil. Mas, aku mohon!" ucap Jingga terus memohon bahkan kini dia duduk dihadapan suaminya.


"Jingga bangun! Jangan seperti ini!" ucap Ken langsung membantu Jingga berdiri tapi Jingga tetap bersikeras memohon sambil berlutut.

__ADS_1


"Aku tidak akan bangun sampai kamu membatalkan perceraian kita Mas," tegas Jingga membuat Ken hanya menghembuskan nafas kasarnya.


"Tapi aku tidak bisa membatalkannya. Aku harap kamu menerima semua ini, dan menemukan kebahagiaan kamu sendiri," balas Ken namun Jingga masih bergeming ditempatnya.


"Kebahagiaan aku hanya jika bersama kamu Mas. Dan kebahagiaan aku hanya saat kamu berada disamping aku. Bagaimana aku bisa bahagia jika satu-satunya orang yang bisa membuat aku bahagia tidak lagi bersama aku," ucap Jingga pelan.


"Maka dari itu, aku ingin kamu mendapatkan kebahagiaan dari orang lain. Maaf tapi aku harus kembali bekerja," ucap Ken langsung melangkah pergi.


"Apakah kamu melakukan ini karena Dina memberi informasi palsu bahwa aku mundul?" tanya Jingga yang berhasil membuat Ken menghentikan langkah kakinya.


Ken sedikit kaget dengan baru saja yang di ucapkan Jingga. Bagaimana dia bisa tahu? Pikir Ken dalam hati. Ken segera berbalik arah, dan menatap Jingga yang juga sedang menatapnya. Sejujurnya, Ken tak ingin lagi melihat Jingga dengan berurai air mata seperti itu, karena melihat itu sama saja membuat hatinya sakit. Bagaimana pun dia melakukan itu untuk kebaikan Jingga. Ken tak mau membuat Jingga lebih menderita lagi.


"Tentu saja. Bukankah kamu juga tahu bahwa aku sangat menginginkan anak dari kamu. Tapi kenyataannya seperti ini, jadi aku harap kamu bisa menerimanya," ucap Ken tegas menatap mata Jingga langsung. Dia berharap Jingga bisa mempercayai ucapannya.


"Bisakah kamu sabar Mas. Mungkin kita belum dipercaya untuk memiliki seorang anak," ucap Jingga lagi.


"Apakah jika aku hamil, kamu akan kembali padaku Mas?" tanya Jingga menatap nanar Ken.


"Entahlah," jawab Ken seadanya. Tanpa mengucapkan apapun lagi, dia langsung meninggalkan Jingga.


"Mas...!" teriak Jingga namun Ken sama sekali tak menghentikan langkahnya. Dan perlahan Ken mulai menghilang dari pandangan Jingga.


Begitu teganya kamu meninggalkan aku seperti ini mas? Tanya Jingga dalam hati. Pikiran kosong dan perasaannya hancur. Kehidupannya benar-benar sudah berakhir seperti ini. Dari ditinggal ayahnya yang belum lama itu, dan sekarang suaminya juga akan benar-benar meninggalkan dia. Untuk apa lagi dia hidup jika harus merasakan sakit lagi seperti ini? Tak cukupkah penderitaan yang dulu dia alami? Kenapa takdir begitu kejam mempermainkan perasaannya? Pikir Jingga dengan hati terluka.


*****


Didalam rumah, Citra berjalan bolak-balik seperti setrikaan diatas kain kusut. Citra begitu mengkhawatirkan sahabatnya. Pasalnya, Jingga hanya izin sebentar untuk mengambil barang yang tertinggal, namun sekarang sudah lebih dari dua jam, Jingga belum juga menampakan batang hidungnya.

__ADS_1


"Ah, kenapa dia lama sekali," gerutu Citra sambil mencoba menghubungi Jingga, namun ponselnya tidak aktif.


Citra semakin khawatir terjadi sesuatu pada Jingga, apalagi setelah tahu ponsel Jingga tidak aktif. Dia juga kesal pada Dafa yang juga belum datang, padahal sudah dari 30 menit yang lalu, Citra menghubungi Dafa, memintanya untuk datang ke rumah, tapi sampai sekarang dia belum juga datang.


"Kak Jingga mana Kak?" tanya Keyla tiba-tiba saja sudah berada di samping Citra, membuat Citra tersentak kaget, apalagi sebelumnya yang Citra tahu, gadis kecil itu sedang bermain boneka di ruang tengah.


"Oh, itu e--Kak Jingga masih di jalan sayang. Kenapa memangnya?" tanya Citra sedikit kebingungan menjawab ucapan Keyla.


"Enggak papa Kak," ucap Keyla tersenyum lima jari.


"Ya udah, kamu main lagi ya. Kakak lagi nungguin Kakak kamu. Kamu jangan nakal ya sayang!" ucap Citra mengelus rambut Keyla dengan lembut. Dia juga bisa bernafas lega, ternyata Keyla tidak merengek untuk bertemu kakaknya.


"Ok Kak," balas Keyla langsung berlari ke ruang tengah, untuk melanjutkan bermain bonekanya.


Ting tong!


Citra segera bergegas membukakan pintu saat mendengar suara bel berbunyi.


"Hai Cit-- " sapa Dafa.


"Kamu lama banget sih. Emang jauh banget ya rumah ini dari rumah kamu," ucap Citra langsung memotong ucapan Dafa, padahal Dafa ingin menyapanya, namun disambut dengan omelan Citra.


"Eh?" Dafa membeo. Dia baru saja datang, tapi penyambutan Citra sungguh luar biasa. Ray yang ada disamping Dafa juga sedikit kaget, mendengar omelan Citra yang begitu kesal.


"Aku tuh butuh bantuan kamu, tapi kamu datangnya lama," kesal Citra.


"Bantuan apa?" tanya Dafa yang tak peduli tatapan kesal dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tolong cari Jingga. Sejak tadi pagi dia izin keluar sebentar, tapi sampai sekarang dia belum pulang juga. Aku khawatir sama dia, soalnya ponselnya juga gak aktif," ucap Citra langsung membuat Dafa dan Ray kaget. Apalagi Ray, bahkan dia langsung berlari masuk ke dalam mobil tanpa berkata apapun. Membuat Dafa dan Citra keheranan, tapi tak bisa mencegahnya karena mereka sama-sama tahu perasaan Ray pada Jingga.


__ADS_2