CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
85


__ADS_3

Bermain adalah hal yang tak pernah membuat bosan bagi anak-anak. Menurut mereka bermain sepanjang hari pun tak akan pernah membuat mereka lelah. Begitu juga dengan Nayla, waktu dia habiskan hanya untuk bermain, sedangkan Keyla hanya bisa menemani dia sepulang sekolah atau di hari libur.


Seperti saat ini, Nayla hanya bermain sendiri di depan rumahnya. Kakaknya sudah berangkat sekolah 2 jam yang lalu, ayahnya juga sudah pergi untuk mengontrol bisnisnya, sedangkan di rumah hanya tinggal bunda dan tantenya.


Walaupun begitu, Nayla tetap ceria bermain sendiri, bahkan terkadang dia terlompat-lompat kegirangan.


"Sayang, ayo masuk, makan dulu!" ucap Jingga sambil menghampiri anaknya.


"Nanti Bunda, aku belum selesai," ucap Nayla manja.


"Tapi saatnya kamu makan sayang, nanti di lanjut setelah makan ya," bujuk Jingga lagi, sangat hafal bagaimana Nayla susah di bujuk jika sedang bermain, terlebih saat dia tengah main kotor-kotoran di depan rumahnya.


"Bunda... Aku belum lapar. Bunda masuk aja ke rumah, aku masih mau main," ucapnya merajuk.


"Tapi sayang... "


"Setelah ini makan ko Bun,"


"Ya udah, Bunda bawa aja makanannya ke sini ya,"


"Iya Bun,"


Jingga segera berjalan ke dalam rumahnya untuk mengambil makanan, tak apa jika anaknya makan sambil bermain, asalkan ada makanan yang masuk ke dalam perut Nayla, pikirnya.


Namun tanpa di sadari oleh Jingga, maupun orang yang ada di dalam rumahnya, ternyata ada seseorang yang tengah mengawasi situasi disana. Tak tahu apa maksud dan tujuannya, tapi yang pasti orang itu siap untuk memberi laporan tentang situasi di rumah Jingga, pada orang yang memerintahnya.


"Lapor Bos, keadaan disini aman, anak kecil itu sedang bermain sendiri di depan rumahnya," ucapnya setelah orang diseberang mengangkat panggilan teleponnya.


"Bagus, sekarang bawa anak itu, saya tunggu di tempat tadi," jawabnya di seberang.


"Baik Bos," ucapnya dan setelah itu langsung menutup panggilan telepon.


Dengan gerakan cepat, dia berjalan ke depan rumah Jingga, dimana Nayla begitu asyik bermain. Tak lupa dia juga tetap mengawasi keadaan sekitar, agar rencana membawa Nayla tidak gagal.


"Hai cantik, Om bawa boneka bagus, kamu mau?" tanyanya pada Nayla.


"Boneka apa Om?" tanya Nayla sambil melihat kearahnya.


"Boneka barbie yang cantik, ayah kamu yang beli. Sekarang ikut Om ke mobil, buat ambil bonekanya," lanjutnya.

__ADS_1


"Ayah aku?"


"Iya cantik, ya udah ayo kita bawa!" ucapnya langsung menggendong Nayla, dan langsung berjalan cepat ke arah mobilnya.


Dengan hati-hati, dia mendudukan tubuh kecil Nayla ke jok mobil bagian depan, sekaligus memasangkan sabuk pengamannya. Setelah itu, dia segera masuk dan langsung menancap pedal gas mobilnya dengan kencang, takut orang rumah akan cepat menyadarinya.


"Lah kemana anak itu?" monolog Citra sambil melihat sekeliling rumah Jingga, namun dia tak melihat Nayla sedikit pun.


Rasa khawatir langsung menyelimuti Citra, saat dia sudah melihat ke sekeliling rumah Jingga, baik halaman samping, belakang ataupun di depan, tetapi dia tak menemukan keberadaan Nayla.


"Ga, Jingga!" teriak Citra panik.


Dengan cepat, Jingga segera menghampiri Citra yang ada didepan rumahnya, dia juga sedikit kaget saat melihat wajah panik Citra.


"Ada apa?" tanya Jingga langsung.


"Ga, dimana Nayla? Kata kamu dia lagi main disini, tapi aku cari-cari gak ada," jawab Citra panik.


"Iya tadi dia masih ada disini, aku ke dalam cuma mau bawa makanan. Aku mau nyari dia ke belakang mungkin dia disana," ucap Jingga.


"Aku udah cari ke sekeliling rumah ini, tapi Nayla gak ada," ucap Citra membuat Jingga tambah panik.


"Kamu tenang dulu, kita cari sama-sama. Mungkin ada temannya yang mengajak dia bermain di tempat lain,"


"Biasanya dia bilang dulu, kalo mau main ke rumah temannya," ucap Jingga d sela tangisnya.


Citra segera menghubungi Dafa, untuk membantunya mencari Nayla. Begitu pun dengan Jingga, dia juga langsung menghubungi suaminya.


"Hallo. Mas, cepet pulang! Kita harus cari Nayla Mas," ucap Jingga langsung setelah Ray mengangkat panggilan teleponnya.


"Memangnya ada apa sayang? Kenapa suara kamu begitu panik?" tanya Ray diseberang.


"Kamu pulang sekarang Mas, nanti aku jelaskan," ucap Jingga lagi.


"Baiklah, aku pulang sekarang. Kamu harus tenang, jangan panik dulu oke," ucap Ray.


"Iya Mas,"


Panggilan tertutup, dan Jingga langsung menyimpan kembali ponselnya, namun tak sedikit pun dia tenang. Justru setiap detik berlalu, rasa cemas kian menyelimutinya. Dimana Nayla? Bagaimana keadaannya? Bagaimana jika dia di culik? Kini banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Jingga.

__ADS_1


"Ga, aku udah nyuruh Dafa buat cari Nayla," ucap Citra.


"Aku juga udah nyuruh suami aku pulang, aku benar-benar khawatir sama Nayla Cit," ucap Jingga.


"Tenanglah, Nayla pasti baik-baik aja. Kita tunggu Dafa sama kak Ray datang," ucap Citra lagi, dan Jingga hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Sedangkan Ray yang mendapat telepon dari istrinya, segera bergegas pulang, tak mau terlalu lama. Walaupun perusahaannya di Bandung sudah dia wakilkan pada sekretarisnya, tetap saja dia harus mengelola bisnisnya di kota Malang.


Agar bisa cepat menemukan keberadaan Nayla, dia langsung menghubungi orang-orangnya untuk membantu mencari anaknya, karena pasti istrinya sangat panik saat ini. Ray langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sambil terus menunggu kabar dari orang-orang kepercayaannya.


Di dalam mobil yang berbeda, orang yang menculik Nayla terkihat panik saat mendengar tangisan keras anak yang dia culik.


"Anak cantik, jangan nangis ya, sebentar lagi kamu akan mendapat boneka bagus!" ucapnya menenangkan, karena dia ingat perkataan bosnya, bahwa anak yang dia culik tidak boleh terluka atau pun menangis.


"Huaaa... Aku ingin bunda!" tangis Nayla mengudara.


Sontak orang yang menculik Nayla tambah bingung, karena setelah dia membujuk Nayla, bukannya berhenti menangis, tangisannya malah semakin keras. Dia langsung menambah kecepatan laju mobilnya, agar segera sampai di tempat dia dan bosnya bertemu.


Tak lama, dia melihat mobil bosnya yang sudah terparkir di pinggir jalan. Tanpa menunggu lagi, dia langsung turun setelah mobilnya berhenti, dia juga langsung menggendong Nayla yang masih menangis keras. Tanpa menunggu perintah bosnya, dia langsung membuka pintu dan langsung masuk bersama anak yang dia culik.


"Bos, maaf karena anak ini susah di bujuk. Dia terus menangis," ucapnya langsung.


"Tidak masalah, yang terpenting tidak ada yang mengikuti kalian. Sekarang pergilah, sisa uangnya sudah saya transfer!" ucap Ken langsung.


"Baik bos," balasnya dan dia langsung turun dari mobil setelah menyerahkan Nayla pada bosnya.


"Huaaa... Aku mau bunda!" ucap Nayla di sela tangisannya.


"Sayang, kamu jangan nangis ya! Sekarang Ayah ada disini," ucap Ken langsung membawa tubuh Nayla ke atas pangkuannya.


"Lihat sayang, ini ayah!" ucap Ken lagi karena Nayla masih menangis.


Perlahan Nayla menghentikan tangisnya, dan melihat ke arah Ken. Nayla berhasil menghentikan tangisannya, tapi dia langsung bingung saat melihat wajah orang yang sama, yang dia lihat kemarin saat di rumahnya.


"Om yang kemarin," ucap Nayla parau.


"Ini Ayah sayang, ini Ayah kamu," ucap Ken bahagia bisa melihat dengan jelas wajah anaknya. Dia langsung mencium ke dua pipi Nayla dengan penuh rasa sayang.


"Sekarang Ayah akan bawa kamu pergi bermain, kamu mau kan?" tanya Ken, namun Nayla hanya memasang wajah polosnya. Dia bingung kenapa orang didepannya itu memanggil dirinya sebagai Ayah dia.

__ADS_1


Ken tersenyum melihat wajah bingung anaknya, kemudian dia langsung melajukan mobilnya ke Hotel tempat dia menginap, dengan Nayla yang masih duduk diatas pangkuannya.


__ADS_2