
Tempat yang mewah tak membuat Nayla senang. Sejak mereka sampai di Hotel tempat Ken menginap tak sedikit pun Nayla menghentikan tangisannya. Jika beberapa jam ke depan Nayla tidak berhenti menangis, mungkin akan membuat matanya membengkak. Sudah berulangkali Ken membujuk anaknya, tapi tetap Nayla terus menangis ingin bundanya.
Ken berusaha sabar, karena bagaimana pun semua ini adalah keinginannya. Keinginannya untuk membawa Nayla tidak bisa dia urungkan begitu saja. Berusaha agar Nayla bisa tenang dan menerimanya adalah konsekuensinya, karena dia berani membawa Nayla tanpa izin dari ibunya.
"Sayang, jangan nangis terus, nanti mata kamu jadi sakit," ucap Ken.
"Tapi aku mau bunda," ucap Nayla sesegukan.
"Sayang, dengerin Ayah ya. Kamu ini putri Ayah, putri kandung Ayah. Jadi kamu jangan nangis, karena disini kamu sama Ayah," bujuk Ken lagi.
"Tapi ayah aku ada di rumah," ucap Nayla yang sudah menghentikan tangisnya. Mungkin karena ucapan Ken yang mengatakan kalau dia ayahnya, jadi Nayla sedikit teralihkan.
"Ayah kamu ada disini sayang. Ini Ayah! Yang di rumah itu bukan ayah kandung kamu," jelas Ken. Dia tak akan menyerah untuk meyakinkan Nayla, bahwa dirinya adalah ayah kandungnya.
Nayla semakin bingung, semua perkataan om didepannya tidak bisa dia cerna dengan baik. Ken yang melihat wajah bingung Nayla segera mengambil ponselnya. Dia membuka satu gambar yang dia sembunyikan di dalam filenya.
"Lihatlah sayang, bukankah ini adalah bunda kamu?" tanya Ken sambil memperlihatkan foto pernikahan dia dengan Jingga.
"Ini kan bunda,"
"Iya sayang, dan sebelahnya adalah Ayah. Jadi kamu percaya kan bahwa ini adalah Ayah kamu?" tanya Ken lagi sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Jadi Om adalah ayah aku?" tanya Nayla memastikan.
"Iya sayang. Yang di rumah kamu itu bukan ayah kandung kamu,"
"Tapi kenapa aku tidak pernah melihat Ayah?"
"Itu karena Ayah sedang bekerja sayang. Maafkan Ayah yang tidak pernah menemui kamu, tapi Ayah janji akan terus bersama kamu sayang. Jadi kamu mau kan maafin Ayah?"
"Iya, aku senang punya Ayah,"
Ken tersenyum melihat wajah senang anaknya. Dia begitu menyesal karena tak pernah menemui Nayla sejak dia lahir. Dia berjanji akan melindungi dan menjaga anaknya, pikir Ken dalam hati.
__ADS_1
"Sekarang Ayah akan bawa kamu makan enak. Kamu mau kan sayang?" tanya Ken.
"Aku mau Yah," jawab Nayla.
Ken begitu bahagia mendengar jawaban anaknya, sampai dia langsung menggendong tubuh mungil Nayla dan segera berjalan keluar dari kamar Hotelnya.
***
Sejak kepulangan Ray ke rumah, Jingga terus saja menangis dalam pelukan suaminya. Dia menyesal karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik, sampai dia tidak tahu keberadaan anaknya. Citra dan Dafa sudah mencari Nayla ke semua rumah tetangga dan rumah teman-teman sebayanya, tetapi hasilnya tetap nihil, mereka belum menemukan keberadaan Nayla.
"Mas, kita lapor pada polisi aja gimana?" usul Jingga.
"Belum 24 jam sayang, jadi kita tidak bisa membuat laporan tentang menghilangnya Nayla," jawab Ray sambil mengusap punggung istri yang ada di dalam pelukannya.
"Ya udah kita cari Nayla, ayo Mas!" ucap Jingga langsung berdiri.
"Kamu tunggu di rumah aja ya sayang, biar aku yang cari Nayla,"
"Aku janji akan bawa Nayla ke rumah,"
"Gak bisa Mas, pokoknya aku mau ikut. Aku tahu pasti ini semua rencana ayahnya yang ingin mengambil Nayla dari aku. Kamu inget kan Mas, waktu dia bilang akan membawa Nayla bagaimana pun caranya,"
Belum sempat Ray membalas ucapan istrinya, tiba-tiba bunyi pesan terdengar dari ponselnya. Dengan gerakan cepat Ray mengambil ponselnya yang ada di saku, kemudian langsung membaca isi pesan yang dikirimkan oleh orang-orangnya. Rona senang terukir di wajah tampan Ray saat setelah dia membaca pesan itu. Rupanya keberadaan Nayla sudah di temukan, dan benar saja, Nayla dibawa oleh ayah kandungnya.
"Sayang, aku sudah tahu keberadaan Nayla," ucap Ray langsung membuat Jingga bernapas lega.
"Dimana Mas?" tanya Jingga.
"Ehm, dia di bawa oleh ayahnya. Aku juga tidak tahu kenapa Ken bisa membawa Nayla tanpa sepengetahuan kamu, yang jelas saat ini Nayla sedang bersamanya," jawab Ray.
"Sudah aku duga, dia serius dengan ucapannya kemarin. Tapi dari mana kamu tahu?"
"Itu---, sudah yang terpenting kita sudah tahu keberadaan Nayla. Sekarang kamu siap-siap, kita langsung berangkat sekarang,"
__ADS_1
"Baik Mas, kamu juga tolong hubungi Dafa dan Citra, takut mereka terus mencari Nayla ke semua tempat,"
"Iya sayang,"
Jingga segera pergi ke kamar untuk mengambil tasnya. Sedangkan Ray langsung menghubungi adiknya, juga memberitahu posisi Nayla saat ini. Ray tak habis pikir, Ken bisa membawa Nayla begitu saja. Dia juga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya nanti pada Ken, karena sudah berani menculik anaknya sendiri.
Setelah Jingga mengambil tasnya, Ray langsung bergegas keluar diikuti istrinya. Dengan perasaan yang lebih lega dari sebelumnya, Ray melajukan mobilnya ke tempat anaknya berada. Sedikit ragu membawa istrinya, karena Ray takut dengan emosi istrinya saat mereka sampai nanti.
"Sayang, aku minta kamu jangan emosi saat nanti kita sudah sampai ya," ucap Ray.
"Aku gak habis pikir Mas, dia berani menculik Nayla," ucap Jingga tanpa melihat suaminya.
Ray hanya menghela nafasnya, sudah dia menduga bahwa istrinya tidak akan bisa menahan emosinya. Terlihat dari ucapannya barusan, bahwa istrinya berusaha menahan emosinya, pasti saat mereka sampai bisa-bisa dia dikuasai emosi terhadap mantan suaminya, pikir Ray dalam hati.
Tak lama mobil yang di kendarai Ray sampai di Hotel tempat Ken membawa Nayla. Jingga langsung turun dari mobil setelah mobil Ray terparkir sempurna di depan Hotel itu. Ray langsung bergegas mengikuti langkah istrinya yang sudah lebih masuk ke dalam Hotel.
Kakinya melangkah dengan cepat dan matanya terus menatap ke sekeliling Hotel, dan akhirnya sosok yang dia cari tertangkap oleh indra penglihatan Jingga, dimana anaknya sedang makan dengan mantan suaminya. Tanpa pikir panjang lagi, Jingga langsung menghampiri mereka.
"Apa yang kamu lakukan!" ucap Jingga dengan nada tinggi, membuat orang-orang yang tengah makan pun teralihkan oleh suara keras Jingga.
"Bunda... " ucap Nayla sumringah, dia tak tahu bahwa keadaan sangatlah tidak baik.
"Sayang, ayo kita pulang!" ucap Jingga langsung menggendong anaknya, namun dengan cepat tangan Ken menahan tubuh anaknya.
"Lepaskan anak aku!" ucap Jingga penuh dengan emosi.
"Kamu lupa ya, kalo Nayla juga anak aku," ucap Ken tak ingin kalah. Dia tak menyangka dengan cepat Jingga menemukan keberadaan mereka, dia menyesal kenapa tidak dari pagi saja dia membawa Nayla ke tempat yang tidak bisa di temukan Jingga, maupun laki-laki yang ada di belakang Jingga, pikirnya.
"Kamu lupa bahwa tak ada sedikit pun hak untuk mengakui Nayla sebagai anak kamu," ucap Jingga dengan suara besarnya, membuat semua orang bingung menatapnya. Sedangkan Nayla hampir menangis karena mendengar suara keras bundanya.
"Sampai kapan pun Nayla adalah anak kandung aku, dan kamu tidak bisa menyangkalnya. Sekarang lepaskan dia, kamu membuatnya ketakutan," ucap Ken lagi, dia langsung ingin menarik lengan Nayla, tapi terhenti saat tiba-tiba Nayla menangis keras.
"Huaaa... Aku takut," tangis Nayla membuat Jingga sadar dengan emosinya, tak seharusnya dia membahas bahkan berkata dengan nada tinggi di depan Nayla, yang akan membuatnya takut.
__ADS_1