
Hari berganti dengan minggu, dan minggu berganti dengan bulan. Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Namun hari-hari yang dijalani oleh Jingga berubah drastis, membuat dia sangat sedih jika mengingat masa-masa dimana Ken masih seperhatian dulu.
Bagi Jingga, sekarang itu suaminya seperti orang lain, seperti orang asing yang kebetulan tinggal bersama. Entah sebab apa yang membuat Ken berubah, yang pasti Jingga merasa suaminya yang dulu telah hilang. Sekarang yang ada hanya Ken yang dingin dan datar, tak seperti dulu saat Ken sering membuat dia kesal, ataupun hanya sekedar menggoda Jingga.
Jingga sangat merindukan sosok suaminya yang penyayang, perhatian dan sering membuatnya tertawa. Dia merasa saat ini hidupnya terasa hambar, tak ada lagi yang mewarnai hidupnya. Hanya Keyla yang sesekali membuat dia lupa akan kesedihannya.
Seperti hari ini, dimana Jingga tengah disibukan oleh pekerjaan rumah yang belum dia selesaikan, namun dia harus melihat suaminya yang sangat mesra dengan anak dan istri keduanya. Tentu hal itu membuat hati Jingga hancur. Kini Jingga tengah fokus mengerjakan tugasnya, karena Keyla masih tidur didalam kamarnya.
Satu hal lagi yang membuat hati Jingga kecewa, saat ini Ken tak pernah tidur lagi dikamarnya, karena Ken selalu tidur bersama Resti dan juga anaknya.
"Kak Jingga!" panggil Resti santai, seolah Jingga adalah asistennya.
"Ada apa Res?" tanya Jingga setelah menghampiri Resti, lagi-lagi dia harus melihat suaminya yang terlihat bahagia dengan anak dan istri keduanya.
"Kak, aku mau jus apel. Tapi Saga sangat rewel, bisakah Kak Jingga membuatkan untukku," ucap Resti yang sedang menyusui anaknya. Bayi yang dulu sangat kecil, sekarang sudah tumbuh menjadi balita yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Baiklah. Kamu mau aku buatkan sekalian Mas?" tanya Jingga pada suaminya yang terus asyik mengusap-usap pipi anaknya.
"Gak usah, aku udah minum kopi tadi," jawab Ken, namun dia tak mengalihkan sedikitpun pandangannya pada Jingga, karena matanya tetap tertuju pada anaknya.
Dan satu hal lagi perubahan Ken. Kini dia tak menyebut Jingga dengan panggilan sayang, hanya panggilan aku dan kamu yang Ken ucapkan. Jingga hanya berusaha tegar, karena dia yakin, suaminya itu akan kembali seperti dulu.
"Ya udah Mas, aku ke dapur dulu," pamit Jingga yang sedikit mengamati wajah Ken. Tapi tak sedikitpun Jingga melihat tatapan lembut dari suaminya, hanya wajah datarnya saja yang Ken tunjukan.
Kemudian Jingga langsung melangkah menuju dapur, sambil menahan air mata yang sudah terkumpul disudut matanya. Jingga selalu berharap, apa yang dilakukan suaminya itu bukanlah dari dalam hatinya. Jingga tak mau, perubahan suaminya itu menunjukan cintanya yang sudah hilang.
Dengan cepat Jingga memberikan satu gelas jus apel pada Resti, setelah dia selesai membuatnya. Kemudian Jingga langsung saja melangkahkan kaki dia menuju kamarnya, karena tak mau membuat hatinya lebih sakit saat melihat suaminya dan Resti bersama.
"Kak," ucap Keyla yang terlihat baru bangun, karena dia sedang mengucek-ucek matanya.
"Kamu udah bangun sayang?" tanya Jingga sambil mengusap lembut pipi Keyla.
__ADS_1
"Iya Kak. Kenapa Kakak menangis?" tanya Keyla saat melihat mata Jingga yang memerah.
"Kakak gak nangis sayang, tadi Kakak habis potong bawang jadi mata Kakak perih," bohong Jingga sambil memeluk erat sang adik. Entahlah, rasanya kehidupan bahagianya sudah berakhir, yang tersisa kini hanyalah adiknya. Keyla satu-satunya alasan yang membuat dia harus kuat.
"Kak, aku mau jalan-jalan," ucap Keyla dengan mata berbinar.
"Keyla mau pergi kemana?" tanya Jingga lembut sambil menyelipkan rambut Keyla ke belakang telinganya.
"Ke rumah kak Citra aja Kak. Key kangen sama kak citra," jawab Keyla semangat membuat Jingga tersenyum.
"Baiklah. Ayo pergi, tuan putri!" ucap Jingga sambil mencolek hidung adiknya, yang membuat Keyla tertawa geli.
Jingga langsung turun dari ranjang dan segera membantu Keyla untuk bersiap-siap. Dia juga menyiapkan tas yang akan dibawanya. Dengan langkah sedikit ragu, Jingga menuntun Keyla ke ruang tengah, untuk meminta izin pada suaminya.
"Mas, aku mau minta izin sama kamu. Keyla merindukan Citra, jadi aku akan membawanya ke rumah Citra," ucap Jingga setelah berada didepan suaminya.
"Iya," jawab Ken datar, membuat Jingga tersenyum getir. Sedangkan Resti yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan.
Lihatlah! Sekarang kamu berada dititik kehancuranmu Jingga, ucap Resti dalam hati.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya.
Setelah Jingga melangkahkan kakinya keluar, Ken melirik sendu dengan ekor matanya. Namun masih mempertahankan wajah datarnya.
"Mas, aku juga mau jalan-jalan," rengek Resti sangat manja, namun terlihat memuakan bagi Ken.
"Gak bisa, Saga masih kecil. Terkena angin luar tidak bagus untuk kesehatannya," jawab Ken tegas membuat Resti memasang wajah kesalnya. Dia hanya menurut dengan ucapan Ken, jika dia masih ingin hidup bersama suaminya.
*****
Selama perjalanan menuju rumahnya Citra, Jingga hanya melamun saja, membuat Keyla yang ada disampingnya sedikit bingung dengan keanehan sang kakak, yang terlihat sering melamun jika tengah seorang diri.
__ADS_1
Berulang kali Keyla menegur Jingga, tapi Jingga hanya bergeming membuat Keyla sedikit khawatir. Dia mencoba mengusap pipi kakaknya, berharap pandangan kakaknya bisa teralihkan.
"Ada apa sayang?" tanya Jingga sedikit kaget merasakan usapan lembut pada pipinya.
"Kenapa Kakak melamun? Padahal tadi Key udah manggil Kakak terus," jawab Keyla dengan wajah khawatirnya.
"Benarkah? Maafin Kakak ya sayang, Kakak tadi gak denger," ucap Jingga.
"Kakak gak papa kan?" tanya Keyla lagi.
"Tentu sayang, Kakak baik-baik aja. Oh iya sebentar lagi kita sampai dirumahnya kak Citra," ucap Jingga lagi sambil melihat ke arah jalan.
"Horee, Key udah gak sabar Kak," ucap Keyla dengan gaya lucunya, membuat Jingga tersenyum.
"Iya sayang, tapi ingat pesan Kakak saat sampai di rumah kak Citra nanti. Kamu gak boleh bandel ya sayang," ucap Jingga lagi sambil mencium pipi sang adik.
"Key janji gak bakal bandel. Kan Key anak yang baik," ucap Keyla semangat.
"Kamu memang adiknya Kakak yang paling tersayang," ucap Jingga tersenyum sambil memeluk Keyla yang tengah kegirangan.
Saat taksi yang Jingga dan Keyla naiki sudah berhenti dipekarangan rumah Citra, mereka segera turun dari mobil. Dengan langkah tak sabar Keyla berjalan terlebih dahulu, membuat Jingga hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Assalamualaikum, Kak Citra!" ucap Keyla setengah berteriak. Karena dia sudah tak sabar ingin bertemu Citra, jadi dia melakukan itu.
"Sayang, kamu jangan berteriak-teriak!" ucap Jingga setelah dia berada disamping Keyla.
"Maaf Kak, Key cuma gak sabar pengen ketemu kak Citra," ucap Keyla dengan wajah bersalahnya.
"Baiklah, tapi jangan diulangi lagi ya," ucap Jingga yang membuat Keyla mengangguk keras.
Tak lama pintu terbuka, Citra keluar dengan wajah senangnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, sayang!" ucap Citra langsung merentangkan tangannya saat Keyla berlari ingin memeluknya.
"Ayo masuk Ga!" ucap Citra tersenyum senang, sambil merangkul sahabatnya dengan Keyla yang ada digendongannya.