CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
30


__ADS_3

"Sekali lagi makasih ya," ucap Jingga setelah dia sudah berada dipersimpangan jalan, depan rumahnya.


"Iya, sama-sama. Kamu pulangnya kapan?" tanya Dafa.


"Besok aku pulang, aku gak bisa lama-lama disini, karena gak mungkin meninggalkan mas Ken terlalu lama," jawab Jingga. Setelah itu dia membuka sabuk pengamannya dan bersiap untuk keluar.


"Hmm, besok aku juga pulang, gimana kalo kamu bareng aja pulangnya sama aku," ucap Dafa menawarkan. Dia masih khawatir pada Jingga, bisa saja masih ada orang yang berniat jahat pada Jingga.


"Gak usah Daf. Aku bisa pulang sendiri, aku gak mau nanti mas Ken jadi salah paham," ucap Jingga lagi. Dia tak mau mengambil resiko, takut membuat suaminya marah.


"Tapi aku khawatir sama kamu, nanti kalo diperjalanan masih ada orang yang berniat jahat sama kamu gimana? Udah, kita pulang bersama, nanti aku yang bilang sama suami kamu," ucap Dafa terus berusaha membujuk Jingga.


"Eh? Gak usah Daf, gak papa. Aku gak mau ngarepotin kamu lagi, lagian aku udah pesan taksi online," ucap Jingga sedikit kaget, bagaimana bisa Dafa berpikiran bahwa dia yang akan bicara dengan suaminya, bukankah itu sama saja membuat masalah? Tak tahu saja Dafa, bahwa suami Jingga itu sangatlah posesif, pada apa yang berhubungan dengan Jingga.


"Ya udah, aku gak mau maksa. Tapi besok kita pulang bersama, dalam artian kamu naik taksi online, nanti aku mengikuti kamu dari belakang. Oke, kali ini kamu gak boleh nolak!" tegas Dafa yang membuat Jingga melongo.


"Baiklah," ucap Jingga pada akhirnya, setidaknya usul itu tak akan membuat suaminya marah, lagian cuma diikuti dari belakang, bukan pulang bersama dalam satu mobil.


...*****...


"Assalamu'alaikum yah," ucap Jingga langsung masuk kedalam rumahnya.


"Wa'alaikumsalam, baru pulang sayang?" tanya Dimas saat putrinya itu duduk bergabung dengannya.


"Iya Yah, Jingga tadi sekalian jalan-jalan keliling kampung, soalnya kan Jingga udah lama gak tinggal disini, jadi kangen sama suasana disini," ucap Jingga lembut namun terselip kebohongan, karena dia tak mau membuat ayahnya khawatir.


"Oh gitu sayang, ya udah besok sebelum kamu pulang, gimana kalo kita jalan-jalan keluar, kita pergi bersama adik kamu juga," ucap Dimas semangat.


"Baiklah, aku mau. Hmm, dimana gadis kecil itu Yah?" tanya Jingga penasaran pada adik kecilnya, yang belum menampakan batang hidungnya setelah dia pulang.


"Adik kamu lagi tidur sayang," jawab Dimas lagi. Dia terus menatap wajah cantik putri kesayangannya. Ah! Rasanya belum rela jika harus berpisah lagi dengan putrinya itu, pikir Dimas dalam hati.


"Kenapa Yah, kok kaya melamun gitu?" tanya Jingga penasaran saat dia melihat ayahnya yang hanya menatapnya sendu.


"Eh? Ayah, gak melamun sayang. Ayah cuma sedikit sedih aja, karena besok kamu pulang. Ayah masih sangat rindu, masih ingin kamu tinggal bersama Ayah lebih lama lagi," ucap Dimas sambil mengelus pipi putrinya.


"Ayah, Jingga juga masih rindu sama Ayah. Tapi sekarang Jingga sudah mempunyai suami. Jingga janji akan sering-sering kesini, nengok Ayah juga Keyla. Ayah juga bisa sering nemuin aku ke Bandung kalo Ayah mau," balas Jingga lembut.

__ADS_1


"Baiklah sayang. Sekarang kamu istirahat, ini sudah malam," ucap Dimas lagi sambil mencium kening sang putri. Jingga mengangguk dan segera pergi kekamarnya.


...*****...


Dafa bersiap-siap untuk pulang ke Bandung. Dia juga bersemangat untuk pergi ke rumah Jingga.


"Padahal kamu tinggal saja disini, Nenek masih merindukanmu," ucap Lastri sedikit sendu.


Dafa menghentikan aktivitasnya, dia melangkah mendekati neneknya. Perlahan dia mengelus tangan keriput neneknya, dan menciumnya lembut.


"Dafa juga masih ingin tinggal bersama Nenek. Tapi Dafa harus menyelesaikan tugas kuliah Dafa di Bandung. Dafa janji kalo Dafa udah lulus, Dafa bakal tinggal bersama Nenek, nanti Dafa dan kak Ray bakal sering kesini. Percayalah Nek, Dafa dan kak Ray sangat menyayangi Nenek," ucap Dafa sambil memeluk erat neneknya.


"Baiklah. Nenek juga menyayangi kalian. Tapi kalian harus ingat ya, sering-sering datang ke rumah ini," ucap Lastri sambil menatap teduh wajah sang cucu. Matanya yang tajam namun cenderung lembut, mengingatkan dia pada anaknya, ayah dari Dafa dan Ray.


"Iya Nek, Dafa janji. Nenek jaga kesehatan ya, sekarang Dafa pamit dulu, assalamu'alaikum," ucap Dafa sambil mencium punggung tangan neneknya.


"Waalaikumsalam," jawab Lastri yang berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia terus menatap Dafa yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya.


...----------------...


"Assalamu'alaikum," ucap Dafa setelah sampai didepan rumah Jingga.


"Maaf Pak, Jingganya ada?" tanya Dafa setelah lelaki itu membuka daun pintunya lebih lebar.


"Jingga ada didalam, sebentar saya panggilkan dulu," ucapnya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Setelah beberapa detik Dafa menunggu akhirnya Jingga keluar.


"Oh, hai Dafa!" sapa Jingga yang masih sedikit terkejut dengan kedatangan Dafa. Kenapa Dafa tiba-tiba sudah ada didepan rumahnya saja?.


"Kamu udah siap?" tanya Dafa yang memang melihat Jingga sudah siap pulang.


"Iya aku baru selesai beresein barang-barang aku. Kenapa kamu kesini? Bukannya kamu bilang hanya mengikuti aku dari belakang," ucap Jingga setengah heran.


Dia sebelumnya sudah memberitahu Dafa kalo nanti mereka ketemu di jalan saja, tapi Jingga tak menyangka, Dafa langsung menemuinya ke rumah.


"Ya gak papa. Pengen langsung pulang bareng aja dari sini, hehe," balas Dafa sambil cengengesan.

__ADS_1


"Oh gitu. Ya udah tunggu sebentar, aku mau ambil barang-barang aku dulu!" ucap Jingga dan langsung masuk kedalam rumahnya.


"Sayang, kamu pulang sama teman kamu?" tanya Dimas kala mereka sudah berada didepan rumah.


"Iya, aku naik taksi, tapi Dafa bawa mobilnya sendiri, ngikutin aku dari belakang," balas Jingga sedikit melirik ke arah Dafa.


"Oh ya sudah. Tapi taksi kamu mana sayang?" tanya Dimas lagi. Dia kemudian melihat Dafa, sepertinya dia memang orang baik, pikirnya.


"Belum datang Yah, sebentar lagi mungkin," tebak Jingga.


Tiba-tiba Keyla melangkah mendekati Dafa, dan menarik ujung kemeja Dafa.


"Kak, nanti kalo Key udah besar, Kakak mau kan nikah cama aku," ucap Keyla dengan nada imut.


"Eh?" Dafa membeo.


Jingga melongo setelah mendengar ucapan adiknya, namun kemudian dia tertawa lepas.


"Hahaha!" Tawa Jingga pecah mendengar ucapan konyol sang adik.


Bahkan Dimas juga terkekeh melihat tingkah putri kecilnya. Hanya Syeli saja yang masih syok dengan ucapan putrinya, bagaimana anak sekecil itu bisa berpikiran tentang menikah? Pikir Syeli tak habis pikir.


Dafa perlahan menurunkan tubuhnya, menekukan sebelah kakinya, agar bisa mensejajarkan tubuhnya dengan gadis mungil yang terus menatap nya dengan pandangan imut.


"Kenapa kamu meminta Kakak supaya nikah sama kamu cantik?" tanya Dafa lembut sambil mengusap pipi tembem Keyla.


"Karena aku, pengen punya cuami yang ganteng seperti Kak Jingga," jawab Keyla dengan nada yang begitu imut, membuat Dafa gemas ingin mencubit pipinya.


Tunggu! Suami ganteng? Hahahaha! Bagaimana mungkin pemikiran Keyla bisa sampai sejauh itu? Pikir Jingga sambil terkekeh.


Dafa hanya tersenyum mendengar ucapan adiknya Jingga.


"Iya, tapi nanti kalo kamu sudah besar ya," ucap Dafa mencium pipi Keyla sehingga dia terlompat-lompat kegirangan.


"Key, sini! Kakak Jingga udah mau pulang. Sayang itu taksi kamu sudah datang," ucap Dimas pada Jingga lalu segera menggendong Keyla yang berlari kearahnya.


"Oh iya udah datang taksinya. Ayah, Jingga pamit dulu, Ayah jaga kesehatan ya, Jingga sangat menyayangi Ayah," ucap Jingga sambil memeluk ayahnya.

__ADS_1


"Baiklah. Hati-hati ya! Kalo udah nyampe di rumah, kabarin Ayah ya sayang," ucap Dimas lagi.


Setelah itu Jingga dan Dafa berpamitan pulang, karena memang hari sudah siang, takutnya mereka kesorean diperjalanan.


__ADS_2