CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
88


__ADS_3

Sejak kejadian Nayla mengetahui ayah kandungnya, kini Ken sering mengunjungi Nayla kerumahnya, dan mengajaknya pergi menghabiskan waktu bersama. Walaupun Jingga hanya memberi Ken waktu beberapa jam saja untuk bersama anaknya, Ken merasa bersyukur karena setidaknya dia masih bisa menemui anaknya. Bahkan rencana Ken untuk pulang ke Bandung selalu dia urungkan mengingat Nayla masih butuh perhatian dan kasih sayangnya.


Kini Jingga senang karena selalu melihat wajah anaknya yang bahagia. Mungkin karena dia mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya. Tetapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Jingga saat ini. Dilihat-lihat ada perubahan pada suaminya. Jika biasanya Ray selalu ceria, kini dia lebih banyak diamnya, dan Jingga tak mengetahui penyebabnya. Seperti saat ini, Jingga mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya. Saat Ray terlihat menikmati cahaya remang dari rembulan, yang sangat indah yang terlihat dari pekarangan rumahnya.


"Mas," ucap Jingga sambil melirik suaminya yang hanya terdiam melihat langit di malam hari.


"Hm," Hanya deheman yang Ray keluarkan.


"Apa telah terjadi sesuatu sama kamu Mas?" tanya Jingga.


"Maksud kamu apa sayang?" tanya Ray sambil melihat wajah cantik istrinya.


"Ya belakangan ini kamu terlihat berbeda. Kamu lebih banyak diam, tak seperti biasanya," ucap Jingga.


"Aku gak papa, mungkin itu hanya perasaan kamu aja," ucap Ray kembali melihat ke arah langit.


"Mas, aku ini istri kamu, apapun yang terjadi sama kamu, itu sudah menjadi bagian aku juga," ucap Jingga semakin mengkhawatirkan suaminya.


"Tidak ada yang terjadi sama aku sayang, jadi kamu jangan khawatir," ucap Ray lagi.


Jingga yang mendengar itu semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya, terlebih jika ada sesuatu yang suaminya sembunyikan. Jingga segera bergeser ke dekat suaminya, dan perlahan langsung memeluk suaminya dari belakang. Hanya ingin membuat suaminya tenang, dan berbagi keluh kesahnya.


Ray yang tengah menikmati angin malam dan suasana yang sangat damai di desa istrinya langsung kaget saat istrinya memeluk dia dari belakang. Jarang sekali Jingga yang lebih dulu bersikap romantis seperti itu, pikirnya. Namun karena hal itu, Ray langsung menaikan sudut bibirnya. Kehangatan yang Jingga berikan semakin membuat hatinya menjadi bahagia. Dia segera mengelus lembut tangan istrinya yang ada melingkar di perutnya.


"Kamu mau menggoda aku ya sayang?" tanya Ray sambil membalikan tubuhnya, untuk melihat keseluruhan wajah cantik istrinya.


"Aku gak berniat seperti itu kok. Tapi jika kamu merasa di goda ya udah, gak papa," jawab Jingga tersenyum manis, membuat Ray merasa jika istrinya ini terlalu menggoda hanya untuk dipandangi.


Ray segera memegang kedua sisi kepala istrinya, dan perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya. Namun tinggal beberapa jarak lagi bibirnya menyentuh bibir istrinya, tiba-tiba Dafa berteriak keras, membuat Ray maupun Jingga terkejut karenanya.

__ADS_1


"A!!! Aduh mataku jadi ternodai gara-gara kalian!" teriak Dafa sambil menutup matanya, dia baru saja datang, tetapi malah disambut oleh pemandangan yang menyakitkan matanya.


Sontak Ray langsung melepaskan tangannya dari wajah istrinya. Begitu pun dengan Jingga, dia juga langsung membenahi kerudungnya untuk menghilangkan rasa malunya.


"Kenapa berteriak seperti itu?" tanya Ray kesal, karena acaranya jadi tertunda gara-gara kedatangan adiknya yang tiba-tiba.


"Ya Kakak, kenapa mesum di depan rumah. Bisa kan, acara romantis-romantisanya dilakukan di dalam kamar," ucap Dafa yang sudah membuka matanya, dan melihat ke arah pasangan yang baru menikah itu.


"Kamu aja yang ganggu Kakak, lagi pula kami ini sudah menikah, jadi tidak salah bukan," ucap Ray lagi, sedangkan Jingga terlihat menahan malu.


"Tapi bisa kan, melakukannya tidak di tempat terbuka seperti ini," kesal Dafa.


"Hei, kenapa kamu yang kesal? Harusnya Kakak yang kesal karena kamu sudah mengganggu. Makanya cari istri sana, biar gak gangguin orang yang sudah menikah," ucap Ray.


Dafa hanya memasang wajah masamnya. Tak berminat sama sekali membalas ucapan kakaknya, dia terus melirik kesal ke arah kakak dan kakak iparnya.


Dafa semakin kesal saja, tidak kakaknya, tidak juga kakak iparnya, keduanya sama-sama membuatnya kesal, padahal dia datang ingin bertemu kedua keponakannya. Tanpa mengucapkan kata lagi, Dafa langsung melangkahkan kakinya ke dalam rumah, meninggalkan sepasang pengantin yang baru menikah itu.


Jingga yang melihat itu mengerutkan keningnya, namun beda lagi dengan Ray, dia terlihat senang karena istrinya berhasil membuat adiknya semakin kesal.


"Kenapa kamu tersenyum Mas?" tanya Jingga penasaran.


"Haha, aku gak nyangka kamu bisa buat Dafa kesal," jawab Ray yang masih mempertahankan senyumannya.


"Maksudnya?"


"Sayang, ucapan kamu tadi itu membuat Dafa kesal, saat kamu bilang dia datang untuk menemui Citra,"


"Ya memang benar kan Mas, Dafa ke sini pasti ingin menemui Citra?"

__ADS_1


"Mungkin, tapi lupakan tentang Dafa, karena kamu punya hutang sama aku," ucap Ray tersenyum jahil, membuat Jingga merasa awas.


"Maksud kamu apa Mas?"


"Kamu masih punya hutang, karena sudah menggoda aku,"


"Tapi Mas,"


Belum sempat mulut Jingga mengeluarkan bantahannya, dia langsung terkejut saat Ray langsung menciumnya tiba-tiba. Kali ini sedikit lebih ganas membuat Jingga sedikit kewalahan, namun dia juga tak dapat memungkiri bahwa dia begitu bahagia saat mendapat perlakuan manis dari suaminya.


Setelah keduanya cukup kehabisan nafas, Ray segera menghentikan kegiatannya. Ray langsung menjauhkan wajahnya dari wajah istrinya, dan dia langsung tersenyum saat melihat wajah istrinya yang memerah, bahkan saat ini mata istrinya masih tertutup.


"Mas... " rengek Jingga setelah dia membuka matanya, namun yang dia lihat wajah suaminya yang sedang tersenyum lebar.


"Apa sayang? Apakah masih kurang?" tanya Ray dengan wajah so polosnya.


"Ish, malu Mas, nanti kalo dilihat Dafa gimana? Tambah malu tau," ucap Jingga.


"Haha, aku cuma bercanda ko sayang, lagi pula ini bukan waktu yang tepat untuk memakan kamu," ucap Ray lagi terus menggoda istrinya.


"Sudah Mas, jangan mulai lagi. Kamu masih belum mengatakan apa yang membuat kamu sering melamun. Bahkan Nayla juga sering nanya sama aku, katanya kenapa ayah diam aja ya bunda," ucap Jingga membuat Ray sedikit kaget.


"Aku gak papa, cuma khawatir kalau Nayla akan melupakan aku, karena dia sudah bertemu dengan ayah kandungnya," ucap Ray dengan senyuman tipis.


Sekarang Jingga tahu apa yang membuat suaminya sedikit berbeda, ternyata Ray punya kekhawatiran sendiri soal Nayla. Mendengar hal itu, Jingga mengembangkan senyuman manisnya. Tangannya menyusup ke tangan suaminya yang berada di dalam saku jaketnya.


"Kamu tau Mas, kalo Nayla sangat menyayangi kamu bahkan sebelum dia tahu siapa ayah kandungnya. Jadi jangan pernah berpikir bahwa Nayla akan melupakan kamu, justru dia sangat khawatir karena kamu tak seperti biasanya, dia takut terjadi sesuatu yang mengganggu pikiran kamu," ucap Jingga sambil menyenderkan kepalanya ke lengan sang suami.


Ray tersenyum manis mendengar ucapan istrinya, sekarang tak ada yang membuatnya khawatir lagi, dan saat ini kebahagiaannya sempurna. Ray segera membawa tangan Jingga ke pipinya, dan mengecupnya dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2