CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
31


__ADS_3

Ken terus saja uring-uringan seperti anak yang kehilangan induknya. Tetapi memang benar karena dia sedang merindukan sosok istri tercintanya. Walaupun dua hari ditinggalkan Jingga, namun rasanya seperti sudah puluhan tahun. Ck! Anggap saja dia sudah menjadi budaknya cinta.


Itulah kenapa Ken disebut Jingga sebagai suami posesif. Tapi entahlah, walau begitu Jingga sangat mencintai suaminya itu. Suami yang sudah mengambil semua hatinya.


"Mas, kenapa kamu terus mondar-mandir, kaya setrikaan aja," ucap Resti sedikit sinis. Dia tahu kalau suaminya itu sedang menunggu kepulangan Jingga.


"Ck! Kamu gak usah nanya, karena kamu pasti tahu kenapa saya seperti ini," balas Ken tak suka. Jelas-jelas Resti tahu kalo dia sedang menunggu Jingga.


"Ya masa, nanya sama suami sendiri aja gak boleh," ucap Resti kesal.


Seketika hening karena Resti tak mau berdebat terus dengan suaminya. Namun tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk dari ponsel Ken, yang membuyarkan keheningan mereka.


Ken langsung mengarahkan pandangannya pada ponsel yang ada digenggaman tangannya. Namun sesaat setelah Ken membukanya, dia hanya berkerut kening, kemudian matanya membesar melihat foto yang dikirimkan dari no yang tidak dikenalnya.


Sontak saja matanya menajam, rahangnya mengeras, bahkan dia mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya terlihat. Ken tidak bisa menahan emosinya jika seseorang mencoba mempermainkan perasaannya. Gejolak rindu yang menyesakan dadanya seolah membutakan pikiran jernihnya.


Bunyi klakson didepan rumahnya seketika mengagetkan Ken yang kini diselimuti emosi. Langsung saja dia keluar untuk menemui wanita yang ditunggu-tunggunya.


"Assalamu'alaikum Mas," ucap Jingga yang baru turun dari mobil taksinya. Kemudian dia melangkah mendekati suaminya yang tengah berdiri diambang pintu.


"Wa'alaikumsalam," balasnya datar.


Jingga yang baru mencium punggung tangan suaminya pun, merasa ada aura yang tak biasa dari suaminya itu.


Jika biasanya Jingga akan melihat tatapan lembut dan hangat dari suaminya, kini yang dia lihat adalah tatapan tajam suaminya, matanya memerah seperti orang yang sedang menahan amarah.

__ADS_1


"Mas, kamu gak papa kan?" tanya Jingga sedikit khawatir. Bisa saja suaminya itu sedang sakit, saat dia pergi ke Malang.


"Masuk!" perintah Ken dengan nada dingin.


Entahlah, Jingga pun tak tahu apa yang membuat suaminya menjadi seperti itu, tapi dia mengikuti saja ucapan suaminya, tak mau membuat tatapan Ken menjadi lebih tajam lagi.


Resti hanya melihat Ken dengan pandangan aneh, seharusnya raut wajahnya itu bahagia bukan? Karena sudah berjumpa lagi dengan istri yang dibanggakan itu, lantas kenapa sekarang wajahnya ketat sekali, pikir Resti sedikit heran.


"Hai Res, bagaimana keadaanmu dan juga kandunganmu?" tanya Jingga pada Resti yang sedang duduk santai sambil selonjoran itu.


"Sangat baik Kak," jawab Resti dengan senyuman penuh maknanya. Jelas saja dia sangat baik, bahkan dia terlihat bahagia. Memang kepergian Jingga adalah momen yang dinantikannya, karena dengan itu, dia bisa bermanja-manja dengan suaminya, walaupun Ken terkesan dingin menanggapinya.


"Syukurlah. Kalo begitu aku masuk ke kamar dulu," ucap Jingga lagi, dan Resti hanya mengangguk.


Perlahan Jingga melangkah, duduk disamping Ken yang hanya menatapnya tajam. Sampai akhirnya dia mengelus lembut tangan suaminya dan dia beranikan untuk bertanya lagi.


"Mas, sebenarnya ada apa dengan kamu? Tak seperti biasanya aku melihat tatapanmu itu," ucap Jingga lembut.


"Itukah sebabnya kamu ingin pergi sendiri, dengan alasan aku harus menjaga Resti!" ucap Ken dengan suara meninggi dan langsung membuat Jingga terlonjak kaget.


"Maksud kamu apa? Aku gak ngerti sama sekali dengan ucapan kamu itu," ucap Jingga tak mengerti. Baru saja dia pulang, dan sekarang malah diberi pernyataan yang sama sekali tak dimengertinya.


"Kamu menolak pergi bersama aku, supaya kamu bisa berduaan dengan Dafa, lelaki brengsek itu kan!" teriak Ken uang sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.


"Maksud kamu apasih Mas? Ak---" ucapan Jingga terpotong.

__ADS_1


"Ini! Lihat ini! Bukankah foto ini sudah bisa menjelaskan semuanya?" tanya Ken dengan suara besarnya. Dia langsung memperlihatkan foto yang ada diponselnya, foto dimana Dafa memeluk Jingga.


Mungkin lebih tepatnya bukan memeluk, karena pada saat itu Dafa hanya membantu menutupi tubuh Jingga dengan jaketnya, hanya saja Ken tak mengetahui kejadian sebenarnya, dan langsung gelap mata setelah mendapat kiriman foto dari pengirim yang tidak dikenalnya.


Bahkan Ken langsung mengambil kesimpulan sebelum dia benar-benar mencari tahu lebih jeli lagi.


Jingga membesarkan matanya, melihat foto dirinya dan Dafa ada diponsel sang suami. Dia tak mengerti kenapa suaminya itu langsung menyimpulkan bahwa dia selingkuh dengan Dafa, tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Mas, itu tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Jingga lagi berusaha menjelaskan.


"Apa? Memangnya apa lagi yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah, kalau bukan selingkuh namanya huh!" teriak Ken yang benar-benar dikuasai oleh emosinya.


Bahkan dari tadi dia tak menyadari, bahwa semua ucapan dan tuduhannya itu langsung menancap pada hati Jingga.


Jingga yang terus mendengar teriakan suaminya itu hanya bisa diam. Dia begitu kaget, dan dia tak menyangka bahwa suaminya bisa melakukan itu. Ini pertama kalinya Ken terus membentak dan berteriak pada Jingga, karena selama Jingga mengenal Ken, dari awal pertemuan, awal berhubungan sampai mereka menikah pun, Ken tak pernah membentak apalagi berbicara dengan nada tinggi seperti itu. Dan ini kali pertama Ken membentak dan memarahi Jingga dengan nada tinggi.


Tak terasa bulir-bulir bening jatuh membasahi pipi putihnya Jingga. Dia tak menyangka, untuk pertama kalinya Ken tak percaya padanya, bahkan lebih percaya pada orang lain, padahal Ken sendiri tidak tahu siapa yang mengirim foto itu, dan apa tujuannya melakukan itu, tapi dia langsung mengambil kesimpulan dari sudut pandangnya saja tanpa mau mendengar kebenaran dari mulut Jingga sendiri.


Walau Ken melihat Jingga yang sudah berderai air mata itu, dia seolah tetap tak peduli. Bahkan mendengar isak tangis Jingga pun, dia seolah tak mendengarnya. Semua amarah Ken berhasil menghilangkan pikiran jernihnya dan membutakan matanya, bahwa dia telah melukai istri tercintanya.


Ken langsung pergi keluar, meninggalkan Jingga yang masih terisak. Untuk pertama kalinya, dia meninggalkan Jingga dengan seribu pisau yang dia tancapkan pada hati Jingga.


"Ada apa ini? Kenapa semuanya bisa jadi begini?" monolog Jingga dalam isak tangisnya. Dia benar-benar tak menyangka bahwa kejadian kemarin yang masih meninggalkan trauma, kini menjadi masalah dengan suaminya.


Bahkan Jingga belum sempat menjelaskan satu katapun, suaminya itu seolah menutup telinganya rapat-rapat, tak mau mendengar apapun yang keluar dari mulut Jingga.

__ADS_1


__ADS_2