
Malam hari di rumah Jingga, terdengar suara gaduh dari anak-anaknya, siapa lagi kalau bukan Nayla dan juga Keyla. Mereka terlihat sangat lucu dengan wajah imutnya, tapi siapa sangka jika mereka bersama, maka keributan akan menjadi pelengkap kebersamaan mereka.
Seperti saat ini, Nayla terus membicarakan perihal Ray yang akan menjadi ayahnya. Sedangkan Keyla merasa gendang telinganya akan pecah, lantaran dari sore hari saat Nayla pulang, dia tak henti-hentinya membicarakan Ray padanya.
"Kakak tahu, aku sangat senang karena cebentar lagi, aku akan mempunyai ayah," ucap Nayla menggebu-gebu, membuat Keyla yang mendengarnya hanya memasang wajah malas.
"Iya Nay, Kakak tahu. Kamu itu udah bilang berkali-kali," ucap Keyla sambil menatap wajah adiknya yang terlihat sumringah itu.
"Tapi aku seneng Kak," ucapnya lagi, membuat Keyla tersenyum masam. Kapan adiknya ini akan berhenti membicarakan Ray, pikirnya.
"Sayang, kayanya kamu seneng banget yah?" tanya Citra tiba-tiba menghampiri mereka.
"Iya Tante,"
"Tadi kamu ngapain aja sama om Ray?"
"Aku diajak makan, terus jalan-jalan ke Mall. Aku sangat seneng Tan,"
"Wah, kamu gak ajak-ajak Tante. Tadi om Ray sama bunda ngapain aja?" tanya Citra penasaran.
"Mm, tadi om Ray itu cempet berlutut, sambil ngasih cincin ke bunda," jawabnya.
"Wah, benarkah sayang?" tanya Citra sedikit kaget, karena Jingga tak menceritakan apapun padanya.
"Iya Tante. Om Ray juga mau meluk bunda, tapi bunda menolak," jawabnya dengan wajah polos.
Memang anak kecil dasarnya akan berbicara sesuai dengan apa yang dia lihat. Karena hal itu pula Citra tak bisa menahan tawanya. Membayangkan saat Ray melamar Jingga saja, membuat dia tak henti-hentinya terkekeh. Citra penasaran bagaimana ekspresi Ray dan Jingga saat itu.
"Kenapa kalian terlihat begitu senang?" tanya Jingga yang tiba-tiba saja bergabung dengan mereka. Dia duduk disamping Keyla, sambil menatap Citra dan Nayla secara bergantian.
"Oh, enggak, kita cuma lagi cerita tentang si Kancil," jawab Citra.
"Bohong Bun, aku lagi nyeritain om Ray sama Tante Citra," ucap Nayla ikut menimpali.
Sedangkan Keyla terkekeh pelan melihat wajah kaget Citra, yang seolah mengatakan bahwa kenapa Nayla bicara yang sebenarnya.
"Cerita gimana sayang?" tanya Jingga lagi.
"Itu loh Bun, saat om Ray ngasih cincin ke Bunda, cama om Ray yang mau peluk Bunda, tapi enggak jadi," jawab Nayla semangat.
Citra yang mendengar itu hanya terkekeh dibuat-buat. Dia merasa sedikit malu karena dia begitu penasaran bagaimana saat Ray melamar Jingga, sampai dia bertanya pada anak kecil seusia Nayla.
"Habisnya kamu gak cerita sama aku sih Ga, jadi aku tanya sama Nayla aja. Aku kan juga penasaran saat kak Ray ngelamar kamu. Gimana, kak Ray romantis enggak?" tanya Citra.
__ADS_1
"Hm, gimana ya, pokoknya gitu lah Cit. Kalau kamu penasaran gimana rasanya saat dilamar, mending kamu nyuruh Dafa buat ngelamar kamu," ucap Jingga sambil terkekeh, membuat Citra mendengus kesal. Sedangkan anak-anak Jingga hanya menjadi pendengar saja, tak ikut menimpali obrolan orang dewasa.
"Ga, kapan kamu dan kak Ray akan melangsungkan pernikahan?" tanya Citra.
"Katanya bulan depan Cit, dan besok neneknya dia akan ke sini," jawab Jingga.
"Woah, selamat ya sahabatku, sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Ray," ucap Citra senang.
"Ish gak usah lebay, pake nyonya-nyonya segala," ucap Jingga.
"Hahaha, abisnya aku seneng. Dan kamu bakal jadi kakak iparnya Dafa,"
"Sebentar lagi kamu juga akan menjadi adik ipar aku,"
"Ish, kamu nyebelin Ga,"
"Sayang, kamu mau menerima kak Ray sebagai ayah kamu kan?" tanya Jingga yang mengabaikan ucapan Citra, dia hanya bertanya serius pada anak sulungnya.
"Iya Bun, aku seneng kalo kak Ray jadi ayah aku," jawab Keyla tersenyum membuat Jingga juga tersenyum.
"Terima kasih sayang. Sekarang kita semua bobo yuk, udah malam," ucap Jingga melihat bergantian ke arah Keyla dan Nayla.
"Ayo Bun, aku juga udah ngantuk," ucap Keyla.
"Bunda... Aku mau tidur sama Tante Citra ya?" tanya Nayla tiba-tiba.
"Oke Bun!"
Citra segera menggendong Nayla, sedangkan Jingga menuntun Keyla untuk masuk ke dalam kamarnya. Dan mereka pun mengistirahatkan tubuh merek yang lelah, untuk menyambut hari indah di pagi hari.
*****
Keesokan harinya, Jingga segera mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Ray dan juga neneknya. Di bantu oleh Citra yang menyiapkan makanan untuk mereka nantinya. Tentu dengan tangan lincah Jingga yang memasaknya.
Dua wajah cantik dan imut Keyla dan juga Nayla, rupanya tak ketinggalan untuk menyambut kedatangan tamu bundanya. Mereka sudah siap, bahkan terlihat sangat cantik, dengan balutan pakaian yang sama persis, membuat mereka terlihat sangat lucu.
"Assalamualaikum!" ucap seseorang dari luar rumah.
Sontak orang-orang yang ada di dalam rumah langsung bersiap-siap untuk menyambut mereka. Beruntung Citra sudah selesai menata makanannya. Jadi dia juga langsung menyusul Jingga yang sudah berjalan lebih dulu ke pintu depan.
"Waalaikumsalam," jawab Jingga setelah membuka lebar daun pintu rumahnya.
Seorang wanita paruh baya tersenyum manis, melihat wajah cantik Jingga yang juga tersenyum menyambut kedatangannya. Matanya seolah menelisik ke seluruhan wajah Jingga. Ada rasa familiar saat Lastri menatapnya, seolah itu bukanlah pertemuan pertama mereka. Namun dia sedikit kaget saat Jingga langsung ingin mencium punggung tangannya.
__ADS_1
"Nek, perkenalkan ini Jingga, calon istri Ray," ucap Ray memperkenalkan Jingga pada neneknya.
"Iya Ray, calon istri kamu sangat cantik," balas Lastri.
Jingga tersipu mendengar ucapan neneknya Ray. Jingga hanya memberikan senyuman manisnya.
"Lebih baik kita bicara di dalam Ray. Ayo masuk Nek!" ucap Jingga pada Ray, kemudian dia segera memepersilahkan calon neneknya masuk ke dalam. Ray dan Dafa mengikuti langkah mereka dibelakangnya.
Tidak ada yang bisa menggambarkan suasana saat 7 orang yang duduk saling berhadapan itu, selain kata canggung yang mereka rasakan. Terutama pada Jingga, perasaannya sedikit ragu jika neneknya Ray akan merestui dia sebagai cucu menantunya.
"Bolehkah Nenek bertanya sesuatu, sebelum kita memulai pembicaraan tentang pernikahan cucu Nenek dengan kamu," ucap Lastri pada Jingga, sekaligus memulai percakapan diantara mereka.
"Boleh Nek, silahkan!" jawab Jingga sedikit gugup, harap cemas dengan apa yang akan ditanyakan oleh neneknya Ray nanti.
"Setelah melihat wajah kamu, Nenek jadi teringat dengan gadis remaja, yang berada di rumah sakit sekitar 8 tahun yang lalu. Waktu itu dia sedang menangis karena ibunya meninggal, dan dia sangat mirip dengan kamu. Apakah gadis itu kamu atau bukan?" tanya Lastri langsung.
Wajah kaget Jingga tak bisa disembunyikannya, membuat Lastri tanggap saat melihat perubahan raut wajah Jingga. Jika Jingga merasa kaget, besar kemungkinan bahwa gadis yang pernah ditemuinya di rumah sakit adalah dia.
"Berarti Nenek adalah orang yang waktu itu ada, saat aku kehilangan Bunda. Benar Nek?" tanya Jingga dengan wajah tak percayanya.
"Benar sayang, dan Nenek tak sangka, kamu akan menjadi cucu Nenek," jawab Lastri tersenyum.
"Jadi Nenek sudah bertemu dengan Jingga sebelumnya?" tanya Dafa kini ikut dalam pembicaraan.
"Iya, dan Nenek sangat senang akhirnya Ray menemukan calon pendamping hidup yang tepat," ucap Lastri.
"Apakah Nenek merestui kami?" tanya Ray langsung.
"Tentu, tentu Nenek sangat merestui kalian," ucap Lastri lagi.
"Terima kasih Nek. Kami akan menikah bulan depan," ucap Ray.
"Bagaimana jika kalian menikah minggu depan saja, bukankah lebih cepat lebih baik," ucap Lastri yang sontak membuat Jingga kaget.
"Tapi kami belum mempersiapkan semuanya Nek," ucap Jingga.
"Bukankah semuanya sudah siap, tinggal menunggu calon pengantinnya saja. Dafa dan Nak Citra sudah mempersiapkan pernikahan kalian jauh-jauh hari. Bahkan mereka menginap disini juga tinggal menunggu kesiapan dari kalian," ucap Lastri menjelaskan, dia langsung membuka kartu yang dirahasiakan oleh cucu-cucunya.
Sontak mata Jingga membesar. Sudah sejauh inikah mereka melakukannya, tanpa ada yang memberi tahu dia sama sekali. Jingga langsung menoleh ke arah Dafa dan Citra yang langsung memasang wajah tak bersalahnya.
"Bagaimana Ray, apakah kamu siap menikah minggu depan?" tanya Lastri pada cucunya.
"Ray siap Nek. Hanya saja aku belum tahu, apakah Jingga juga siap atau... " ucap Ray menjelaskan.
__ADS_1
"Aku siap," ucap Jingga langsung memotong ucapan Ray.
Sontak semua orang tertawa mendengarnya. Bahkan Lastri juga tertawa, tak menyangka calon cucu menantunya sudah tidak sabar untuk menikah.