CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
07


__ADS_3

Citra begitu penasaran pada Jingga yang rona wajah nya begitu bahagia akhir-akhir ini, namun dia belum tahu apa yang membuat Jingga begitu bahagia.


"Jingga aku liat akhir-akhir ini kamu begitu bahagia, kenapa?" tanya Citra.


"Hm apa ya. Aku cuma bahagia karena bulan depan mau nikah," ucap Jingga tersenyum jahil.


"Apa!" teriak Citra kaget.


"Ih jangan teriak! Aku bilang bulan depan aku mau nikah," ucap Jingga sambil menutup telinganya karena teriakan Citra.


"Iya aku denger. Tadi itu aku cuma kaget. Kenapa tiba-tiba kamu mau nikah bulan depan? Terus kenapa kamu baru ngasih tau aku? Wah kamu jahat yah sama aku, masa berita sebesar ini kamu gak ngasih tau aku," ucap Citra kesal.


"Citra sayang dengerin aku ya!" ucap Jingga sambil merangkul sahabatnya itu.


"Justru kamu orang pertama yang tahu berita ini. Seminggu yang lalu Ken ngajak aku ketemu orang tuanya, terus mereka merestui kami dan bulan depan kami akan menikah.


Aku juga kaget karena setahu aku Ken mau ngelamar aku dulu, tapi gak tahu nya langsung ngajak nikah bulan depan," tutur Jingga.


"Oh gitu. Tapi kamu serius mau nikah bulan depan? Apa itu gak terlalu cepat?" tanya Citra lagi.


"Ya Alhamdulillah aku udah yakin sama keputusanku ini. Kamu do'ain aku ya agar semuanya berjalan dengan lancar," jawab Jingga.


"Itu pasti Ga. Aku berharap kamu bahagia sama Ken," ucap Citra tulus sambil memeluk sahabatnya yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu.


Mereka pun pulang setelah menyelesaikan pekerjaan mereka.


Namun ada satu hal yang tak mereka sadari saat mereka membicarakan pernikahan Jingga. Mereka tak sadar bahwa diam-diam Resti menguping pembicaraan mereka.


"Berarti aku harus menjalankan rencanaku selanjutnya. Tak akan ku biarkan Jingga bahagia menikah dengan Ken," ucap Resti tersenyum sinis.


...----------------...


"Hai Daf. Tumben kamu ngajak ketemu, ada apa?" tanya Citra penasaran. Sebenarnya dia heran kenapa Dafa meminta untuk bertemu.


"Gini Cit, sebenarnya kemarin memang benar kak Ray itu mau nanyain seseorang sama kamu tapi dia gengsi. Kamu tahu sendiri kan gimana sifat kakak ku itu," jawab Dafa.


"Iya aku tahu. Terus siapa orang itu?" tanya Citra lagi.


"Namanya Jingga. Kata kak Ray sih dia bekerja direstoran tempat kamu kerja," jawab Dafa. Dan jawaban Dafa iti sukses membuat Citra terkejut. Dari mana kak Ray tahu tentang Jingga pikir Citra penasaran.


"Cit kamu kenal dia?" tanya Dafa.


"Ah iya. Jingga itu sahabat aku, baru 2 tahun dia disini. Tapi dari mana kak Ray tahu sama Jingga?" tanya balik Citra.


"Aku juga gak tahu. Tapi kamu bisa gak bantuin aku buat deketin kak Ray sama sahabat kamu itu?"

__ADS_1


"Hm kayanya gak bisa Daf."


"Kenapa?" tanya Dafa penasaran.


"Jadi gini Daf, Jingga itu kekasihnya pak Ken, manager restoran tempat kerja kami. Terus bulan depan mereka akan melangsungkan pernikahan," jawab Citra yang sukses membuat Dafa kaget.


"Baru aja kak Ray mau deketin cewek. Tapi sekarang gebetannya itu malah udah mau nikah. Aku jadi gak tega ngasih tahunya," ucap Dafa frustrasi.


"Kamu kenalin aja kak Ray sama temen-temen cewek kamu!" ucap Citra.


"Hm gak tahu lah, gimana nanti aja. Tapi makasih ya atas infonya. Terus maaf juga ganggu waktu kamu yang harusnya istirahat," ucap Dafa.


"Iyah sama-sama. Gak papa Daf, lagian besok kan aku libur jadi waktu istirahat aku banyak. Ya udah aku pamit pulang ya," ucap Citra yang beranjak pergi. Namun cekalan dipergelangan tangannya membuat Citra menghentikan langkahnya.


"Aku anterin yah, ini kan udah malam. Gak baik cewek pulang sendiri ditengah malam," ucap Dafa.


Citra hanya mengangguk dan membiarkan Dafa mengantarkannya pulang.


...----------------...


Hari ini Jingga sedang berada disebuah supermarket untuk membeli kebutuhannya yang sudah habis. Dia pergi sendiri tanpa ditemani Ken karena Ken tengah sibuk.


Jingga kesusahan mengambil bumbu yang letaknya dirak paling atas. Saat dia sedang kebingungan tiba-tiba ada tangan yang mengambil bumbu itu.


Jingga melihat kearahnya dan ternyata seorang laki-laki yang sangat tampan dengan balutan kasualnya. Laki-laki itu menyodorkan bumbunya dan segera Jingga terima.


"Sama-sama," balas laki-laki itu sambil tersenyum manis.


"Bukankah anda yang minggu kemarin direstoran?" tanya Jingga memastikan.


"Hmm iya betul," ucap Ray sedikit gugup. Dia tak menyangka akan bertemu wanita pujaan hatinya disini.


"Perkenalkan nama saya Ray," ucap Ray sambil mengulurkan tangannya dan Jingga pun menerimanya.


"Oh iya saya Jingga. Tuan saya permisi dulu dan sekali lagi terima kasih atas bantuannya," ucap Jingga yang hendak pergi namun tertahan kala Ray memanggilnya lagi.


"Tunggu! Jangan panggil saya Tuan, panggil saja Ray!" ucap Ray.


Jingga hanya berkerut kening tapi kemudian dia sedikit tersenyum canggung.


"Ah iya. Tapi saya harus pergi," ucap Jingga lagi karena memang dia telah selesai belanja kebutuhannya.


"Biar saya bantu. Sepertinya belanjaan kamu berat," ucap Ray yang melihat Jingga membawa banyak barang belanjaannya.


"Gak papa saya bisa sendiri," tolak Jingga sambil tersenyum.

__ADS_1


"Gak papa saya bantu. Anggap saja saya teman yang membantu temannya. Bolehkan?" tanya Ray berharap.


Jingga sedikit memperhatikan raut wajah Ray, dan memang dia lihat bahwa Ray tulus ingin membantu. Kemudian dia melihat kearah barang belanjaannya yang banyak.


"Ya sudah boleh. Tapi Tu---eh kamu gak belanja?" tanya Jingga yang sedikit bingung menyebut laki-laki didepannya ini dengan sebutan apa.


"Barang yang mau dibelinya gak ada. Nanti beli diminimarket depan aja," jawab Ray senang.


Jingga bingung dengan orang ini. Masa barang yang mau dibelinya tidak ada tapi ekspresinya sangat bahagia, aneh pikir Jingga.


Jingga hanya tak tahu apa yang membuat laki-laki yang baru dikenalnya ini bahagia, dia bahagia bisa bertemu dengannya, gadis halte pujaan Ray.


Setelah melakukan pembayaran dikasir keduanya sama-sama keluar dengan Ray yang masih membawa barang belanjaan Jingga.


"Hm Ray makasih bantuannya. Saya pulang dulu," ucap Jingga.


"Saya anterin aja ya, sekalian jalan," ucap Ray berharap masih ada kesempatan untuk dekat dengan Jingga.


"Gak usah Ray gak papa. Itu didepan udah ada angkot yang nunggu," ucap Jingga.


"Oh ya sudah saya gak bisa maksa. Semoga kita bertemu lagi dilain waktu," ucap Ray tersenyum manis hingga membuat Jingga terpana melihat senyumannya.


"Ah iya, sekali lagi terima kasih Ray," ucap Jingga sambil membalas senyuman Ray.


Kemudian dia berjalan kearah angkot dan segera menaikinya.


Ray masih terpaku ditempatnya dengan terus memandangi Jingga yang perlahan pergi dari supermarket itu.


"Ah senangnya," ucap Ray setelah berada didalam mobil. Senyuman Ray terus mengembang sepanjang perjalanan pulangnya. Bahkan saat Ray sudah berada dirumahnya pun dia tetap tersenyum bahagia hingga membuat adiknya keheranan.


"Kakak kenapa, kayanya seneng banget?" tanya Dafa penasaran.


"Habis bertemu seseorang," ucap Ray cepat.


"Siapa Kak? Apa jangan-jangan gadis yang Kakak suka itu?" tanya Dafa menerka-nerka.


"Iya. Tadi Kakak ketemu dia disupermarket," ucap Ray senang.


Dafa kaget juga bingung bersamaan. Bagaimana cara ngasih tau kakaknya perihal gadis yang kakaknya sukai itu akan menikah bulan depan.


"Kak dia itu temannya Citra. Tapi Citra bilang dia akan menikah bulan depan dengan manager restoran tempatnya bekerja," ucap Dafa yang sedikit ragu.


Dan penuturan Dafa itu membuat Ray kaget. Bahkan Ray sampai tak bisa menutupi wajah kagetnya dan membuat Dafa merasa kasihan.


"Tenang aja Kak, nanti aku kenalin Kakak sama temen-temen aku," ucap Dafa sedikit menghibur Ray.

__ADS_1


Namun Ray hanya diam dan pergi kekamarnya tanpa merespon ucapan Dafa.


__ADS_2