CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
90


__ADS_3

Citra segera menghampiri Jingga yang menangis tak percaya.


"Ga ada apa?" tanya Citra khawatir saat melihat Jingga yang hanya bergeming.


Bukan jawaban yang Citra dapatkan, melainkan tangis keras Jingga, membuatnya langsung panik. Bukan hanya Citra, tetapi Nayla dan Keyla juga langsung khawatir melihat bundanya seperti itu, bahkan Nayla jadi ikut menangis, saat melihat bundanya menangis.


"Ga, tenanglah, apa yang terjadi?" tanya Citra pelan sambil mengusap punggung Jingga yang masih sesegukan.


"Mas Ray, Cit, dia kecelakaan," jawab Jingga pelan.


Mendengar itu, Citra membesarkan matanya, tak percaya dengan apa yang Jingga katakan.


"Sekarang dia dimana Ga?" tanya Citra sedih, dia juga tak menyangka apa yang menimpa pada orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.


"Kata seseorang yang menelpon aku tadi, mas Ray dibawa ke Rumah Sakit Sejahtera," jawab Jingga parau.


"Ya udah, ayo kita ke sana!" ucap Citra segera membantu Jingga membereskan barang-barangnya.


"Cit, aku minta kamu jaga anak-anak di rumah ya. Kita gak mungkin bawa mereka ke rumah sakit, biar aku yang pergi ke sana," ucap Jingga lagi.


"Baiklah, aku akan jaga mereka di sini, tapi aku akan minta Dafa buat nemenin kamu ke sana," ucap Citra yang langsung menghubungi Dafa, memberi kabar tentang kecelakaan kakaknya sekaligus memintanya untuk mengantar Jingga ke rumah sakit.


"Kamu tenang dulu Ga, Dafa sudah perjalanan menuju ke sini, lebih baik kamu duduk dulu, tenangkan pikiran kamu. Aku yakin kak Ray akan baik-baik aja," ucap Citra lagi.


Jingga segera menuruti ucapan Citra, dia mulai mengatur nafasnya dengan baik agar pikirannya sedikit tenang, walaupun sulit untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruknya tentang keadaan suaminya.


Bukan kali ini orang-orang yang berarti dalam hidupnya mengalami kecelakaan. Dari mulai bundanya dulu, dan kemudian ayah dan ibu tirinya juga mengalami kecelakaan yang menyebabkan kehilangan nyawa mereka. Dan kini rasa takut Jingga muncul kembali saat mendengar kabar kecelakaan tentang suaminya. Dia tak sanggup jika harus kehilangan orang yang sangat dia sayangi untuk ke sekian kalinya, karena sebuah kecelakaan. Dia tak akan sanggup jika harus merasakan kehilangan lagi.


Ya Allah lindungilah suami hamba, ucap Jingga dalam hati.


Jingga sedikit tersentak kala tangan mungil dan halus, menyentuh telapak tangannya, mengelus tangannya dengan lembut.

__ADS_1


"Bunda tidak boleh menangis ya, karena ayah akan baik-baik aja," ucap Keyla pelan, dia juga ikut sedih saat mendengar kabar kecelakaan rentang ayahnya.


Saat ini dia sudah mengerti tentang keadaan yang ada di depan matanya, tak seperti saat ayah kandungnya meninggal dulu, dia sama sekali tak tahu bahwa ayahnya meninggal, karena saat itu usianya masih 3 tahun lebih.


"Iya sayang, kamu doakan ayah ya," ucap Jingga sambil memeluk anak sulungnya.


"Iya Bunda, sekarang Bunda jangan sedih lagi," ucap Keyla menenggelamkan wajahnya pada perut sang bunda.


Sedangkan Nayla yang masih menangis langsung di gendong oleh Citra, dan Citra segera membujuk Nayla dengan berbagai cara agar dia berhenti menangis.


"Assalamualaikum!"


Jingga segera berdiri saat mendengar orang mengucapkan salam dari luar. Dia bisa menebak bahwa yang datang adalah adik iparnya. Dengan cepat Jingga segera mengambil tasnya dan langsung berjalan ke luar.


"Waalaikumsalam, Daf," ucap Jingga sedih.


"Iya Kak, aku tahu. Sekarang ayo cepat kita pergi," ucap Dafa langsung.


"Bunda mau kemana? Aku mau ikut cama Bunda," ucap Nayla dengan tangan yang mengawang ingin di gendong bundanya.


"Kamu di rumah sama kakak dan tante ya, Bunda akan segera pulang," ucap Jingga langsung mencium kening Nayla, dan disambut tangis Nayla yang tak ingin di tinggal oleh bundanya.


Namun tidak ada yang dapat Jingga lakukan selain membiarkan anaknya menangis sebentar, dari pada dia harus membawanya ke rumah sakit, karena Jingga tahu, rumah sakit bukanlah tempat yang baik untuk Nayla, terlebih dengan keadaan seperti itu.


Dafa dan Jingga segera masuk ke dalam mobil, dan Dafa langsung menancap pedal gas mobilnya menuju rumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit, Jingga dan Dafa langsung bergegas masuk ke dalam, dan segera berhenti di depan UGD, tempat penanganan Ray saat ini. Jingga dan Dafa menunggu dengan cemas, dan tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan itu.


"Dok, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Jingga langsung membuat dokter itu sedikit kaget.


"Keadaan pasien sangat kritis, kami harus segera melakukan operasi karena pendarahan di kepalanya cukup mengkhawatirkan," jawabnya, langsung membuat Jingga lemas. Jika saja tidak di tahan oleh Dafa, mungkin Jingga langsung jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik untuk kakak saya Dok," ucap Dafa langsung.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin," balas dokter itu, kemudian langsung melangkah pergi untuk bersiap-siap melakukan operasi.


Dafa berusaha membuat kakak iparnya tetap sadar, dia terus mengucapkan kata-kata yang memenangkan Jingga.


"Kak Ray akan baik-baik aja, Kakak harus tenang, dan kita doakan supaya operasinya berjalan dengan lancar," ucap Dafa ke telinga Jingga yang setengah sadar itu.


Pintu ruangan UGD terbuka, dan Jingga segera berdiri saat melihat suaminya akan di pindahkan ke ruang operasi. Air matanya mengalir deras saat Jingga melihat tubuh suaminya yang penuh luka, terutama pada kepalanya.


"Mas, aku mohon bertahanlah. Kamu harus kuat," ucap Jingga di sela langkahnya mengikuti tubuh suaminya yang di bawa ke ruang operasi.


"Silahkan Ibu dan Bapa menunggu di luar," ucap salah satu perawat segera menutup pintu ruang operasi tersebut.


Jingga hanya bisa melihat wajah suaminya dengan sedih sebelum ruangan itu benar-benar tertutup. Dafa yang ada di belakangnya pun tak kuasa menahan tangisnya, saat tubuh sang kakak dibawa ke ruang operasi.


Keduanya hanya diam menunggu dengan perasaan cemas saat operasi tengah berlangsung. Bukan hanya Jingga yang melantunkan beribu doa untuk suaminya, Dafa pun tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan kakaknya.


"Daf, bagaimana dengan nenek, apakah dia sudah tahu?" tanya Jingga yang tiba-tiba teringat neneknya.


"Aku belum memberitahunya," jawab Dafa seadanya.


Tak lama setelah 2 jam berlalu, lampu ruangan operasi itu mati, menandakan proses berjalannya operasi telah selesai. Pintu ruangan terbuka, dokter segera keluar, dengan langkah cepat Jingga dan Dafa segera mendatangi dokter itu.


"Bagaimana Dok?" tanya Jingga tak sabar.


"Operasinya berjalan dengan lancar, setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang rawat," ucap sang dokter membawa helaan lega dari Jingga dan Dafa.


"Terima kasih Dokter," ucap Dafa.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter itu segera melangkah pergi.

__ADS_1


__ADS_2