CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
67


__ADS_3

Dokter segera memeriksa kondisi Jingga setelah Ray berbicara dengannya. Citra yang berada di pinggiran ranjang sedikit gusar, karena dia belum memberitahu Jingga soal kehamilannya. Citra sebetulnya bingung harus mengatakan apa, sementara kondisi sahabatnya itu sedang tidak baik, apalagi semua itu terjadi karena Ken. Entahlah, Citra tak tahu apakah berita kehamilan Jingga itu membawa kabar baik atau sebaliknya.


"Bagaimana Dok, apakah Jingga boleh pulang?" tanya Citra saat melihat dokternya sudah selesai memeriksa Jingga.


"Keadaan Bu Jingga masih sangat lemah, apalagi setelah mendapat tekanan psikisnya. Tapi jika Bu Jingga sendiri ingin pulang, saya mengizinkannya tapi setelah tiga hari, Bu Jingga harus kembali ke sini untuk kembali menjalani pemeriksaan ulang," ucap dokter itu.


"Padahal keadaan saya baik-baik saja Dok, haruskah kembali ke rumah sakit ini," ucap Jingga yang belum tahu keadaannya.


"Betul Bu. Saya harus periksa keadaan Ibu lagi, terlebih pada janin yang ada didalam kandungan Ibu. Usianya saat ini sangat rentan mengalami masalah, terlebih jika ibu bayinya mengalami tekanan," ucapnya lagi membuat Jingga langsung kaget.


"Janin? Maksud dokter, saya hamil?" tanya Jingga tak percaya. Sedangkan Citra bingung dengan keadaan ini, dia takut membuat Jingga mengalami tekanan lagi, apalagi saat ini Jingga dan suaminya sudah bercerai.


"Iya Bu, usia kehamilan Ibu baru lima minggu. Jadi saya sarankan, Ibu jangan terlalu stres dan tetap jaga pola makan agar ibu dan bayi ibu sama-sama sehat. Saya permisi dulu," ucap dokter itu menjelaskan, tapi kemudian segera pamit undur diri karena proses pemeriksaan Jingga sudah selesai.


"Terima kasih Dokter," ucap Ray.


Jingga hanya bergeming di tempatnya. Citra juga tak melihat ekspresi lain dari Jingga, selain hanya diam menatap lurus ke depan. Sontak Ray dan Dafa cemas melihat Jingga yang hanya diam itu.


"Ga, kamu baik-baik aja kan?" tanya Citra khawatir.


"Apakah kamu sudah mengetahuinya Cit?" tanya Jingga sambil menoleh ke arah Citra.


"Iya Ga. Baru tadi aku tahu bahwa kamu hamil. Maaf aku gak langsung ngasih tahu kamu, karena aku bingung cara menyampaikan kabar ini sama kamu," ucap Citra.


"Iya Cit, gak papa. Saat ini aku cuma mau pulang," ucap Jingga lagi dengan tatapan yang sulit diartikan.


Jingga juga tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Entah harus senang atau harus sedih. Kehadiran buah hati yang sangat diharapkannya dengan Ken dulu, tidak datang di waktu yang tepat. Dia hadir disaat Jingga dan Ken sudah berpisah. Namun saat ini biarlah dia dan sahabatnya saja yang mengetahuinya, pikirnya.


"Iya, ayo kita pulang. Dafa sudah mengurus administrasinya, jadi kita bisa langsung pulang," ucap Citra langsung membantu Jingga turun dari ranjang, karena tubuhnya yang masih lemah.


"Makasih Daf, Ray kalian sudah membantu aku," ucap Jingga pada Dafa dan Ray sambil meliriknya secara bergantian.


"Sama-sama Ga. Oh iya aku mau bawa Keyla dulu, aku takut dia nangis karena terlalu lama ditinggal," Setelah mengatakan itu, Dafa segera melangkah keluar untuk membawa Keyla yang ditetapkan pada salah satu perawat di rumah sakit itu.

__ADS_1


Sedangkan Ray masih menatap Jingga dengan pandangan khawatirnya. Pasalnya, Jingga masih terlihat belum bertenaga apalagi wajahnya masih pucat. Namun dia tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti keinginan Jingga, lagi pula dia bukan siapa-siapa yang berhak melarangnya.


Sedangkan Dafa, dia dengan langkah cepatnya segera menemui Keyla, yang sesuai dugaannya, gadis kecil itu tengah menangis keras dengan berada di gendongan perawat. Dafa sedikit tak enak saat melihat perawat itu yang kewalahan. Dari ekpresinya jelas terlihat ketidakberdayaan dalam membujuk anak kecil yang dititipkan padanya.


"Maaf sudah merepotkan Suster," ucap Dafa segera mengambil Keyla dari gendongan perawat itu.


"Oh tidak apa-apa Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap perawat itu sambil meninggalkan Dafa.


"Huaaa... Key takut!" ucap Keyla masih dengan tangis kerasnya.


"Iya sayang, kamu jangan nangis lagi ya! Sekarang kan Keyla sudah sama Kakak. Kita pulang ya!" ucap Dafa sambil menghapus air mata dipipi Keyla, yang masih sesegukan itu.


"I--iya, huhuhu,"


Dafa segera membawa Keyla ke mobil. Dan tak menunggu lama, Jingga datang dibantu oleh Citra. Sementara kakaknya berada dibelakang mereka.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Jingga setelah berada di dekat adiknya.


"Key takut Kak," ucap Keyla masih sesegukan.


"Kakak, gendong!" rengek Keyla sambil menggapai tubuh Jingga dengan tangannya.


"Sini Kakak gendong!" ucap Ray segera menggendong Keyla. Karena tak mungkin membiarkan Jingga menggendong adiknya dengan kondisi yang masih lemah.


"Ayo Ga masuk. Kita pulang sekarang," ucap Citra segera membukakan pintu mobil untuk Jingga, dan segera di angguki oleh Jingga. Lagi pula Jingga ingin segera beristirahat karena tubuhnya tak seperti biasanya, dia merasa begitu lelah.


Ray juga segera masuk ke dalam mobil, dan mendudukan Keyla disamping kemudinya. Sedangkan Dafa masuk ke dalam mobil yang dipinjam dari tetangganya Citra.


Perjalanan dari rumah sakit ke rumah Citra tak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai. Tapi lain halnya dengan Keyla. Gadis kecil itu ketiduran didalam mobil. Sepertinya, karena kelelahan habis menangis, membuat dia sampai tertidur diperjalanan. Ray tersenyum manis saat melihat Keyla begitu terlelap.


Entahlah, bukan karena Ray menyukai Jingga jadi dia menyayangi Keyla. Tapi saat pertama melihat adiknya Jingga itu, Ray langsung menyayanginya. Dan perasaan ingin terus melindungi Keyla itu selalu ada.


Setelah Citra dan Jingga turun dari mobilnya, Ray juga langsung menggendong Keyla yang tidurnya sama sekali tidak terganggu. Ray langsung mengikuti Jingga dan Citra yang sudah masuk terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kak, tunggu!" teriak Dafa yang baru sampai, langsung saja berlari ke arah kakaknya yang baru akan melangkah ke dalam rumah.


"Ada apa?" tanya Ray langsung.


"Gak papa, cuma mau bareng aja masuknya," ucap Dafa sambil cengengesan.


"Kamu berteriak seperti itu, hanya untuk bilang ini aja?" tanya Ray kesal.


Dafa mengangguk keras mendapat pertanyaan dari kakaknya, membuat Ray semakin kesal saja, dan segera melangkah masuk meninggalkan Dafa. Dafa yang melihat kakaknya kesal, terlihat senang, dan segera mengikuti Ray dari belakang.


"Kak Ray, langsung bawa Keyla masuk ke kamar aku aja," ucap Citra saat melihat Ray menghampirinya sambil menggendong Keyla.


"Baiklah," ucap Ray langsung berjalan ke kamar Citra.


"Kamu juga harus istirahat Ga. Ayo, aku anterin kamu ke kamar!" ucap Citra segera menuntun Jingga, namun Jingga segera menahannya.


"Cit, nanti aja. Aku mau duduk disini dulu," tolak Jingga sambil menunjuk sofa yang dekat dengan mereka saat ini, tepatnya di ruang tengah rumah Citra.


"Ya udah. Bentar ya aku ambil minum buat kak Ray dan Dafa," ucap Citra segera melangkah.


"Tidak perlu repot-repot Cit, Kakak sama Dafa langsung pulang aja, biar Jingga bisa istirahat," ucap Ray langsung membuat Citra menghentikan langkahnya.


"Eh? Loh kok pulang sih? Aku masih mau disini Kak," tolak Dafa yang masih ingin berada di rumah Citra.


"Pulang Daf, Kakak gak mau kamu ganggu waktu istirahatnya Jingga," ucap Ray langsung menarik lengan adiknya, namun Dafa menahannya.


"Aku gak bakal ganggu Jingga Kak, percaya deh," ucap Dafa lagi, tetapi Ray tetap menarik adiknya agar pulang.


"Enggak, pokoknya sekarang pulang. Lagi pula ini udah sore," ucap Ray.


"Gak papa Ray, aku sama sekali gak terganggu. Justru aku senang, kalo disini ramai," ucap Jingga yang melihat Dafa tidak ingin pulang.


"Kamu harus istirahat Ga, besok kami kesini lagi. Sekarang kami pulang dulu. Cit, Kakak pulang ya," ucap Ray pada Jingga tapi kemudian dia juga pamit pada Citra.

__ADS_1


"Iya Kak, hati-hati," ucap Citra yang dibalas anggukan oleh Ray.


Jingga dan Citra terkekeh pelan, melihat bagaimana ekspresi tak rela dari Dafa. Wajahnya bertambah imut, saat Dafa cemberut. Apalagi dia hanya pasrah ditarik oleh kakaknya.


__ADS_2