
Hari berganti dengan cepat, dan Nayla sudah merindukan ayah kandungnya. Selama satu bulan setelah Ken pulang ke Bandung, Nayla dirundung oleh kerinduan terhadap ayahnya. Terkadang dia meminta untuk diantar ke rumah ayahnya, namun Jingga melarangnya karena dia tak mau anaknya diperlakukan tidak baik oleh ibu tirinya. Sedikit banyak kini Jingga menyadari sifat asli dari mantan madunya dulu.
Tak jarang Ray juga harus ikut membujuk keras anaknya, karena setiap kali Nayla merengek ingin pergi ke rumah ayahnya, dia selalu menangis keras, membuat Ray dan Jingga harus punya banyak cara untuk membujuk anak mereka. Walaupun begitu, Ray tak merasa lelah harus membujuk anaknya atau kadang mengajaknya pergi keluar saat Nayla teringat ayahnya. Baginya, kini Nayla dan Keyla menjadi pelengkap kebahagiaannya.
"Sayang, nanti kita ke dokter lagi ya," ucap Ray setelah selesai bersiap-siap berangkat bekerja.
"Iya Mas, nanti sore kan saat kamu pulang?" tanya Jingga sambil membantu merapikan dasi sang suami.
"Bukan sore sayang, tapi setelah makan siang aku langsung pulang, dan kita langsung pergi ke dokter," jawab Ray yang langsung melingkarkan tangannya pada pinggang ramping sang istri.
"Baiklah, semoga kali ini ada hasilnya ya Mas," ucap Jingga menatap sendu suaminya.
Saat ini Jingga dan Ray tengah menjalani program hamil, karena mereka begitu ingin mempunyai baby kecil. Hati kecil Jingga merasakan keraguan saat ingat bagaimana dulu dia juga melakukan program hamil, namun Nayla hadir dalam rahimnya cukup lama, dan jika mengingat hal itu, Jingga merasa takut saat ini mereka juga harus menunggu waktu yang lama untuk menunggu kehadiran buah hati mereka.
"Kamu jangan khawatir sayang, karena rezeki kita sudah diatur sama Allah. Jadi apapun hasilnya, itu sudah menjadi kehendak-Nya," ucap Ray yang sangat tahu apa yang menjadi ke khawatiran istrinya
"Iya Mas," ucap Jingga tersenyum manis.
"Baiklah, sekarang aku berangkat ya sayang," pamit Ray langsung mencium kening Jingga dan memeluknya erat.
"Iya Mas, kamu hati-hati," ucap Jingga setelah mencium punggung tangan suaminya.
Jingga segera mengantar Ray ke depan rumah, dan menunggu suaminya sampai mobil yang dikendarai Ray menghilang dari pandangannya. Setelah itu, Jingga langsung masuk ke dalam untuk membangunkan Nayla dan Keyla yang masih terlelap tidur.
"Loh kamu dari mana Ga?" tanya Citra yang baru keluar dari kamarnya.
"Habis dari depan," jawab Jingga.
"Masih pagi begini Kak Ray udah berangkat kerja?" tanya Citra yang tahu jika Jingga dari depan rumahnya berarti suaminya berangkat kerja, namun dia sedikit heran karena waktu masih menunjukan jam 6 pagi.
"Iya, karena nanti siang langsung pulang lagi, mau ke dokter," jawab Jingga sambil menyiapkan sarapan.
"Mau ngapain Ga? Kamu mau punya bayi lagi," ucap Citra ikut membantu Jingga menyiapkan sarapan.
"Iya, kita lagi program hamil lagi. Semoga bisa kembali hadir, biar rumah ini tambah rame," ucap Jingga tersenyum.
__ADS_1
"Woah, kak Ray hebat ya," ucap Citra tersenyum jahil.
"Hebat apanya?"
"Ya hebat, bisa bikin kamu langsung hamil,"
"Kamu pagi-pagi udah eror aja. Aku itu lagi melakukan program hamil bukan lagi hamil," ucap Jingga geleng-geleng kepala.
Sedangkan Citra hanya tersenyum malu, sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. Rencana ingin menggoda sahabatnya gagal total, mungkin karena masih pagi, jadi otaknya belum bisa bekerja dengan baik.
"Aku mau bangunin anak-anak dulu buat sarapan," ucap Jingga langsung melangkah menuju kamar anak-anaknya.
Perlahan Jingga membuka pintu kamar Nayla dan Keyla, dan dia langsung berjalan ke dekat ranjang, dimana mereka masih tertelap dalam tidurnya, tak terusik walaupun keadaan di sekeliling rumahnya sedikit ramai.
Kedua sudut bibir jingga terangkat tinggi saat melihat wajah damai kedua anaknya. Wajah mereka begitu mirip seperti adik kakak sungguhan, dan perbedaan mereka sangatlah tipis. Kedepannya Jingga berharap ada 3 putri dalam keluarga kecilnya.
"Sayang, bangun!" ucap Jingga sambil mengusap pipi kedua anaknya bergantian.
Merasakan sentuhan halus dan lembut membuat Keyla membuka matanya perlahan, mengerjabkan beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk pada retina matanya. Namun beda lagi dengan adiknya, Nayla terlihat menggeliat tetapi dia hanya mengubah posisi, dari yang tadinya menyamping ke kiri, kini menjadi menyamping ke kanan, dengan mata yang masih terpejam.
"Sayang, ayo bangun! Bunda udah menyiapkan sarapan kesukaan kamu," ucap Jingga lagi.
Nayla yang mendengar sang bunda terus membangunkannya, membuka matanya perlahan, menggosok mata dengan telapak tangannya, dan segera duduk dengan tubuh kantuknya.
"Anak bunda pintar," ucap Jingga sambil mengusap pipi Nayla, dan segera menggendong Nayla karena dia terlihat memejamkan matanya lagi.
Jingga langsung berjalan keluar kamar, dan mendudukan Nayla ke atas kursi setelah mereka sampai di ruang makan. Di meja makan, Citra dan Keyla sudah memulai sarapannya.
"Kamu masih ngantuk sayang?" tanya Citra pada Nayla, saat melihat Nayla masih menguap.
"Iya Tante," jawabnya singkat.
"Anak cantik belum cuci muka ya, makanya masih ngantuk," ucap Citra lagi sambil meletakan beberapa makanan lagi ke atas piring Keyla.
"Aku masih pengen tidur, tapi bunda bangunin aku," ucap Nayla tak semangat, walaupun di depannya sudah terhidang makanan kesukaannya, nasi goreng udang.
__ADS_1
"Bunda tau sayang, tapi kamu harus makan dulu, nanti disambung lagi tidurnya," ucap Jingga, dia kemudian menyuapkan satu sendok nasi goreng udang ke mulut Nayla.
"Iya Bun. Mm, ayah mana Bun, kok gak keliatan?" tanya Nayla di sela kunyahannya.
"Ayah udah berangkat kerja sayang," jawab Jingga.
"Yah, aku jadi gak bisa sarapan bareng sama ayah," ucap Nayla dengan nada manja, membuat semua orang yang sedang makan langsung tersenyum, mereka tahu bahwa Nayla begitu menyayangi ayahnya, Ray.
"Nanti siang ayah juga pulang ko sayang, nanti kamu bisa makan siang sama ayah," ucap Jingga lagi.
"Iya Bun, e--Bun aku mau susu," rengek Nayla tiba-tiba, padahal nasi goreng yang ada dipiringnya masih belum habis.
"Iya nanti Bunda buatkan, tapi sekarang kamu habiskan dulu makanannya," ucap Jingga.
"Enggak mau Bun, aku mau minum susu," ucap Nayla lagi, yang membuat Jingga mau tak mau segera membuatkannya.
"Nay, kenapa kamu gak habiskan aja nasi gorengnya, kasian bunda belum makan," ucap Keyla sambil melihat ke arah adiknya yang duduk di sampingnya.
"Tapi aku maunya minum susu Kak," ucap Nayla kesal.
Keyla hanya tersenyum masam mendengar jawaban adiknya, karena tak mau membuat keributan, Keyla segera menghabiskan makanannya.
Jingga yang baru membuatkan susu untuk Nayla, segera duduk untuk menghabiskan makanan Nayla yang masih tersisa sangat banyak.
"Makasih Bunda," ucap Nayla senang setelah meminum susunya.
"Sama-sama sayang," jawab Jingga kembali melanjutkan makannya.
Bunyi panggilan dari ponsel Jingga membuatnya langsung menghentikan makannya, dan dia langsung mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari suaminya.
"Halo, Assalamualaikum Mas," ucap Jingga langsung.
"..... " ucap dari seberang.
Prakkk!
__ADS_1
Ponsel Jingga langsung jatuh ke lantai, membuat semua pandangan semua orang yang berada di ruang makan itu langsung tertuju pada Jingga. Baik Keyla, Nayla maupun Citra sama-sama terlihat panik saat melihat wajah Jingga yang langsung pucat sesaat setelah dia mengangkat panggilan telepon dari suaminya.