CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
46


__ADS_3

Perjalanan yang cukup jauh membuat Ken sedikit kelelahan, namun saat melihat istri tercintanya itu, semua penat dan lelah hilang begitu saja, apalagi saat melihat wajah cantik Jingga, membuat Ken mendapat energi barunya.


Sekitar tiga puluh menit yang lalu, Ken sampai di rumah sakit tempat ayah mertuanya di rawat. Pandangannya langsung menyendu saat melihat ayah dan ibu mertuanya terbaring lemah di ruang ICU. Apalagi melihat wajah sedih sang istri, membuat Ken tak tega melihatnya, namun dia tak bisa melakukan apapun selain mendoakan kesembuhan untuk ayah dan ibu mertuanya.


"Sayang, kamu makan dulu ya!" ucap Ken sambil mengelus tangan sang istri.


"Nanti aja ya Mas," ucap Jingga yang memang sama sekali tak bernafsu untuk makan.


"Pokonya sekarang kamu harus makan dulu, biar Keyla sama Mas," ucap Ken langsung mengambil Keyla dari pangkuan istrinya.


"Iya Mas," ucap Jingga akhirnya.


"Key mau," ucap Keyla tiba-tiba membuat Ken menaikan sudut bibirnya.


"Kamu mau sayang? Ya udah, Kakak suapin Keyla ya," ucap Ken dan Keyla langsung mengangguk semangat. Ken langsung membuka makanan yang dia bawa, dan langsung memberikan satu sendok makanan itu pada mulut mungil Keyla.


"Pelan-pelan makannya sayang," ucap Ken tersenyum sambil mengusap makanan pada ujung bibir Keyla.


"Makanannya enak Kak," ucap Keyla dengan mulut penuh membuat Ken tertawa kecil. Dalam hati kecilnya, Ken sudah tak sabar ingin melihat anaknya yang baru lahir agar cepat tumbuh dan akan membuatnya gemas seperti ini.


"Kalo makanannya enak, berarti Key harus menghabiskannya ya," ucap Ken langsung dan Keyla hanya tersenyum sambil mengangguk.


Sedangkan Jingga yang melihat itu hanya tersenyum bahagia di sela makannya. Dia bisa melihat Ken sangat senang bersama anak kecil, membuat hatinya sedikit tercubit. Andaikan saja dia sudah memberi Ken seorang anak, pasti dia akan bahagia, pikir Jingga dalam hati.


"Sayang, apakah kamu semalam tidak tidur?" tanya Ken penasaran karena dia melihat lingkar mata istrinya yang sedikit menghitam.


"Iya Mas. Aku gak bisa tidur, karena takut ayah sadar disaat aku tertidur," jawab Jingga setelah menghabiskan makanannya.

__ADS_1


"Ya udah, nanti malam Mas cari penginapan di sekitar rumah sakit ini, agar kamu bisa beristirahat sama Keyla, nanti biar Mas yang jaga ayah disini," ucap Ken pada akhirnya. Dia tidak bisa membiarkan istrinya itu mengabaikan kesehatannya juga.


"Tapi Mas... " ucap Jingga sedikit tak setuju. Bagaimanapun keadaannya, dia akan terus menjaga ayahnya sampai ayahnya itu siuman.


"Kamu juga harus pikirkan kesehatan kamu sendiri sayang. Sudah, nanti malam biar Mas yang disini," ucap Ken lagi.


Jingga yang mendengar itu hanya bisa pasrah. Dia tak bisa membantah ucapan suaminya, walaupun dia tak setuju jika harus meninggalkan ayahnya. Namun sebagai seorang istri, dia harus mematuhi perintah suaminya.


"Iya Mas," jawab Jingga seadanya.


"Wah, Key hebat! Bisa menghabiskan makanannya," ucap Ken pada Keyla yang hanya tersenyum menunjukan beberapa giginya.


"Iya Kak. Nanti Key mau lagi ya," ucap Keyla dengan nada lucu membuat Ken langsung mencubit gemas pipi gembul Keyla.


"Tentu sayang, nanti kita beli lagi ya," balas Ken sambil mengusap bibir Keyla dengan tisu.


"Keadaanya baik, sekarang hanya tinggal proses pemulihannya aja sayang," jawab Ken.


"Terus sekarang yang menjaganya siapa Mas?" tanya Jingga lagi.


"Mama, sayang. Bahkan dia datang sebelum aku memintanya untuk menjaga Resti. Mungkin karena mama kangen sama cucunya, jadi dia datang pagi-pagi sekali," jawab Ken lagi sedikit tersenyum, sambil membayangkan ekspresi mamanya pagi itu.


Jingga yang mendengar itu langsung tak enak, apalagi melihat senyum tipis sang suami, membuat dia yakin bahwa kini suaminya itu sudah menerima Resti apalagi dengan kehadiran anak pertamanya. Kenapa tiba-tiba perasaannya jadi sedih? Apakah meminta suaminya untuk menikahi Resti adalah hal yang tepat? Pikir Jingga sedikit sedih.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Ken saat melihat air mata Jingga yang sudah terkumpul di sudut matanya.


"Ah? Aku gak papa Mas," jawab Jingga sedikit gugup. Langsung saja dia menghapus air mata di sudut matanya.

__ADS_1


"Kamu jangan sedih sayang. Kamu harus kuat untuk ayah," ucap Ken yang menyangka istrinya itu sedih karena kepikiran soal ayahnya. Ken hanya tidak tahu saja, bahwa ucapannya tadi sedikit menyentuh hati Jingga.


"Iya Mas," balas Jingga sambil memaksakan senyumnya.


"Keluarga pasien Bapak Dimas dan Ibu Syeli!" ucap salah satu perawat yang baru keluar dari ruang ICU.


Sontak Ken dan Jingga langsung menoleh ke arah perawat itu. Dan tak lama setelah itu, dokter yang baru masuk dari ruang ICU langsung keluar lagi membuat Ken dan Jingga sedikit kaget.


"Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Jingga langsung, dia sangat tak sabar ingin mendengar kabar tentang ayahnya. Apalagi saat melihat dokter yang menangani ayahnya, berjalan tergesa-gesa membuat Jingga penasaran.


"Apakah ayah kami sudah sadar Dok?" Kini pertanyaan terlontar dari mulut Ken, karena dia melihat dokter itu hanya diam saja saat Jingga mengajukan pertanyaan.


"Maaf Pak, Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun benturan yang sangat keras pada otak kedua pasien berakibat fatal. Kami kira kedua pasien akan bertahan sampai masa observasi selesai, namun ternyata Tuhan berkehendak lain," ucap dokter setelah menghela nafasnya.


Deg!


Perasaan takut itu kembali muncul, perasaan yang sama seperti 4 tahun lalu, saat Jingga merasakan takut kehilangan bundanya. Ternyata perkataan dokter itu sama seperti perkataan dokter dulu, saat bundanya tak bisa diselamatkan. Jika seperti ini, apakah Jingga akan kembali merasakan kehilangan orang tercintanya? Kehilangan orang yang berarti bagi hidupnya? Pikir Jingga frustrasi.


Tidak, itu tidak boleh terjadi. Jingga tak akan siap menghadapinya lagi, pikirnya. Tak terasa air matanya mengalir deras, membasahi pipi putih Jingga. Seketika tubuhnya ambruk ke lantai. Nafasnya sangat sesak, seperti ada beban berat yang menimpanya.


"Tidak! Dokter pasti salah. Ayah saya masih hidup kan?" lirih Jingga bercampur dengan tangis pilunya.


Namun sang dokter hanya diam. Dia sangat tahu apa yang dirasakan oleh keluarga pasien saat mendengar berita buruk itu. Setelah itu, sang dokter langsung menoleh ke arah Ken yang juga masih syok. Dokter itu pamit dengan sedikit menundukan kepalanya yang di balas anggukan juga oleh Ken.


Perlahan Ken menurunkan Keyla dari gendongannya, dan segera menekuk lututnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Jingga yang ambruk di lantai. Ken meraih pundak sang istri dengan tangannya, dan segera menarik Jingga ke dalam pelukannya.


Tangis Jingga pecah saat suaminya memeluk dia dengan erat. Ken mengusap lembut kepala Jingga, mencoba memberinya kekuatan. Karena Ken juga tahu, seberapa hancur hati istrinya saat itu. Kehilangan orang tersayang bukanlah hal yang mudah, apalagi orang itu bagian terpenting dalam hidup kita.

__ADS_1


"Kamu harus tabah ya sayang," ucap Ken berbisik di telinga Jingga membuat tangis Jingga semakin keras. Tanpa Ken sadari, air matanya juga turun membasahi pipinya. Dia juga sangat sedih, kehilangan sosok ayah mertua yang sangat menyayangi dirinya.


__ADS_2