CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
27


__ADS_3

"Kenapa? Padahal Nenek mau ngajak kamu pergi ke Pantai Balekambang," ucap Lastri setengah heran.


"Hmm, nanti aja ya Nek. Kita pergi kesana bareng-bareng sama kak Ray, biar seru," ucap Dafa berusaha membujuk neneknya, karena rencananya dia akan pergi keluar sendiri. Kalau neneknya ikut, Dafa takut tak bisa pergi kemana yang dia mau.


"Ya udah terserah kamu aja. Sekarang ayo mandi! Setelah itu makan, Nenek sudah menyiapkan makanan buat kamu," ucap Lastri lagi. Tak mau memaksa cucunya itu, karena bagaimanapun dia tahu keinginan anak muda.


"Baiklah. Makasih Nek," ucap Dafa lalu mencium pipi neneknya, kemudian dia segera berjalan kearah kamar mandi.


Lastri yang melihat kelakuan Dafa hanya tersenyum senang, ternyata cucu satunya itu, masih saja seperti dulu.


Namun entah mengapa, Lastri jadi kepikiran soal Ray. Sejak Dafa menceritakan kakaknya itu, Lastri jadi memikirkan Ray terus. Semoga Ray secepatnya bisa mendapatkan kebahagiaan dari orang yang dicintainya, pikir Lastri.


Lastri ingat bagaimana dulu, saat Ray dan Dafa masih kecil, sekitar umur 12 tahunan, mereka harus kehilangan kedua orang tua mereka karena kecelakaan.


Sejak saat itu, mereka hidup tanpa kasih sayang. Walaupun begitu, Ray tak menyerah, dia terus berusaha bangkit dan menjaga adik satu-satunya, sampai saat ini, dia bisa menjadi orang sukses, walaupun tak terlepas dari kasih sayang nya, tapi Lastri sangat bangga pada Ray. Oleh sebab itu, Lastri selalu berdoa agar Ray mendapat pendamping yang baik, yang bisa membuat Ray bahagia, terlepas dari lukanya di masa lalu.


"Nek, Dafa mau pergi keluar. Bolehkan? Cuma sebentar kok, Dafa janji," ucap Dafa yang sudah siap untuk pergi.


"Boleh. Tapi kamu makan dulu," ucap Lastri yang sedikit terkejut, karena Dafa tiba-tiba sudah ingin pergi saja.


"Dafa udah makan kok," ucap Dafa lagi.


"Ya, sudah. Jangan malam-malam pulangnya!" peringat Lastri pada cucunya.


"Siap bos!" balas Dafa sambil hormat dan langsung membuat Lastri geleng-geleng kepala.


...----------------...


Dafa menyusuri setapak demi setapak desa neneknya, sampai tak terasa dia sudah sampai di desa Rejoyoso. Namun baru beberapa meter dia menikmati perjalanannya, tiba-tiba dia melihat sosok yang dia kenal.


Dafa mencoba mengucek-ucek matanya, siapa tahu dia cuma salah lihat. Namun sampai dia mencubit pipinya pun, sosok itu masih ada, bahkan dia terlihat baru keluar dari pemakaman umum desa itu.

__ADS_1


Dengan langkah cepat, Dafa berusaha memastikan, kalau wanita itu memang benar-benar orang yang dia kenal.


"Permisi," ucap Dafa sambil mempercepat langkahnya mengikuti wanita itu.


"Iya," jawabnya sambil menoleh ke arah Dafa.


Langsung saja, Dafa terlonjat kaget kala melihat siapa wanita yang ada didepannya.


"Jingga!" ucap Dafa tak percaya.


"Hai! Dafa... Kamu ngapain ada disini?" tanya Jingga yang kaget, juga sedikit heran dengan kehadiran Dafa di desanya.


"Aku kira, tadi cuma bayangan kamu aja. Ternyata memang kamu. Ehm, aku disini sedang mengunjungi nenekku," ucap Dafa tersenyum senang.


"Jadi nenek kamu disini?" tanya Jingga lagi yang kaget.


"Iya, nenek aku tinggal di desa Karangsari. Kamu sendiri ngapain ada disini?" tanya Dafa yang juga penasaran karena Jingga ada di Malang.


"Ayah kamu orang sini juga?" tanya Dafa tak percaya, karena memang sebelumnya dia belum mengetahui asal muasal Jingga.


"Iya, karena aku memang asli orang sini. Ngomong-ngomong, kamu mau kemana?" tanya Jingga lagi.


"Oh, aku bener-bener gak nyangka kamu asli orang sini. Aku, cuma mau jalan-jalan aja, menikmati udara disini," ucap Dafa yang benar-benar kaget, ternyata selama ini Jingga adalah orang Malang.


"Oh. Ehm, Daf, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Jingga yang masih penasaran soal kejadian kemarin, yang menimpa Resti.


"Boleh, kamu mau nanya apa?" tanya Dafa, kini mereka perlahan-lahan berjalan menyusuri daerah tempat tinggal Jingga.


"Itu soal yang kemarin. Emang bener ya, kalo Resti itu mantan kamu?" tanya Jingga sedikit ragu, dia takut pertanyaannya itu akan menyinggung perasaan Dafa


"Oh itu, iya dia itu memang mantan aku. Dia memutuskan hubungan kami, seminggu sebelum dia menikah. Entahlah, awalnya aku gak percaya dia akan menikah, karena sebelumnya hubungan kami baik-baik aja. Waktu dia mutusin aku dengan alasan akan menikah dengan orang yang sudah membuatnya hamil, aku kira itu cuma alasan aja buat ninggalin aku. Tapi ternyata, semua omongannya benar, dan aku lebih terkejut lagi saat tahu bahwa suaminya itu adalah suami kamu juga. Aku bener-bener gak nyangka, " ucap Dafa menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Dafa menatap lurus ke depan, seolah membayangkan kembali peristiwa itu, dan tatapan Dafa yang mulai meredup, membuat Jingga merasa tak enak, karena sudah bertanya yang membuat Dafa kembali mengingat kejadian lalu.


"Maaf ya, aku tidak bermaksud membuat kamu sedih," ucap Jingga penuh rasa bersalah. Sebenarnya dia sempat ragu menanyakan soal itu pada Dafa, namun karena rasa penasaran yang besar, membuat dia berani bertanya soal hubungan Dafa dan Resti.


"Kenapa kamu minta maaf? Kamu tenang aja, karena aku udah ngelupain tentang Resti. Aku sama sekali gak sedih, justru aku merasa khawatir sama kamu, setelah aku tahu yang sebenarnya," ucap Dafa melirik ke arah Jingga, sambil memberikan senyuman manisnya.


"Aku juga baik-baik aja kok Daf, karena aku nganggap semua ini sebagai ujian dalam rumah tangga aku," ucap Jingga yang juga tertular senyuman dari Dafa.


"Baguslah, aku percaya kamu bisa lewatin semua ini. Makanya gak heran kalo kak Ray suk---ehm," ucap Dafa yang tak melanjutkan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan, rutuk Dafa dalam hati.


"Ray kenapa Daf?" tanya Jingga penasaran karena Dafa tak meneruskan ucapannya.


"Oh itu, kak Ray gak papa. Tadi aku cuma salah ngomong, iya cuma salah ngomong," jawab Dafa sedikit salah tingkah karena gugup.


"Oh... " Hanya itu jawaban dari Jingga.


Suasana kembali hening, Dafa dan Jingga hanya terus berjalan menyusuri jalan itu. Sesekali Dafa menghirup dalam-dalam, udara yang berhembus ke arahnya.


"Ehm, Ga, boleh aku bertanya?" Kini Dafa memulai pembicaraan lagi, setelah beberapa menit mereka diam.


"Boleh, tanyain aja Daf," ucap Jingga kala melihat wajah ragu dari Dafa.


"Kenapa suami kamu bisa menyukai Resti, dan sampai menikahinya. Bukannya dia sangat mencintai kamu ya?" tanya Dafa sambil memperhatikan wajah cantik Jingga.


Jingga hanya menatap Dafa sekilas, dia ragu, apakah dia harus memberitahukan yang sebenarnya atau tidak.


"Kalo kamu gak mau cerita gak papa, gak usah dipaksakan. Maaf," ucap Dafa merasa tak enak, karena dia melihat tatapan sedih Jingga.


Jingga kembali menoleh ke arah Dafa, dia tersenyum manis. Jingga rasa, tak ada salahnya menceritakan semuanya pada Dafa, lagian Dafa juga orang baik, sepertinya Dafa bisa dipercaya, pikir Jingga.


Belum sempat Jingga bicara, ada dua orang yang baru turun dari mobil, dan langsung menghadang mereka. Sontak membuat Jingga kaget, bahkan dia sangat takut karena dua pria itu berbadan besar, dan wajahnya terlihat sangar.

__ADS_1


__ADS_2