
Selama perjalanan pulang, Dafa terus memasang wajah cemberutnya, membuat Ray berdecak tak suka saat melihatnya. Ray kadang merasa heran, walaupun Dafa sudah berumur 21 tahun, tapi sikapnya itu sangatlah mirip dengan anak SD yang tidak dibelikan mainan.
"Hei, sampai kapan kamu akan terus cemberut seperti itu," ucap Ray tak suka.
"Kakak kenapa maksa aku pulang? Padahal kalo mau pulang, ya sendiri aja gak usah ajak-ajak," kesal Dafa tanpa melihat kakaknya.
"Hei, Kakak gak mau kamu ganggu waktu istirahatnya Jingga. Lagi pula besok kan bisa ke sana lagi, jadi gak usah kaya anak kecil seperti itu," ucap Ray tak suka, namun Dafa tetap memasang wajah kesalnya.
Dafa tak berminat lagi membalas ucapan kakaknya, jadi dia hanya diam. Tapi tiba-tiba dia teringat perkataan Citra yang mengatakan bahwa semua yang menimpa Jingga disebabkan oleh Ken.
"Kak, tadi pagi Citra sempat bilang, katanya kalau terjadi sesuatu sama Jingga, dia akan buat perhitungan sama Ken. Apa maksudnya ya?" tanya Dafa tiba-tiba.
"Kakak minta, hilangin sifat kamu yang ingin tahu urusan orang lain itu," ucap Ray sambil melirik adiknya.
"Ck! Kakak selalu saja begitu," ucap Dafa berdecak tak suka. Padahal yang dia katakan itu penting, tapi kakaknya itu seolah acuh tak acuh. Dafa melirik kesal ke arah kakaknya yang hanya fokus menyetir.
*****
Ken hanya menatap sendu foto Jingga yang ada diponselnya. Sejujurnya dia tak ingin berpisah dengan Jingga, namun rasa ingin memiliki anak dari Jingga, membuat Ken mengikuti egonya. Walau dia sudah mempunyai anak, tapi rasanya berbeda jika bukan dari istri tercintanya. Bukan Ken tak menyayangi anak dari Resti, tapi keinginan untuk memiliki anak dari Jingga sangatlah besar.
Apalagi mendengar ucapan sahabatnya Jingga waktu lalu, yang mengatakan bahwa Jingga tidak akan mempunyai anak, Ken langsung saja percaya. Entahlah, sepertinya Ken memang mempunyai sifat labil seperti anak remaja. Dia lebih percaya ucapan orang lain, dari pada orang terdekatnya. Terbukti waktu Dina mengirimkan foto Jingga dan Dafa yang langsung membuat Ken menuduh istrinya selingkuh. Tapi kemudian dia menyesali perbuatannya.
Sekarang pun, Ken percaya ucapan orang lain, dan tak mempercayai keyakinan Jingga bahwa suatu saat nanti, Jingga bisa memberinya anak. Yang saat ini dibutuhkan oleh keduanya adalah kesabaran. Tapi rupanya egonya Ken lebih mendominasinya, sehingga dia mengambil langkah untuk menceraikan Jingga. Entahlah, saat nanti Ken mengetahui kehamilan Jingga, apakah dia akan menyesal atau tidak karena sudah menceraikan Jingga?
"Maafkan Mas sayang, karena sudah membuatmu sedih," monolog Ken sambil mengusap-usap foto Jingga yang ada di ponselnya.
Ken segera menghapus air matanya, dan segera turun dari ranjang milik dia dan Jingga. Dia melangkah keluar kamar untuk makan malam yang sudah disiapkan oleh Resti. Saat ini Ken terbiasa memakan makanan yang dipesan Resti, karena Resti belum juga bisa memasak, membuat Ken hanya menerimanya dengan pasrah. Padahal Ken lebih suka makan masakan rumahan, karena menurutnya lebih sehat.
"Saga mana Res?" tanya Ken pada Resti setelah berada di ruang makan.
__ADS_1
"Saga lagi tidur Mas, baru aja aku pindahin ke kamar," jawab Resti. Namun Ken hanya mengangguk mengerti.
"Mas, maaf ya makanannya pesan dari luar lagi," ucap Resti setelah Ken baru memakan satu sendok makanan.
"Hm,"
"Kamu gak suka ya Mas?" tanya Resti lagi.
"Walaupun aku gak suka, memangnya kamu udah bisa masak makanan untuk aku," jawab Ken.
"Ya belum sih Mas. Tapi aku janji bakal belajar lagi, agar secepatnya aku bisa masak makanan untuk kamu," ucap Resti semangat. Dia akan berusaha membuat suaminya senang, dan secepatnya bisa melupakan Jingga.
"Hm, terserahlah," ucap Ken datar.
Resti hanya menghela nafas mendengar jawaban dari suaminya. Dia kembali melanjutkan memakan makanannya. Namun suara tangis Saga membuat Resti juga Ken tersentak kaget.
"Mungkin Saga bangun," ucap Ken langsung, dia segera berdiri dan berjalan cepat ke kamarnya diikuti Resti dibelakangnya.
"Badannya Saga sangat panas Res," ucap Ken panik.
"Mas, ayo kita bawa Saga ke rumah sakit. Aku gak mau terjadi sesuatu padanya," ucap Resti juga sama paniknya.
"Baiklah, sekarang kamu ambil barang-barang kamu, aku siapkan dulu mobilnya," ucap Ken sambil menyerahkan Saga pada gendongan ibunya.
Resti segera mengambil tasnya, dan dengan langkah cepatnya dia keluar kamar menyusul suaminya yang lebih dulu keluar. Resti tambah panik saat Saga menangis keras.
"Mas, badan Saga tambah panas!" ucap Resti dengan suara kerasnya.
"Ayo cepat masuk!" ucap Ken segera membukakan pintu untuk Resti dan anaknya. Dia juga segera masuk ke dalam mobil setelah Resti masuk.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan yang ditempuh, rasa cemas memenuhi pikiran Ken dan Resti, apalagi tangisan Saga yang tak kunjung berhenti. Ken tak bisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Selain karena suasana jalan ramai, Ken juga tak mau ambil resiko jika terjadi sesuatu di perjalanannya.
"Res, coba kamu beri dia susu, semoga itu bisa menenangkan Saga," ucap Ken yang tengah fokus menyetir.
Tanpa menjawab, Resti segera memberi Saga susu, namun sepertinya rasa sakit pada tubuh anaknya, membuat tangis Saga tak terhenti.
"Mas, Saga tidak mau diberi susu. Bagaimana ini? Mas, bisakah lebih cepat lagi!" ucap Resti yang benar panik.
"Tidak bisa Res, jalanan sangat ramai. Kamu bersabarlah, Saga pasti akan baik-baik aja," ucap Ken lagi.
Ken berusaha menambah laju kecepatan mobilnya. Beruntung hanya memerlukan 20 menit untuk mereka sampai di rumah sakit. Setelah memparkirkan mobilnya, Ken segera turun dan membantu Resti membawa anaknya. Dengan langkah setengah berlari, Ken segera meminta pertolongan pada perawat yang siap siaga dan mereka langsung membawa Saga ke dalam ruangan UGD.
"Silahkan Bapak dan Ibu tunggu diluar. Dokter akan segera menangani anak Bapak," ucap salah satu perawat yang langsung menutup pintu UGD itu.
"Mas, aku sangat khawatir sama keadaan Saga," ucap Resti pada suaminya.
"Tenanglah, Saga pasti baik-baik aja. Aku akan menghubungi mama dulu," ucap Ken langsung mengambil ponselnya untuk memberitahu keadaan Saga pada mamanya. Ken segera berjalan sedikit menjauh dari UGD, karena disana lumayan ramai.
"Bagaimana Mas?" tanya Resti saat Ken sudah berada lagi disampingnya.
"Mama akan segera ke sini," ucap Ken seadanya. Ken bersyukur mamanya mau datang ke rumah sakit walaupun kemarin Bella sempat marah padanya.
Ken dan Resti segera melangkah ke arah pintu UGD yang baru saja dibuka oleh seorang dokter disana.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Ken langsung.
"Keadaan anak Bapak baik-baik saja. Dia hanya mengalami demam ringan. Saat ini panasnya sudah menurun, namun saya sarankan agar anak Bapak dirawat disini, setidaknya satu hari, sampai keadaannya kembali stabil seperti semula," jawab dokter itu menjelaskan.
"Tentu Dok. Apakah sekarang saya boleh melihatnya?" tanya Ken lagi yang sudah bisa bernafas lega, ternyata anaknya hanya mengalami demam biasa.
__ADS_1
"Silahkan Pak. Sebentar lagi anak bapak juga akan dipindahkan ke ruang rawat," ucap dokternya lagi.
Tanpa mengeluarkan kata lagi, Ken segera masuk untuk melihat anaknya, diikuti Resti dibelakangnya.