CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
75


__ADS_3

4 tahun kemudian


Terdengar langkah kaki anak kecil berusia 3 tahun, yang membuat gaduh satu rumah. Dia terlihat berlari-lari mengitari ruang tamu dengan ukuran sempit. Di belakangnya, gadis kecil berusia 7 tahun mengejarnya dengan nafas yang tidak beraturan.


"Wah Tante payah, masa baru cegini udah cape," ucapnya dengan nada lucu pada gadis kecil 7 tahun itu.


Lucu bukan? Masih berumur 7 tahun tapi sudah mendapat gelar sebagai seorang tante. Ya, dia adalah Keyla, adik kecil Jingga yang dulu masih kecil, kini sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang imut, dan kini dia sudah menempuh pendidikan di jenjang Sekolah Dasar.


"Awas ya kalo ke tangkap, akan Kakak buat jadi rempeyek!" ucap Keyla kesal. Dia bukan hanya cape terus kejar-kejaran, tapi dia juga kesal masih terus di panggil tante, padahal Jingga sudah menyuruhnya untuk memanggil Keyla dengan sebutan kakak.


Namun tiba-tiba saja mereka langsung menghentikan aksi kejar-kejarannya itu, saat melihat bundanya tengah berdiri tepat didekat pintu. Tatapannya membuat Keyla dan keponakannya langsung menciut, langsung saja mereka menundukan kepalanya takut.


"Sudah puas bermainnya? Berapa kali Bunda melarang kalian untuk tidak berlarian di dalam rumah, tapi kalian tetap saja melakukannya," ucap Jingga awalnya sedikit kesal, tapi segera melembut saat melihat wajah bersalah anak-anaknya.


"Maafkan kami Bun," ucap mereka serentak.


"Baiklah, Bunda maafkan. Tapi lain kali jangan diulangi ya sayang. Kalian mau kan berjanji?" tanya Jingga menatap bergantian anak-anaknya.


"Iya Bunda, Keyla berjanji!" ucap Keyla.


"Nayla juga berjanji Bun!" ucap Nayla semangat sambil menunjukan giginya yang terlihat ompong di bagian depannya.


Jingga tersenyum mendengarnya, dia sangat senang melihat kedua anaknya. Keyla adiknya, dia anggap sebagai anaknya, dan satu lagi, Nayla Anindita yang merupakan anak dia dengan Ken, mantan suaminya terdahulu.


"Baiklah, sekarang kalian harus makan, karena Bunda sudah memasak makanan kesukaan kalian," ucap Jingga lagi.


"Ayo Bunda, aku sudah lapar!" ucap Nayla semangat. Aksi kejar-kejaran bersama kakaknya membuat dia jadi lapar.


Tanpa menjawab lagi, Jingga langsung menuntun kedua anaknya ke ruang makan sederhananya. Tapi walaupun begitu, dia tetap mensyukurinya karena di sanalah tempat dia menyimpan banyak kenangan bersama orang tuanya dulu. Dan kini, tempat itu juga menjadi tempat yang menyimpan banyak kenangan antara dia dengan anak-anaknya.


"Bunda... " rengek Keyla.

__ADS_1


"Iya sayang, ada apa?" tanya Jingga sambil melihat ke arah anaknya.


"Key kesal sama Nayla. Masa dia panggil Key dengan sebutan 'Tante'," adu Keyla dengan nada manja.


"Kan benar kalo Tante itu Tantenya aku," ucap Nayla dengan gaya lucu.


"Memang benar Kak Key itu tantenya Nayla. Tapi Nayla harus ingat, kalo Kak Keyla sudah jadi kakaknya kamu sayang," ucap Jingga menjelaskan.


"Jadi kamu jangan lupa buat panggil... " ucap Keyla memberi jeda agar adiknya menjawabnya.


"Tante," ucap Nayla cepat, membuat Keyla menepuk keningnya. Sedangkan Jingga hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Kakak, Nay. Bukan Tante," ucap Keyla menegaskan lagi, namun sang adik hanya tertawa senang.


"Hehe, iya Kak. Aku cuma becanda ko," ucap Nayla tersenyum lima jari.


"Sekarang anak-anak Bunda harus makan, agar cepat besar dan juga sehat," ucap Jingga segera meletakan makanan ke atas piring Keyla dan Nayla secara bergantian.


"Baiklah, sini Bunda suapin!" ucap Jingga segera mengambil piring Nayla, memberi satu sendok makanan pada mulut anaknya.


"Kenapa gak makan sendiri aja Nay, kan kasian Bunda gak makan," ucap Keyla melirik kesal ke arah adiknya.


"Gak papa, wek," balas Nayla dengan menjulurkan lidahnya.


"Ih kamu nyebelin Nay," kesal Keyla pada adiknya itu.


"Sudah sayang, kalian jangan ribut ya! Baru saja Bunda lihat kalian diam, sekarang sudah mulai lagi," ucap Jingga lagi, namun begitu dia tetap senang. Rutinitasnya selalu saja seperti itu, melihat anak-anaknya bertengkar. Dan sekarang hidupnya dipenuhi canda dan tawa Keyla dan Nayla.


"Tapi Bunda jadi gak makan, karena menyuapi Nayla," ucap Keyla.


"Gak papa sayang, nanti Bunda makan ko," ucap Jingga sambil mengusap puncak kepala Keyla.

__ADS_1


"Iya Bun. Nanti Bunda mau ke toko?" tanya Keyla.


"Iya sayang, nanti setelah makan Bunda ke toko sebentar, untuk mengecek bahan-bahan yang sudah habis. Kenapa memangnya?" tanya Jingga.


"Gak papa Bun," jawab Keyla singkat.


Sebenarnya Keyla merasa kasihan melihat bundanya, yang setiap hari bekerja keras untuk dia dan adiknya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tak cukup tenaga dan tak cukup usia untuk membantu bundanya dalam menyambung hidup.


Saat ini Jingga mempunyai toko kue kecil-kecilan, yang dia bangun dengan susah payah. Bermodalkan tabungan yang dia punya untuk merintis usahanya, walaupun dia masih menyewa sebuah ruko, tetapi Jingga merasa bersyukur, semua itu sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kedua anaknya. Tak jarang pula dia harus membawa Keyla dan Nayla ke toko, saat ada pesanan mendadak pada malam hari.


Jingga tak merasa sedih dengan keadaanya yang harus berjuang demi menghidupi dirinya dan juga kedua anaknya. Karena rasa lelahnya terbayarkan saat melihat Keyla dan Nayla tersenyum bahagia. Dia juga merasa bangga dengan kedua anaknya itu, walaupun usia mereka masih kecil, namun mereka tak pernah meminta ini dan itu, memaksa dengan keadaan mereka yang sederhana itu.


"Bunda, aku mau ikut ya," ucap Nayla yang sudah menghabiskan makanannya.


"Kamu di rumah aja Nay, sama Kakak," bujuk Keyla. Dia tahu betul jika adiknya ingin pergi ke toko. Pasti Nayla akan mencomot kue-kue buatan bundanya.


"Gak mau! Aku maunya ikut Bunda!" ucap Nayla merajuk. Dia ingin ikut ke toko tapi kakaknya itu selalu melarangnya.


"Tapi nanti kamu akan merusak kue-kue buatan Bunda," ucap Keyla lagi.


"Bunda... Lihat Kakak! Masa aku gak boleh ikut cama Bunda," adu Nayla pada bundanya.


"Bukan gak boleh sayang. Tapi Bunda cuma pergi sebentar. Kamu di rumah aja ya sama kakak kamu," ucap Jingga lembut.


Dia berusaha menjelaskan pada Nayla yang terkadang susah di bujuk, sangat teguh dengan keinginannya. Entahlah, sifatnya itu menurun dari siapa, membuat Jingga harus lebih banyak kesabaran. Mungkin sifat keras kepalanya itu diturunkan oleh ayahnya, pikir Jingga.


"Bunda cama aja dengan Kakak, jahat!" ucap Nayla yang sebentar lagi akan menangis.


"Baiklah, baik. Kamu sama kakak kamu akan ikut sama Bunda. Tapi bunda minta, kamu jangan nakal ya sayang!" ucap Jingga lagi.


"Oke Bun," balas Nayla antusias. Matanya yang sudah berair perlahan menghilang, berganti dengan wajah sumringahnya. Sedangkan Keyla hanya melihat saja, tak mau menambah kekesalan pada adiknya.

__ADS_1


__ADS_2