CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
23


__ADS_3

Hari ini tepatnya Dafa akan pergi mengunjungi neneknya yang berada di kota Malang. Walaupun disana dia berencana hanya menginap 3 hari, namun barang bawaan Dafa sangatlah banyak, bahkan harus memakai 2 koper dan itu membuat Ray geleng-geleng kepala.


"Kamu ini mau nginep atau mau pindah. Katanya cuma 3 hari, tapi lihatlah! Barang yang kamu bawa seperti orang yang kabur karena dipaksa menikah," ucap Ray yang heran namun dengan kekehan diakhir.


"Ck! Kakak gak tahu aja, kalo nanti disana aku bakal sering mengunjungi tempat-tempat yang indah, jadi membutuhkan pakaian ganti yang banyak. Aku gak mau ya, nanti pas jalan-jalan ketemu sama wanita-wanita yang cantik, tapi aku pakai baju yang itu-itu aja," balas Dafa.


"Jadi niat ke Malang cuma buat goda-godain gadis disana ya?" tebak Ray.


"Good. Siapa tahu ada gadis yang cocok, yang bisa diajak buat naik ke pelaminan sama aku," jawab Dafa enteng.


Ucapan Dafa membuat Ray melongo. Dafa saja sekarang masih kuliah, kenapa dia sudah memikirkan soal pernikahan? Pikir Ray yang tak habis pikir. Ray langsung menggetok kening Dafa.


"Aw... Sakit Kak," ucap Dafa setengah kesal pada Ray yang sengaja menggetok keningnya. Dia langsung mengusap-usap keningnya.


"Masih kecil jangan mikirin soal nikah. Kuliah aja yang bener, biar jadi orang sukses. Setelah itu baru cari pasangan kalo bener-bener udah siap," balas Ken dengan wajah berpura-pura kesal.


"Hahaha," Dafa tertawa lepas melihat bagaimana respon kakaknya itu.


"Ck! Malah ngetawain," ucap Ray berdecak kesal.


"Habisnya Kakak lucu. Aku tuh ngomong gitu cuma bercanda kali Kak, tapi Kakak begitu serius nanggepinnya, hahaha," ucap Dafa yang masih belum bisa mengontrol tawannya.


Ray hanya mendengus melihat adiknya itu.


"Makanya jadi orang jangan terlalu serius Kak. Sekali-kali harus santai, enjoy aja. Ubah sikap Kakak yang dingin seperti es di kutub itu, siapa tahu Jingga bisa ngelirik Kakak," ucap Dafa lagi dengan terkekeh.


"Sudahlah, omongan kamu jadi ngelantur kemana-mana. Mending sekarang berangkat gih!" ucap Ray lagi.


"Ish! Ngusir aku Kak?" tanya Dafa dengan nada imut.


"Kalo bisa, nanti bujuk nenek agar mau tinggal disini," ucap Ray yang tak menghiraukan ucapan adiknya tadi.


"Emang kenapa?" tanya Dafa penasaran.

__ADS_1


"Ya, Kakak cuma pengen, nenek tinggal disini bareng kita. Kakak gak tega melihat nenek tinggal disana sendiri, apalagi kita jarang mengunjunginya," jawab Ray.


"Iya Kak. Tapi aku gak bisa janji ya, soalnya Kakak tahu sendiri gimana nenek," ucap Dafa yang dibalas anggukan oleh Ray.


"Baiklah, aku pergi dulu," ucap Dafa yang segera memasukan kopernya kedalam mobil.


"Hati-hati!" ucap Ken pada Dafa yang sudah melajukan mobilnya.


...----------------...


Di rumah Ken, kini tengah kedatangan kedua orang tuanya. Mereka datang pagi-pagi sekali membuat Ken sedikit mengerutkan keningnya. Ternyata mereka datang untuk menemui Jingga, karena mereka sangat merindukan menantunya itu.


Jingga tentu sangat senang dengan kedatangan mertuanya. Sekarang mereka tengah duduk santai di ruang keluarga, termasuk Resti yang juga ikut duduk disana. Walau Resti ikut bergabung bersama mereka, namun itu tak membuat Bella merasa risih, lagi pula kedatangannya itu hanya untuk bertemu dengan menantu kesayangannya.


"Ma, besok Jingga mau kerumah ayah," ucap Jingga sambil melihat kearah mamanya yang duduk di sofa sebelah pinggir dengan papanya.


"Loh, memang ada apa sayang? Kamu dan Ken gak lagi berantem kan?" tanya Bella penasaran sekaligus kaget.


"Enggak Ma. Jingga cuma kangen sama ayah," jawab Jingga.


"Kalian pergi berapa hari?" Kini giliran Roy yang bertanya.


"Jingga pergi cuma 2 hari Pa. Karena Mas Ken mengizinkannya cuma 2 hari,"


"Maksudnya, kamu pergi sendiri?" tanya Bella sedikit terkejut. Karena setahu dia, baru kali ini Ken membiarkan Jingga pergi sendiri. Karena biasanya Ken selalu menemani Jingga, kalau pergi kemana-mana.


"Iya Ma. Mas Ken disini jagain Resti. Usia kandungan Resti kan udah besar, takutnya dia membutuhkan sesuatu, kan kalo ada Mas Ken yang jagain, dia bisa membantu Resti," jawab Jingga lagi.


"Tadinya aku mau nemenin Jingga Ma, tapi dia tetep nyuruh aku buat jagain Resti disini," ucap Ken yang sebenarnya tak rela Jingga pergi sendiri.


"Ya sudah. Tapi kamu disana jaga diri baik-baik ya!" ucap Roy.


"Iya Pa," balas Jingga seadanya.

__ADS_1


"Hmm, apakah kamu akan memberitahukan soal ini pada ayahmu sayang?" tanya Bella pada Jingga sambil sedikit melirik kearah Resti.


"Oh itu Ma. Jingga gak bakal ngasih tahu soal ini Ma. Biarlah soal ini ayah gak tahu, takutnya malah membuat ayah khawatir," jawab Jingga yang membuat Bella bernafas lega.


"Benar Ma kata Jingga. Biar masalah ini kita saja yang mengetahuinya," ucap Roy yang setuju dengan ucapan Jingga.


"Maaf, tapi aku mau izin ke kamar, tiba-tiba punggung aku terasa pegal," ucap Resti disela obrolan mereka.


"Iya Res, lebih baik kamu istirahat aja," balas Jingga.


"Iya, kamu harus banyak istirahat, buat jaga kesehatan kamu dan bayi kamu," ucap Bella ikut menambahkan.


Dia merasa harus memberikan perhatian walau itu hanya perhatian kecil pada menantu keduanya itu.


Walaupun Bella tak menampik bahwa dia masih merasa kecewa dengan perbuatan Resti, tapi dia juga merasa sedikit khawatir pada calon cucunya.


"Iya. Kalo begitu aku permisi ke kamar dulu," ucap Resti dan langsung pergi kekamarnya.


"Sayang... Nanti aku bakal kangen dong, ditinggal 2 hari sama kamu," ucap Ken manja dan langsung menyadarkan kepalanya pada bahu Jingga.


"Mas, kamu jangan gini. Malu tahu dilihat sama Mama dan Papa," ucap Jingga berbisik ke telinga suaminya.


"Gak papa sayang. Lagian aku manja kaya gini juga sama istri aku," ucap Ken santai dan malah sengaja menambahkan volume suaranya.


Bella dan Roy yang mendengarnya pun hanya tersenyum. Mereka merasa senang, karena walaupun rumah tangga mereka tengah dilanda masalah, tapi hubungan Ken dan Jingga tetap harmonis.


"Haha, biarkan saja sayang. Mama jarang liat Ken yang seperti itu. Sangat, sangat manja," ucap Bella terkekeh.


"Tuh kan sayang, kata Mama aja gak papa," ucap Ken sambil menenggelamkan wajahnya pada lengan sang istri.


Sontak saja perlakuan Ken membuat Jingga merasa malu, bahkan dia tak bisa menutupi wajahnya yang sekarang memerah bak kepiting rebus. Bisa-bisanya Ken melakukan ini didepan mertuanya, pikir Jingga tak habis pikir.


Karena Jingga sangat malu pada mertuanya, yang terus menatap dia dan Ken sambil tersenyum tipis, Jingga langsung saja mencubit pinggang suaminya.

__ADS_1


"Aw... Hahaha," Ken langsung kaget dengan cubitan istrinya, namun dia langsung tertawa lepas kala dia melihat wajah istrinya yang sangat merah karena malu.


Sedangkan Bella dan Roy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak mereka itu. Namun disisi lain, Bella dan Roy berharap rumah tangga Ken dan Jingga tak akan pernah berakhir, walaupun kini ada Resti ditengah-tengah rumah tangga mereka.


__ADS_2