
Hari menjelang sore, namun tak terlihat tanda-tanda kepulangan Jingga dan adiknya. Hal itu dimanfaatkan oleh Resti untuk menghabiskan waktu bersama mertuanya. Pasalnya, Bella datang ke rumah anaknya untuk menemui Jingga, namun Jingga dan adiknya sudah pergi keluar sejak masih pagi.
Saat ini Ken juga belum pulang dari kerjanya, jadi hanya ada Resti, anaknya dan juga mama mertuanya. Resti tersenyum penuh kemenangan saat melihat Bella yang bahagia bersama anaknya. Jika begini, pasti mama mertuanya tak akan menghalangi Ken yang akan menceraikan Jingga, pikirnya.
"Bagaimana Res, apakah kamu kerepotan mengurus Saga sendiri?" tanya Bella sedikit menoleh ke arah Resti yang ada disampingnya.
"Lumayan Ma, apalagi kalo Saga sedang rewel," jawab Resti.
"Kalo kamu merasa kerepotan, mending pakai pengasuh saja, buat bantu-bantu," ucap Bella lagi.
"Aku udah pernah bilang sama mas Ken Ma, tapi dia bilang gak usah, biar aku yang ngurus Saga sendiri, karena dia gak mau anaknya di asuh sama orang lain," ucap Resti lagi.
"Begitu ya. Ya sudah, nanti kalau kamu merasa kerepotan, kamu bisa minta tolong sama Mama," ucap Bella pada Resti, sambil terus menghujani Saga dengan ciumannya.
"Iya Ma. Hm, sepertinya Mas Ken udah pulang, sebentar ya Ma, aku ke depan dulu," ucap Resti langsung berdiri, saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.
"E? Jam segini dia sudah pulang?" tanya Bella sedikit heran, karena masih siang tapi anaknya sudah pulang kerja.
"Mungkin Ma, aku juga gak tahu," jawab Resti sebelum melangkahkan kakinya ke luar.
Dengan langkah cepat, Resti berjalan menemui suaminya yang baru turun dari mobilnya.
"Loh Mas, udah pulang?" tanya Resti saat menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Hm," Hanya deheman yang keluar dari mulut Ken, membuat Resti mendengus kesal. Setelah itu Resti langsung mengikuti langkah kaki suaminya yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Tumben masih siang sudah pulang?" tanya Bella saat melihat anaknya masuk dan duduk didepannya.
"Iya Ma, ada yang harus aku selesaikan," jawab Ken dengan wajah kusut, membuat Bella mengerutkan keningnya.
"Res, ajak Saga ke kamar. Sepertinya dia haus, berilah susu untuknya!" ucap Bella sambil menyerahkan Saga pada ibunya.
"Iya Ma," balas Resti yang langsung melangkah menuju kamarnya.
"Kenapa wajahmu kusut sekali? Apa ada masalah?" tanya Bella penuh lembut, penuh keibuan, sesaat setelah Resti masuk ke dalam kamarnya.
"Besok surat cerai aku dan Jingga dikirim Ma," jawab Ken yang sontak membuat Bella membelalakan matanya.
"Sebenarnya aku udah ngajuin gugatan cerainya udah dari bulan lalu. Jadi mungkin besok surat itu dikirimkan ke rumah ini," jawab Ken.
"Jadi kamu benar-benar ingin menceraikan Jingga? Kenapa kamu bisa membuat keputusan seperti itu? Tidak, pokoknya Mama tidak setuju kamu berpisah dengan Jingga. Apalagi papa kamu, bisa-bisa penyakitnya kambuh lagi, jika dia mendengar berita ini," ucap Bella dengan suara meninggi.
Jika biasanya Bella bersikap tenang jika menghadapi masalah, atau menghadapi suami dan anaknya yang bertengkar, kini Bella tak dapat menahan kekesalannya.
"Maafkan aku Ma, tapi ini sudah menjadi keputusan aku," ucap Ken lagi.
"Ken, Mama mohon kamu urungkan niat kamu itu. Mama gak mau kamu berpisah sama Jingga. Mama gak bisa melihat Jingga terluka lagi, sudah cukup dia berkorban untuk rumah tangga kalian," ucap Bella yang sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
__ADS_1
Ken hanya diam, tak membalas ucapan mamanya ataupun membela keputusannya. Dia juga tidak menginginkan hal ini, tapi apa lagi yang bisa dia lakukan untuk kebaikan Jingga. Ken tak mau terus-terusan melihat Jingga menjalani kehidupan seperti ini. Ken ingin melihat Jingga bahagia, tanpa harus mengorbankan perasaannya. Sudah cukup Jingga merelakan kebahagiaannya demi wanita lain.
"Apakah kamu sudah tidak mencintai Jingga lagi?" tanya Bella yang membuat Ken bungkam. Tak ada sedikitpun Ken tak mencintai Jingga, pikirnya.
"Apakah itu penting?" tanya Ken balik.
"Ternyata kamu masih mencintainya. Kamu tak bisa berbohong Ken, karena Mama tahu perasaan kamu sebenarnya. Ingat Ken, jangan pernah mengambil keputusan yang akan kamu sesali di masa depan. Yang menurut kamu baik, belum tentu bisa menjamin kebahagiaan seperti yang kamu bayangkan," ucap Bella yang mulai melembut. Tatapan Ken menjelaskan perasaanya, bahwa dia masih sangat mencintai Jingga, dan Bella bisa melihat itu.
"Aku gak bisa membiarkan Jingga terus berada dalam situasi ini Ma. Dia terus saja mengorbankan perasaannya, hanya untuk wanita lain, untuk madunya sendiri.
Aku sebagai suami tidak bisa memilih salah satunya, karena aku harus bersikap adil. Aku tidak bisa menceraikan Resti, karena aku tidak mau membuat anak aku menjadi korbannya. Tapi disisi lain aku juga tidak tega melihat Jingga melalui hal ini terus, ini tak sangat tak adil untuk Jingga Ma," ucap Ken menundukan kepalanya, menumpahkan segala emosi yang di pendamnya.
Beberapa bulan belakangan ini, Ken sengaja merubah sikapnya menjadi dingin dan datar pada Jingga. Berharap Jingga merasa lelah dengan semuanya, dan akhirnya dia meminta Ken untuk menceraikannya. Tapi diluar dugaan Ken, Jingga justru menghadapi semuanya dengan sabar, membuat Ken sedikit dibuat bingung olehnya. Terbuat dari apa hatinya, hingga dia bisa melewatinya dengan tenang, dan tidak ada dalam ingatan Ken, bahwa Jingga pernah mengeluh dengan keadaannya, dengan segala sesuatu yang dia lewati dalam situasi ini, hidup bersama istri lain dari suaminya.
"Tapi apakah kamu tahu, betapa terlukanya Jingga, saat kamu mengatakan akan menceraikannya? Dia begitu terluka, dan hancur dalam hitungan detik saat kamu mengatakan bulan depan kamu akan menceraikannya. Ken, Jingga sangat mencintai kamu, dia tak bisa menjalani hidupnya tanpa dirimu disampingnya. Yang dia punya saat ini, hanyalah kamu, suaminya. Setelah kedua orang tuanya meninggal, hanya kamu satu-satunya harapan yang dia punya, hanya kamu hidupnya. Mama tidak bisa membayangkan keadaan Jingga nanti, saat kamu benar-benar menceraikannya," ucap Bella lagi. Dia terus membujuk anaknya, untuk mengurungkan niatnya menceraikan Jingga.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Ma? Sampai sejauh ini, aku belum bisa membahagiakannya, sesuai dengan janji aku dulu, saat aku meminta Jingga untuk menjadi istri aku," ucap Ken yang benar-benar kepalanya ingin pecah. Dia sangat frustrasi memikirkan ini semua.
"Kenapa kamu tidak mencari solusi lain, alih-alih dengan menceraikan Jingga. Percayalah Ken, saat kamu berpikir Jingga bisa bahagia setelah kamu menceraikannya, karena dia tidak akan menderita lagi dengan situasinya saat ini, kamu salah. Justru hal itu yang akan membuat Jingga semakin menderita. Kamu tahu kenapa dia masih bertahan dalam situasi ini, walaupun tak menampik bahwa dia menderita? Karena dia sangat mencintai kamu, dan ingin menjalani hidup bersama kamu selamanya," ucap Bella meyakinkan anaknya. Dia tak mau, Ken salah mengambil keputusan yang akan membuatnya menyesal di kemudian hari.
"Aku berharap setelah perceraian ini, dia bisa menemukan kebahagiaannya," ucap Ken dengan lirih. Bella yang mendengar itu hanya menghela nafas, anaknya itu susah kalau dibujuk.
"Apa yang kamu maksud dengan kebahagiaan setelah perceraian Mas?" tanya Jingga dengan suara tegasnya, yang membuat Ken dan Bella tersentak kaget, dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
__ADS_1