CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
45


__ADS_3

Pagi menyingsing dengan cepat, udara yang tadinya dingin berganti menjadi hangat bersamaan dengan bersinarnya cahaya matahari. Ken yang menjaga Resti semalaman kini sudah terbangun. Dia sudah membersihkan tubuhnya, dan mengganti pakaiannya.


Penampilannya yang cukup rapi, membuat Resti berkerut kening saat dia terbangun dari tidurnya. Resti sedikit mengamati penampilan suaminya, kenapa dia terlihat seperti akan pergi? Apakah dia akan berangkat bekerja? Tapi bukankah suaminya itu sedang cuti? Pikir Resti sedikit bingung.


"Mas, kamu mau kemana udah rapi begini?" tanya Resti penasaran.


"Oh iya, saya belum ngasih tahu kamu. Hari ini saya akan menyusul Jingga ke Malang. Kamu jangan khawatir, karena mama akan ke sini untuk menjaga kamu," jawab Ken sambil melangkah ke ranjang Resti.


"Ha? Kenapa kamu mau ninggalin aku Mas? Bahkan kamu belum membawa anak kita ke sini," ucap Resti kesal.


"Saya harus tahu keadaan Jingga dan ayahnya. Kan saya tadi sudah bilang, mama akan ke sini, jadi nanti dia yang akan membawa anak kamu ke sini," ucap Ken sambil melihat Resti yang sedang kesal.


"Tapi aku maunya kamu tetap disini Mas. Aku mau kamu yang bawa anak kita, dan kita bisa melihatnya bersama-sama," ucap Resti dengan nada yang begitu manja.


"Ya tapi saya harus melihat Jingga sekarang. Setelah keadaan ayahnya baik-baik aja, saya langsung ke sini lagi," ucap Ken lagi.


"Ya udah, tapi kamu disana jangan lama-lama Mas," ucap Resti.


Ken yang mendengar itu hanya mengangguk. Kemudian segera bersiap untuk pergi. Saat Ken mulai melangkah untuk keluar, tiba-tiba saja pintu ruang itu langsung terbuka, dan Bella langsung masuk begitu saja.


"Loh sayang, kamu mau kemana udah rapi begini?" tanya Bella sedikit berkerut kening.


"Aku mau nyusul Jingga ke Malang Ma. Kasian dia sendirian, lagi pula ayahnya juga belum sadar, jadi Ken harus melihat keadaan disana langsung," jawab Ken.


"Benarkah? Ya sudah, kamu hati-hati! Semoga ayahnya Jingga segera pulih. Kamu gak usah khawatir, Mama akan jaga Resti dan anak kamu disini," ucap Bella lagi.


"Baiklah, aku pamit Ma. Assalamu'alaikum," ucap Ken lalu segera bergegas keluar.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bella sambil menatap Ken yang perlahan keluar dari ruangan itu. Kemudian Bella langsung melangkah ke arah Resti yang juga berusaha menyadarkan tubuhnya pada kepala ranjang.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Bella setelah berada disamping Resti. Bella duduk di kursi yang ada disamping ranjang Resti.

__ADS_1


"Aku sudah membaik Ma," jawab Resti.


"Syukurlah. Semoga pemulihanmu cepat, jadi bisa segera pulang. Mama sudah tak sabar, ingin cepat-cepat membawa cucu Mama pulang ke rumah," ucap Bella semangat, membuat Resti semakin yakin bahwa dia sudah diterima oleh mama mertuanya itu.


"Iya Ma," jawab Resti tersenyum.


"Hm, apakah mama kamu sudah tahu kalau kamu sudah melahirkan?" tanya Bella yang merasa harus menanyakan soal itu.


"Sudah Ma. Tapi gak tahu kapan dia bisa jenguk aku, soalnya dia selalu sibuk dengan urusan bisnisnya," jawab Resti dengan nada seperti mengadu.


"Oh begitu ya? Ya sudah, kamu tenang saja, kan masih ada Mama," ucap Bella lagi membuat Resti semakin mengembangkan senyumannya.


Lihatlah! Keadaan sekarang sangatlah sama dengan keadaan yang diinginkan Resti sejak dulu. Dimana dia bisa diperlakukan dengan baik dan lembut oleh suaminya, dan dia juga diterima sebagai menantu oleh orang tuanya Ken, pikir Resti senang.


Tapi kenapa dia bisa melupakan perkataan suaminya waktu lalu, saat Ken akan menceraikannya setelah dia melahirkan anaknya? Tidak! Itu tidak boleh terjadi, sampai kapanpun Resti akan terus menjadi istrinya Ken, dan dia akan terus melakukan apapun untuk mempertahankan rumah tangga yang dengan Ken, pikir Resti dalam hati.


"Ma, aku ingin terus menjadi menantu Mama," ucap Resti setelah lama berpikir. Benar, dia harus menarik rasa simpati mama mertuanya, agar dia berada dipihaknya dan membuat Ken membatalkan keinginan untuk menceraikannya.


"Iya Ma, tapi mas Ken mau menceraikan aku, setelah aku melahirkan anaknya," ucap Resti lagi mengadu.


"Benarkah?" tanya Bella terkejut.


"Iya Ma. Aku gak tahu kenapa mas Ken mau menceraikan aku, tapi sepertinya kak Jingga alasannya," ucap Resti yang terus memengaruhi mama mertuanya.


"Maksud kamu?" tanya Bella tak mengerti.


"Ya kak Jingga kan tidak menyukai aku. Bisa saja dia yang menyuruh mas Ken buat nyeraikan aku," ucap Resti meyakinkan mertuanya.


Bella yang mendengar itu mengerutkan kening dalam-dalam. Setahu dia, Jingga bukanlah wanita yang seperti dikatakan oleh Resti, lagi pula Jingga lah yang menyuruh Ken menikahi Resti waktu itu. Jika seperti ini, apakah Resti sengaja mengatakan itu agar Jingga memiliki kesan buruk baginya?


"Itu tidak mungkin Res, bukankah justru Jingga yang memaksa Ken untuk menikahi kamu waktu itu," ucap Bella sedikit menegaskan bahwa Jingga bukanlah wanita yang tega melihat orang lain terluka.

__ADS_1


"Iya sih Ma," ucap Resti sedikit kesal, kenapa mertuanya itu tidak bisa dipengaruhi olehnya?


"Ya sudah, kamu jangan terlalu banyak pikiran. Saat ini kamu harus banyak istirahat agar kamu bisa cepat pulang. Untuk masalah itu, biar nanti Mama coba bicara sama Ken. Sekarang istirahatlah, Mama mau liat cucu Mama dulu," ucap Bella lagi.


Resti hanya mengangguk, dan Bella langsung keluar. Kalau seperti ini, akan sulit untuk membuat ibunya Ken berpihak pada Resti, tapi untuk saat ini biarlah seperti ini dulu, untuk selanjutnya akan dia pastikan bahwa mama mertuanya itu akan berpihak padanya juga akan lebih percaya padanya, pikirnya.


*****


Di rumah sakit tempat ayah Jingga di rawat, kini sudah kembali ramai oleh pengunjung yang menjenguk keluarganya yang sakit ataupun oleh dokter dan perawat yang berlalu lalang di tempat itu.


Semalaman Jingga terjaga, tak semenit pun dia mengistirahatkan tubuhnya, hanya karena dia takut saat dia tertidur, ayahnya sadar dan dia tak mengetahuinya. Namun apa yang diharapkan Jingga sama sekali tidak jadi kenyataan, semalaman dia menunggu, namun ayahnya itu tak kunjung sadar.


Saat ini, dia sudah membersihkan tubuhnya namun adiknya masih tertidur di kursi tunggu pasien. Walaupun Jingga tahu bahwa seharusnya Keyla tak berada di rumah sakit, karena usianya yang masih kecil dan mudah terserang penyakit, namun apa daya, Jingga tak tahu harus menitipkan adiknya pada siapa, sementara tempat tinggal kerabat-kerabatnya sangatlah jauh.


Saat mengingat percakapan dia dengan suaminya semalam, dia merasa tak enak pada Ray. Pasalnya setelah Ken memutuskan panggilan teleponnya, rupanya Ray sedikit mendengar percakapannya itu, sehingga Ray pamit pulang ke rumah neneknya karena tahu suaminya Jingga akan datang.


Dering ponsel terdengar membuat Jingga mengalihkan pandangan pada ponselnya. Namun dia tetap mengelus kepala adiknya yang kini tidur dalam gendongannya.


"Hallo assalamu'alaikum Mas," ucap Jingga setelah mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari suaminya.


"Wa'alaikumsalam. Sayang, Mas udah di perjalanan, sebentar lagi Mas sampai," ucap Ken di seberang.


"Iya Mas, aku tunggu disini. Kamu hati-hati ya!" ucap Jingga.


"Iya sayang. Kamu udah makan belum? Kalo belum nanti Mas bawakan sekalian," ucap Ken yang khawatir dengan Jingga.


"Belum Mas, aku gak nafsu makan," ucap Jingga lagi.


"Kamu gak boleh seperti itu sayang, kamu juga harus menjaga kesehatan kamu, kalo kamu sakit nanti siapa yang menjaga ayah. Nanti Mas, bawa makanan ya, sekarang Mas tutup dulu teleponnya, sebentar lagi Mas sampai ko," ucap Ken.


"Iya Mas," jawab Jingga seadanya lalu setelah itu Ken langsung menutup panggilan teleponnya.

__ADS_1


Jingga sebetulnya juga ingin bertemu dengan suaminya, walaupun satu hari dia tidak bertemu namun rasa rindu itu tidak bisa dia tahan. Namun apakah dia siap menerima kabar lagi dari suaminya tentang kelahiran anaknya dari Resti?


__ADS_2