
Ruangan yang didominasi warna putih menjadi tempat perawatan Ray saat ini, setelah beberapa hari lalu dia sadar melewati masa kritisnya. Namun keadaannya berubah total setelah menjalani operasi itu. Dokter mengatakan bahwa Ray mengalami Paraplegia yang mengakibatkan kelumpuhan pada kedua kakinya. Hal tersebut disebabkan oleh cedera pada sumsum tulang belakang akibat kecelakaannya beberapa hari lalu.
Hal itu tentu membuat semua orang tak percaya mendengarnya, terlebih pada diri Ray sendiri. Dia tak menyangka bahwa dirinya mengalami kelumpuhan. Sejak saat Ray mengetahui bahwa dirinya lumpuh, dia menjadi pendiam, tak sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya, membuat semua orang sangat khawatir melihat keadaannya. Terutama istrinya, Jingga tak bisa menahan rasa sedihnya saat melihat suaminya yang hanya diam menatap lurus ke depan.
"Mas... " panggil Jingga lembut sambil mengusap punggung tangan suaminya, berharap suaminya kembali seperti dulu walaupun kini keadaannya mengalami perubahan.
Sedangkan Dafa dan neneknya yang berada di samping Ray hanya memperhatikan saja, mereka juga sangat sedih, terutama pada Lastri yang tak menyangka cucu kesayangannya mendapat cobaan seperti itu.
"Mas, kamu makan ya, aku suapin. Nenek udah bawa makanan kesukaan kamu," ucap Jingga lagi.
Namun Ray tetap bergeming, tak sedikit pun dia membalas ucapan istrinya, atau sekedar meliriknya.
"Sayang, kamu harus makan, atau kamu mau Nenek yang suapin kamu," ucap Lastri ikut sedih melihat keadaan cucunya seperti itu, bahkan Dafa juga tak bisa menahan kesedihannya.
"Mas," ucap Jingga tak menyerah.
"Kak, nanti setelah makan, aku akan bawa Nayla dan Keyla ke sini, agar bisa menemani Kakak," ucap Dafa ikut membujuk, namun rupanya usahanya pun sia-sia, karena Ray tetap bergeming.
Melihat hal itu, air mata Jingga tak bisa dia bendung lagi. Hatinya sangat sakit saat melihat keadaan suaminya yang tidak ada perubahan.
"Kalian keluarlah, aku hanya ingin sendiri," ucap Ray pada akhirnya, membuat semua orang menatapnya dengan heran.
"Kenapa Mas, apakah kamu perlu sesuatu?" tanya Jingga sambil menatap suaminya.
"Aku bilang, aku hanya ingin sendiri. Jadi tolong keluar dari sini!" ucap Ray lagi.
Dafa dan neneknya saling berpandangan, saling menyalurkan rasa khawatir saat melihat sikap Ray yang seperti itu. Sedangkan Jingga sudah menangis sesegukan.
__ADS_1
"Tapi Mas, kita semua mau menjaga kamu," ucap Jingga sambil mengusap air matanya.
"Sudah aku bilang, aku hanya ingin sendiri!" ucap Ray dengan nada tinggi membuat Jingga tersentak kaget.
Tak hanya Jingga yang merasa kaget, Dafa dan neneknya pun merasa kaget karena Ray berbicara dengan suara kerasnya, karena menurut mereka, ini kali pertamanya Ray berbicara dengan nada seperti itu.
"Sayang, ayo kita keluar. Mungkin Ray butuh waktu," ucap Lastri menenangkan cucu menantunya, dia langsung mengajak Jingga keluar, walaupun itu adalah hal yang sulit bagi Jingga, namun tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan suaminya.
Setelah Jingga, adik dan neneknya keluar, Ray baru bisa menumpahkan semua kesedihannya. Rasa marah, tak percaya dan sedih bercampur menjadi satu, dan air mata yang mengalir deras mewakili perasaannya saat ini. Ray tidak ingin membuat orang yang di sayanginya khawatir dengan keadaannya sekarang, yang tidak bisa berjalan.
Apalagi saat melihat wajah sedih istrinya, hati Ray sangat sakit. Belum sempat Ray membahagiakan istrinya itu, tapi sekarang keadaannya malah membuat Jingga terus mengeluarkan air mata. Ray merasa dirinya tidak berguna lagi sebagai seorang suami. Kini dia hanya akan menjadi beban bagi istrinya dan orang-orang tersayangnya.
"A!!! Kenapa ini bisa terjadi padaku? Lalu apa yang harus aku lakukan kedepannya, dengan kaki lumpuh ini!" ucap Ray berteriak, meluapkan segala kekesalannya.
Ray terus memukul-mukul kakinya yang tidak bisa dia gerakan sama sekali. Dia berusaha untuk menggerakan kakinya namun tak bisa. Dia mencabut jarum infus yang ada di tangannya, membuat darahnya keluar dengan banyak, namun dia tak peduli itu, dia hanya ingin bisa menggerakan kakinya.
Brukhhh!!!
Mendengar suara itu, baik Jingga maupun Dafa, langsung masuk lagi ke dalam ruangan karena takut terjadi sesuatu pada Ray. Dan akhirnya ketakutan mereka benar saat setelah mereka masuk, Ray terjatuh dari ranjangnya dengan tangan yang masih mengeluarkan darah karena cabutan paksa jarum infusnya.
"Mas, apa yang terjadi sama kamu?" tanya Jingga langsung menghampiri suaminya, dan Dafa pun melakukan hal yang sama.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ray pelan, namun posisinya masih sama seperti sesaat setelah terjatuh, yaitu tubuhnya bertengkurap.
"Daf, ayo bantuin Kakak," ucap Jingga meminta Dafa untuk membantu mengangkat Ray, kembali ke atas ranjang.
Dafa langsung ikut membantu Jingga, memapah Ray dengan kedua lengannya, dan Jingga segera membereskan ranjang perawatan Ray yang berserakan akibat kekesalannya Ray tadi.
__ADS_1
"Aku akan panggilkan perawat dulu, untuk memasang kembali infus Kak Ray," ucap Dafa segera melangkah pergi.
"Gak perlu Daf," ucap Ray yang membuat Dafa menghentikan langkahnya, padahal dia sudah berada di ambang pintu.
"Kenapa Mas?" tanya Jingga langsung.
"Percuma saja, karena kaki aku tidak akan bisa di gerakan lagi. Jadi, aku mau pulang saja," jawab Ray.
"Mas, aku yakin kamu akan sembuh, jadi kamu jangan menyerah seperti ini," ucap Jingga menatap sendu suaminya.
"Iya Kak, aku juga yakin Kakak akan sembuh. Bila perlu nanti kita ke luar negeri untuk mencari dokter terbaik, agar kaki Kakak bisa sembuh," ucap Dafa menambahkan, bagaimana pun juga dia tak ingin melihat kakaknya terpuruk dengan keadaannya seperti itu.
"Iya Mas, benar apa yang dikatakan Dafa," ucap Jingga.
"Daf, kamu urus kepulangan Kakak secepatnya," ucap Ray yang mengabaikan ucapan Jingga dan Dafa tentang pengobatannya ke luar negeri, karena dia tahu, kelumpuhan bukanlah hal yang mudah untuk disembuhkan.
Dafa dan Jingga hanya bisa menuruti ucapan Ray, sekeras apapun mereka membujuknya, tapi Ray tetap kukuh dengan keinginannya.
"Baiklah, aku akan berbicara dulu dengan dokter," ucap Dafa yang langsung melangkah keluar setelah mengatakan itu.
Sedangkan Jingga menatap suaminya dengan pandangan khawatir. Perubahan sikap suaminya membuat dia takut dengan kondisi suaminya nanti. Tapi Jingga berjanji untuk terus membantu suaminya agar tetap semangat menjalani kehidupannya.
"Mas," ucap Jingga sambil menatap suaminya yang hanya diam.
"Maafkan aku, jika aku akan menjadi beban untukmu sayang," ucap Ray sedikit membalikan tubuhnya agar bisa melihat keseluruhan wajah istrinya.
"Mas, jangan pernah bilang seperti itu. Kamu segalanya bagi aku, jadi apapun keadaan kamu, kamu tetap suami terbaik yang aku punya. Aku hanya minta, kamu jangan pernah putus asa dengan keadaan kamu. Cobaan ini, sudah Allah takar dengan kemampuan kamu melewatinya. Aku yakin kamu bisa melewati cobaan ini, dan aku sangat yakin kamu akan sembuh Mas," ucap Jingga langsung memeluk erat suaminya.
__ADS_1
Ray langsung membalas pelukan istri tercintanya. Dia tak bisa menahan tangisnya setelah mendengar penuturan istrinya itu. Dia tak akan menyerah lagi, untuk bisa kembali seperti semula dan membahagiakan istri dan anak-anaknya.