
Cahaya matahari perlahan menghilang, tergantikan oleh warna jingga yang begitu cantik. Lorong-lorong rumah sakit yang tadinya sangat ramai oleh pengunjung, kini mulai terlihat sepi. Hanya beberapa orang saja yang masih berlalu lalang di tempat itu.
Beberapa jam setelah Ken dan orang tuanya keluar dari ruang perawatan bayi, mereka langsung mendapat kabar bahwa Resti sudah sadar, membuat Ken dan orang tuanya langsung melihat keadaan Resti.
Kini mereka berada di ruangan yang sama, yaitu di ruang rawat Resti. Rona bahagia tercetak jelas di wajah Resti. Bagaimana tidak, saat dia sudah siuman, Ken dan mertuanya langsung melihat keadaannya. Apalagi tanpa kehadiran Jingga, membuat dia benar-benar merasakan jadi istri sesungguhnya Ken.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Ken sedikit melangkah ke sisi ranjang.
"Aku sudah lumayan membaik Mas," jawab Resti dengan senyuman sumringahnya, sambil menatap wajah tampan suaminya yang kini sedang menatapnya lekat.
"Setelah dokter mengizinkan, saya akan membawa bayi kita ke sini, agar kamu bisa melihat putra tampan kamu," ucap Ken sambil duduk dipinggir Resti.
"Anak kita laki-laki Mas?" tanya Resti sedikit terkejut, pasalnya saat di USG, dokter mengatakan bahwa anak yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan.
"Iya. Dia sangat tampan, bahkan wajahnya sangat mirip denganku," ucap Ken tersenyum, membuat Resti kaget dengan perubahan sikap suaminya, namun dia juga senang, akhirnya Ken bisa bersikap lembut juga padanya.
"Ah, aku jadi tak sabar ingin melihatnya," ucap Resti bahagia. Akhirnya dia bahagia, perubahan yang signifikan pada sikap Ken pada Resti, membuat dia semakin yakin, bahwa kedepannya hanya dia dan anaknya yang akan menjadi perhatian utama Ken.
"Sekarang beristirahatlah, agar keadaanmu semakin membaik, dan bisa melihat bayi kita," ucap Ken lembut. Sungguh aneh bukan? Sikap Ken yang selalu dingin dan datar pada Resti, kini Ken bisa berkata lembut. Bahkan dulu Ken sering menatap Resti dengan tatapan tak sukanya, tapi lihatlah, sekarang tatapan Ken mulai melembut saat melihat istri keduanya itu.
"Iya Mas," ucap Resti tersenyum manis yang dibalas senyuman juga oleh Ken.
"Resti, kami juga pamit pulang. Ken yang akan menjaga kamu," ucap Bella pada Resti.
"Iya Ma. Terima kasih Ma, Pa," ucap Resti tersenyum.
__ADS_1
Bella hanya tersenyum sedangkan Roy sudah melangkah keluar. Bagi Roy, dia masih mempunyai kesan yang buruk dari Resti, sehingga dia tak begitu suka walaupun Resti sudah melahirkan cucu untuknya. Bella segera mengikuti Roy dari belakang, dan mempercepat langkahnya karena Roy sudah keluar lebih dulu.
"Pa, kenapa Papa gak ngomong apapun sama Resti?" tanya Bella penasaran.
"Memang Papa harus ngomong apa Ma?" tanya Roy santai.
"Ya apa aja Pa. Bahkan Papa langsung keluar tanpa pamit sama Resti. Kenapa Papa bersikap seperti itu?" tanya Bella lagi sedikit heran.
"Haruskah Papa bersikap baik padanya? Setelah apa yang sudah dia lakukan pada anak kita dan membuat rumah tangga Ken dan Jingga harus seperti ini," jawab Roy setengah kesal. Bagaimana istrinya itu bisa berubah cepat, padahal dulu dia tidak menyukai Resti. Apakah karena Resti sudah memberinya cucu? Pikir Roy.
"Pa, Mama juga tahu dia sudah berbuat salah. Tapi biarlah itu menjadi masa lalu, dan biarkan itu menjadi pelajaran untuknya agar bisa menjadi lebih baik lagi. Lagi pula dia sudah memberikan kita seorang cucu Pa," ucap Bella lagi.
"Sudahlah Ma, jangan bahas ini. Papa mau pulang!" ucap Roy yang langsung melangkah cepat keluar.
Bella yang mendengar itu semakin mengerutkan kening, tak mengerti kenapa suaminya bisa seperti itu. Namun dia segera berjalan cepat saat suaminya sudah melangkah jauh meninggalkannya.
*****
Saat ini Resti sedang tertidur karena memang dia disarankan untuk lebih banyak beristirahat, agar tubuhnya cepat pulih. Ken duduk di sofa yang ada di ruangan itu, sambil sesekali melirik Resti yang tengah tertidur, dia juga mencoba menghubungi istrinya yang berada di Malang.
Dengan satu panggilan, Ken bisa menghubungi istri tercintanya itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Ken setelah Jingga mengangkat panggilannya.
"Wa'alaikumsalam Mas," jawab Jingga di telepon.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan ayah? Apakah dia baik-baik saja?" ucap Ken langsung mencerca Jingga dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah aku baik Mas. Tapi ayah, dia masih belum sadarkan diri. Kondisinya masih kritis," ucap Jingga dengan nada sedih.
"Benarkah?" tanya Ken kaget. Saat ini mungkin Jingga sangat sedih, harusnya dia ada disamping Jingga untuk memberinya ketegaran, pikir Ken dalam hati.
"Iya Mas. Kamu doain ayah ya, agar segera sadar!" ucap Jingga lagi.
"Iya sayang, Mas pasti mendoakan untuk kesembuhan ayah. Kamu harus sabar ya sayang, besok Mas ke sana, susul kamu," ucap Ken setelah dia berpikir, tak apalah dia meninggalkan Resti, ka dia sudah sadar walaupun saat ini masih dalam proses pemulihan, tapi dia ingin menemui Jingga, pikirnya.
"Tapi bagaimana dengan Resti? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Jingga langsung.
"Dia sudah melahirkan sayang, kamu jangan khawatir. Besok Mas ke sana. Hmm, sekarang kamu masih di rumah sakit sayang?" tanya Ken lagi, dia juga merasa was-was, takut Ray mengambil kesempatan untuk mendekati istrinya.
"Iya Mas. Aku masih di rumah sakit," jawab Jingga seadanya. Entah kenapa saat suaminya mengatakan bahwa Resti sudah melahirkan, membuat perasaannya menjadi tak enak.
"Apakah Ray masih disana?" tanya Ken penasaran.
"Oh iya Mas. Ray masih ada disini, dia baru aja datang setelah mencari Keyla, karena saat aku tiba di rumah sakit, Keyla tidak ada dimanapun, jadi aku meminta bantuannya," ucap Jingga.
Saat mendengar penuturan istrinya, Ken merasa sangat emosi. Ternyata dugaannya benar, Ray sengaja mengambil kesempatan. Kenapa dia tidak pulang saja sih, katanya cuma mengantar Jingga, tapi sekarang dia masih ada bersama Jingga, pikir Ken sangat kesal.
"Sayang, kamu suruh Ray pulang aja. Lagi pula, besok Mas yang akan nemenin kamu disana," ucap Ken dengan mencoba menahan amarahnya.
"Tapi Mas... " ucap Jingga sedikit ragu. Dia sedikit menoleh ke arah Ray, mana mungkin dia bisa mengatakan itu pada Ray, sedangkan dia sudah banyak membantunya, pikir Jingga merasa tak enak.
__ADS_1
"Sayang, turuti saja ucapan Mas!" ucap Ken lagi, dia langsung menutup panggilan teleponnya, membuat Jingga di seberang mengerutkan keningnya.
Udara malam itu terasa dingin, namun kepala dan perasaan Ken terasa sangat panas. Dia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Jingga. Entah apa yang dilakukan Ray saat berada didekat Jingga? Ah! Hanya dengan memikirkannya saja, membuat kepala Ken dipenuhi oleh segala emosinya.