CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
92


__ADS_3

Rumah sederhana Jingga terdengar ramai di malam hari. Tak hanya penghuni utama yang tinggal disana saat ini, tetapi Dafa dan neneknya pun ikut meramaikan suasana rumahnya Jingga. Mereka berharap bisa menghibur Ray yang belum sepenuhnya kembali menjadi Ray yang seperti dulu.


Bahkan Nayla dan Keyla belum bisa membuat wajah Ray kembali ceria. Rupanya kecelakaan yang membuat Ray lumpuh itu langsung mengubah semangat Ray sepenuhnya, hingga dia terlihat tak punya gairah untuk melanjutkan hidup.


"Ayah, besok aku akan buatin kue untuk Ayah," ucap Nayla semangat, dia merangkul tangan ayahnya yang duduk di kursi roda.


Ray hanya tersenyum tipis mendengar ucapan anaknya. Sedangkan Keyla yang melihat ayahnya tersenyum, segera bergeser ke dekat ayahnya.


"Iya Yah, nanti Key bantu buat kuenya. Ayah mau kan?" tanya Keyla setelah berada di depan ayahnya.


Ray yang melihat ke dua anaknya berusaha untuk terus membuatnya semangat, tak tega jika harus mendiamkan mereka seperti itu, tak seharusnya juga dia menunjukan ketidaberdayaan dirinya pada mereka.


"Boleh, tapi kalian memang bisa membuat kue untuk Ayah?" tanya Ray tersenyum sambil merangkul ke dua anak kesayangannya.


Jingga, Citra, Dafa dan neneknya yang melihat Ray yang mulai ceria seperti dulu lagi langsung tersenyum senang. Mereka berharap Ray punya semangat yang besar untuk kesembuhannya.


"Aku jago loh bikin kue Yah," ucap Nayla tersenyum pongah, sedangkan Keyla hanya berdecak kesal melihat gaya adiknya itu.


"Benarkah?" tanya Ray pura-pura tak percaya.


"Iya dong, nanti Ayah pasti akan suka kuenya," ucap Nayla tersenyum lebar, Ray segera mengusap ke dua pipi Nayla.


"Kamu bukan jago bikin kue Nay, tapi kamu lebih jago buat berantakin dapur bunda," ucap Keyla dengan nada yang begitu menjengkelkan bagi Nayla.


"Ih Kakak nyebelin," kesal Nayla sambil mencubit lengan kakaknya.


"Aw, sakit tau Nay," ucap Keyla langsung mengusap lengannya yang di cubit Nayla.


"Baiklah, Ayah pasti menunggu kalian membuat kue buat Ayah. Sekarang sudah malam, jadi putri-putri yang cantik ini harus segera tidur, ya sayang," ucap Ray pada kedua anaknya.

__ADS_1


Keduanya mengangguk serentak, dan langsung memeluk Ray dengan wajah yang sumringah. Tak ada kata yang lebih membahagiakan selain mempunyai dua malaikat kecil yang membuat Ray sedikit melupakan rasa sedih, mengingat kondisinya yang tidak bisa berjalan itu.


Kemudian Jingga segera melangkah mendekati suami dan kedua anaknya. Menekuk lututnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anak-anaknya, menatap suaminya yang juga tengah menatapnya lekat.


"Mas, aku mau bawa Nayla sama Keyla ke kamar dulu ya," ucap Jingga pada suaminya.


"Iya Sayang, sekarang sudah lewat jam tidur mereka," ucap Ray, dan Jingga langsung menggendong Nayla dan menuntun Keyla menuju kamarnya.


"Kak, udah malem, aku sama nenek mau pulang ya," ucap Dafa seraya berdiri dari duduknya.


"Kamu sama nenek gak nginep di sini aja Daf?" tanya Ray sambil menatap neneknya yang tengah bersiap-siap untuk pulang.


"Kami tidak menginap sayang, besok kami ke sini lagi. Kamu harus banyak istirahat, kalau Dafa menginap di sini, takutnya dia mengganggu kamu," jawab Lastri dengan senyuman manis.


"Ih Nenek, kok aku yang jadi tumbalnya, bukannya Nenek yang minta pulang," protes Dafa, namun neneknya hanya tersenyum senang melihat wajah kesal cucunya itu. Entahlah, tetapi Lastri sangat menyukai wajah kesal Dafa, hingga dia ingin terus membuat cucunya kesal.


Lastri segera mendekati cucu kesayangannya, mengusap pelan kepala cucunya itu, dan langsung mencium keningnya dengan penuh rasa sayang.


"Kamu tidak pernah merepotkan Nenek, jadi jangan berbicara seperti itu lagi," ucap Lastri yang hanya di jawab anggukan oleh Ray.


"Loh Nenek mau kemana?" tanya Jingga yang baru keluar dari kamar.


"Nenek mau pulang sayang, besok Nenek ke sini lagi," jawab Lastri langsung.


"Baiklah kalau Nenek mau pulang, padahal Nenek sama Dafa menginap di sini aja, biar rumah ini tambah rame," ucap Jingga lagi.


"Tenang Kak, besok kami ke sini lagi. Sekarang kami pamit pulang dulu," pamit Dafa pada kakaknya dan kakak iparnya, dan setelah itu, Dafa dan neneknya langsung melangkah keluar.


"Ga, Kak Ray, aku ke kamar dulu ya," ucap Citra langsung.

__ADS_1


"Iya Cit, kamu istirahatlah!" ucap Jingga, "Mas, kita juga harus istirahat, ayo!" lanjutnya dan langsung mendorong kursi roda menuju kamarnya.


Dengan telaten, Jingga membantu suaminya agar berbaring di atas kasur. Walaupun sedikit kesulitan di awal, tetapi dengan terbiasa, Jingga bisa melakukannya. Jingga segera menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya sampai batas leher. Dan dia pun ikut berbaring setelahnya.


"Sayang, terima kasih," ucap Ray dengan posisinya yang masih terlentang, dengan sedikit melirik istrinya yang tengah menyamping menghadap ke arahnya.


"Terima kasih untuk apa Mas?" tanya Jingga.


"Karena kamu masih menerima aku, walaupun dengan kondisi aku yang sekarang," jawab Ray dengan menatap sendu mata teduh istrinya.


"Itu sudah menjadi kewajiban aku sebagai seorang istri Mas. Apapun kondisi kamu saat ini, kamu tetaplah suami yang sudah mencuri seluruh hati aku," ucap Jingga tersenyum manis, membuat Ray sedikit sakit melihatnya.


Kenapa wanita sebaik dan secantik istrinya itu, harus memiliki suami yang tidak berdaya sepertinya. Dengan kakinya yang tidak bisa berjalan, akan membuat dirinya kesulitan melakukan apapun. Jangankan untuk melindungi istri dan anak-anaknya, untuk menjaga dirinya saja harus dengan bantuan orang lain, dan Ray merasa tak tega jika istrinya harus menjalani hari-harinya dengan merawat suami yang lumpuh sepertinya.


"Mas, ada apa?" tanya Jingga yang melihat tatapan sedih dari suaminya.


"Gak papa Sayang," jawab Ray dengan menggelengkan kepalanya cepat.


"Ya udah, sekarang kamu harus tidur, sudah malam," ucap Jingga langsung bergeser ke dekat suaminya, ingin memeluk tubuh suaminya hingga dia masuk ke alam mimpi.


Ray langsung mengusap lembut puncak kepala istrinya, yang kini sedang memeluknya erat. Mencium aroma mawar dari tubuh istrinya, dan tak lama dia pun terlelap dalam tidurnya.


***


Bau basah di pagi hari menjadi candu tersendiri bagi setiap orang yang merasakannya. Seperti Ray yang saat ini tengah menikmati suasana pagi di depan rumah istrinya. Sejuknya udara seperti perasaanya saat memandang sekitarnya, sangat menentramkan jiwa. Ray menikmatinya diatas kursi roda yang sejak saat ini akan membantu dalam melakukan aktivitasnya.


Deru suara mesin mobil yang berhenti tepat di pekarangan rumah Jingga, langsung mengusik Ray yang tengah menikmati suasana dengan memejamkan matanya itu.


Saat Ray membuka matanya dia langsung memasang wajah kaget dengan kedatangan Ken yang tiba-tiba. Apalagi Ken tidak datang sendiri, karena dia membawa anaknya. Bukan hanya Ray yang kaget, Ken pun langsung kaget saat dia turun dari mobil, langsung melihat Ray yang duduk di atas roda. Ada apa dengannya? Pikir Ken dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2