
"Kakak ganteng!" ucap Keyla langsung berlari ke arah Dafa yang baru saja masuk.
"Hai cantik, kamu lagi ngapain?" ucap Dafa sambil menggendong Keyla.
"Aku lagi main boneka," ucap Keyla antusias. Keyla sangat suka digendong oleh Dafa, bahkan tak pernah bosan melihat wajah tampan Dafa.
"Wah, kenapa gak ajak kak Citra? Kak Citra jago loh main boneka-bonekaan," ucap Dafa lagi sambil melirik ke arah Citra, yang hanya memutar bola matanya malas.
"Betul Kak?" tanya Keyla pada Citra.
"Hm, iya sayang. Tapi lain kali ya mainnya," ucap Citra yang masih memikirkan sahabatnya.
"Ok Kak. Tapi kenapa kak Jingga belum pulang ya?" tanya Keyla.
"Kak Jingga lagi ada urusan cantik, sebentar lagi dia akan pulang. Sekarang kamu main lagi ya," bujuk Dafa.
"Gak mau, aku maunya digendong terus cama Kakak ganteng," tolak Keyla menggelengkan kepalanya. Dia lebih suka jika bersama Dafa.
"Baiklah, tuan putri," ucap Dafa tersenyum membuat Keyla tertawa senang. Sedangkan Citra hanya melihat saja, karena pikirannya terus tertuju pada Jingga. Entah kenapa perasaannya tidak enak.
"Duh kenapa kak Ray belum ngasih kabar ya," ucap Citra cemas.
"Sabar Cit, mungkin dia masih mencari keberadaannya," ucap Dafa sengaja tak menyebut nama Jingga, karena tak mau Keyla mendengarnya.
"Ih awas aja kalo terjadi sesuatu sama dia, akan ku buat Ken tak bisa menghirup udara lagi," kesal Citra.
"Hei tahan emosi kamu itu, aku jadi ngeri liatnya," ucap Dafa.
"Ck! Terserah aku mau gimana. Sekali lagi kamu bersikap menyebalkan, akan ku buat hidungmu patah," ucap Citra membuat Dafa langsung memegang hidungnya.
__ADS_1
"Jangan dong, ini tuh salah satu aset ketampanan aku," ucap Dafa lagi. Sepertinya Citra tidak bisa di ajak bercanda lagi. Kesalnya itu menakutkan, pikir Dafa bergidik ngeri.
Namun Citra tak minat membalas ucapan Dafa lagi, karena terlalu malas berdebat dengan situasi seperti itu.
*****
Jingga berdiri didepan danau yang cukup luas, bahkan kedalamannya cukup untuk membuat orang tak bisa bernafas saat berada didalamnya. Entah apa yang ada didalam pikiran Jingga, hingga mempunyai nyali yang besar untuk berada didekat danau yang cukup berbahaya itu.
Rasa sakit yang tak kunjung berhenti dan penderitaan yang terus menghampiri Jingga, membuat pikirannya kosong. Jika dia tidak bisa mendapat kebahagiaan, untuk apa dia melanjutkan hidup lagi. Lagi pula kehidupan saat ini terlalu kejam untuk dia jalani, dan mungkin tidak akan ada yang kehilangan saat dia sudah tidak ada didunia ini lagi. Sungguh Jingga lelah, dan merasa takdir mempermainkan perasaannya dengan kejam, pikir Jingga yang dipenuhi segala emosinya.
"Ayah, bunda... Maafkan Jingga," ucap Jingga pelan sambil menutup mata sebelum melangkahkan kakinya lebih dekat ke tepian danau.
Jingga terus melangkah dengan tegas, tak ada keraguan dalam dirinya. Mungkin karena terlalu lelah dengan semuanya, membuat dia yakin dengan keputusannya. Tinggal satu langkah lagi Jingga akan melompat ke dalam danau itu, tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya dengan cepat.
Brukh!
Jingga terjatuh dalam pelukan orang yang menariknya. Perlahan dia membuka matanya yang terpejam. Jingga merasa mungkin dia sudah mati, namun saat membuka matanya dia kaget berada diatas tubuh orang yang sangat dikenalnya. Langsung saja memancing emosi Jingga.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila!" ucap Ray dengan suara besarnya, terdengar marah namun lebih banyak khawatirnya.
"Iya. Aku memang sudah gila. Aku gila karena kehidupan yang aku jalani. Dari dulu takdirku sangat buruk, aku harus menjalani kehidupan yang penuh derita ini. Dan sekarang aku sudah kehilangan semua orang yang aku sayangi, jadi untuk apa lagi aku hidup!" ucap Jingga setengah berteriak, nafasnya tidak beraturan saat mengeluarkan semua emosinya.
"Tuhan memberimu takdir yang baik, tapi dengan mudahnya kamu akan mengakhiri hidupmu sendiri. Memangnya kamu siapa yang berhak melakukan ini? Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu sendiri, karena kamu hanya akan membuat orang yang menyayangimu hidup dengan rasa bersalah. Kamu tidak memikirkan sahabatmu yang saat ini sedang mengkhawatirkanmu, dan apa kamu tidak memikirkan bagaimana dengan adikmu, jika dia kehilangan kakaknya!" ucap Ray dengan nada tinggi.
"Hiks hiks... Kamu tidak akan pernah mengerti perasaan aku, karena kamu tidak pernah berada diposisi aku saat ini!" ucap Jingga sebelum akhirnya lunglai. Beruntung Ray segera menangkap tubuh lemas Jingga.
"Aku tahu, aku sangat tahu Ga. Karena aku juga pernah berada diposisimu. Jadi aku mohon, jangan pernah menyerah untuk memperjuangkan hidupmu," ucap Ray lagi, namun kali ini nadanya sudah melembut.
"Aku, a---aku sudah lelah," ucap Jingga terbata sebelum kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Sontak Ray begitu panik melihat Jingga yang sangat pucat. Namun dia sedikit lega saat dia tahu bahwa Jingga hanya pingsan. Dengan segera, Ray mengangkat tubuh Jingga ke dalam mobil, dan membawanya ke rumah sakit.
"Jangan pernah terlintas dalam pikiranmu, untuk mengakhiri hidupmu sendiri Ga. Aku tak akan sanggup melihatnya," lirih Ray saat menatap Jingga yang berada disamping kemudinya. Ray segera menancap pedal gas mobilnya, menuju rumah sakit terdekat.
Setelah sampai di rumah sakit, Ray langsung saja membawa Jingga ke dalam UGD. Dia langsung menghubungi Citra sambil menunggu Jingga diperiksa.
Ray sampai tak bisa duduk, karena begitu mencemaskan Jingga. Dia hanya berdiri dengan sesekali berjalan mondar-mandir. Tak lama dia segera mengalihkan pandangannya saat dia mendengar langkah kaki.
"Bagaimana keadaan Jingga?" tanya Citra langsung. Beruntung rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari rumahnya, jadi dia dan Dafa datang dengan cepat.
"Aku belum tahu. Dia masih diperiksa," ucap Ray sambil melihat Citra dan Dafa bergantian. Kemudian dia melihat ke arah Keyla dalam gendongan Dafa.
"Kalian bawa Keyla kesini?" tanya Ray.
"Iya Kak. Kan gak mungkin kita tinggalin dia sendiri di rumah," ucap Dafa sambil mengelus punggung Keyla yang ada di gendongannya.
"Harusnya salah satu dari kalian menjaganya di rumah. Tidak baik Keyla berada disini," ucap Ray lagi.
"Kami bingung Kak, karena kami berdua sangat khawatir sama keadaan Jingga," ucap Dafa.
Srettt!
Suara decitan pintu, membuat Ray, Dafa dan Citra mengalihkan pandangannya pada pintu UGD yang baru saja terbuka. Ray segera melangkah mendekati dokter yang baru saja keluar.
"Bagaimana keadaan Jingga Dok?" tanya Ray langsung.
"Keadaan pasien baik-baik saja. Dia hanya mengalami kelelahan dan tekanan. Tapi itu biasa terjadi pada seseorang yang tengah mengandung. Saya sarankan pasien tidak boleh tertekan agar tidak memengaruhi keadaan janin dalam kandungannya," ucap Dokter itu memberi penjelasan.
"Maksud dokter, Jingga hamil?" tanya Citra tak percaya, bahkan dia harus menutup mulutnya yang menganga.
__ADS_1
"Betul Bu, usia kandungannya 5 minggu. Silahkan jika ingin melihat keadaannya. Saya permisi dulu," ucap dokter itu lagi sambil melangkah pergi.
Tidak ada yang berkata apapun selain memasang wajah kaget dan tak percaya. Bahkan Ray juga hanya diam tak bereaksi apapun, hanya saling menatap Dafa dan Citra bergantian.