CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
79


__ADS_3

Jingga beberapa kali mengerjabkan kelopak matanya, menyadarkan dirinya bahwa yang terjadi didepan mata dia bukanlah mimpi. Pernyataan yang baru saja dia dengar seolah membuat badannya terasa membeku. Bahkan alunan musik biola yang tiba-tiba dimainkan pun tidak lagi membuatnya tak bergeming.


Jingga hanya diam menatap Ray dengan wajah tak percayanya. Terlalu kaget dengan kejutan yang Ray berikan. Seumur hidupnya dia belum pernah mendapat perlakuan romantis dari seorang laki-laki, bahkan dari mantan suaminya pun. Dan kini Jingga merasa sedikit tersipu karena perlakuan romantis Ray.


Tak ingin membuat Ray terlalu lama menunggu jawabannya, dengan menarik nafas terlebih dahulu, Jingga mencoba memberikan jawaban pada Ray, yang masih setia mempertahankan posisinya itu.


"Yes, i will!" jawab Jingga tersenyum manis, sambil menganggukan kepalanya.


Sebenarnya terlalu malu dirinya dilamar seromantis itu, tapi bagaimana lagi, Jingga benar-benar sudah jatuh hati pada pesona Ray Alfendra. Dia tak bisa memungkiri bahwa hatinya merasa sangat bahagia. Perasaan bahagia yang tidak bisa Jingga ungkapkan dengan kata-kata. Bahkan kini dia merasa ada kupu-kupu yang menari didalam perutnya.


Mendapat jawaban Jingga yang bersedia menikah dengannya, Ray langsung memakaikan cincin berlian itu pada jari manis Jingga. Sungguh, tidak ada kalimat yang bisa mewakili perasaan Ray saat ini. Dia terlalu bahagia sampai dia langsung ingin memeluk Jingga, namun dengan cepat Jingga menahannya.


"Maaf, aku terlalu bahagia. Dan terima kasih, karena kamu sudah mau menjadi istriku," ucap Ray dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Om! Kenapa Om manggil temen aku?" Tiba-tiba saja Nayla melontarkan pertanyaan, yang membuat momen keromantisan Ray dan Jingga seketika pecah.


Sontak Jingga dan Ray segera menoleh ke arah Nayla yang sedang mengerutkan keningnya. Ray hanya mengulum senyumnya, tiba-tiba saja dia sedikit malu dengan suasana itu, karena Ray belum pernah melakukan hal seromantis itu pada seorang wanita.


"Memangnya apa yang kamu dengar sayang?" tanya Ray sambil menghampiri calon anaknya. Bolehkah sekarang Ray mengklaim bahwa Nayla adalah anaknya?


"Itu, tadi Om Ray bilang Mery kan? Mery itu temen main aku Om," ucap Nayla dengan gaya bicara lucu. Membuat Ray gemas ingin mencubit pipinya, tapi terlalu sayang jika dia melakukannya.


Mendengar hal itu, Jingga dan Ray terkekeh pelan. Ray baru sadar bahwa ada Nayla diantara mereka. Langsung saja Ray mencium kedua pipi Nayla.


"Enggak sayang, Om gak manggil temen kamu. Sekarang kita makan ya, kamu udah lapar kan?" tanya Ray sambil mengusap lembut puncak kepala Nayla.


"Iya Om, aku udah lapar banget," jawab Nayla sambil mengangguk keras.


Ray tersenyum melihat wajah ceria Nayla, membuat dia tak sabar ingin segera menjadikan Nayla sebagai anaknya. Kemudian Ray duduk kembali di kursinya, dan membantu Nayla mengambil makanannya. Ray dan Jingga tersenyum malu saat mata keduanya saling bertemu.


"Makan yang banyak ya sayang," ucap Ray pada Nayla yang sudah memakan makanannya.


"Iya Om. Aku pasti makan sampe habis," balas Nayla dengan mulut penuh.

__ADS_1


"Sayang, gak boleh makan sambil bicara!" tegur sang bunda, sedangkan Nayla hanya tersenyum lucu.


"Kamu juga harus makan yang banyak Ga," ucap Ray pada Jingga yang sedang membersihkan sisa makanan pada bibir anaknya.


"Ah iya, aku akan makan," ucap Jingga masih dengan nada malu-malu. Apalagi kini Ray terus menatapnya walaupun mulut Ray tengah mengunyah makanannya.


Benarkah sebentar lagi dia akan menjadi istri Ray? Tapi semua ini masih terasa seperti mimpi, pikirnya. Hanya dengan memikirkannya saja membuat pipi Jingga memanas seketika.


"Ehm Ga, maaf jika semua ini mengejutkanmu. Jujur, ini pertama kali aku melakukannya, karena aku bukanlah laki-laki romantis. Aku juga bukan laki-laki yang pandai merangkai kata yang bisa membuat wanita bahagia. Hanya ini yang bisa aku lakukan, jadi aku harap kamu menyukainya," ucap Ray menatap serius Jingga.


"Aku sangat menyukainya Ray. Terima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan untuk aku dan juga untuk anak-anak," ucap Jingga tersenyum manis.


Untuk pertama kalinya rona bahagia tercetak jelas di wajah Jingga, setelah dia melewati masa-masa sulitnya.


"Syukurlah jika kamu menyukainya, aku sangat senang mendengarnya. Kamu jangan berterima kasih seperti itu, karena aku tidak melakukan apa-apa. Kedepannya, kamu dan anak-anak akan menjadi prioritas aku diatas segalanya," ucap Ray lagi.


"Hm, iya Ray,"


"Om, aku udah kenyang," ucap Nayla setelah menghabiskan makanannya.


"Iya dong Om. Kenapa Om dan Bunda tatap-tatapan terus?" tanya Nayla dengan wajah polos.


Uhukk!


Sontak Jingga tersedak makanan, saat mendengar ucapan anaknya. Dia tak menyangka Nayla memperhatikan dia dengan Ray. Dia mengira anaknya itu hanya fokus pada makanannya sendiri. Ternyata Nayla melihat interaksinya dengan Ray. Apakah dia juga mengerti apa yang dibicarakan mereka saat ini, pikir Jingga.


"Minum dulu Ga," ucap Ray segera menyodorkan satu gelas air, saat melihat wajah Jingga yang memerah karena tersedak makanannya.


"Iya, makasih," balas Jingga segera meminum airnya.


"Bunda gak papa?" tanya Nayla khawatir.


"Gak papa sayang, Bunda cuma kesedak makanan aja. Tadi kenapa kamu tanya seperti itu sayang?" tanya Jingga pada anaknya.

__ADS_1


"Ya kan Bunda sama Om Ray main liat-liatan terus," jawab Nayla.


"Hm, itu... " jawab Jingga ragu.


"Ga, bolehkah aku bertanya pada Nayla?" tanya Ray sambil memberi kode pada Jingga lewat matanya, bahwa dia akan bicara soal hubungan mereka.


"Silahkan Ray," jawab Jingga yang tahu maksud Ray.


"E--sayang, Om mau tanya sama kamu boleh?" Kini giliran Dafa bertanya pada Nayla, dan posisi mereka kini saling berhadapan.


"Boleh dong Om," jawab Nayla ceria.


"Ehm, sayang, nanti kalo Om jadi ayah kamu, kamu mau enggak?" tanya Ray pelan. Sebenarnya dia ragu jika Nayla akan menerimanya, bagaimana pun dia tahu bahwa Nayla sering menanyakan ayahnya pada Jingga.


"Jadi ayah aku?" tanya Nayla cepat.


"Iya sayang. Gimana, kamu mau?"


Nayla langsung melihat ke arah bundanya yang juga sedang menatapnya. Nayla sedikit berpikir, dia sering menanyakan tentang ayahnya. Kapan dia bisa bertemu ayahnya atau kenapa ayahnya tidak pernah menemuinya. Tapi sampai saat ini dia tidak pernah bertemu atau hanya sekedar melihat ayahnya. Dan kini saat Ray mengatakan akan menjadi ayahnya, Nayla sangat senang, karena dia akan mempunyai seorang ayah.


"Gimana sayang?"


"Iya Om, aku mau. Aku seneng karena aku akan punya ayah," jawab Nayla senang.


Untuk anak seusia Nayla mungkin belum mengerti, kenapa ayahnya tidak pernah menemuinya. Jadi, jika tiba-tiba dia akan mempunyai seorang ayah, tanpa pemikiran panjang pun dia akan langsung senang. Tak peduli kenapa tiba-tiba yang tadinya dia panggil dengan sebutan om akan berubah jadi ayahnya. Tanpa alasan pun mereka akan senang, karena keinginannya terkabul.


"Kamu serius sayang?" tanya Ray lagi.


Sebenarnya dia sedikit sedih saat Nayla mengatakan dia senang karena akan punya ayah. Ray tak bisa membayangkan hati Nayla, yang begitu ingin mendapat perhatian juga kasih sayang dari ayah kandungnya.


"Iya Om," Nayla segera memeluk Ray yang ada didepannya.


"Makasih ya sayang, karena kamu mau menerima Om sebagai ayah kamu," ucap Ray sambil mengelus lembut punggung Nayla yang ada didalam pelukannya.

__ADS_1


Tak terasa air mata Jingga turun saat melihatnya, apalagi saat mendengar Nayla yang begitu senang mempunyai seorang ayah. Dia juga tahu seberapa besar keinginan Nayla untuk bertemu dengan ayahnya. Bukan tidak bisa dia mempertemukan Nayla dengan ayahnya, hanya saja Jingga tak mau melihat anaknya sedih, jika nanti Ken tak menerimanya.


Tapi saat ini, Jingga juga merasa senang saat melihat wajah anaknya yang terlihat bahagia dengan Ray.


__ADS_2