
Hanya denting jarum jam yang terdengar, yang mengisi keheningan antara dua orang yang tengah duduk di sofa milik sang tuan rumah. Citra tak dapat berkata apa-apa lagi, setelah mendengar kehidupan yang kini dijalani oleh sahabatnya.
Otaknya langsung membeku, tak bisa berpikir lagi setelah mendengar penuturan tentang perubahan sikap Ken pada Jingga. Citra tak habis pikir dengan suaminya Jingga, yang langsung berubah hanya karena kehadiran seorang anak yang masuk dalam kehidupan Ken.
Padahal dulu sekali, Resti sangat mengingat betapa perhatian dan sayangnya Ken pada Jingga. Bahkan saat itu, Ken seperti gila cinta hanya bersama dengan sahabatnya, Jingga.
"Ah! Laki-laki itu benar-benar tak tahu malu. Beraninya dia berbuat seperti itu, padahal kamu yang sudah banyak berkorban demi dia, sampai rela berbagi suami hanya karena kesalahannya!" ucap Citra hampir berteriak. Dia sangat kesal, lantaran sahabatnya diperlakukan seperti itu.
"Tenanglah Cit, kamu jangan keras-keras ngomongnya. Gimana kalo Keyla sampai mendengar ucapan kamu itu," ucap Jingga yang takut Keyla mendengar suara Citra yang sangat besar, walau saat itu Keyla sedang bermain di ruang tengah.
"Habisnya aku tak habis pikir sama suami kamu itu. Mentang-mentang sekarang dia udah punya anak, terus dia bisa bersikap semena-mena sama kamu. Padahal dulu, dia begitu membenci Resti, tapi sekarang... Ah! Kalo aku jadi kamu, sudah aku tinggalin laki-laki seperti dia," ucap Citra dengan nafas yang tidak beraturan. Ternyata, meluapkan kekesalan juga menghabiskan tenaga.
"Aku gak bisa melakukan itu Cit, karena aku mencintainya, dan aku juga yakin kalo dia hanya sedang khilaf, dan suatu saat akan kembali seperti dulu," ucap Jingga yakin.
"Ck! Kamu selalu saja seperti ini, pantas mereka bisa menindas kamu. Apalagi dengan nenek lampir itu, aku yakin saat ini, dia sedang bahagia melihat kamu diperlakukan tidak adil oleh suami kamu sendiri. Awas saja kalo aku ketemu sama dia, akan aku buat perhitungan sampai dia tak bisa lagi tersenyum," ucap Citra sambil mengepalkan tangannya.
Jingga yang melihat Citra meluapkan emosinya itu, hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. Dia sudah menduga Citra akan semarah ini, tapi dia memang ingin berbagi, menceritakan masalahnya agar perasaannya sedikit ringan.
"Maaf sudah membuat kamu jadi kesal Cit," ucap Jingga yang membuat Citra menatap dia dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa kamu merasa bersalah sih? Memang seharusnya kamu bilang sama aku, dan harusnya kamu bilang dari awal, saat suami kamu itu berubah," ucap Citra kesal. Tapi Jingga tahu bahwa kekesalan Citra itu menunjukan kepeduliannya, dan Jingga senang karena masih ada yang menyayanginya.
"Ya udah, makanya kamu jangan marah-marah lagi, karena aku kan cuma mencoba membuat perasaan aku menjadi lega, dengan bercerita masalah aku sama kamu," ucap Jingga lagi.
__ADS_1
"Ga, dengerin aku ya! Kamu bukan hanya sahabat aku, tetapi kamu sudah menjadi saudara aku. Apa yang menjadi masalah kamu, berarti itu juga bagian dari masalah aku. Aku gak mau melihat kamu sedih lagi, apalagi hanya karena lelaki itu. Jadi apapun masalah kamu, kamu harus berjanji buat cerita semua masalah kamu sama aku. Aku gak mau kamu menanggung semuanya sendiri, ingat Ga, masih ada aku," ucap Citra yang langsung memeluk Jingga, saat melihat air mata Jingga turun membasahi pipinya.
"Makasih Cit. Makasih kamu sudah peduli sama aku," ucap Jingga yang menangis diperlukan Citra. Dia sangat bersyukur mempunyai sahabat yang sangat peduli dan sangat menyayanginya.
"Sudah, kamu jangan nangis lagi! Sekarang kita lihat apa yang sedang dilakukan oleh gadis kecil itu," ucap Citra melepaskan pelukannya. Mendengar itu, Jingga jadi tertawa kecil.
"Baiklah, ayo!" balas Jingga tersenyum. Sekarang, perasaannya jadi lebih baik.
Saat Jingga dan Citra sampai diruang tengah, dimana Keyla berada, sontak mata Citra membesar melihat apa yang dilakukan oleh adiknya Jingga itu. Sedangkan Jingga hanya geleng-geleng kepala melihat apa yang dilakukan Keyla.
"Ya ampun! Kamu lagi ngapain sayang," ucap Citra langsung dengan nada sedikit kesal, namun dia tetap melangkah mendekati Keyla.
"Gimana? Cantik kan Kak?" tanya Keyla dengan wajah polosnya, membuat Citra menyemburkan tawa ditengah kekesalannya.
"Sayang, kamu sudah janji apa sama Kakak hm?" tanya Jingga yang membuat Keyla mengedipkan matanya beberapa kali. Entahlah, Keyla lupa perjanjian dengan kakaknya.
"Apa Kak?" tanya Keyla polos, yang langsung membuat Jingga menggembuskan nafas kasarnya.
"Sudahlah Ga, memang dia kan selalu seperti itu," ucap Citra pura-pura kesal sambil melirik ke arah Keyla.
"Maafin Key, Kak," ucap Keyla dengan rasa bersalahnya sambil memeluk leher Citra.
"Untuk?" tanya Citra sedikit menjahili Keyla dengan wajah pura-pura marahnya.
__ADS_1
"Karena Key sudah mengotori boneka Kakak," jawab Keyla dengan wajah bersalahnya, membuat Citra tak tahan untuk tertawa.
"Haha, iya sayang. Kakak cuma bercanda ko," ucap Citra masih dengan tawanya. Dia sungguh menyukai saat Keyla memasang wajah bersalahnya, yang menurut Citra itu sangat menggemaskan.
"Beneran Kak?" tanya Keyla memastikan.
"Iya sayang," jawab Citra langsung mencium pipi gembul Keyla, yang membuat Keyla melepaskan tawa kerasnya, karena selain dicium pipinya, pinggang kecil Keyla juga digelitiki oleh Citra.
Sedangkan Jingga yang melihat itu hanya tersenyum manis, menunjukan betapa cantiknya Jingga saat tersenyum. Sayang, dibalik senyumannya itu, terselip kisah sedih dalam kehidupannya, yang hanya dia dan orang-orang terdekatnya saja yang mengetahuinya.
*****
Beberapa bulan ke belakang, hubungan Dafa dan Citra terlihat lebih dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, kadang makan bersama, menonton atau berbelanja bersama. Dan hal itu membuat Ray sering menggoda adiknya.
"Mau kemana? Rapi banget. Oh kamu mau ngelamar Citra ya," tebak Ray asal. Mendengar itu, Dafa hanya memutar bola matanya malas.
"Ck! Udah mulai lagi. Dengerin ya Kak, aku gak mau ngeduluin Kakak. Aku akan mempersilahkan Kakak menikah terlebih dahulu, karena aku gak mau membuat Kakak jadi perjaka tua," balas Dafa yang langsung berlari keluar, karena takut di semprot oleh kakaknya.
"Hei! Awas saja kalau pulang," ucap Ray kesal.
Bagaimana mungkin adiknya itu bisa berkata seperti itu? Dasar, Bisa-bisanya dia mengatakan Kakaknya akan menjadi perjaka tua, pikir Ray kesal.
Adiknya dan neneknya, sama-sama menjahili dia dengan hal yang sama, membuat Ray kesal lantaran terus dipojokan agar cepat menikah. Bukan Ray tidak mau menikah, tapi hati dia sudah terlanjur dibawa oleh Jingga. Bahkan melihat wanita-wanita lain, rasanya Ray tak tertarik.
__ADS_1