
Hawa dingin pagi hari memang beda, dinginnya menusuk sampai ke kulit, apalagi kota Bandung, membuat orang-orang memakai pakaian hangat, tidak terkecuali musim penghujan saat ini.
Setelah selesai sarapan, Citra dan Keyla melanjutkan aktivitasnya dengan menonton tv, serial kartun kesukaan Keyla. Sedangkan Jingga terlihat masuk ke dalam kamar saat dia tiba-tiba teringat sesuatu. Dengan tergesa-gesa, Jingga keluar kamar membawa tas dan berpakaian rapi, membuat Citra mengerutkan keningnya.
"Ga, kamu mau kemana?" tanya Citra penasaran.
"Aku titip Keyla sebentar sebelum kamu berangkat kerja, ada barang yang ketinggalan di rumah mas Ken," ucap Jingga langsung
"Oh iya. Kamu santai aja gak usah buru-buru kaya gitu, lagian aku gak berangkat kerja, aku ambil cuti," ucap Citra sambil mengusap rambut Keyla. Keyla hanya melihat bergantian orang dewasa yang tengah berbicara itu.
"Loh kenapa ambil cuti? Apa gara-gara aku ya," tebak Jingga langsung tak enak. Bahkan dia tak jadi melangkahkan kakinya keluar, dia ingin memastikan dulu maksud Citra itu seperti apa.
"Enggak, kamu gak usah khawatir. Aku memang berencana ambil cuti minggu ini, bahkan sebelum kamu bilang mau menitipkan Keyla disini," ucap Citra yang tahu ke khawatiran sahabatnya.
"Benarkah?" tanya Jingga memastikan. Dia tak mau sampai Citra tak berangkat kerja hanya karena ada kehadiran dia dan Keyla di rumahnya.
"Iya, udah kamu pergi aja," ucap Citra lagi.
"Baiklah, makasih ya Cit," ucap Jingga langsung berdiri.
"Iya, lagian kamu kenapa dari pagi bilang makasih terus, aku bosen dengernya tau," kesal Citra. Dia heran pada Jingga yang terus-terusan mengucapkan terima kasih, padahal dia tak melakukan apapun.
"Ya udah aku pergi dulu, aku cuma sebentar, bawa barang aja. Sayang Kakak tinggal sebentar ya," ucap Jingga pamit dan langsung mencium pipi Keyla yang tengah fokus pada film kartunnya.
"Oke Kak!" jawab Keyla langsung tersenyum lebar, menunjukan deretan giginya yang ompong.
__ADS_1
"Kamu hati-hati Ga!" ucap Citra setelah Jingga perlahan meninggalkan mereka.
*****
Perjalanan menuju rumah suaminya, membuat Jingga sedikit gusar, dia sendiri tak tahu kenapa hingga membuatnya merasa seperti itu. Ah! Lebih baik dia mengirim pesan singkat pada suaminya, pikirnya. Dia sedikit malu, padahal pagi sekali dia baru saja meninggalkan rumah itu, tapi sekarang dia akan ke rumah itu lagi, walaupun hanya membawa barangnya yang ketinggalan.
Akhirnya perasaan Jingga sedikit lega setelah mengirim pesan singkat itu, setidaknya kedatangannya nanti tak membawa kecanggungan bagi dirinya sendiri. Pemandangan pohon-pohon di pinggir jalan, menjadi arah tatapan mata Jingga saat ini. Dia tak menyangka kehidupannya akan berakhir seperti ini.
Ku harap masih ada asa untuk rumah tangga kita Mas, ucap Jingga dalam hati.
Jingga masih menaruh harapan, bahwa esok hari rumah tangganya bisa kembali utuh seperti semula. Tak peduli sebesar apa keinginan suaminya untuk berpisah dengannya, tapi yang pasti dia selalu berdoa agar hati suaminya kembali seperti dulu, dan membangun kembali rumah tangganya yang sudah tergoncang seperti sekarang.
Tak terasa dengan memikirkan itu saja, taksi yang dinaiki Jingga sudah berhenti tepat didepan pekarangan rumah suaminya. Dengan cepat Jingga turun dari taksi itu, dan berjalan ke dalam rumah.
Jingga langsung membuka pintu karena suaminya sudah berangkat kerja, setelah Ken mengirim pesan padanya. Pasti di dalam rumah hanya ada Resti dan anaknya, seperti biasanya jam segini dia masih ada didalam kamar, pikir Jingga segera masuk.
Melihat dari kejauhan, Jingga merasa familiar dengan orang itu, seperti siluet orang yang dikenalnya. Semakin dekat Jingga berjalan, semakin jelas dia mendengar pembicaraan mereka. Sontak Jingga mematung kala mendengar ucapan Resti.
"Iya Kak, berkat bantuan Kakak akhirnya Ken bisa menceraikan Jingga. Andai Kakak tak mengarang cerita dan memberi tahu dia bahwa Jingga mandul, mungkin saat ini mereka masih bersama," ucap Resti senang, membuat orang yang Resti panggil kakak itu terkekeh pelan.
"Tentu saja Res, Kakak pasti melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu," ucapnya.
Deg!
Jingga mematung kala mendengar suara itu. Suara yang sangat dia kenal, yang tidak lain adalah suara sahabatnya di Malang. Dina! Ya, itu dia. Dina adalah pemilik suara itu, dan caranya tertawa sangatlah mirip, pikir Jingga dalam hati.
__ADS_1
Karena penasaran, Jingga berjalan cepat menghampiri mereka. Dan Jingga semakin terkejut saat dia bisa melihat si pemilik suara tepat di depan matanya.
"Dina!" pekiknya tak percaya.
Resti dan kakak sepupunya juga sama terkejutnya dengan Jingga. Kenapa tiba-tiba dia muncul disini? Tanya Resti dalam hati. Sedangkan orang yang menjadi sahabatnya Jingga waktu dulu terlihat menyeringai melihat Jingga ada dihadapannya. Jika seperti ini haruskah dia berpura-pura lagi? Pikirnya sambil tersenyum sinis.
"Hai! Sudah lama ya kita tak bertemu," ucap Dina dengan senyuman sinis yang mengembang membuat Jingga yang melihatnya sedikit terdiam. Tak pernah sekalipun dia melihat wajah Dina seperti itu, yang sedikit menyeramkan.
Resti yang melihat itu akhirnya hanya melihat keduanya dengan santai. Dia tak perlu repot-repot melakukan apapun karena yang berkepentingan adalah kakak sepupunya, yang terlihat sangat siap memberi Jingga kejutan.
"Oh ingin tahu kenapa aku bisa ada disini?" ucap Dina yang melihat wajah bertanya Jingga.
Jingga semakin mengerutkan keningnya lebih dalam. Kenapa tiba-tiba Dina bersikap seperti itu? Pikirnya. Resti semakin senang melihat mereka, apalagi wajah tegang Jingga, kesenangan tersendiri baginya.
"Kak, aku mau liat Saga dulu, Kakak lanjutkan aja!" ucap Resti yang teringat anaknya yang tertidur dikamarnya, namun dia langsung tersenyum senang meninggalkan mereka berdua.
"Oh iya Kak Jingga, tadi surat cerai Kakak baru aja nyampe. Kalo mau pulang bawa sekalian, suratnya ada di atas meja rias Kakak," ucap Resti yang hampir melupakannya.
Jingga yang mendengar itu semakin kaget, benarkah hari ini dia akan menandatangani surat cerainya? Tapi dia belum rela jika harus melakukannya, dia masih berharap suaminya akan berubah pikiran dan membatalkan perceraian itu. Namun belum sempat kagetnya hilang, Jingga sudah dikagetkan lagi dengan ucapan Dina yang langsung membuat dia bergeming di tempatnya.
"Oh iya Resti itu adalah adik sepupu aku. Dia sangat berarti bagi aku, jadi apapun akan aku lakukan untuk membahagiakannya, termasuk memisahkan kamu dan suami kamu," ucap Dina langsung.
Jingga benar-benar dibuat tak percaya oleh pengakuan sahabatnya. Dari dulu, Dina merupakan sosok sahabat sekaligus saudaranya yang selalu ada di saat Jingga berada dititik terendah, bahkan saat dia merasa putus asa, Dina selalu memberinya semangat.
"Bagaimana kamu bi---," ucap Jingga.
__ADS_1
"Tentu aku bisa melakukannya. Kenapa? Kamu tak percaya apa yang aku katakan? Tapi aku tidak peduli kamu percaya atau tidak, karena itu tidak penting. Yang jelas saat ini aku sudah puas, melihat kamu menderita," ucap Dina langsung memotong ucapan Jingga, dan kemudian dia tertawa senang.