
Ray segera menengahi pertengahan istrinya dan Ken, karena banyak pasang mata melihat mereka, dengan pandangan beragam.
"Sayang, jangan bahas disini. Kita harus mencari tempat yang pas untuk membicarakan masalah ini," ucap Ray langsung, dia sedikit tak enak melihat tatapan orang-orang di sekelilingnya.
"Iya Mas," ucap Jingga setelah menghela nafasnya, "Sekarang kamu lepaskan Nayla, atau aku berteriak bahwa kamu seorang penculik," ucap Jingga menatap tajam mantan suaminya.
"Baiklah, kita cari tempat untuk membicarakan masalah ini," ucap Ken menyetujui usul dari suami Jingga.
Jingga segera memeluk anaknya, hampir saja dia tidak bisa bernafas jika Nayla tidak bisa ditemukan. Sambil menggendong anaknya, Jingga mengikuti langkah suaminya dari belakang, sambil terus menghujani Nayla dengan ciumannya.
"Maafkan Bunda tidak bisa menjaga kamu dengan baik sayang," ucap Jingga pada Nayla yang terlihat lebih tenang.
Jingga terus memeluk anaknya dengan erat, seolah jika terlepas sedikit saja, maka orang yang ada dibelakangnya akan mengambil Nayla lagi. Jingga dan Ken terus saling melempar tatapan tajamnya, walaupun kaki mereka terus melangkah. Kemarahan Jingga soal anaknya, tidak dapat dia tahan, oleh karena itu untuk pertama kalinya Jingga bisa mengeluarkan emosi seperti tadi.
"Sekarang kalian duduklah! Kita bisa membicarakan masalah ini," ucap Ray langsung setelah mereka berada di sebuah ruangan yang cukup nyaman, terlihat lebih privasi.
Jingga segera duduk di samping suaminya dengan terus memeluk Nayla, sedangkan Ken duduk di depan mereka dengan meja sebagai pembatas mereka.
Walaupun begitu, tak sedikit pun Jingga mengundurkan wajahnya yang tegang. Semakin lama melihat wajah mantan suaminya, emosinya kembali memuncak.
"Kenapa kamu bisa menculik Nayla?" tanya Jingga dengan segala emosinya.
"Terlalu kasar untuk dikatakan sebagai penculikan, karena Nayla adalah anak kandungku, bukan begitu?" tanya Ken dengan nada mengejek.
"Harusnya kamu tahu diri, setelah apa yang kamu lakukan selama ini, bahkan melihat Nayla pun tak pernah, dan sekarang kamu mengakuinya sebagai anak kamu," ucap Jingga.
Ken terlihat menahan emosinya setelah mendengar ucapan Jingga. Memang benar dia tak pernah menemui anaknya walau hanya sebentar. Tapi apakah salah jika sekarang dia akan memperbaiki semuanya, menebus waktu yang telah dia sia-siakan dengan percuma, pikirnya.
"Jingga, aku mohon berilah kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya. Tak apa jika kamu tidak akan memaafkan semua kesalahan aku, tapi aku mohon, jangan pisahkan aku sama Nayla, jangan larang aku untuk menemuinya, aku mohon sekali ini saja!" ucap Ken yang terdengar lebih lembut, mungkin dengan kelembutan akan membuat hati Jingga luluh.
__ADS_1
Ray dan Jingga sama-sama melihat wajah Ken yang memohon, mereka terus menelisik wajah Ken, apakah yang dia katakan itu sebuah ketulusan yang datang dari hatinya, atau dia hanya berpura-pura menyesal. Tetapi tatapan Ken memang tulus dan sepertinya dia sangat menyesal, mungkin nalurinya sebagai seorang ayah memang datang terlambat, maka dari itu Ken baru menemui anaknya sekarang, walau caranya salah sampai dia menculik anaknya sendiri.
"Sayang, tenangkan pikiran kamu dulu sebelum mengambil keputusan. Aku tidak bisa memberi saran yang terbaik, karena semua keputusan ada ditangan kamu. Aku hanya bisa mendukung kamu, terlebih untuk kebaikan Nayla kedepannya. Jika memang Ken menyesali semua perbuatannya, tak masalah jika kamu memberinya kesempatan, yang terpenting dia bisa menepati janji untuk tidak membuat Nayla terluka," ucap Ray pada istrinya. Dia tahu bahwa sebenarnya Jingga juga merasa bingung antara memberi kesempatan pada mantan suaminya atau tidak.
"Tadinya aku mau membuat laporan bahwa Nayla diculik Mas," ucap Jingga yang langsung membuat Ray dan Ken kaget bersamaan. Tak menyangka, kemarahan Jingga akan membuat Ken mendekam di penjara.
"Kamu mau laporin aku ke polisi?" tanya Ken tak habis pikir.
"Iya, bukankah yang kamu lakukan itu sebuah tindakan kriminal. Tak peduli kamu ayahnya atau bukan, karena yang kamu lakukan adalah kejahatan," jawab Jingga.
"Kamu serius mau melaporkan aku?" tanya Ken lagi.
Sedangkan Ray semakin mencemaskan istrinya yang semakin terbawa emosi. Dia pun tak menyangka Jingga benar-benar akan melaporkan mantan suaminya.
"Bunda, ayah aku ada dua kan?" tanya Nayla tiba-tiba.
"Iya Bun, yang ini ayah aku dan itu juga ayah aku," jawab Nayla sambil menunjuk Ray dan Ken bergantian.
"Lihatlah, Nayla sendiri bilang bahwa aku adalah ayahnya," ucap Ken tersenyum pada anaknya yang cantik.
"Apa yang sudah kamu bilang sama Nayla?" tanya Jingga langsung.
"Aku cuma bilang yang sebenarnya, bahwa aku adalah ayahnya," jawab Ken.
Jingga sangat kesal, dalam satu waktu mantan suaminya itu melakukan hal yang tak terduga.
"Bunda, gak papa?" tanya Nayla, karena melihat wajah bundanya memerah karena menahan amarah.
"Bunda gak papa sayang," jawab Jingga.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana keputusan kamu Jingga?" tanya Ken tak sabar. Sedangkan Ray hanya mendengarkan saja, cukup terkejut memang karena Nayla tahu ayahnya.
Jingga langsung melirik Nayla yang terlihat sumringah, dia juga melihat ke arah suaminya yang hanya menganggukan kepalanya, seolah memberitahu bahwa semuanya tergantung darinya. Kemudian Jingga menghela nafasnya sebelum dia mengambil keputusan harus bersikap seperti apa. Dia juga kaget Nayla dengan cepat tahu siapa ayah kandungnya. Apalagi melihat wajah senang anaknya, Jingga jadi tak tega jika harus melarangnya untuk bertemu ayahnya.
"Baiklah, aku beri satu kesempatan untuk kamu. Tapi jika nanti kamu membuat Nayla terluka sedikit saja, aku tak akan tinggal diam, dan jangan harap kamu bisa menemuinya lagi, jadi tolong jangan membuatnya kecewa," ucap Jingga pada akhirnya.
Ken yang mendengarnya tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya.
"Terima kasih Ga, aku janji tak akan membuat Nayla kecewa apalagi terluka," ucap Ken senang, dan Nayla pun terlihat sangat senang.
Namun beda lagi dengan Ray, dia hanya merasakan ada sedikit perasaan yang berbeda. Bukan dia tidak senang melihat anaknya bahagia bisa bertemu ayah kandungnya, tetapi dia hanya khawatir Nayla akan melupakan dirinya.
"Mas, ayo pulang!" ucap Jingga yang langsung menyadarkan Ray dari lamunannya.
"Ah iya sayang ayo," ucap Ray segera berdiri diikuti istrinya.
"Sayang, nanti ayah besok ke rumah kamu ya," ucap Ken pada anaknya, "Boleh kan Ga?" tanyanya pada Jingga.
"Hm,"
"Iya Yah, sekarang aku mau pulang dulu," ucap Nayla dengan nada lucu membuat Ken gemas langsung mencium pipinya.
"Ga, jaga Nayla baik-baik," ucap Ken pada Jingga yang hanya melihat saja interaksinya dengan Nayla.
"Gak perlu kamu bilang pun aku pasti menjaga anak aku dengan baik," ucap Jingga tak suka, seolah mantan suaminya itu tidak percaya padanya.
"Baiklah,"
"Ayo sayang!" ucap Ray segera merangkul pundak istrinya, dan mereka segera berjalan keluar dari Hotel itu. Sedangkan Ken kembali ke kamarnya dengan perasaan senang, karena dia bisa menemui anaknya kapan pun dia mau.
__ADS_1