
Sepanjang perjalanan pulangnya, Bella masih kepikiran soal di rumah Citra, saat Citra membawa rujak buah. Dia penasaran kenapa anak muda membeli rujak untuk cemilan mereka, walaupun banyak anak muda yang suka buah yang asam, tapi tetap saja Bella masih penasaran. Bagaimana kalau rujak itu untuk Jingga? Bagaimana kalau Jingga sedang mengandung? Tanya Bella dalam hati.
Secepatnya dia akan mencari tahu soal itu. Apalagi melihat wajah gugup Citra, membuat Bella semakin yakin bahwa mereka menyembunyikan sesuatu.
"Pa, Papa tadi merasa ada yang aneh tidak?" tanya Bella pada suaminya yang tengah fokus menyetir.
"Aneh apa Ma?" tanya balik Roy tanpa melihat istrinya.
"Tadi waktu di rumah Citra. Bukannya hal aneh ya mereka membeli rujak buah untuk cemilan mereka," jawab Bella.
"Apanya yang aneh Ma? Itu hal biasa, lagi pula anak muda jaman sekarang sangat suka makanan yang asam," ucap Roy yang sama sekali tidak merasakan keanehan seperti yang Bella rasakan.
"Tapi Pa, menurut Mama itu aneh. Citra membeli rujak sangat banyak, seperti untuk orang yang sedang ngidam. Mama curiga kalau mereka menyembunyikan sesuatu," ucap Bella lagi, yang tetap yakin dengan pikirannya.
"Maksud Mama apa?" tanya Roy tak mengerti.
"Maksud Mama, bagaimana kalau ternyata rujak itu untuk Jingga. Bisa jadi Jingga hamil Pa," ucap Bella serius, membuat Roy menoleh kearahnya.
"Pokoknya Papa harus mencari tahu soal itu. Bisa kan Pa," ucap Bella lagi yang melihat suaminya tengah berpikir.
"Baiklah, Papa akan mencari tahu," ucap Roy merasa tidak ada salahnya jika harus mencari tentang Jingga. Kemudian Roy langsung menambah laju kecepatan mobilnya, agar segera sampai di rumah.
*****
Teriknya matahari tak membuat kegembiraan Keyla bersama Ray hilang. Justru semakin siang, Keyla masih tetap ingin terus menghabiskan waktu dengan Ray yang selalu membuatnya senang. Bagaimana tidak, Ray terus mengikuti keinginan Keyla untuk mengunjungi tempat satu ke tempat lainnya, membuat Keyla begitu menyukai Ray.
Seperti saat ini, Keyla meminta Ray untuk membeli es krim disaat perjalanan pulangnya, walaupun mereka telah banyak mengunjungi banyak tempat, tapi bagi Keyla itu masih kurang. Untuk seusia Keyla yang senang bermain, tak heran jika dia tidak mengenal kata lelah, walau Ray merasa pinggangnya terasa pegal, karena Keyla tak henti-hentinya ingin ke tempat yang belum dia datangi. Namun karena rasa sayang pada adiknya Jingga itu, Ray dengan tulus menuruti setiap keinginan Keyla.
"Kak, nanti kita jalan-jalan lagi kan?" tanya Keyla setelah menghabiskan es krim rasa strawberrynya.
__ADS_1
"Iya sayang, nanti Kakak pasti ajak kamu jalan-jalan lagi. Tapi sekarang kita pulang ya, sudah siang. Kasian kak Jingga nungguin kamu. Ok cantik!" ucap Ray sambil mengusap puncak kepala Keyla dengan lembut.
"Ok Kak," jawab Keyla mengangguk keras.
"Ya udah, sekarang ayo kita pulang!" ucap Ray lagi sambil menggendong Keyla. Beruntung rumah Citra sudah dekat, jadi hanya beberapa menit saja Ray menjalankan mobilnya, mereka langsung sampai.
Lagi-lagi mungkin karena kecapean, dan perutnya kenyang, Keyla tertidur didalam mobil. Ray hanya tersenyum manis melihatnya, dia segera turun dari mobil dan kembali menggendong Keyla. Hanya satu ketukan pada pintu, Ray bisa langsung masuk karena Citra langsung membukakan pintunya.
"Keyla ketiduran lagi Ray?" tanya Jingga saat melihat Keyla tidur begitu nyaman digendongan Ray.
"Iya, mungkin dia kecapean. Aku langsung bawa ke kamar atau bagaimana?" tanya Ray pada Jingga.
"Iya, sini biar aku yang bawa Keyla," ucap Jingga yang ingin membawa adiknya namun langsung ditahan oleh Ray.
"Biar aku aja yang bawa ke kamar," ucap Ray langsung membawa Keyla ke kamar, seperti yang dia lakukan kemarin.
"Udah, kamu duduk aja Ga. Kamu itu harus banyak istirahat, untuk sekarang jangan bawa yang berat-berat dulu, apalagi menggendong Keyla," ucap Dafa saat melihat Jingga yang ingin menyusul Keyla ke kamar.
Namun pernyataan yang baru saja Jingga katakan, sontak membuat Dafa dan Citra langsung kaget, bahkan Ray yang baru keluar dari kamar Keyla juga tak kalah kagetnya. Dengan langkah cepat, Ray segera bergabung dengan mereka.
"Aku gak salah denger kan?" tanya Citra memastikan.
"Enggak Cit, aku memang berencana akan pulang," jawab Jingga.
"Loh kenapa? Aku gak bisa membiarkan kamu pulang Ga, lagian kamu udah janji akan tinggal disini sama aku," ucap Citra tak mau jika sahabatnya itu pulang ke kampung halamannya.
"Tapi aku sudah memikirkan ini Cit. Aku harap kamu mengerti," ucap Jingga sambil menatap sahabat yang sangat dia sayangi itu.
Dafa dan Ray belum mengeluarkan suara, karena mereka masih mengamati pembicaraan Jingga dan Citra.
__ADS_1
"Tapi Ga, aku sangat khawatir jika kamu tinggal sendiri. Kamu juga harus mengurus Keyla sementara kamu juga sedang hamil. Ga, tinggalah disini aja dulu, agar aku bisa bantu mengurus Keyla dan sekalian bisa menjaga kamu," ucap Citra memberi pengertian pada Jingga. Dia tak mau, disana Jingga merasa kesulitan sendiri.
"Tapi Cit, aku gak bisa meninggalkan rumahku di Malang begitu aja. Apalagi saat ini tidak ada yang menempatinya, jadi kedepannya aku yang akan mengurusnya. Lagi pula Keyla sangat ingin pulang, dia merindukan rumahnya," ucap Jingga menjelaskan.
"Ga kenapa kamu mau pulang, lalu bagaimana dengan suami kamu?" tanya Dafa yang memang belum tahu tentang perceraian Jingga dan Ken. Sedangkan Ray hanya menjadi pendengar saja.
"Itu, e--aku... " ucap Jingga yang belum bisa menjelaskan semuanya, kemudian dia melirik ke arah Citra yang juga sedang menatapnya, seolah mengatakan terserah Jingga akan menceritakan soal perceraiannya atau tidak.
"Baiklah aku akan menjelaskan semuanya, lagi pula cepat atau lambat kalian juga pasti akan mengetahuinya," lanjut Jingga.
"Maksud kamu apa?" Kini giliran Ray yang bertanya. Dia sedikit khawatir melihat wajah sedih Jingga.
"Jadi sebenarnya aku dan mas Ken sudah bercerai," jawab Jingga dengan nada pelan.
"Apa! Bercerai!" ucap Dafa dan Ray bersama. Mereka sangat kaget dengan pernyataan yang baru saja mereka dengar. Mereka memang tahu bahwa Jingga sedang ada masalah dengan suaminya, namun jika harus bercerai, mereka tidak sampai berpikir ke arah sana.
Jingga yang melihat wajah kaget Dafa dan Ray hanya mengangguk, memberi jawaban sekali lagi.
"Kenapa kamu bercerai Ga? Maksud aku apa ada masalah serius sampai kamu harus bercerai?" tanya Dafa sedikit mengubah pertanyaannya karena ditatap tajam oleh kakaknya. Iya, sekarang Dafa baru mengingat tentang dia yang harus menghilangkan sifat ingin tahu urusan orang lain, pikirnya setelah ditatap oleh Ray.
"Hm, untuk alasan itu, maaf aku gak bisa kasih tahu kalian," jawab Jingga yang tak mau permasalahan keretakan rumah tangganya terumbar, cukup tahu tentang perceraiannya saja, karena mereka sudah dianggap sebagai teman Jingga sendiri.
"Gak papa Ga, kami mengerti ko. Kami cuma mengkhawatirkan keadaan kamu saja," ucap Ray.
"Iya benar yang diucapkan Kak Ray, aku khawatir sama keadaan kamu, apalagi soal rencana kamu yang akan pulang ke Malang," tambah Dafa.
"Kalian gak usah khawatir, karena aku baik-baik aja ko," ucap Jingga tersenyum, berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu sedih.
"Lalu rencana kamu akan pulang kapan?" tanya Ray.
__ADS_1
"Minggu depan Ray," jawab Jingga langsung.
Namun jawabannya itu membuat Citra semakin sedih saja, karena harus ditinggal pergi oleh sahabatnya, terlebih dia sangat mengkhawatirkan keadaan Jingga yang tengah hamil, namun harus tinggal sendiri dan mengurus adiknya.