CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
81


__ADS_3

Satu minggu bukanlah waktu yang lama, dan hari ini adalah hari pernikahan Ray dan Jingga. Di depan penghulu sekaligus wali dari Jingga, Ray secara agama dan secara hukum resmi menjadikan Jingga sebagai istri sahnya.


Walaupun pernikahan sederhana yang diinginkan Jingga, tetapi tetap saja pernikahan mereka terbilang mewah, karena Ray mau menjadikan pernikahannya sekali dalam seumur hidupnya. Dia teringin membuat pernikahan yang akan selalu diingat oleh istri tercintanya. Dekorasi pernikahan dengan nuansa putih dan perpaduan cream menjadi pelengkap keindahan hari itu. Tentu ditambah kedua mempelai pengantin yang sangat serasi, wajah tampan Ray dan wajah cantik Jingga menambah kesan sempurna dalam acara pernikahan mereka.


Ekspresi kagum tercetak jelas pada wajah setiap tamu-tamu yang datang untuk memberi ucapan selamat pada kedua mempelai. Ray senang melihat wajah bahagia istrinya. Setelah resmi menyandang status sebagai suami Jingga beberapa jam lalu, kini Ray tak henti-hentinya menatap wajah cantik Jingga yang berada disampingnya. Walaupun mereka tengah sibuk menyambut tamu-tamunya diatas pelaminan, tetapi Ray tak jemu untuk terus memandang wajah cantik Jingga.


"E---Mas, kenapa kamu liatin aku terus?" tanya Jingga sedikit terbata. Bagaimana pun juga mereka baru saja resmi sebagai sepasang suami istri.


"Karena kamu begitu cantik. Di setiap hari -harinya saja kamu terlihat cantik, apalagi sekarang, kamu sangat-sangat cantik. Sampai membuat mata aku ingin terus melihatnya," jawab Ray tersenyum manis.


Namun wajah Jingga memerah karena malu, mendengar jawaban dari suaminya. Entah sejak kapan suaminya itu belajar menggombal, karena setahu dia sejak mereka bertemu, Ray bukanlah laki-laki yang suka merayu pada wanita.


"Mas, jangan lihat aku terus, malu dilihat sama tamu," ucap Jingga tersenyum malu. Dia menatap para tamu undangan yang sedang melihat dia dan suaminya.


"Gak papa sayang, lagi pula mereka di undang memang untuk melihat kita menjadi pengantin bukan," ucap Ray terkekeh pelan, melihat bagaimana Jingga yang terlihat menahan malu.


"Ya iya sih," jawab Jingga salah tingkah.


Melihat kegugupan istrinya, Ray mengembangkan senyumnya lagi. Dia masih berada diantara alam mimpi dan alam sadar, bahwa mereka sudah menjadi sepasang suami istri.


"Kamu lapar?" tanya Ray.


"Enggak Mas, aku belum lapar. Aku mau mengajak anak-anak kesini boleh?" tanya Jingga sambil sesekali mencari keberadaan anak-anaknya.


"Boleh sayang, tapi kamu tetep disini aja ya, biar aku yang cari mereka," jawabnya.


"Kenapa memangnya Mas?"


"Karena tuan putri tidak boleh kecapean, jadi biar suamimu ini yang membawa mereka ke sini," jawab Ray tersenyum manis, menunjukan betapa tampannya dia.

__ADS_1


Dulu sekali, Ray bersikap dingin pada semua wanita, walaupun ada dari mereka yang terang-terangan menyatakan perasaannya, bahkan ada pula yang langsung melamar Ray. Lucu bukan, Ray dilamar oleh seorang wanita? Tapi tak satupun dari mereka yang bisa memikat hati CEO makanan ringan itu. Entah terbuat dari apa hati Ray waktu lalu, yang tidak tertarik pada wanita-wanita cantik yang ingin sekali menjadi istrinya atau sekedar menjadi pacarnya. Dan tak ada pula dari mereka yang mendapat perlakuan hangat juga romantis dari Ray.


Tapi kini Ray melakukannya pada Jingga, wanita yang sudah mengisi keseluruhan ruang hatinya, sampai perubahan dari sikapnya yang dingin menjadi hangat seperti sekarang, sangat jelas terlihat. Jingga bisa dikategorikan sebagai wanita yang sangat beruntung, karena mendapat cinta, perhatian juga kasih sayang dari Ray, yang tak pernah Ray berikan pada wanita lain.


"Baiklah, terima kasih Mas," ucap Jingga lagi. Dia merasa bahagia diperlakukan begitu hangat oleh suaminya.


"Ya, aku cari mereka dulu," ucapnya langsung melangkah turun dari tempat pelaminannya.


Berjalan diantara kerumunan para tamu untuk mencari seseorang bukanlah hal yang mudah. Terlebih Ray adalah seorang pengantin, membuat pandangan para tamu beralih padanya. Setelah beberapa menit Ray mencari keberadaan Keyla dan Nayla, akhirnya dia menemukan mereka yang sedang makan bersama Dafa, Citra dan juga neneknya.


"Akhirnya aku menemukan kalian. Kenapa kalian tidak menemani kami di depan?" tanya Ray langsung.


"Mana mungkin kami mengganggu pasangan pengantin yang sedang romantis-romantisan," jawab Dafa terkekeh.


"Apa sih? Kakak serius loh, Kakak kesini mau nyari Keyla sama Nayla, Jingga mau menemui mereka," ucap Ray.


"Kalian mau makan dulu Ray?" tanya Lastri yang mengingat waktu sudah siang.


"Baiklah, lagi pula mereka sudah makan. Nanti kami menyusul kalian," ucap Lastri lagi.


"Baik Nek. Ayo sayang, bunda mau ketemu sama kalian," ucap Ray.


Keduanya mengangguk serentak, sambil berjalan beriringan dengan Ray.


"Anak-anak Bunda dari mana aja?" tanya Jingga pada Keyla dan Nayla, saat mereka sudah berada datang.


"Tadi aku abis makan, Bunda," jawab Nayla.


"Iya Bun, kami baru selesai makan sama kak Dafa, kak Citra," ucap Keyla menambahkan.

__ADS_1


"Bagus kalau kalian sudah makan, Bunda jadi tenang. Hm, kalian disini ya sama Bunda sama Ayah," ucap Jingga.


"Aku mau sama tante Citra aja Bun, katanya Bunda gak boleh diganggu sama Ayah," ucap Nayla.


"Loh memangnya kenapa sayang?" tanya Jingga.


"Kata tante Citra, Bunda sama ayah kan lag---" jawab Nayla berusaha menjelaskan apa yang dia dengar dari Citra.


"Enggak ko Ga, aku gak bilang apapun," ucap Citra tiba-tiba saja datang, dan segera memotong laju pengaduan Nayla pada bundanya. Citra heran, kenapa anak bungsu Jingga itu selalu saja mengcopy setiap ucapannya.


"Sayang ayo kita duduk disana!" ucap Citra sambil menunjuk kursi yang ada di depan pelaminan.


"Mereka mau disini Cit, aku masih mau bersama mereka, karena dari pagi aku disibukan oleh acara pernikahan ini," ucap Jingga.


"Kalian kan pengantin, pasti sibuk menyambut para tamu, jadi biar aku yang menjaga mereka," ucap Citra.


"Iya Bun, aku mau duduk di depan sama Tante Citra," ucap Nayla, sedangkan Keyla mengikut saja.


"Baiklah, tapi kalian jangan jauh-jauh dari Bunda ya," ucap Jingga yang diangguki oleh kedua anaknya.


Citra segera berjalan, sambil menuntun kedua keponakannya ke arah kursi dan meja yang sudah ada Dafa dan nenek Lastri disana.


"Kamu jangan khawatir sayang, Dafa dan Citra akan menjaga mereka," ucap Ray setelah mereka duduk di kursinya.


"Iya Mas, aku cuma kangen aja sama mereka," ucap Jingga tersenyum.


"Satu hari lagi kamu akan terus bersama mereka ko sayang," ucap Ray tersenyum penuh arti.


"Ko satu hari lagi Mas? Kan besok juga kita sama anak-anak," ucap Jingga sedikit heran.

__ADS_1


"Enggak sayang, karena besok adalah hari kita berdua. Besok kita akan bulan madu, tapi kamu tenang saja karena tempatnya tidak akan jauh dari sini," ucap Ray berbisik pada Jingga.


Sontak mata Jingga membesar, dan wajahnya langsung merah mendengar ucapan suaminya. Sedangkan Ray tertawa pelan saat menjauhkan wajahnya dari telinga Jingga. Ray sangat menyukai wajah Jingga yang kaget bercampur rona merah itu.


__ADS_2