
Hari ini tepatnya Jingga akan pulang ke rumahnya di Malang. Seminggu ini dia menghabiskan waktu bersama Citra. Dia juga berusaha untuk mencari kegiatan yang bisa membantu dia untuk melupakan mantan suaminya, setelah beberapa hari lalu Jingga dan Ken resmi berpisah dalam sidang yang diadakan di Pengadilan Agama yang ada di kota Bandung.
Walaupun sulit, Jingga tetap berusaha untuk terus melanjutkan kehidupan tanpa seseorang yang dia cintai. Karena kedepannya dia harus terus berjuang untuk kehidupan adik dan juga anak yang masih ada didalam kandungannya. Dia akan menjadi kuat dan tak akan pernah menyerah untuk masa depan mereka.
Sejauh ini, Jingga mengerti arti kesabaran yang menuntun dia untuk tetap menerima apapun takdirnya. Karena dia yakin, Tuhan tak akan pernah meninggalkannya.
"Ga, kamu yakin akan pergi?" tanya Citra yang belum rela jika sahabatnya itu pulang ke Malang. Jarak yang tidak dekat untuk dia tempuh jika ingin sekedar menemui Jingga.
"Iya Citra sayang, berkali-kali kamu nanya seperti itu pun, jawaban aku tetap sama," ucap Jingga tersenyum.
"Kamu tega ya melihat aku tinggal sendiri," ucap Citra sedih.
"Lah kamu kan memang tinggal sendiri," ucap Jingga lagi. Dia tahu betul apa yang membuat Citra sedih, "Kamu gak usah khawatir ya, karena aku akan baik-baik aja," lanjutnya.
"Ya udah deh, aku juga gak bisa maksa kamu buat tinggal disini sama aku. Tapi aku minta kamu janji sama aku, kamu harus ngasih kabar setiap hari. Awas aja kalo kelewat satu hari aja, aku akan nyusul kamu ke Malang," ucap Citra membuat Jingga tersenyum.
"Baiklah aku berjanji. Sekarang saatnya aku pulang," ucap Jingga seraya berdiri.
"Ya udah. Sayang, nanti kalo udah nyampe rumah, jangan lupa telepon Kakak ya!" pinta Citra pada Keyla yang sudah siap pulang.
"Oke Kak," balas Keyla mengangguk, kemudian dia langsung memeluk Citra yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.
"Kakak sangat menyayangi kamu sayang," ucap Citra mengelus lembut punggung Keyla yang ada didalam pelukannya. Dia juga langsung mencium kedua pipi gembul Keyla.
"Iya Kak, aku juga sayang Kakak," ucap Keyla juga mencium pipi Citra, membuat Citra langsung tersenyum.
"Ayo sayang, waktunya kita pulang!" ajak Jingga yang melihat taksinya sudah menunggu mereka.
"Kamu gak nunggu Dafa sama kak Ray dulu?" tanya Citra.
__ADS_1
"Enggak Cit, kasian supirnya sudah nunggu lama. Kasih salam dan juga ucapan terima kasih aku sama mereka. Aku juga sangat berterima kasih sama kamu atas semuanya," ucap Jingga sekali lagi memeluk sahabatnya.
"Iya, aku akan menyampaikannya. Jangan lupa kasih kabar setelah sampai. Kamu juga harus jaga kandungan kamu, oke," ucap Citra lagi.
"Baiklah, aku pergi dulu," ucap Jingga sambil berjalan ke arah taksinya.
"Hati-hati Ga," ucap Citra melepas kepergian Jingga. Air matanya jatuh saat perlahan taksi yang dinaiki Jingga melaju.
Citra segera berbalik dan berjalan kerumahnya. Namun belum sempat Citra menginjakan kakinya ke dalam rumah, dia mendengar suara mobil yang berhenti. Dan benar saja itu mobil Ray yang baru datang, namun terlambat karena Jingga sudah pergi. Citra melihat Dafa dan Ray yang terburu-buru keluar dan berjalan kearahnya.
"Dimana Jingga?" tanya Ray langsung, setelah dia berada didepan Citra.
"Ehm, Jingga baru aja pergi," jawab Citra yang langsung membuat wajah Ray berubah. Di matanya terlihat jelas kesedihan, walaupun tak mengatakannya, tapi Citra bisa mengetahuinya.
"Loh kenapa gak nungguin kita? Cit, bukannya aku udah minta sama kamu buat nahan Jingga dulu sebentar, sampai kami datang," ucap Dafa.
"Huft, padahal aku ingin bertemu sebelum dia pulang," ucap Dafa menghembuskan nafas kasarnya.
"Ya mau gimana lagi, dia memaksa langsung pulang," ucap Citra.
"Citra, Kakak pamit pulang aja ya," ucap Ray pada akhirnya. Lagi pula dia ke rumah Citra hanya ingin melihat Jingga pulang, tapi jika sudah begini dia mau apa?
"Loh kok langsung pulang, baru aja Kak Ray nyampe," ucap Citra.
"Iya Kakak langsung pulang lagi, tapi kamu gak usah khawatir karena Dafa akan menemani kamu," ucap Ray sedikit menggoda adiknya. Dia hanya berusaha menenangkan perasaanya.
"Kak..." kesal Dafa.
"Kak Ray apaan sih," ucap Citra sedikit kesal. Dia heran, tidak Jingga tidak Ray, mereka suka sekali menggoda dia dengan Dafa.
__ADS_1
"Haha, enggak. Ya udah Kakak pulang ya," ucap Ray sebelum berjalan ke mobilnya lagi.
"Jadi kamu gak pulang Daf?" tanya Citra. Entah kenapa semakin sering Jingga dan Ray menggodanya, membuat Citra jadi canggung saat mereka hanya berdua.
"Jika kamu mengizinkan, aku memang ingin disini dulu," jawab Dafa langsung membuat Citra menyipitkan matanya.
"Ada apa?" tanya Dafa yang sedikit terganggu dengan tatapan Citra.
"Kenapa tiba-tiba ngomongnya sopan? Kamu gak lagi sakit kan?" tanya Citra sambil meraba kening Dafa yang ternyata normal-normal saja.
"Ish, apaan sih. Aku tuh sehat wal'afiat. Aku bingung sama kamu, ngomong ceplas-ceplos salah, ngomong sopan juga salah," ucap Dafa kesal.
"Ya udah, ya udah. Ayo masuk!" ucap Citra segera mempersilahkan Dafa masuk. Walaupun kesal ternyata Citra tak bisa mengabaikan Dafa, membuat Dafa tersenyum melihatnya.
*****
Jingga menatap langit dari balik kaca mobil, tatapannya kembali meredup jika mengingat kembali peristiwa kemarin. Namun dengan cepat dia mengembangkan senyumannya saat meraba perutnya yang masih rata itu. Dia sudah tiba sabar menunggu hari dimana dia akan menggendong buah hatinya. Tak Jingga sangka, dia akan mempunyai seorang anak diusianya yang masih muda, 22 tahun. Ah! Dengan memikirkannya saja membuat Jingga tersenyum bahagia.
"Kak, masih lama ya nyampe rumah?" tanya Keyla membuat Jingga sedikit tersentak kaget.
"Ah iya sayang, masih jauh. Kamu tenang aja, nanti kalo udah mau nyampe, Kakak kasih tahu kamu. Sekarang kamu bobo aja ya," ucap Jingga.
"Iya Kak," ucap Keyla segera merebahkan kepalanya ke atas pangkuan Jingga.
Dengan usapan lembut pada dahi Keyla, membuat keyla tak lama untuk terlelap ke dalam tidurnya. Jingga yang melihatnya tersenyum. Dia bahagia dikaruniai Keyla dan juga calon anaknya. Dalam hati Jingga berjanji akan berusaha untuk membahagiakan malaikat kecilnya, Keyla dan buah hatinya.
Tak peduli seberapa sulit kehidupannya nanti, Jingga akan berusaha agar Keyla dan anaknya nanti tidak menderita. Walau dia harus bekerja keras, dia akan melakukannya. Karena mereka merupakan satu-satunya yang tersisa dari orang-orang yang sangat dia sayangi. Dari orang tuanya, juga dari lelaki yang pernah mengisi hati dan kehidupannya.
Ya Allah, kuatkan aku dalam menjaga mereka, ucap Jingga dalam hati sambil mencium kening Keyla dan mengelus lembut perutnya yang masih rata itu.
__ADS_1