CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
84


__ADS_3

Matahari sudah berada di atas kepala, namun di dalam rumah Jingga, rona bahagia terletak di wajah orang-orang yang tengah makan siang. Ruang makan yang sempit tak menjadi penghalang bagi kebahagiaan mereka. Apalagi wajah malu kedua pengantin yang baru saja honeymoon, membuat suasana menjadi lebih hangat ditambah mereka selalu di goda oleh Dafa maupun Citra.


Celoteh lucu dari Nayla dan Keyla membuat kebahagiaan bertambah, karena suasana semakin ramai.


"Ehm, Kakak kayanya lebih segar, e--maksud aku wajah Kakak terlihat senang sekali, apakah karena sudah berbulan madu?" tanya Dafa spontan.


"Kamu ngomong apa sih," ucap Ray sedikit kesal, hanya berlagak kesal agar menghilangkan rasa malunya. Sedangkan Citra hanya menjadi pendengar dengan sesekali melihat wajah Jingga yang memerah.


"Haha, kenapa Kak, malu ya? Gak usah malu Kak, hm tapi bagaimana rasanya Kak?" tanya Dafa langsung membuat Jingga dan Ray tersedak makanannya.


"Hei, kamu membuat mereka malu Daf. Lagian aku heran sama kamu, kenapa kamu nanya gitu sih," ucap Citra menimpali.


"Aku kan penasaran, atau kamu mau coba sama aku? Kita nikah dulu," tanya Dafa sambil menaik-turunkan alisnya.


Sontak Jingga dan Ray yang awalnya malu, kini sudah merubah ekspresi mereka. Senyuman tipis ditunjukan Ray saat mendengar ucapan adiknya pada Citra, sedangkan Jingga sudah terkekeh pelan.


"Ih, kamu mesum!" ucap Citra sambil memukul keras lengan Dafa, dia lakukan untuk menutupi kegugupannya. Bagaimana bisa Dafa berkata seperti itu di depan Ray dan Jingga, pikirnya kesal.


"Aw, hahaha, aku cuma bercanda Cit," ucap Dafa tertawa puas.


"Bunda, tadi itu ciapa? Kenapa bilang ayah aku?" tanya Nayla tiba-tiba, membuat mata semua orang tertuju padanya.


"Sayang, dia itu teman Bunda," jawab Jingga.


"Tapi kenapa bilang ayah aku?" tanya Nayla lagi, dia masih penasaran.


"Hm itu... "


"Karena dia teman bunda, jadi dia sudah menganggap kamu sebagai anaknya sayang," ucap Ray cepat, membantu istrinya menjawab pertanyaan Nayla, karena tidak mungkin Jingga menceritakan keadaan sebenarnya.

__ADS_1


"Oh gitu ya Yah,"


"Iya sayang,"


"Nay, kita ke kamar yuk! Kita main boneka yang baru dibeli sama Ayah dan Bunda," ajak Keyla langsung, sepertinya dia harus mengajak adiknya berkativitas lain, agar bisa mengalihkan pikirannya, dan tidak terus-menerus bertanya perihal Ken, ayah kandungnya.


"Ayo Kak, aku juga mau nunjukin boneka aku yang bagus," balasnya. Kemudian Keyla seger mengajak adiknya ke kamar.


"Ga, kamu gak kasih tau Nayla?" tanya Citra setelah anak-anak masuk ke kamar.


"Enggak Cit, aku gak mau membuat dia bingung dengan keadaan ini. Menurut aku dia sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, jadi aku rasa tak perlu mengatakan tentang keadaan yang sebenarnya. Lagi pula dia terlalu kecil untuk bisa memahami situasi ini," jawab Jingga menjelaskan.


"Mungkin setelah dia besar, kami akan memberitahu siapa ayah kandungnya," ucap Ray menambahkan.


"Oh gitu, ya udah. Aku juga kesal sama Ken, kemana dia selama 4 tahun ini, dan sekarang tiba-tiba aja dia datang, enak aja mau ketemu keponakan aku," kesal Citra.


"Memangnya ada apa dengan dia sayang?" tanya Ray penasaran.


"Aku takut dia diambil oleh ayahnya. Tadi Ken sempat bilang bahwa dia akan mengambil Nayla, bagaimana pun caranya," jawab Jingga.


Dafa dan Citra yang tengah serius mendengarkan pun langsung berwajah kaget. Tak menyangka Ken bisa mengatakan itu.


"Benarkah? Apa mungkin dia cuma menggertak kamu aja sayang," ucap Ray memberi sedikit ketenangan.


"Aku gak tahu dia serius atau enggak, yang pasti aku sangat khawatir jika dia benar-benar akan mengambil Nayla dari aku," ucap Jingga yang belum bisa tenang.


"Kamu tenang Ga, aku juga akan ikut menjaga Nayla. Aku tak akan membiarkan lelaki tak tahu diri itu mengambil Nayla," ucap Citra.


"Iya aku juga, lagi pula dia tak akan bisa mengambil hak asuh Nayla, jadi Kakak ipar jangan khawatir," tambah Dafa.

__ADS_1


Ray sangat tahu dengan kekhawatiran istrinya, tapi dia tidak akan membiarkan siapapun merebut kebahagiaan istri dan anaknya, apalagi sampai Nayla dibawa oleh ayah kandungnya sendiri.


"Baiklah, sekarang aku mau membereskan piring-piring ini dulu," ucap Jingga seraya berdiri dan langsung membawa piring bekas mereka makan ke tempat pencucian, dibantu oleh Citra.


Sedangkan Ray dan Dafa segera menemui Nayla dan Keyla yang ada di kamar, Ray ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh anak-anaknya itu.


***


Ken menekan pedal gas mobilnya dengan emosi. Bayangan tentang anaknya yang memanggil Ray dengan panggilan ayah masih terngiang dalam ingatannya, apalagi anaknya terlihat sangat dekat dengan Ray. Harusnya Nayla memanggil ayah hanya padanya, bukan pada orang lain, pikirnya.


"Akh sial! Harusnya dulu aku tidak egois, sampai membuat semuanya jadi kacau begini!" umpat Ken dengan segala emosinya.


Ken terus melajukan mobilnya memecah jalanan kota Malang, untuk mencari penginapan selama dia berada disana. Dia tak akan pernah menyerah sampai dia mendapatkan anaknya. Tak peduli dengan cara lembut atau secara paksa, dia akan membawa Nayla bersamanya, pikir Ken dalam hati.


Dengan gerakan cepat, Ken merogoh ponsel yang ada di sakunya, dalam satu tekan dia berhasil memanggil nomor kontak yang dia beri nama, My Wife.


"Hallo Mas, ada apa?" tanyanya di seberang.


"Beberapa hari ke depan aku tidak pulang, kamu jaga Saga baik-baik. Ada yang harus aku urus," jawab Ken di sela menyetirnya.


"Iya Mas, jaga diri kamu baik-baik disana," ucap Resti.


"Ya," Ken langsung menutup panggilan telepon.


Tanpa pikir panjang lagi Ken segera menepikan mobilnya ke Hotel yang tak jauh dari posisinya saat ini. Tak membutuhkan waktu lama, kini Ken sudah berbaring di salah satu kamar Hotel itu, sambil mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan akibat perjalanan jauh. Selain itu, dia juga mencari cara untuk membawa anaknya, dengan mencari orang sewaan untuk membantu dia menjalankan rencananya.


Jika kehilangan akal sehat, mungkin Ken sudah mengalaminya, karena dia berani merencanakan sesuatu untuk membawa anaknya. Bukan hanya dulu, rasa egois mendominasi Ken, sekarang pun keegoisannya yang membuat dia akan mengambil Nayla secara paksa. Tak peduli berapa banyak air mata yang akan tumpah, rasa rindu Ken terhadap anaknya tak bisa lagi dia tahan, apalagi Jingga melarangnya untuk menemui anaknya sendiri.


"Akan ku pastikan Nayla akan hidup bersamaku. Aku tidak rela jika dia harus hidup bersama laki-laki itu, dan menganggap Ray sebagai ayahnya," monolog Ken penuh dengan ambisi, dia tak mau Nayla lebih dekat dengan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2