
Saat ini Citra dan Dafa sudah dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Mereka menggunakan motor maticnya Citra, karena mobil dibawa oleh kakaknya Dafa. Beruntung mereka tak sulit menemukan penjual rujak buah, makanan yang diinginkan Jingga. Sehingga mereka bisa cepat pulang, karena Citra tak enak jika meninggalkan tamu terlalu lama, walaupun tamunya sendiri bukan untuk menemuinya. Tapi sebagai tuan rumah yang baik, Citra harus tetap menjaga etika dalam menyambut tamu. Mungkin sekarang mereka sudah menyelesaikan pembicaraan mereka, pikir Citra.
"Cit tadi kenapa kamu bilang ingin membeli sesuatu padahal kan cuma beli makanan untuk Jingga. Lagi pula tadi kamu cuma nyuruh aku, tapi sekarang kenapa kamu ikut?" tanya Dafa penasaran saat Citra tiba-tiba saja langsung mengajaknya pergi.
"Memangnya aku gak boleh ikut," ucap Citra dengan nada kesal.
"Bukan begitu, ah sabar Dafa!" ucap Dafa sambil mengelus dadanya, "Maksud aku itu, kenapa kamu tiba-tiba aja ingin pergi?" tanya Dafa berusaha sabar.
"Ya mereka kan butuh privasi untuk bicara, jadi aku sengaja ngasih waktu untuk mereka," jawab Citra.
"Oh gitu. Kenapa gak dari tadi aja kamu jawabnya gitu, gak usah langsung sewot kaya tadi," ucap Dafa lagi membuat Citra mendengus kesal.
"Udah jangan mulai, sekarang lebih cepat lagi bawa motornya, aku gak mau mantan mertuanya Jingga keburu pulang," ucap Citra yang sontak membuat Dafa menarik rem motornya, membuat Citra hampir terjatuh.
"Ish, kamu kalo bawa motor tuh yang bener. Kenapa ngerem ngedadak, aku hampir aja jatuh," kesal Citra memegang erat pinggang Dafa.
Dafa tidak mendengarkan semua umpatan Citra, karena dia sangat syok dengan apa yang diucapkan Citra. Bagaimana mungkin jadi mantan mertuanya. Jika dia menyebut mantan mertua berarti Jingga...! Tebak Dafa dalam hati. Namun dia masih berpikir keras, setahu Dafa, Jingga hanya sedang ada masalah dengan suaminya, tapi kalau sampai berakhir sampai perceraian dia belum mengetahuinya.
"Kenapa gak jalan lagi?" tanya Citra masih kesal.
"Eh? Ah iya, nih aku jalanin lagi motornya," jawab Dafa gelagapan. Mungkin nanti saja dia memastikan tentang prasangkanya, pikir Dafa sambil melajukan motornya lagi.
Setelah mereka sampai di rumah Citra, mereka langsung segera masuk ke dalam. Dengan Citra yang menjinjing kantong plastik berisi rujak buah.
"Udah pulang Cit, cepet banget," ucap Jingga langsung saat melihat Citra dan Dafa sudah pulang.
"Iya Ga, soalnya aku kan cuma beli pesanan kamu aja," ucap Citra polos, bahkan dia tidak menyadari tatapan mematikan dari Jingga.
"Pesanan Jingga?" tanya Bella sedikit heran, apalagi dia melihat Citra membawa satu kantong rujak buah.
"E--maksud Citra, dia membeli makanan untuk kita semua Ma, bukan buat aku aja," jawab Jingga langsung, dia tak mau membuat Bella curiga bahwa memang dirinya tengah mengandung. Dasar Citra, kenapa dia bisa keceplosan seperti itu, pikir Jingga kesal.
"Oh benarkah?" tanya Bella lagi memastikan. Sebenarnya dia menaruh curiga, karena makanan yang dibawa Citra itu seperti khusus untuk orang yang tengah mengidam.
"I--iya Tante, aku beli ini untuk kita. Sebentar, aku siapin dulu," ucap Citra segera berjalan ke dapur.
"Nak Citra!"
__ADS_1
"Iya Tante, ada apa?" tanya Citra menghentikan langkahnya.
"Tidak usah repot-repot, makanannya untuk kalian saja. Tante dan Om juga mau pamit sekarang," ucap Bella.
"Loh ko pulang Tan?" tanya Citra melangkah lagi ke arah mereka.
"Iya Ma, kenapa pulang? Mama dan Papa kan baru sebentar," ucap Jingga sambil menatap bergantian Bella dan Roy.
"Lain kali kami ke sini lagi sayang. Sekarang kami pamit pulang," jawab Roy yang juga mengikuti istrinya, segera berdiri.
"Iya sayang, nanti kami akan menghubungi kamu lagi," ucap Bella menambahkan.
"Baiklah, Mama dan Papa hati-hati! Kalau sudah sampai, segera hubungi aku ya," ucap Jingga langsung memeluk Bella.
"Iya sayang. Kalau begitu kami pamit, Nak Citra kami pulang dulu," ucap Bella pada Citra.
"Iya Tante, Om," balas Citra.
Kemudian Bella dan Roy segera berjalan ke luar, diikuti Jingga dibelakangnya untuk mengantar mereka sampai depan rumahnya Citra. Sedangkan Citra di dalam bisa menghembuskan nafas leganya.
"Enggak ko, aku biasa aja," jawab Citra.
"Cit kenapa tadi kamu bilang itu makanan pesanan aku?" tanya Jingga setelah masuk ke dalam lagi.
"Maaf Ga, aku keceplosan," sesal Citra.
"Aduh bagaimana ya kalo mereka sampai curiga," ucap hingga khawatir. Dia bukan tidak mau memberitahu kehamilannya, tapi dia berusaha berdamai dulu dengan keadaannya. Yang pasti suatu saat dia akan memberitahu pada Bella dan Roy.
"Kamu tenang aja, mereka gak akan menyangka kalo kamu hamil ko," ucap Citra lagi.
"Aku juga berharap seperti itu,"
"Ehm, kalo boleh aku tahu, kenapa kamu merahasiakan kehamilan pada mertuamu sendiri?" tanya Dafa setelah beberapa waktu lalu, dia hanya diam memperhatikan obrolan Citra dan Jingga.
"Kamu gak perlu tahu Daf," ucap Citra cepat, membuat Dafa mendengus kesal.
Sedangkan Jingga terkekeh melihatnya. Sudahlah, pokoknya kalau mereka bersama pasti akan terjadi adu mulut, tapi gak papa hitung-hitung hiburan, pikir Jingga.
__ADS_1
"Ayo Ga, nih makan! Katanya pengen dari pagi," ucap Citra sambil memberikan rujak buahnya.
"Ah iya, makasih ya kalian udah mau repot-repot beli ini buat aku," ucap Jingga sambil menerima rujaknya, "Ya udah aku siapin buat kalian juga," tambahnya.
"Gak perlu Ga, rujaknya buat kamu aja. Lagian kita beli khusus buat kamu," ucap Dafa langsung.
"Iya Ga, lagian aku gak terlalu suka sama rujak," ucap Citra menambahkan.
"Tapi ini kebanyakan kalo aku makan sendiri," ucap Jingga sambil membuka kantong plastiknya.
"Gak papa itu khusus untuk ibu hamil," ucap Dafa dengan kekehan diakhir.
Jingga segera pergi ke dapur untuk membawa piring untuk rujak buahnya. Dia sangat senang saat mencium aromanya, dan dengan segera memakannya.
Sedangkan Dafa dan Citra hanya duduk dengan diam, tak ada yang memulai pembicaraan. Mungkin mereka cape jika harus terus berdebat. Jadi Citra hanya mengotak-atik ponselnya, sambil melihat beranda sosial medianya. Dia sedikit kaget melihat postingan Ray yang baru saja mengunggah sebuah foto. Terlihat disana, Ray sedang memeluk Keyla dengan penuh kasih sayang dan dilengkapi caption 'Kencan bareng adik cantik' membuat Citra terkekeh pelan.
"Hei, kenapa ketawa sendiri? Jangan-jangan kamu kerasukan lagi," ucap Dafa saat melihat Citra tertawa melihat ponselnya.
"Enak aja bilang aku kerasukan. Aku tuh lagi liat postingan lucu tau," balas Citra langsung.
"Emang liat postingan siapa?" tanya Dafa penasaran.
"Ada deh," jawab Citra membuat Dafa kesal saja. Dafa tak mengerti kenapa sahabatnya itu selalu membuatnya kesal.
"Ck! Dasar pelit," ucap Dafa berdecak tak suka.
Namun Citra tak berminat membalas ucapan Dafa. Dia hanya melirik kesal ke arah Dafa saja. Kemudian Jingga bergabung setelah selesai memakan rujak buahnya.
"Kenapa Cit?" tanya Jingga yang duduk disebelah Citra.
"Ini Ga, lihat deh!" ucap Citra langsung memperlihatkan ponselnya yang masih menampilkan postingan Ray.
Jingga sedikit terkejut melihatnya, tapi kemudian dia langsung tersenyum. Tak menyangka, Ray yang keliatannya cuek ternyata bisa seekspresif itu. Apalagi senyuman Ray yang lepas, tanpa dibuat-buat, dan juga adiknya yang terlihat bahagia, membuat Jingga juga bahagia saat melihatnya. Dia bersyukur masih ada yang menyayangi Keyla dengan tulus, walaupun mereka tak terikat hubungan.
"Hei, kalian liat apa sih?" tanya Dafa penasaran sambil mendekat ke arah Citra dan Jingga, untuk melihat apa yang membuat mereka tersenyum senang.
Tapi dengan cepat, Citra langsung menjauhkan ponselnya agar Dafa tak bisa melihatnya. Sontak Jingga tertawa lepas melihat bagaimana wajah nelangsa Dafa, seolah-olah dia korban pembulian.
__ADS_1