
Masa yang paling indah adalah saat masih bisa menikmati indahnya kebersamaan bersama orang tercinta. Menghabiskan setiap detik yang berharga dengan saling berbagi kasih dan sayang. Tak peduli berapa lama pun waktu, terasa sebentar jika kita menikmatinya dengan kebahagiaan.
Sama halnya seperti Jingga dan Ray, satu hari mereka habiskan waktu bersama. Walau bukan berkeliling ke pulau-pulau untuk memadu kasih, seperti yang orang lain lakukan, tetapi mereka bisa menciptakan rasa yang sulit untuk dilupakan. Bagi Jingga sendiri, hal itu bukanlah yang pertama baginya, tetapi tetap saja dia merasa hal itu membuatnya sedikit gugup.
Hanya sebuah hotel di dekat pantai yang menjadi saksi bagaimana Ray dan Jingga merajut asa dengan saling berbagi kasih. Tak peduli apakah tempatnya berada di luar negeri atau dalam negeri, bagi mereka yang terpenting adalah bisa membahagiakan satu sama lain.
"Sayang, terima kasih atas semuanya. Kamus sudah memberiku cinta dan sayang," ucap raya sambil menyentuh kedua pipi Jingga.
"Iya Mas, aku juga bersyukur karena kamu mau menerima aku. Kamu menerima segala kekurangan aku, apalagi aku sudah mempunyai dua orang anak," ucap Jingga menatap mata indah suaminya.
"Kamu tidak perlu berterima kasih seperti itu sayang. Karena memilikimu adalah anugerah terbesar yang Allah beri untuk aku," ucap Ray.
Perlahan Ray mendekatkan wajahnya pada wajah Jingga, perlahan namun pasti mencium bibir pink istrinya dengan lembut. Ray segera menjauhkan wajahnya, dan tersenyum saat melihat wajah Jingga yang memerah.
"Baiklah, sekarang kita harus bergegas sebelum anak-anak menangis karena ditinggal terlalu lama," ucap Ray segera berdiri dan langsung membawa koper yang sudah dia bereskan.
"Iya Mas," ucap Jingga masih malu-malu atas perlakuan Ray, "Aku juga udah kangen sama mereka, walaupun baru satu hari tapi rasanya sudah berminggu-minggu," lanjutnya.
Ray terkekeh pelan mendengar penuturan istrinya. Satu hari kemarin, dia tak membiarkan Jingga untuk sekedar menghubungi anak-anaknya. Ray membuat Jingga terus bersamanya.
"Sayang, ayo pulang!" ajak Ray pada istrinya.
"Baik Mas, tapi sebelum kita pulang, kita mampir ke toko mainan dulu ya," ucap Jingga.
"Mau beli apa sayang?"
"Minggu lalu, Nayla terus meminta dibelikan boneka barbie Mas,"
"Oh ya sudah, nanti kita beli sekalian buat Keyla juga," Ray dan Jingga segera bergegas keluar dari hotel itu.
__ADS_1
Sedangkan di rumah Jingga, Nayla terus merengek pada Citra untuk dipertemukan dengan bundanya. Sehari tanpa Jingga, rupanya membuat Nayla begitu uring-uringan. Tak heran memang, karena anak seusia itu tak bisa ditinggal oleh ibunya barang sedetik pun.
"Tante... " rengek Nayla.
"Iya sayang, kenapa?" tanya Citra sambil mengelus rambut keponakannya.
"Kapan bunda pulang? Kata Tante tadi sebentar lagi, tapi cekarang belum pulang," ucap Nayla kesal. Dari tadi pertanyaan yang dia ajukan mendapat jawaban yang sama.
"Hm, memang sebentar lagi sayang, mereka lagi di jalan," bujuk Citra lagi.
Citra juga sebenarnya sudah lelah, terus membujuk Nayla yang masih tetap merengek agar bundanya pulang. Kenapa mereka lama sekali? Katanya pergi honeymoon cuma sehari, pikir Citra kesal.
"Ah, Tante bohong," ucap Nayla merajuk.
"Nayla adiknya Kakak yang paling lucu, bunda itu sebentar lagi pulang. Kalo kamu ngambek, nanti bunda gak mau beliin kamu boneka barbie loh," ucap Keyla ikut membujuk adiknya. Karena memang Nayla sangatlah sulit untuk dibujuk, terlebih oleh orang lain. Hanya Jingga yang bisa membujuk dan mengontrol kemarahan anaknya itu.
Citra pun merasa lega melihat Nayla yang sudah tenang. Walaupun masih bermuka masam, tapi setidaknya Nayla tidak merengek terus. Citra hanya bisa sabar menjaga mereka, dia sekali lagi menghela nafasnya, menjaga anak-anak yang ibunya sedang pergi berbulan madu. Ah! Untung sayang pada sahabatnya itu, pikir Citra dalam hati.
*****
"Mas, makasih udah beliin banyak boneka buat anak-anak," ucap Jingga sambil menatap suaminya yang tengah menyetir.
"Sayang, sudah berapa kali aku udah bilang sama kamu, jangan bilang terima kasih. Mereka juga anak-anak aku, jadi sudah menjadi kewajiban aku untuk menyenangkan mereka," ucap Ray sambil melihat wajah istrinya, yang juga tengah menatapnya.
Jingga tersenyum mendengarnya, betapa beruntungnya dia menjadi istri Ray.
"Sayang, jangan tersenyum terus," ucap Ray membuat Jingga mengerutkan keningnya.
"Memangnya ada yang salah Mas, kalo aku tersenyum?" tanya Jingga.
__ADS_1
"Ada, kalo kamu tersenyum seperti itu, aku jadi ingin memakan kamu sayang," ucap Ray tersenyum nakal.
"Mas..."
"Haha, aku cuma bercanda sayang," ucap Ray sambil terkekeh. Sekarang hari-harinya penuh dengan tawa dan canda bersama Jingga, wanita yang sejak dulu mencuri hatinya.
Baru saja mobil Ray berbelok arah menuju rumah Jingga, dia langsung menginjak remnya saat ada sebuah mobil yang terparkir didepan rumah Jingga, namun sepertinya mobil itu juga baru datang. Ray sedikit heran ada mobil dengan nomor polisi kota Bandung. Ray hanya bisa menebaknya dalam hati, bahwa orang itu kemungkinan adalah orang yang pernah ada di kehidupan Jingga sebelumnya.
"Loh Mas, kenapa langsung berhenti?" tanya Jingga penasaran.
"Lihatlah sayang, ada mobil yang terparkir didepan rumah kamu!" ucap Ray sambil menunjuk ke arah pekarangan rumah Jingga.
"Iya Mas, tapi siapa yang datang ya," ucap Jingga yang juga tidak tahu.
"Ya udah, kita lihat aja langsung!" ucap Ray sambil membuka sabuk pengaman dia dan juga milik Jingga. Setelah itu dia langsung turun bersamaan dengan istrinya.
Ray dan Jingga segera berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir sempurna di depan rumahnya. Dan seperti dugaan Ray, memang mobil itu baru saja datang, terbukti dari si pengendara mobil yang masih berada didalam mobilnya.
"Permisi!" ucap Ray sambil mengetuk pelan kaca mobil itu.
Ray segera bergeser saat pintu mobil itu dibuka perlahan, dan keluarlah sosok yang sangat Jingga dan Ray kenal. Walaupun dalam kurun waktu 4 tahun tidak bertemu, tidak membuat mereka melupakannya. Terutama bagi Jingga, dia sangat kaget saat orang itu turun dari mobilnya.
Perasaan canggung bukan hanya terasa pada Jingga maupun Ray, tetapi pada orang yang baru turun dari mobil juga. Tidak bertemu bahkan tidak berkomunikasi selama 4 tahun lebih, membuat mereka hanya bergeming dan saling menatap satu sama lain.
Ray segera memeluk kecil pundak sang istri, untuk menegaskan statusnya sekarang. Pandangan tak suka, jelas di tunjukan oleh orang yang berada didepan Jingga dan Ray.
"Ada perlu apa anda ke rumah istri saya?" tanya Ray langsung.
"Saya cuma mau bertemu dengan anak saya," jawabnya sambil menatap tajam Ray.
__ADS_1