CAHAYA JINGGA

CAHAYA JINGGA
13


__ADS_3

Dafa sudah tak sabar untuk bertemu kekasihnya. Sudah jarang mereka bertemu walau sekedar menghilangkan rasa rindu, semua itu karena kesibukan mereka masing-masing. Dafa yang akhir-akhir ini disibukan dengan tugas kuliah. Sedangkan Resti, dia masih menyelesaikan magangnya disebuah restoran.


"Ah, aku kangen banget sayang," ucap Dafa seraya menarik Resti kedalam pelukannya.


"Hmm," balas Resti seadanya, bahkan dia tak membalas pelukan dari Dafa.


"Kamu kenapa sayang? Kamu gak kangen ya sama aku?" tanya Dafa sambil mengerutkan dahinya karena dari tadi raut wajah kekasihnya itu datar saja.


"Engga, bukan begitu," jawab Resti bingung.


"Terus kenapa? Apa ada masalah ditempat magang kamu?" tanya Dafa lagi.


"Gak ada kok," jawab Resti yang berusaha tersenyum.


"Ya udah mending kita pergi nonton ya, udah lama loh kita gak jalan," ucap Dafa semangat sambil menarik tangan Resti.


"Dafa, aku mau bicara," ucap Resti sambil melepaskan tangan Dafa.


"Bicaranya nanti aja ya sayang. Kita kan mau nonton dulu," ucap Dafa.


"Aku mau bicara sekarang! Dan sepertinya kita gak bisa nonton, baik untuk malam ini maupun kedepannya," ucap Resti yang membuat Dafa semakin menekuk dahinya.


"Maksud kamu apa sayang, aku gak ngerti?" tanya Dafa bingung.


"Mulai malam ini, aku mau kita putus!" tegas Resti sambil menatap Dafa. Bahkan saat mengatakan itu tidak ada keraguan didalam dirinya.


"Kamu jangan bercanda sayang, gak lucu tahu," balas Dafa dengan kekehan diakhir.


"Aku serius. Mulai detik ini kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi," ucap Resti yang langsung ingin pergi namun ditahan oleh Dafa.


"Kenapa kamu tiba-tiba minta putus? Apa salah aku? Tolong Res, jangan seperti ini!" pinta Dafa tulus.


"Kamu gak salah apapun Daf," ucap Resti.


"Terus apa masalahnya? Tolong jelasin semuanya!" ucap Dafa yang benar-benar bingung dengan sikap Resti yang tiba-tiba seperti itu.

__ADS_1


"Minggu depan aku mau menikah. Jadi tolong jangan temui aku lagi! Semoga kamu dapat pengganti aku," ucap Resti yang membuat Dafa membesarkan matanya.


"Menikah! Kamu mau menikah sama siapa Res?" tanya Dafa tak percaya.


"Kamu gak perlu tahu sama siapa aku menikah, karena itu bukan urusan kamu. Jadi mulai sekarang jangan pernah ganggu aku lagi!" jawab Resti.


"Oh, aku tahu kenapa kamu tiba-tiba kaya gini. Kamu pasti punya hubungan dibelakang aku kan! Dan ini pasti alasan kamu aja buat mutusin aku kan? Sial! Ternyata kamu benar wanita licik!" ucap Dafa yang sudah hilang kesabarannya.


"Berbicaralah sesuka hatimu Daf, aku tidak peduli. Karena aku tidak pernah selingkuh dengan siapapun. Asal kamu tahu, sekarang aku sedang hamil, dan ini adalah anak dari seseorang yang aku cintai," ucap Resti sambil menunjuk perutnya dan tersenyum sinis.


Dafa mematung mendengar ucapan Resti. Bagaimana dia bisa hamil? Dia pasti sudah gila sampai melakukan itu, pikir Dafa tak habis pikir.


"Kamu! Kamu benar-benar wanita iblis! Tega-teganya kamu mengkhianati aku, huh!" teriak Dafa yang kemarahannya benar-benar tak bisa dikendalikan.


Namun semua itu sama sekali tak berpengaruh pada Resti. Mau dibilang wanita apapun dia tidak peduli. Bahkan dia seolah-olah tuli dengan teriakan Dafa yang memakinya. Dia terus saja berjalan dengan santainya meninggalkan Dafa yang sangat frustrasi, walaupun Dafa terus berteriak marah padanya.


...----------------...


"Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Ray penasaran karena sejak adiknya itu pulang, wajahnya sangat kusut.


"Aku hanya tak habis pikir, aku sangat mencintai kekasihku, tapi dia malah mengkhianati aku," jawab Dafa sambil tertawa, tertawa menyimpan luka.


"Maksud kamu, dia selingkuh?" tanya Ray penasaran.


"Mungkin. Aku mikirnya juga begitu, kalau dia tidak selingkuh, mana mungkin minggu depan dia akan menikah," jawab Dafa yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Apa! Dia akan menikah!" ucap Ray dengan wajah terkejutnya


"Ya. Katanya sekarang dia tengah mengandung anaknya lelaki itu. Bahkan dia tak memberitahuku siapa yang menghamilinya," ucap Dafa sambil menghembuskan nafas kasarnya.


"Udah, jangan sedih. Tidak pantas menangisi kepergiannya. Berarti dia sendiri yang menunjukkan bahwa dia bukan wanita yang baik, yang pantas menjadi kekasihmu," pesan Ray seraya menepuk pelan bahu sang adik.


Dafa melirik kearah kakaknya sambil tersenyum. Benar, lagi pula dia bisa mencari wanita yang lebih baik dari Resti. Siapa yang tak terpikat dengan seorang Dafa Alfendra. Wajah yang tampan, yang bisa memikat hati para wanita, pikir Dafa menghibur diri.


"Iya Kak. Lagi pula dengan ketampanan aku yang diatas rata-rata, siapa wanita yang berani menolak pesonaku ini," ucap Dafa memamerkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Nah, tuh kamu tahu," ucap Ray tersenyum.


Kalau Ray sudah melihat Dafa yang membanggakan diri, berarti dia sudah balik dari alam gelapnya, pikir Ray senang.


...----------------...


Hari ini Ken resmi menikahi Resti secara agama. Dia sengaja tak memberitahu orang tuanya perihal pernikahan keduanya ini, karena dia tak mau membuat orang tuanya kecewa karena kesalahan yang sudah dia perbuat.


"Mas, tadi kenapa orang tua kamu gak datang? Terus kamu juga menyuruh Mama sama Papa aku buat gak datang, padahal inikan pernikahan anaknya, masa kamu larang-larang sih?" tanya Resti kesal. Dia tak habis pikir dengan Ken.


"Aku gak mau mereka sampe tahu. Terus menurut kamu, mereka bisa nerima kamu sebagai menantunya, setelah apa yang kamu perbuat sama aku begitu?" tanya balik Ken dengan tersenyum sinis.


Resti bungkam dengan penuturan Ken. Benar, mereka belum tentu bisa nerima dia setelah dia menjebak Ken. Beda dengan orang tuanya yang justru mendukungnya.


"Tapi kan Mas, ak---" ucapan Resti terpotong Ken.


"Udah jangan banyak tapi-tapian, karena sekarang saya suami kamu, jadi belajarlah jadi istri yang penurut," ucap Ken yang membuat Resti mendengus kesal.


"Iya iya. Tapi malam ini aku tidur sama kamu kan Mas?" tanya Resti.


"Jangan mimpi kamu. Selamanya aku hanya akan tidur dengan istriku tercinta. Itu kamar kamu!" jawab Ken sinis sambil menunjuk pada salah satu kamar yang jauh dari kamarnya.


"Tapi aku juga istri kamu Mas. Mas... ishhh!" ucap Resti kesal karena suaminya itu pergi meninggalkannya bahkan sebelum dia selesai bicara.


Ken segera menghampiri istrinya yang berada didalam kamar. Dia sangat rindu pada istrinya itu. Sungguh dia merasa tak nyaman dengan kehadiran Resti.


"Sayang... " ucap Ken manja.


"Iya Mas. Kamu perlu sesuatu?" tanya Jingga kala melihat suaminya itu bergelayut manja.


"Aku butuh kamu," jawab Ken yang langsung beringsut tiduran keatas paha istrinya yang tengah selonjoran diatas kasur itu.


"Iya, kamu mau apa Mas?" tanya Jingga sambil mengusap lembut rambut suaminya.


"Aku butuh energi dari kamu. Rasanya energiku sudah hilang karena meladeni ocehan nenek lampiran itu," jawab Ken setengah kesal dengan kelakuan istri keduanya itu, yang menurutnya terlalu banyak tanya itu.

__ADS_1


"Hahaha, siapa yang kamu bilang nenek lampir Mas?" tanya Jingga yang masih tertawa.


"Itu si---ishh, udahlah aku males bahasnya. Sekarang ayo kamu trasferin aku energi!" balas Ken dengan menaik turunkan alisnya. Dan setelah itu Ken langsung menerkam Jingga.


__ADS_2